
"Iya..kita nabung lagi biar emak kita bisa haji kecil."
"Amin..." sahut ketiganya berharap bisa wujudkan harapan kedua emak yang mulai menua.
"Besok aku antar kamu balik ke gudang sebelum antar kedua kurcaci ke sekolah!" kata Tokcer pada Bonar.
"Jangan! Kamu fokus antar anak-anak. Mereka besok mulai ujian naik kelas. Kau harus tepat waktu. Biar Bonar kuantar pakai motor." Timpal Andi kuatir jalan macet menunda waktu Tokcer mengantar anak-anak bos. Bisa dibotakin bila telat antar para kurcaci.
"Setuju...utamakan para kurcaci dulu! Aku tidur sama lhu ya Tok! Sepi sendiri di rumah."
"Siippp...cuma pesan nggak pake dengkur. Suara lhu nggak kalah sama suara katak di musim hujan. Jelek.."
"Tega amat sama sobat sendiri." ujar Bonar memelas menyayat kalbu.
"Bukan tega bro! Suara dengkur lhu bisa usir satu pasukan tikus! Maling, tikus bahkan kecoa pasti kabur dengar dengkuran lhu!"
Andi tertawa lepas lihat Bonar manyun dikatain mirip katak. Bukan orangnya tapi suara dengkur Bonar.
"Lakban saja mulutnya atau sumpal pake kaos kaki lhu yang sebulan belum cuci itu!" usul Andi membuat Bonar muntah tahu bau kaos kaki Tokcer. Dicuci di sungai ikan pasti pada mabuk saking baunya.
"Sialan nih anak! Ngasih usul yang paten dikit kenapa? Ini penyiksaan tau..."
Ketiganya akhirnya tertawa lepas. Pertemuan yang menyenangkan. Saling bercanda lepas rasa kangen. Bonar harus tabah kawal gudang ntah sampai kapan. Anak itu tanggung jawab penuh terhadap isi gudang Alvan yang sarat barang berharga. Malam ini sangat indah bagi ketiga jagoan neon. Mereka ketawa bersama habiskan Minggu ceria. Semoga ke depan masih ada Minggu-minggu sama diwarnai tawa canda. Selamat malam wahai jagoan neon. Bergulung tantangan masih di depan mata.
Malam berlalu sangat berkesan bagi semua orang. Citra tenang Afifa sudah bisa terima masa lalu Alvan sedang Alvan lebih plong setelah ngobrol lama dengan Daniel. Temannya tetap ngaku cinta pada Citra dan beti jaminan takkan usik kebahagiaan Alvan asal Alvan tidak menyiakan Citra. Daniel tak segan bawa Citra dan anak-anak pergi jauh bila Alvan kumat penyakit terlibat dengan wanita tak benar.
Citra ajak Heru bicara seusai sarapan pagi. Ini menyangkut keinginan Heru berangkat ke Beijing ikut antar orang tua sekaligus jumpa keluarga Afung. Citra sengaja ajak Heru ngobrol di belakang taman untuk hindari tatapan Afung dkk. Sedikit banyak mereka pasti tahu Citra dan Heru ngobrol tentang Afung.
Kini keduanya telah duduk di bangku taman tempat Citra dan opanya ngobrol kemarin. Sekeliling taman masih lembab tersisa embun. Udara masih bersih belum tercemar oleh asap kenderaan yang sebentar lagi akan saling berlomba keluar dari knalpot mobil dan motor.
"Ada yang penting?" Heru masih belum paham tujuan Citra ajak dia ngobrol di taman.
"Sangat penting. Kemarin opa bilang om mau ikut ke Beijing. Apa benar itu?"
Heru mengangguk cepat. Memang itu tujuan dia untuk kenalan sama keluarga Afung di sana. Pas pula orang tuanya ke sana jadi bisa saling kenalan antara dua keluarga.
"Kenapa? Ada masalah om ke sana?"
"Om...aku sarankan kalian saling mengenal dulu! Dan Afung harus ikut agama kita dulu. Jumpa keluarga berarti om sudah melamar. Itu bukan main-main. Aku mau Afung di sini supaya om dan dia saling tukar cerita. Setelah mantap dia kita ajak ke Ustad biar ikut kita. Dari sini baru kita jumpa keluarga."
Heru termenung memikirkan saran Citra. Citra pikir terlalu mendetail tentang rencana pernikahan Heru. Mereka baru kenalan belum sebulan. Langsung masuk ke topik lebih intim sangat berbahaya. Takutnya nanti muncul gap yang haruskan mereka berpisah. Citra akan susah jadi orang karena berada di antara mereka. Siapa mau dibela? Satu om dan satunya teman dekat.
"Lalu om harus gimana?" Heru balik bertanya jalan apa harus ditempuh dia. Heru bingung juga setalah mendapat penjelasan Citra.
"Lusa opa dan Oma berangkat ke sana. Mereka akan tinggal di rumah Afisa hadiah dari pemerintah sana. Keluarga Afisa akan urus semua kebutuhan mertua aku dan opa Oma. Biarkan mereka saling mendalami dulu! Afung biar di sini adaptasi dengan lingkungan kita. Meng Si dan Lan Yin biar pulang bersama opa. Dan lagi perusahaan butuh om! Om sudah cukup lama tinggalkan perusahaan. Jangan sempat kejadian mas Alvan terulang di perusahaan om."
__ADS_1
Heru mengakui kebenaran omongan Citra. Kantor memang terabaikan beberapa Minggu ini. Pak Sobirin memang ada ke kantor namun tak bisa maksimal.
"Baiklah! Om ikuti saranmu!" Heru menyerah tak mau berdebat. Niat Citra baik untuk semuanya.
"Terima kasih om! Boleh mencintai tapi jangan terperosok! Afung itu baik, sangat baik. Tapi belum tentu cocok dengan om. Satu lagi om. Ini harus kukatakan langsung sebelum ada salah paham. Kujamin Afung itu gadis suci tapi dia berolahraga berat jadi kalau menikah nanti tidak ada yang namanya darah kesucian jangan terkejut. Dia itu masih suci." Citra mengeluarkan isi hati yang sudah lama ingin dia katakan pada Heru agar jangan vonis yang bukan-bukan pada Afung bila malam pertama tak ada darah perawan.
Heru tertawa geli mengira ada masalah besar apa. Heru lelaki dewasa pasti bisa memilah yang mana suci atau tidak. Heru pernah punya isteri pasti lebih jelas soal itu.
"Kau pikir om orang picik Bu dokter? Om tahu semuanya. Om senang kau berterus terang apa adanya. Om yang tergesa-gesa ngebet pingin halalkan Afung."
"Orang sabar kekasih Tuhan. Ok...waktunya kerja!" Citra melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Waktunya berangkat kerja kalau tak mau terjebak macet.
"Kau duluan...om akan berangkat sebentar lagi! Om harus atur Afung dan temannya main ke tempat wisata."
"Siapa yang antar?"
"Nanti om atur! Biar mereka main ke Ancol. Di sana kan banyak tempat bisa dikunjungi."
"Bagus juga...Aku pamit dulu ya! Kerjaku pasti sudah menumpuk. Sudah berapa hari tidak ke rumah sakit."
Heru melambai biarkan Citra laksanakan tugas sebagai dokter. Tenaga Citra dibutuhkan orang sakit. Setiap sentuhan tangan seorang dokter adalah kehidupan bagi si sakit.
Alvan mengantar Citra ke rumah sakit barulah berangkat ke kantor. Alvan mengharap hari ini harus berjalan dengan baik tanpa ada rintangan. Alvan juga terlalu dalam menghadapi konflik yang tak pernah usai usai. Kini waktunya kembali fokus pada perusahaan dan mengatur semua bagian agar tidak terjadi munculnya Selvia Selvia baru.
Pagi baru semangat baru. Untung si gendut setia seperti biasa menanti bos di depan pintu masuk kantor. Untung langsung mengambil tas kerja Alvan sebagai pengabdian ajudan setia.
Alvan membalasnya dengan anggukan kecil. Di kantor Alvan tampak wibawa punya kharisma kuat. Giliran jumpa kedua kurcacinya Alvan kalah pamor. Kedua anak itu memiliki daya magis membius Alvan tak berkutik. Sejenis pelet alami tanpa perdukunan. Ini akibat dari rasa bersalah Alvan terhadap keluarga sendiri.
Sepanjang jalan menuju ke ruang kerja Alvan mendapat penghormatan dari para karyawan. Para pegawai yang selama ini main curang ketar ketir dengar Selvia sudah meninggal kena penyakit covid. Pihak Alvan tidak umumkan penyakit mematikan Selvia sebagai tanda penghormatan terakhir pada wanita itu. Wanita juga telah berjasa memajukan perusahaan walau diwarnai kecurangan.
Alvan duduk di kursi kebesarannya menatap setumpuk file berada di atas meja. Sampai kapan dia akan selesai pelajari file setinggi lima belas sentimeter. Paling lembur lagi.
"Apa ini?" Alvan menggeser tumpukan file ke samping agar tak mengganggu kerjanya. Tak mungkin dia baca sekaligus dalam waktu singkat.
"Laporan bulanan dan kontrak baru."
"Ada kendala di lapangan?"
"Sejauh ini aman pak! Ini ada perkembangan tentang penahanan nona Kayla. Mereka akan segera disidangkan. Mungkin disidang di sana sesuai permintaan mereka."
"Lalu?"
"Keluarga di sana memohon agar bapak cabut tuntutan. Nona Kayla dan ibunya cukup menderita di penjara. Dan lagi kasihan anak nona Kayla." Untung membantu memohon Alvan berbaik hati membebaskan Kayla dan ibunya.
"Berapa kau disogok mereka? Apa mereka tak pikir bagaimana kalau penculik berhasil membawa isteriku? Nyawanya melayang. Mereka hanya di penjara. Belum mati kok! Kalau kau baik hati silahkan gantikan mereka makan tidur di penjara." tukas Alvan kesal Untung memohon ampun pada orang berhati picik.
__ADS_1
Untung meringis. Niat mau baik hati malah kena skak mental. Untung menunduk malu dianggap terima suap. Alvan berkata begitu ntah didasari rasa jengkel atau memang curiga pada Untung.
"Mereka boleh disidang di Kalimantan tapi proses sidang tetap rencana pembunuhan. Ini jadi satu pelajaran bagi mereka yang suka ambil jalan pintas capai tujuan." kata Alvan tegas tak ingin keluarganya mendapat tekanan lagi. Sebagai seorang suami Alvan wajib lindungi keluarga kecilnya. Kalau itu saja tak bisa Alvan lakukan apa masih pantas disebut kepala keluarga?
"Baik pak! Sekilas kudengar tuntutan hakim sekitar penjara 15 tahun sampai 20 tahun."
"Itu hak penuntut. Kita tak bisa lakukan apapun."
"Ibunya nona Kayla ada penyakit asma. Dia sering minta berobat. Apa kita tidak meringankan sedikit derita orang tua itu. Ibunya Selvia ada toleransi masa ibunya nona Kayla tak dapat kemurahan hati bapak."
Alvan menatap Untung dengan pandangan penuh tanda tanya. Mengapa ajudannya ini asyik bela orang bersalah. Ada apa dengan laki gendut ini?
"Kau kasihan pada mereka? Baik... aku akan bebaskan mereka sebagai gantinya kau masuk penjara. Katakan dalangnya kamu! Selesai toh! Mereka bebas dan kamu di penjara selama 20 tahun. Sudah kakek-kakek kamu baru nikahi Nadine. Gitu saja!" Alvan tak mau berdebat beri solusi pada Untung bantu keluarga Kayla.
"Jangan gitu bos! Mungkin Nadine sudah nikah sama orang lain. Aku patah hati di penjara. Aku tidak salah kok di penjara?"
"Salah kamu terlalu usil ikut intervensi hukum."
"Bos...ini amanah mama bos!" akhirnya meluncur juga pengakuan Untung. Alvan tidak heran kalau Untung mengatakan hal ini. Tak mungkin si gendut matian bela Kayla kalau bukan ada dalang di balik semua ini.
"Aku tahu ..jangan kamu pikirkan! Biar mereka terima vonis dulu. Nanti aku akan atur yang terbaik. Besok mama aku berangkat berobat. Mungkin dia tak bisa pulang dalam waktu dekat ini maka dia amanah padamu bebaskan mereka. Mama aku jadi begini juga akibat dari mereka. Tapi ini semua sudah takdir."
"Maaf pak! Aku hanya iba pada nyonya besar memikirkan saudaranya."
"Itu urusanku! Kau pergilah sibuk!"
Alvan bukan tak punya hati senang melihat orang lain susah. Tapi orang itu apa memikirkan akibat perbuatan mereka. Berani berbuat tapi tak berani bertanggung jawab. Sudah ketahuan meminta pengampunan melalui pihak sana sini.
Alva tak mau gampang bebaskan mereka. Harus ada sanksi mental dulu biar di kemudian hari tak mudah permainkan nyawa orang lain.
Untuk waktu selanjutnya Alvan habiskan dengan periksa file perusahaan. Rata-rata file dikerjakan oleh Andi. Anak itu banyak kemajuan. Alvan terpikir memberi Andi kesempatan ambil kursus akuntasi biar lebih ahli lagi. Semoga anak itu punya kemauan maju.
Harapan Alvan terwujud. Hari ini berlalu tenang tanpa gelombang. Alvan periksa dokumen perusahaan satu persatu hingga jam pulang kantor. Semua aman terkendali. Badai mulai menepi beri jalan lancar bagi keluarga Alvan.
Tibalah moments penting dua keluarga terkaya di tanah air kolaborasi berangkat keluar negeri. Mereka berangkat bertujuh. Kedua orang tua Heru, kedua orang tua Alvan dan kedua teman Afung serta seorang perawat yakni Nadine. Beramai-ramai mengantar ke bandara melepas kepergian para orang tua berobat keluar negeri. Tak ada kata tersimpan dalam hati selain doa semoga menemukan kesembuhan. Tujuan mereka berobat adalah mencari kesembuhan.
Bu Sobirin tampak agak berat meninggalkan cucu yang baru dia jumpakan. Namun beliau terlanjur janji temani keluarga besan maka janji harus sampai. Bu Dewi biasa saja karena memang tak ada yang bisa dia lakukan saat ini. Bergerak saja harus bantuan orang lain, rencana apalagi bisa dia susun untuk campuri urusan rumah tangga Citra dan Alvan. Hanya ada satu kata pasrah.
"Jaga cicit-cicit aku dengan baik ya! Jangan paksa mereka belajar terlalu lama! Jangan mengejar ranking sampai lupa jaga kesehatan cicit aku!" pesan bu Sobirin pada Citra sebelum ada panggilan masuk ruang tunggu.
Citra memeluk omanya erat-erat tak rela berpisah walau hanya sementara. Tak lama lagi mereka akan segera berkumpul lagi bila Bu Dewi telah mendapat kesembuhan.
"Oma tak usah kuatir..Citra akan jaga cicit oma. Mereka akan baik- baik saja! Oma juga harus jaga kesehatan. Jangan lupa pakai masker karena sana sangat ketat bagi pendatang."
"Oma tahu..Oma titip om dan adikmu Gi! Gi suka minum air es. Itu tak baik bagi kesehatannya. Ingat itu!"
__ADS_1
"Oma tenang...Citra akan urus semuanya untuk Oma. Kalau om Heru nakal akan Citra suntik biar anteng. Kalau ingin sesuatu katakan pada Afisa ya! Dia akan urus kalian semua."
Bu Sobirin manggut tanda mengerti. Heru tersenyum simpul dapat ancaman dari keponakan punya keahlian menyuntik orang.