ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Nasehat Daniel


__ADS_3

Citra memotong sebagian ikan bakar untuk Azzam. Tidak mungkin Citra ijinkan Azzam rakus kuasai seluruh ikan seperti janji Afifa. Makanan dibagi bersama terasa lebih nikmat.


Alvan melayani tuan putri memenuhi semua permintaan gadis kecil itu termasuk membantu Afifa kupas kulit udang. Azzam lebih mandiri tidak perlu dilayani. Sikap dewasa Azzam tak dapat dilukis dengan kata-kata. Anak itu terlalu matang tak sesuai usia sesungguhnya.


Sebagaimana biasa Citra menerapkan dilarang ngobrol bila sedang makan. Makan adalah waktu mengisi perut dan nikmati cita rasa masakan seseorang. Ntah itu Citra atau koki lain. Tetap harus dihargai.


Acara makan berakhir setelah perut masing-masing full tak sanggup menampung semua makanan. Azzam makan paling banyak karena seluruh makanan di meja cocok dengan seleranya.


Alvan dapat satu bocoran tentang Azzam. Paling tidak Alvan tahu apa kesukaan anaknya itu. Ke depan akan gampang mengurus selera Azzam biar jinak padanya.


"Istirahat setengah jam lalu belajar! Koko bantu Amei kerjakan PR ya! Amei sudah ketinggalan beberapa mata pelajaran." ujar Citra mulai bereskan peralatan makan.


Azzam dan Afifa tak membantah. Setiap hari juga gitu. Asal selesai makan malam mereka wajib belajar pelajaran esok hari. Itu tugas rutin yang Citra terapkan. Citra sangat tegas bila menyangkut pendidikan anak. Di jaman atom gini ilmu jadi patokan masa depan seorang anak. Tanpa ilmu mumpuni seorang manusia ibarat sehelai kertas kosong tanpa isi. Kertas itu sana sekali tak bermanfaat karena tak ada yang bisa dibaca. Paling tragis dianggap kertas buram buat coretan lantas dibuang.


Citra tak ingin anak-anaknya menjadi manusia invalid. Tak berguna, hanya jadi parasit hidup orang lain.


Azzam dan Afifa berpindah masuk ke kamar masing-masing mengulang pelajaran. Citra mencuci piring kotor seorang diri. Biasa ada Andi jadi juru kebersihan. Ntah kenapa laki itu tak datang hari ini padahal banyak makanan lezat. Bukan rezeki mulut Andi.


Alvan duduk di ruang tamu tak ingin menganggu Citra maupun anak-anak. Alvan tak boleh mengoyak peraturan yang telah di buat Citra. Peraturan itu bukan merugikan anak-anak justru membantu anak-anak memiliki hari depan cerah.


Iseng-iseng Alvan meneleponi Daniel membuang rasa jenuh. Duduk melamun seorang diri di ruang tamu sunyi membosankan Alvan. Mencari sedikit kegiatan mungkin akan halau rasa bosan mencekam.


"Halo bro!" ujar Alvan begitu tersambung dengan Daniel.


"Halo...kupikir kau sudah tewas digerogoti Aids."


"Jaga mulutmu! Gue negatif kok! Cuma masih harus test ulang. Di mana kamu?"


"Di mana lagi kalau bukan di pos? Maaf berapa hari ini tak kasih kabar! Gue sibuk karena dapur gosong."


"Kok bisa? Korsleting listrik?"


"Belum jelas...kayaknya ada karyawan lengah! Api menyambar dari kompor gas. Oya...apa kabar Karin?"


"Jangan ditanya lagi soal dia! Anaknya sudah tak ada, positif HIV."


Daniel tak menduga perkembangan Karin jauh lebih buruk dari bayangannya. Mau jadi apa Karin kalau sudah begini. Bukan salah Alvan bila turun tangan kejam pada Karin. Dia sendiri buat ulah kelewat batas. Daniel kenal Alvan tak pernah neko-neko dengan wanita manapun selain Karin dan Citra. Mengapa Karin tega khianati Alvan hingga muncul tragedi menyedihkan.


"Apa rencanamu bro?"


"Aku bingung...aku tak tega buang dia gitu saja! Tapi hidup bersama penderita HIV bukan rencana bagus. Citra tak ijinkan aku ceraikan Karin. Dia bersikeras aku tetap bersama Karin."


"Citra? Dia tidak dendam pada Karin?"


Alvan tertawa kecil bayangkan amarah Citra waktu dia bilang akan ceraikan Karin. Mata indah Citra melotot tak bersahabat.


"Citra orangnya...dia kasih semangat padaku tetap sayang pada Karin. Dia bilang Karin bisa hidup wajar asal ikuti protokol kesehatan. Bisa hubungan intim asal pakai pengaman."


"Lhu mau?"


"Apa kau pikir aku gila mau ambil resiko? Bayangkan dia ditindih orang lain aku sudah jijik. Apa lagi harus menyentuhnya. Lebih baik puasa seumur hidup."

__ADS_1


"Apa kau bisa puasa seumur hidup? Aku sih ragu..."


"Tapi aku takkan puasa karena ada isteriku yang lain. Cantik, muda dan sehat."


"Woi...itu jatah gue ya! Enak aja klaim bini lhu! Mantan bini."


"Aku di rumahnya. Rencana nginap sini." Alvan sengaja pamer keberadaan dia agar Daniel tidak bangun harapan pada Citra.


"Dasar kucing liar! Semua jatah mau diembat sendiri. Ingat Van! Citra kasih semangat pada lhu buat bersama Karin karena kamu sudah end di hatinya. Kalau dia masih ada rasa padamu pasti marah pada Karin cemburuan gitu! Citra kan memaksamu tetap bersama Karin. Apa artinya? Lhu sudah tamat di hatinya."


Alvan benarkan analisa Daniel. Kalau Citra masih suka padanya tak mungkin beri support padanya kembali pada Karin. Citra tidak pakai nada tinggi mengecam Karin. Wanita itu justru memohon pada Alvan adil pada Karin.


"Mungkin kau benar Dan! Tapi aku takkan menyerah mengejar Citra. Ada bocil di antara kami. Aku tak bisa lepas tanggung jawab "


"Van... kunasehati lhu ya! Kau kejar Citra karena kecewa pada Karin. Kau tak pernah mencintai Citra. Jangan kau anggap dia ban serap! Bocor satu kau pakai dia untuk jalankan hidupmu lhu lagi. Jahat amat lhu! Biarkan Citra memilih pasangan hidupnya!"


"Aku tak bisa. Aku bahagia berada di sampingnya walau dia tidak respon padaku. Aku yakin suatu saat dia akan luluh pada ketulusanku!"


"Ya Tuhan...kau mau Citra dan Karin sekaligus? Rakus banget tikus got ini! Kalian takkan bahagia begini terus! Jangan ulangi kisah lama! Kini ada anak-anak akan benci kamu bila kamu sakiti induk mereka. Kau takkan dapat apa-apa. Aku memang suka pada Citra tapi aku bisa berpikir waras. Aku kejar dia di jalan terang. Soal Citra aku takkan ngalah. Ok?"


"Dan...Citra masih biniku!"


"Bini di atas kertas kan? Kalau Karin tidak buat ulah apa kau masih ingat Citra? Aku belum pernah dengar kau sebut nama dia selama berapa tahun ini. Dia tidak pernah ada dalam hatimu. Kau hanya cari pelarian dari Karin. Kasihani Citra kalau jadi kambing hitam masalah kalian! Dia berhak bahagia."


Alvan tidak menampik kata-kata Daniel. Dia terlena pada Karin melupakan pernah punya isteri lain. Isteri yang masih sah di hukum. Di saat dia terjatuh muncullah Citra. Dia mandul, Karin berselingkuh, papanya berkhianat, Karin kena HIV. Kesemua ini membuat Alvan mencari pegangan agar tak jatuh makin dalam. Citra muncul mengulur tangan menggandeng Alvan lalui kesulitan. Citra membantu Alvan menjawab setengah dari masalahnya.


"Terima kasih Dan...aku akan berusaha menjadi laki baik untuk Citra. Terlepas apapun keputusan Citra."


"Sinting...sudah ach!" Alvan menutup hp capek berdebat dengan sahabat terdekatnya.


Alvan sungguh tak nyaman Daniel menaruh hati pada Citra. Alvan tak rela ada orang suka pada Citra. Mungkin kedengaran sangat egois namun itu fakta. Alvan ingin Citra hanya jadi miliknya. Dari dulu hingga sekarang keinginan itu tak berubah. Alvan mencintai Karin namun juga sayang pada Citra.


"Melamun siapa? Karin?" tiba-tiba Citra sudah berada di depan Alvan membawa segelas teh hangat.


Citra meletakkan teh di atas meja beri kode pada Alvan cicipi teh seduhannya. Alvan bersyukur telah menyudahi percakapan dengan Daniel. Kalau Citra mendengar mereka berdebat perebutkan Citra apa tanggapan wanita itu.


Citra takkan besar kepala seperti wanita lain. Citra tidak open pada percintaan yang bikin otak panas. Sakit hati, cemburuan, memendam rasa itu semua bumbu cinta. Citra tak punya waktu meracik bumbu tak bermutu itu. Kerjanya susah cukup banyak. Mana ada waktu memikirkan cinta-cintaan.


Citra menempatkan diri di seberang Alvan sambil tersenyum manis. Senyum itu tulus tanpa neko-neko. Alvan makin tak rela kalau senyum Citra dibagi gratis pada orang lain.


"Gimana jadi papi urus anak?" tanya Citra dengan gaya elegan. Satu kaki bertumpu pada kaki lain. Sikap wanita berkelas.


"Menyenangkan! Besok kau piket?"


"Iya...cuma besok boleh masuk agak siang. Anak-anak biar aku antar ke sekolah."


"Kok bisa?"


"Besok ada operasi kecil. Sekitar jam sepuluh. Bapak tau usah repot jemput anak-anak. Fokus kerja saja!"


"Aku tetap akan jemput mereka sesuai janji aku!"

__ADS_1


Citra tak memaksa kehendak. Alvan sudah berjanji pada Afifa maka wajib bayar janji. Citra tak boleh jatuhkan Alvan di depan anak-anak. Bagaimana pun Alvan adalah bapak mereka.


"Terserah! Kita sudah bisa bincang soal Karin?"


"Bincang apa lagi? Aku tetap pada keputusan tak mau satu rumah dengan penderita HIV. Aku akan beli rumah lain untuknya."


Citra menggeser bahasa tubuh merubah gestur dengan gemulai. Alvan menelan ludah menahan diri untuk tidak berbuat nekat menerkam mangsa cantik di depan mata. Kenapa dari hari ke hari Citra makin menarik. Kecantikan Citra alami tidak dibuat-buat.


Sejak kapan Citra berubah jadi wanita impian setiap lelaki. Betapa bodoh Alvan tidak melihat wanita cemerlang bersembunyi di balik kesederhanaan. Yang glamor penuh kepalsuan memikat hatinya. Begitu terbongkar kepalsuan isinya borok semua.


"Pak...Karin butuh bapak! Kalau bapak campakkan dia sama saja bapak habisin nyawa dia. Bapak boleh tak mau hubungan intim tapi jangan abaikan dia!" Manik mata Citra mengarah pada bola mata Alvan. Mengancam secara halus.


Alvan teringat analisa Daniel. Citra berkata tanpa beban tanda tak ada cemburu di hati wanita itu. Benarkah nama Alvan terkikis bersih dari hidup Citra? Tak ada sedikitpun ruang buat isi nama Alvan?


"Citra...mungkin aku egois tapi aku ini lelaki punya harga diri. Isteri selingkuh dengan beberapa laki termasuk mertua sendiri. Masih haruskah ku pertahankan wanita model gitu? Aku tak tahu sudah berapa lama dia selingkuh di belakang aku?"


Citra tak bisa salahkan Alvan bila patah arang pada Karin. Perbuatan Karin memang di luar kendali. Berselingkuh dengan laki lain masih termasuk hal wajar walau tetap kelewatan. Parahnya Karin lupa daratan gandeng mertua sendiri bodohi suami. Isteri model begini pantaskah dapat kata maaf?


"Aku mengerti perasaan bapak. Aku sebagai dokter tak harap ada korban nyawa. Karin masih punya harapan hidup normal. Kita tak boleh biarkan dia tersiakan."


Alvan menghela nafas memahami isi hati Citra. Di sini Citra bicara sebagai dokter yang harus menyelamatkan nyawa setiap pasien. Tak boleh ada kata menyerah selama pasien itu masih bernafas. Karin boleh bersalah pada Alvan namun dia punya hak hidup layak.


"Aku bingung..." desis Alvan menyerah tak punya tujuan pasti pada Karin.


"Begini saja...biarkan dia di rumah. Jaga dia jangan sampai terluka atau berhubungan intim tanpa pengaman! Semoga dia berubah setelah lalui perjuangan hidup mati. Bapak jangan terbawa emosi! Ingat perjuangan cinta kalian!"


"Aku mau kau ikut bersamaku! Aku tak mau hidup berdua dengan Karin tanpa kamu!"


"Pak...lihat Azzam! Apa dia akan biarkan maminya hidup bersama saingan? Kujamin Azzam akan serang bapak sampai tak mampu berdiri. Kusarankan kita mulai biasakan diri hidup di jalan masing-masing. Bapak boleh datang setiap saat jenguk anak-anak. Aku tak larang sebab mereka memang darah dagingmu."


Alvan terpaku tak bisa berkata apa-apa melihat keteguhan Citra. Citra tenang sekali cermin wanita itu telah dewasa. Tidak terpuruk oleh masa lalu. Citra bisa duduk santai anggap Alvan bukan ancaman dari masa lalu.


"Aku tak bisa. Setiap melihat Karin dadaku serasa mau meledak. Terbayang dia main gila dengan laki lain." Alvan jujur ungkap isi hati.


"Itu cinta...atas nama cinta singkirkan amarah bapak! Karin cuma butuh support bapak. Ini akan perpanjang masa hidupnya. Kalau dia drop maka virusnya akan merajalela gerogoti tubuhnya. Makin tinggi imun tubuhnya virus akan melemah. Aku tak percaya tak ada sisa kasih di hati bapak."


"Aku tak tahu..."


"Tak tahu atau tak mau tahu. Besok jenguklah dia! Ajak bicara baik-baik. Katakan apa yang mesti dikatakan!"


"Emang aku harus bilang apa?" tanya Alvan persis orang bodoh. Wajahnya mirip orang oon dimarahi Bu guru.


Citra merasa lucu dengar pertanyaan Alvan. Seorang presiden direktur perusahaan besar ada masanya hilang akal sehat. Kini Alvan tak ubah seperti anak kecil minta nasehat pada orang lebih tua.


"Ya Allah pak Alvan terhormat! Tender ratusan juta sanggup kau tangani masak soal seupil gini jadi bloon? Dengar baik-baik! Pertama ceritakan akibat penyakit HIV dan segala keburukan virus ini. Minta Karin jaga kebersihan di rumah agar tak menulari orang lain. Kedua ajak diskusi soal rumah tangga kalian. Kalian tidak bercerai tapi Karin harus berjanji takkan ulangi kesalahan sama."


"Tunggu...kau suruh aku serumah dengannya lalu minta dia jaga kebersihan agar tak menulari orang lain. Coba kalau dia niat buruk padaku! Dendam...dia sengaja berbuat sesuatu bikin aku seperti dia! Apa penjelasan kamu?"


"Kurasa Karin bukan manusia gitu!"


"Itu kau rasa. Fakta dia berani berbuat hal menyakitkan. Apa yang tak berani dia lakukan supaya aku tidak buang dia? Jalan paling keji jebak aku terjerumus macam dia."

__ADS_1


__ADS_2