ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Malam Indah


__ADS_3

Malam ini kelihatannya malamnya Alvan. Citra tidak melakukan gerakan yang menolak genggaman Alvan. Malam ini Citra lebih mirip marmut mungil sedang bermain dengan tuannya. Alvan serasa mendapat angin untuk berbuat lebih jauh.


Lelaki ini bergeser merapatkan tubuhnya ke tubuh Citra. Alvan tak ubah seperti cowok lain yang membutuhkan kehangatan dari istri sendiri. Ditambah lagi Alfan telah lama berpuasa di ranjang.


Kalau tidak ingat adanya anak-anak rasanya Alvan ingin membopong Citra masuk ke dalam kamar untuk merasakan kehangatan tubuh istrinya. Namun banyak kendala melarang Alvan melakukan hal itu.


"Aku belum tua! Bisa ku buktikan bagaimana perkasanya suamimu ini. Kau bisa jadi saksinya." Alvan makin mendekatkan kepalanya ke arah leher Citra. Hembusan hangat nafas Alfan menerpa Citra membuat wanita ini merasa bulu kuduknya berdiri.


Citra belum pernah seintim ini dengan lelaki manapun. Seumur hidup baru Alvan yang pertama kali menjamah tubuhnya. Tak urung Citra tersipu malu menciptakan rona merah di pipi. Alvan sangat menikmati suasana intim di malam yang romantis menurut Alvan.


Perlahan dan pasti Alvan mendekatkan wajahnya ke pipi Citra untuk memberi sesuatu tanda di pipi yang sedang memerah itu. Citra hanya bisa pasrah karena mengingat nasehat Pak ustaz yang mengatakan mengingkari suami sama saja sedang membangun jalan menuju ke neraka.


Tatkala bibir Alvan nyaris menyentuh pipi Citra tiba-tiba terdengar ketukan pintu disusul dengan suara ucapan salam.


"Assalamualaikum..." sapa dari luar.


Citra dengan grogi bangkit dari sofa segera berjalan ke arah pintu. Alvan merutuk dalam hati. Siapapun yang mengetok pintu di saat ini pantas dihadiahkan tembakan peluru di otak. Dasar tukang kacau merusak suasana hati. Alvan hampir mendapat haknya ambyar gara-gara pengacau.


"Waalaikumsalam...pak Untung! Ayo masuk!" Citra mempersilahkan Untung masuk. Cowok gempal itu membungkuk sungkan pada Citra. Untung mulai paham kalau Alvan telah berhasil maju beberapa langkah berperang lawan masa lalu.


Jam segini bosnya masih di rumah Citra berarti Alvan telah di terima di rumah isterinya. Untung lebih suka Alvan bersama Citra dari pada Karin. Karin hanya bisa ciptakan masalah buat bos. Bos ketiban masalah sama saja dia kena imbas. Yang selesaikan tetap Untung.


Kendala di tempat Citra hanya soal anak. Itu bukan soal besar hanya sekedar permintaan anak kecil umum.


"Maaf Pak mengganggu! Ini aku bawakan pakaian bapak!" Untung menyerahkan satu tas lumayan besar kepada Citra. Dari bentuk tas isinya lumayan banyak. Kelihatannya Alvan telah memperhitungkan ingin tinggal lebih lama bersama anak-anaknya.


"Tung... Tolong kau lihat Papa di rumah sakit! Di sana Nadine yang merawat bapak. Pesan pada Nadine agar merawat Papa dengan sebaik-baiknya."


Mendengar nama Nadine disebut semangat untung langsung berkobar. Untung memang sedang mengincar perawat yang dianggap sesuai dengan kriteria dia.


"Siap pak! Aku permisi... assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Baru beberapa langkah Untung keluar dari rumah Citra datanglah 3 jagoan neon beserta tiga pemuda lain. Kelihatannya ketiga jagoan neon itu telah berhasil merekrut anggota untuk menjadi pegawai di tempat Daniel. Gaya mereka Pak jenderal menang pulang dari pertempuran.


"Assalamualaikum Kak Citra! Ini sudah kubawa tiga anggota yang akan dipekerjakan di cafe Pak Daniel!" Andi memberi salam sekaligus memperkenalkan ketiga pemuda yang besok akan dibawa ke tempat Daniel.


"Oya? Ayok masuk dulu! Kita bicara di dalam." ajak Citra dengan ramahnya. Citra selalu baik pada siapapun tanpa memandang status orang itu. Hal inilah yang membuat orang sekampung menyukai Citra.


Alvan tidak bisa mengelak kehadiran 3 jagoan neon. Karena memang dia yang memberi perintah mencari pegawai untuk Daniel. Kini ketiga jagoan itu telah membawa orang-orang yang dimaksud.


Keenam pemuda itu berdiri di ruang tamu Citra berbaris dengan rapi. Citra ingin ketawa melihat pemuda-pemuda itu seperti pesakitan siap dihukum.


"Pak Alvan... ini teman-teman kami yang akan diajak kerja di tempat Pak Daniel!" ujar Andi sampai menunjuk ketiga pemuda yang tidak dikenal oleh Alvan.


"Baiklah! Anggap saja aku mengenal kalian karena kalian temannya Andi! Di sini aku tegaskan bahwa bekerja itu bukan hanya mengandalkan otot. Yang paling penting adalah kejujuran kalian, itu yang diutamakan. Kedua kerajinan kalian. Tidak mengerti bisa belajar tetapi kalau tidak jujur dan malas itu tidak bisa dipelajari. Itu sifat buruk! Apa kalian sanggup menganut kedua syarat utama ini?" Alvan langsung menekan para pemuda agar tidak melakukan hal-hal di luar jalur semestinya.

__ADS_1


"Sanggup pak! Kami berjanji tidak akan mempermalukan kampung kami. Kami siap dihajar oleh Bonar dan Tokcer bila berbuat yang bukan-bukan." kata Kasim yakin karena sudah bosan menyandang gelar pengangguran sejati.


"Aku senang mendengar janji kalian. Semoga ini bukan hanya janji di mulut saja. Besok Tokcer akan mengantar kalian ke tempat kerja. Bawa bekal seperlunya karena kalian tidak bisa pulang pergi setiap hari. Untuk sementara ini kalian dibawa pengawasan Andi. Anggap Andi Ini bos baru kalian dan harus patuh padanya."


Kuping Andi makin naik mendapat anugerah menjadi bos mendadak walaupun tidak permanen. Walaupun waktunya singkat paling tidak Andi pernah menjadi bos dari cafe kawula muda.


"Iya pak! Kami siap...terima kasih telah percaya pada kami. Kami akan berusaha sebaik mungkin." timpal Sadikin diselingi rasa iri pada Andi. Nasib orang tak bisa ditebak. Sebelumnya Andi hanya cowok jadi bahan olokan kini naik pangkat jadi orang penting. Emak Menik pasti bangga punya anak seperti Andi.


"Sekarang kalian pergilah! Oya Andi...minta pada Untung beri mereka sedikit bekal untuk tinggalkan uang belanja di rumah. Ada yang sudah berkeluarga?" Alvan meneliti anak muda itu satu persatu.


"Saya pak! Nama saya Iming punya anak satu. Dulunya kuli bangunan."


"Kerja yang baik untuk nafkahi keluargamu. Kalau kau tidak betah di cafe bisa kerja di kantor. Tapi coba dulu! Yang dihargai orang jujur. Ingat itu!"


"Terima kasih pak!" sahut ketiga calon karyawan Daniel serentak. Mereka bersyukur jumpa bos baik. Belum kerja sudah dipercayakan ambil gaji untuk belanja keluarga.


Kasim dan Sadikin tak kalah bersyukur. Mereka tidak takut emak-emak mereka kelaparan lagi. Sudah ada jaminan dari Andi.


"Kalian pulang persiapkan mental jadi pegawai jempolan."


"Siap pak!" Satu persatu pemuda itu meninggalkan rumah Citra. Kecuali Andi.


Rumah Andi di sebelah maka tidak urgen segera menghilang. Andi masih butuh pengarahan Alvan tentang tugas rangkapnya. Andi tak mau salah dalam melaksanakan perintah. Tujuan utama Andi adalah bongkar kejahatan Selvia.


Alvan menatap tajam ke arah Andi yang tidak ikut keluar. Alvan ingin semua orang keluar dari rumah Citra agar dia punya kesempatan berduaan dengan wanita mungil yang dia panggil isteri.


"Kau mau nginap di sini?" sindir Alvan melihat Andi masih betah berada di antara mereka. Apa Andi ingin jadi hansip jaga lingkungan Citra dari para lelaki?


"Ya ampun kamu An! Bukankah sudah kubilang kau hanya sementara wakili Daniel. Kau juga tak cocok kerja di cafe. Banyak godaan..."


"Betul Andi tidak dimutasi ke cafe?"


"Betul...Begitu Daniel pulang kamu balik kantor! Sekarang ada apa mau disampaikan? Hari sudah malam. Semua mau istirahat!"


"Iya pak...Andi mau pulang! Permisi..." Andi boleh bernafas lega tidak kena mutasi jabatan.


Kerja di kantor lebih keren dari pada jadi penjaga cafe. Semua orang bisa kerja di cafe tapi tidak semua bisa masuk kantor. Apa lagi duduk di posisi penting.


"Eh...apa sekitar sini ada tukang bangunan handal?"


Langkah Andi tertunda mendengar pertanyaan dari Alvan. Andi heran mengapa tiba-tiba bosnya menanyakan tukang bangunan. Apa yang akan dibangun.


"Untuk apa Pak? tanya Andi dengan wajah tuli putih rasa heran.


"Aku berencana membangun tanah kosong yang ada di belakang. Rumah ini terlalu kecil untuk Azzam dan Afifa. Mereka butuh ruangan yang lebih luas."


Andi tidak segera menjawab karena sedang memutar otaknya. Lajang ini sedang memikirkan siapa yang cocok untuk direkomendasikan ke Alvan. Rasa-rasanya tukang di daerah itu tukang yang biasa-biasa saja. Bukan tukang yang memiliki ijazah di bidang pembangunan.

__ADS_1


"Pak... Andi memiliki solusi. Itu rumah Bu Hajjah Aminah mau dijual karena pak haji telah meninggal. Sekarang Bu Aminah kan tinggal sendirian. Dengar-dengar beliau tidak sanggup lagi mengurus rumah sebesar itu. Bu Aminah berniat menjual rumahnya yang besar dan membeli rumah yang kecil saja. Mengapa kita tidak tukaran rumah?"


"Maksudmu apa?"


"Gini lho Pak! Haji yang punya rumah paling gede di sini telah meninggal 3 tahun yang lalu. Almarhum meninggalkan seorang istri yang sudah tua. Anak beliau telah pindah ke luar negeri. Jadi Bu Hajjah tinggal sendirian di rumah. Rumahnya dibangun oleh anaknya yang tinggal di luar negeri. Rumah itu sangat besar dan luas ada kolam renang dan lapangan tenis. Letaknya paling ujung jalan. Tidak jauh dari sini juga. Jadi Andi pikir rumah Azzam ini kita jual sama Bu Hajjah dan kita membeli rumah Bu Hajjah. Itu maksud Andi?"


Alvan mulai memahami cerita Andi yang sedikit terbelit-belit. Alvan tertarik juga pada usulnya Andi. Cuma keputusan tergantung pada Citra. Bagi Alvan asal Citra setuju tidak jadi masalah.


"Terima kasih infonya! Biar kakak mau pertimbangkan semua ini. Kalau ada waktu aku akan pergi melihat rumah tersebut."


"Iya Pak... bapak bisa mengandalkan tokcer untuk menghubungi Bu Hajjah. Andi pamitan dulu. Assalamualaikum..." kali ini Andi benar-benar pergi dari rumah Citra. Sebebal apa otak Andi pasti ngerti Alvan ingin habiskan malam bersama anak isteri.


"Waalaikumsalam..." sahut Citra sambil bangkit menutup pintu. Kedamaian kembali menyeruak. Tak ada hiruk pikuk suara orang lalu lalang di luar.


"Aku mau mandi dulu! Badanku terasa lengket!" Alvan bangkit sambil menenteng tas berisi pakaian yang di bawa Untung.


Alvan belum ngerti harus disimpan di mana pakaiannya? Alvan tak berani lancang buat keputusan sendiri karena masih hormati Citra sebagai tuan rumah. Dia hanya pendatang walau suami Citra.


"Mau mandi air hangat? Udara sudah dingin. Orang tua tak baik mandi air dingin. Takut rematik."


"Mandi air dingin tak soal asal ada alat penghangat alami. Aku boleh gunakan?" pancing Alvan menjurus ke arah mesum.


"Boleh asal siap disunat. Ingat loh aku ini dokter!" balas Citra dengan mata membesar. Alvan sudah menduga akan mendapat jawaban yang tidak menyenangkan.


"Kalau disunat sampai habis bagaimana aku menafkahi istri aku? Kasihan dong istri aku merana tidak dapat jatah!"


"Dasar orang mesum... mandi sana! Ke sini kan tas bapak biar ku atur di lemari!"


"Lemari di kamarmu ya! Tak baik beri contoh buruk pada anak-anak kalau orang tua mereka saling bermusuhan. Anak-anak pasti ingin lihat kita akur!"


"Ambil baju tidur bapak!" Citra tidak menjawab topik Alvan. Buntutnya Alvan akan menuntut tidur di kamarnya. Andai Alvan bersikeras ingin masuk kamar Citra, dia tak boleh larang. Alvan punya hak tidur seranjang dengan Citra.


Jangankan seranjang lebih dari itu Citra harus terima. Selama ini Citra sudah cukup berdosa menutupi mata Alvan soal status pernikahan mereka. Citra biarkan Alvan mengambang dalam ketidak pastian.


Alvan mengambil beberapa peralatan mandi dan pakaian lantas masuk kamar mandi. Citra merasa jantungnya berdegup kencang ingat bagaimana kalau Alvan ingin tidur di ranjangnya. Citra merasa panas dingin ketakutan sendiri. Rasanya tubuh Citra mendadak naik demam. Bukan demam penyakit melainkan demam Alvan.


Sebelum masuk ke kamar sendiri Citra memeriksa Afifa dan Azzam di kamar mereka masing-masing. Kedua anaknya telah tertidur lelap karena mereka berdua terbiasa bangun subuh. Sambil mengendap-ngendap Citra masuk ke kamar anak-anaknya dan memberi kecupan kasih sayang seorang ibu. Mereka berdua adalah semangat Citra. Tanpa mereka Citra tak mungkin bisa berjuang sampai detik ini.


Citra tinggalkan kamar anak-anaknya setelah yakin mereka berdua telah tertidur dengan lelap. Citra lantas masuk ke kamarnya untuk menyusun pakaian Alvan ke dalam lemari. Kebetulan banyak tempat kosong karena pakaian Citra memang tidak seberapa. Citra bukan seperti perempuan lain yang mengumpulkan pakaian sampai lemari tak sanggup. Citra berhemat untuk menyekolahkan Azzam dan Afifa ke jenjang yang paling tinggi.


Tak butuh waktu lama pakaian Alvan telah berpindah ke lemari dan telah tersusun dengan rapi. kehadiran Alfan membuat Citra benar-benar menjadi seorang ibu dan seorang istri. Citra tak bisa menyangkal kalau Alvan memang suaminya yang sah dalam hukum dan agama.


"Halo..."


Citra mengangkat kepala melihat Alvan telah berdiri di pintu kamarnya. Lelaki itu tidak berani melangkah masuk sebelum mendapat izin dari yang empunya kamar. Langkah Alvan terhenti persis di depan pintu.


"Bapak sudah ngantuk?" tanya Citra dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Bolehkah aku masuk ke dalam?" tanya Alvan dengan tatapan sayu. dalam hati Alvan sangat berharap kepala Citra mengangguk memberinya izin.


"Memangnya bapak mau ngomong apa?" Citra masih pura-pura tidak memahami keinginan Alvan.


__ADS_2