
Benar dugaan Alvan, sang bini sudah menunggu di depan pintu rumah sakit. Wajahnya sedikit cemberut kelamaan menunggu kehadiran Alvan.
Alvan mau gimana lagi? Tugas kantor belum kelar dia mana bisa pergi seenaknya. Masa sulit gini Alvan harus lebih rajin dulang uang. Anaknya butuh banyak biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang lebih baik. Anak-anaknya semua pintar-pintar sayang kalau pendidikan terabaikan.
Alvan turun dari mobil begitu tiba di depan rumah sakit. Laki ini pasang wajah memelas agar timbul rasa iba di hati istri mungilnya. Bikin sejuta alasan belum tentu di terima. Paling tepat berbuat seolah capek bukan main. Tak perlu pakai lisan Citra pasti paham suaminya sedang banyak kerja.
"Hai sayang..." sapa Alvan dengan nada rendah biar dikasihani.
"Sayang apaan? Satu jam dua menit aku tunggu di sini. Hampir saja laku di beli tukang parkir mobil"
Alvan ingin tertawa namun ditahan. Isteri secantik gini mau dijual murah. Alvan takkan biarkan hal itu terjadi.
"Maaf...lain kali tidak akan terlambat lagi! Kita pulang?"
"Pulang? Mau jadi anak durhaka? Sudah di rumah sakit tidak jenguk orang tua sendiri. Ayok naik lihat mama dan papamu! Besok aku rencana pindahkan mama ke ruang rawat di samping kamar papa."
Alvan tercekat lihat amarah Citra. Kalau Karin berusaha jauhkan Alvan dari kedua orang tuanya sedangkan Citra mau Alvan dekat orang tua. Satu jenis wanita tapi beda karakter. Citra datang dengan segala kebaikan sedang Karin menebar kebusukan. Padahal mama Alvan sudah menyakiti Citra bertubi-tubi tapi tetap saja Citra beri perhatian. Alvan tidak salah melabuhkan hati pada Citra.
"Maaf sayang! Mas sangat lelah. Pingin pulang istirahat." Alvan membuat alasan sekenanya.
"Singgah sebentar mas! Kehadiran mas akan membuat mereka semangat. Terutama mama."
"Iya...mas pindahkan mobil ke parkiran dulu. Tak baik mobil melintang di depan pintu besar."
"Iya cepat!" ujar Citra tidak sabaran melihat Alvan lelet tanggapi niat baiknya.
Alvan naikkan balik ke mobil memarkir nya di tempat parkiran. Tidak mungkin mobil berhenti persis di depan pintu masuk rumah sakit. Ini akan menghalangi orang yang ingin masuk ke dalam. Apalagi kalau ada pasien darurat.
Citra menggeser tubuh balik masuk ke dalam rumah sakit menanti Alvan di dalam. Kaki Citra cukup begal karena telah cukup lama nanti Alvan. Untunglah Citra bukan penggemar sepatu high heels. Sepatu modern bintang-bintang film top itu takkan sanggup berdiri lama. Citra bukan sosialita ataupun selebritis yang harus menjaga penampilan. Citra hanyalah seorang dokter yang dibutuhkan orang sakit.
Alvan kembali menemui Citra. Tanpa berkata apapun Alvan langsung menuju ke arah lift yang diikuti oleh Citra dari belakang. Keduanya naik ke atas ruang perawatan VVIP untuk menemui Pak Jono duluan. Bu Dewi masih berada di ruang ICU sampai besok baru dipindahkan ke ruang perawatan.
Pak Jono tidak ditemani siapapun dalam ruang perawatan. Citra menduga perawatnya sedang memeriksa ruang lain ataupun ada kepentingan lain.
Pak Jono belum menunjukkan wajah cerah walaupun Alvan telah datang. Pak tua ini masih teringat pada istrinya yang sedang sekarat. Tak ada orang yang ingin mengatakan hal sesungguhnya kepada Pak Jono. Pak Jono hanya tahu istrinya sedang sakit.
"Gimana papa? Sudah enakan?" tanya Alvan sambil menyentuh tangan Pak Jono. Alvan berusaha mengenyahkan bayangan buruk perselingkuhan pak Jono dengan Karin.
"Mama kamu bagaimana?" tanya pak Jono dengan pandangan mata sayu. Kalau sudah begini rasa kesal Alvan jatuh ke titik nol. Alvan juga tidak tega terusan menghakimi papanya yang kena jebakan Karin.
"Mama sudah sadar cuma belum bisa diajak komunikasi. Citra sedang usahakan agar papa dan mama berobat ke Tiongkok. Kebetulan pak Sobirin dan isterinya juga mau ke sana jadi papa akan berangkat bersama mereka."
"Mamamu parah ya!"
"Tidak terlalu parah. Kita berdoa saja pa! Dalam berapa hari ini kalian akan berangkat. Papa tak perlu kuatir. Di sana ada Afisa dan keluarga angkatnya. Mereka akan mengurus papa dan mama."
"Apa tidak merepotkan orang lain?"
"Siapa? Maksud papa keluarga Afisa? Ya tidaklah! Afisa kan cucu papa. Tidak mungkin menolak opanya."
__ADS_1
Pak Jono tertawa pahit dengar kata Alvan. Jelas Afisa bukan anak peramah, sama Bu Dewi habisan adu mulut. Gadis cilik itu tidak mau mundur selangkah pun diserang oleh Bu Dewi. Mereka bertengkar membuat Pak Jono naik pitam. Pak Jono sadar itu memang salah Bu Dewi namun sebagai anak kecil tak sepantasnya Afisa melawan omah sendiri.
"Anakmu itu belum tentu bisa terima Omanya."
"Afisa itu hanya keras di luar. Dasarnya dia anak baik, kalau dia nakal tak mungkin orang bersedia terima dia sebagai anak angkat. Itu tidak perlu Papa pikirkan. Papa hanya perlu menyiapkan diri untuk berangkat ke Tiongkok bersama keluarga Perkasa."
"Apa keluarga besan tidak keberatan bawa kita?"
"Pa ..jangan pikir yang bukan-bukan! Citra akan atur semuanya."
Citra yang dari tadi diam maju selangkah dekati mertua lakinya. Citra ingin bantu Alvan yakin pak Jono bahwa semua akan baik-baik saja asal mereka berdua yang sakit tidak buat ulah memalukan keluarga Lingga. Tingkah laku Bu Dewi cukup membuat Alvan malu. Bertengkar dengan cucu sendiri lalu memaksa Alvan menikahi seorang wanita yang tak dikenal Alvan.
"Pa...opa dan Oma yang menawarkan diri mengantar papa dan mama. Mereka juga ingin cek up kesehatan. Nadine juga ikut kok! Papa tak kuatir ya! Nanti di sana kalian bisa tinggal di tempat Afisa. Citra akan atur yang terbaik."
Mata Pak Jono bergerak-gerak menahan cairan bening agar tidak meleleh dari kelopak mata yang mulai redup. Di mana hati Bu Dewi tega musuhi menantu sebaik Citra.
"Iya...papa akan patuh kepada kamu! Kamu tidak ikut?"
"Azzam dan Afifa mulai ujian Minggu depan. Aku tak mungkin tinggalkan mereka. Mereka butuh aku untuk menambah semangat."
"Iya..iya..."
"Nanti kalau anak-anak libur kami akan susul ke sana. Kita berlibur bersama." Citra berkata lembut agar hati pak Jono damai.
Pak Jono hanya bisa mengangguk-angguk percaya pada omongan Citra. Pak Jono berharap Citra ikut ke sana agar mereka tidak segan pada keluarga besan.
"Papa istirahat ya! Kami pergi melihat kondisi mama. Semoga semua akan membaik."
"Alvan ikut Citra ya pa!"
Pak Jono mirip ayam ngantuk hanya bisa manggut. Lihat kondisi papanya Alvan berusaha kikis rasa kesal di hati Pak Jono tega gauli menantu sendiri. Alvan kasihan pada papanya.
Sambil bergandengan pasangan ini menuju ke bagian ICU tempat Bu Dewi dirawat. Sebenarnya ruang itu tak bisa dimasuki sembarangan orang. Kalaupun mau menjenguk cuma boleh satu orang. Berhubung Citra adalah dokter dan Alvan pemilik rumah sakit maka peraturan sedikit melenceng. Keduanya bisa masuk bareng.
Sayang Bu Dewi sedang tidur sewaktu Alvan dan Citra datang. Citra lihat ke layar monitor yang mencatat segala aktifitas tubuh Bu Dewi, semuanya berjalan normal. Tak ada yang perlu dicemaskan.
Alvan dan Citra memilih tidak ganggu tidur pasien. Citra beri pesan pada perawat untuk pantau kesehatan mertuanya setiap saat. Kalau ada tak beres langsung hubungi dia.
Akhirnya pasangan ini bergerak pulang ke rumah. Di luar senja hampir habis di ganti cahaya remang-remang sisa cahaya mentari. Lampu-lampu jalan hidup terangi jalan agar pengendara kendaraan tidak kegelapan. Jalanan juga sudah kurang macet karena jam pulang kantor telah berlalu. Kini orang pada berkumpul dengan keluarga setelah seharian lelah berkutat dengan pekerjaan.
Alvan tak bosan-bosan melirik wajah imut yang nyaris terlepas dari cengkeraman. Kalau dia tidak datang periksa kesuburan maka selamanya dia tidak jumpa Citra serta tak tahu punya anak-anak super keren. Allah telah ulurkan tangan memberinya bantuan menunjukkan jalan untuknya.
"Sudah puas lihat?" Citra bukan tidak tahu suaminya asyik tatap wajahnya. Lama-lama bisa luntur bedak di wajah terlalu sering dipelototi.
Alvan tertawa kecil tertangkap basah kagum pada isteri sendiri.
"Kamu adalah makhluk ciptaan Tuhan paling sempurna."
"Nggak ada uang receh! Tak usah merayu." dengus Citra tak suka digombal.
__ADS_1
"Uang gede juga boleh! Atau nggak usah bayar pakai duit tapi ciuman. Nggak usah malu. Tak ada yang lihat. Mobil kita dilengkapi kaca hitam."
Citra mendelik jengkel pada gurauan Alvan. Di dalam mobil masih sempat-sempatnya berpikiran mesum. Bukan soal ciumannya tetapi keselamatan dalam mengendarai mobil.
"Fokus bawa mobil! Anak masih kecil." Citra ingatkan Alvan bahaya bercanda dalam mobil.
"Siap nyonya! Sinis amat nih nyonya! Oh ya Citra! Tadi Daniel ada bilang bahwa Natasha ingin masuk Islam karena dia akan menikah dengan Daniel. Aku mau kamu bicara dengan Natasha masalah masuk islam itu bukan main-main. Tetapi harus keluar dari hati nurani. Daniel ingin segera menikahi Natasha karena takut terjerumus dosa."
"Bagus dong! Alangkah baiknya jika Natasha ikhlas masuk Islam. Nanti kami teleponan."
"Jangan telepon tapi jumpa langsung! Ini bukan permainan atau sekedar hanya menuruti hasrat sesaat. Jangan hanya karena ingin menjadi istrinya Daniel dia mempermainkan agama. Agama itu harus keluar dari hati dan keikhlasan."
"Wah...suami aku mulai pintar ceramah soal agama. Apa yang Mas katakan itu 100% benar. Kalau Natasha masuk Islam hanya karena ingin menikahi Daniel tetapi bukan dari hati terdalam itu sama saja bohong. Iya kita harus jumpai Natasha untuk membicarakan hal ini. Kapan masa ada waktu biar kita jumpa sama-sama?"
"Besok selepas kerja kita ke cafenya Daniel. Di sana kita bisa bicara dengan leluasa."
"Terserah mas saja! Citra hanya ikut saja."
Alvan ulurkan tangan kiri menyentuh kepala Citra. Betapa bangga punya isteri bernilai plus. Ke mana lagi Alvan akan dapat isteri model Citra. Bawa sejuta lentera cari ke pelosok bumi takkan ketemu. Tiada duanya.
"Terimakasih sayang...mas ada satu lagi pertanyaan untukmu!"
"Banyak amat. Apa lagi? Minta ijin kawin lagi?"
"Isshhh..kok ke sana pikirannya! Mas mau tanya soal HIV! Selvia drop demam tinggi, diare, muntah dan bibirnya mulai terluka. Mengapa cepat sekali dia akut? Karin kok tidak apa?"
Citra terdiam sejenak memikirkan jawaban yang tepat untuk Alvan. Kedua wanita itu terjangkit HIV. Karin dapat pertolongan sedang Selvia tidak tahu sudah terjangkit. Tidak dapat obat dan mental lagi down maka virusnya cepat menyebar. Psikis sangat berpengaruh pada perkembangan virus.
"Kak Karin dapat pertolongan hambat penyebaran virus. Sedang Selvia tidak ditangani dengan tepat. Psikis Selvia yang lemah percepat penyebaran virus. Aku pernah baca ada orang sembuh dari HIV berkat keteguhan iman melawan virus itu. HIV itu belum tentu Aids. HIV memang bisa ke Aids tapi butuh proses. Asal mental Kak Karin maupun Selvia kuat insyaallah virusnya bisa tertidur."
"Kayaknya Selvia tidak tahu dia terjangkit HIV maka tidak open. Sekarang sudah berat baru terdeteksi. Apa hidupnya akan selamat?"
"Insyaallah Selvia selamat bila dapat pengobatan. Apa mas mau cabut tuntutan?"
Alvan menggeleng. Alvan sudah bertekad tidak beri ruang pada orang jahat. Sudah di penjara masih terpikir berbuat jahat culik Citra. Manusia model gitu tak pantas mendapat pengampunan.
Kalau diampuni mungkin dia akan ulangi kesalahan yang sama. Tetap harus dapat ganjaran jadi pelajaran bagi yang lain.
"Mas...Gimana kalau kita jadikan ibu Selvia jadi tahanan kota? Dia sudah tua apa sanggup hidup di penjara? Dia berbuat gitu demi anaknya. Semua ibu di bumi akan melakukan hal sama untuk menjaga anaknya. Mas boleh hukum Selvia tapi jangan ibunya! Kasihan Oma memikirkan adiknya. Kadang Citra lihat tatapan Oma kosong. Citra duga itu karena pikir nasib adiknya."
Alvan sangat keberatan membebaskan ibu Selvia. Ibu tua itu kelewatan merancang skenario mengerikan untuk capai tujuan. Tak peduli hidup mati orang lain. Apa pantas diberi pengampunan. Alvan juga ragu lihat ketulusan Citra ingin menyenangkan Omanya.
"Beri mas waktu untuk berpikir. Jangan desak mas ya! Mas akan bicara dengan Heru soal ini. Semoga ada solusi bagus untuk kita semua. Tapi ingat! Selvia tidak masuk dalam catatan. Mas takkan lepaskan dia apapun yang terjadi."
Citra menghela nafas. Alvan terlalu sakit dikhianati orang kepercayaan. Alvan percaya pada Selvia sepenuh hati namun wanita main belakang ingin hancurkan Alvan.
"Iya mas..." Citra pilih mengalah tak memaksa. Biarkan Alvan lakukan yang terbaik bagi semua. Alvan bukan orang tak punya hati. Cuma Alvan terlalu sakit dibodohi Selvia sekian tahun.
"Terima kasih."
__ADS_1
Citra tersenyum sambil angguk kecil. Mobil melaju menembus malam yang sepenuhnya telah datang. Cahaya remang-remang matahari telah hilang berganti lembaran hitam membentang di langit bak sehelai kain hitam.
Lebih indah bila muncul bintang hiasi langit jadi motif di tengah kegelapan. Lebih indah lagi kalau rembulan genit ikut ambil bagian. Ada pendar cahaya sekitar bulan usik kekelaman.