
Citra keluar dari kamar aja menuju ke kamar Afifa. Citra mau melihat apa yang dikerjakan oleh anak bungsunya itu. Belajar atau asik main game di tablet. Citra sudah berusaha menghindarkan barang itu daripada anak-anaknya tetapi Alvan justru membeli barang yang bisa merampas perhatian anak-anak dari pelajaran.
Perlahan Citra buka pintu kamar Afifa. Ternyata gadis kecilnya memang sedang belajar. Gadis kecilnya bersemangat bersaing dengan Afisa untuk menjadi yang terbaik. Otak Afifa memang tidak selicin otak Afisa. Setidaknya dia sudah berusaha bersaing.
Citra masuk ke dalam sekedar menyapa Afifa sebagai ucapan selamat tidur. Waktu Citra tersita oleh tugas dan kepentingan Alvan. Kini Citra jarang duduk ngobrol dengan Azzam dan Afifa. Video call dengan Afisa juga berkurang. Citra merasa sangat bersalah pada ketiga anaknya.
"Sayang...lagi belajar ya?" Citra mengecup pipi Afifa dari samping. Afifa hanya tertawa kecil menyambut kehadiran maminya. Afifa tidak manja kayak biasanya. Afifa tampak lebih dewasa dari sebelumnya. Kini gadisnya tidak grasa grusu minta perhatian. Siapa pengaruhi Afifa berubah dalam waktu singkat.
"Minggu depan kita sudah ujian mi! Amei harus lebih rajin."
"Koko sudah kasih tahu. Mami minta maaf tak dapat temani kalian akhir ini. Amei ngerti pekerjaan mami kan?"
"Ngerti mi...gimana Oma?"
"Alhamdulillah Oma sudah sadar! Cuma masih perlu perawatan. Amei mau jenguk Oma?" Citra meneliti raut wajah Afifa melihat apa maunya anak itu.
Afifa menggeleng lemah. Afifa telah menanam rasa tidak suka kepada Bu Dewi. Wanita tua itu telah memperlihatkan wujud aslinya kepada cucu-cucunya. Afifa bukan Citra yang memiliki rasa toleransi tinggi. Afifa hanyalah seorang anak kecil yang menilai sesuatu dari pandangan mata. Apa yang dilihat langsung itulah fakta di mata anak ini.
"Sayang ..itu mamanya papi! Amei dan Koko harus jenguk beliau ya!" bujuk Citra hendak luluhkan hati Afifa. Afifa biasanya lembut hati tapi kali ini beri vonis tak ingin dekat dengan Oma mereka. Afifa terlanjur cap Omanya sebagai pengacau.
"Amei harus fokus belajar. Untuk sementara tak ada waktu untuk pergi. Kapan-kapan deh!" tolak Afifa halus.
"Iya... kapan-kapan Amei pingin ya! Mami mau cepat tidur karena capek. Nanti siap belajar langsung bobok ya!"
"Ya mi..good night!"
"Night..." Citra mengacak rambut Afifa lalu keluar.
Citra menemukan ada yang aneh pada Afifa. Mengapa anaknya berubah berapa hari ini. Sifat baik hati sirna seperti bensin terkena udara panas. Menguap ntah kemana. Apa kata Alvan bila tahu Afifa ikuti jejak Azzam dan Afisa musuhi Oma sendiri. Itu bukan gaya Afifa menilai orang sisi gelap.
Di dalam kamar Alvan telah menanti Citra. Lelaki ini merasa lebih baik dari segi manapun. Mamanya telah berdamai dengan Citra merupakan hal terindah dalam hidupnya. Alvan tak perlu takut kehilangan Citra. Alvan cukup menata yang telah berantakan. Mulai dari awal menyusun kisah baru. Citra mengambil baju tidur masuk ke kamar mandi. Sebelum tidur Citra ingin bersihkan seluruh tubuh dari sisa daki dan kotoran dari rumah sakit. Menjadi seorang dokter kebersihan menjadi prioritas utama.
Mata Alvan berbinar membayangkan tubuh mungil itu berada dalam rengkuhan berlayar ke pulau bertaburan bunga cinta. Sudah berapa hari burung cucak Rowo Alvan tak dapat umpan lezat. Nelangsa minta disayang tangan lembut sang dokter. Sang dokter tidak peka tega biarkan burung keramatnya kesepian sampai hilang suara kicauan.
Alvan punya insiatif sendiri. Lebih baik menyerang dari pada pasif tak hasilkan sesuatu. Kalau hanya menunggu belum tentu mendapatkan apa yang dia mau.
Alvan bergerak aktif membuka pintu kamar mandi. Seketika pemandangan menggoda Sukma Alvan terpapang nyata di mata. Citra mandi di bawah curahan shower penuh busa sabun berbau harum. Tubuh mungil tanpa cacat meliuk ikuti curahan air yang pasti hangat.
Air liur Alvan menetes bak mendapat santapan lezat siap dimasukkan dalam mulut. Rasanya pasti renyah dan nikmat. Citra tidak kaget melihat kehadiran Alvan. Dari tadi gerak gerik suaminya sudah jelas terbaca di mata Citra.
Bak cowok mabuk cinta Alvan ikut masuk ke dalam curahan air shower. Tak peduli pakaiannya basah kena air mandi. Alvan justru ingin pakaian basah agar ada alasan buang baju penghalang untuk rasakan kelembutan kulit Citra. Citra sudah tak punya kesempatan kabur dari cengkeraman Alvan yang tengah diterpa badai gairah setinggi langit.
Citra pasrah Alvan bagai pelukis mewarnai tubuh Citra dengan lukisan bibirnya. Setiap jengkal badan Citra tak luput dari kecupan bibir Alvan. Citra terpancing oleh stempel bibir Alvan di sekujur tubuh. Ada sesuatu menyesak di dada ingin menyatukan diri pada Alvan. Bukan sekedar kecupan.
Alvan tersenyum lihat Citra si mungil telah tak berdaya kena hipnotis pesona seorang Alvan. Burung cucak Rowo Alvan bakal segera dapat sarang hangat untuk istirahat. Alvan tak perlu kerja keras untuk meraih hak dan kenikmatan dari isterinya. Cukup aktif gerilya membawa Citra ke puncak akhir daripada hubungan suami istri.
Acara mandi Citra berubah menjadi ajang saling melempar rasa cinta. Saling memberi dan menerima. Tak puas bercinta di kamar mandi dilanjutkan di tempat tidur. Alvan ingin mereguk sepuasnya setelah puasa berhari-hari. Tersirami sudah Padang gersang Alvan. Mereguk kenikmatan hingga puas.
Alvan tersenyum melihat istrinya tertidur setelah bercinta dengan maha dahsyat. Alvan tidak pernah puas harungi samudera cinta bersama Citra. Semoga semuanya takkan berlalu. Langgeng hingga maut memisahkan mereka.
Alvan berjalan keluar menuju ke teras kamar untuk hirup angin malam untuk segarkan tubuh yang lelah berpacu dengan nafsu badak.
Angin malam berhembus menembus kulit Alvan sampai ke dalam pori-pori datangkan kesejukan. Ingatan Alvan kembali ke masa lalu di mana dia cuekin Citra. Waktu itu Citra hanya seorang gadis kecil tanpa pengalaman cuma gadis dididik dengan baik oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
Tatapan mata Citra yang bening menahan kesedihan dilecehkan oleh Alvan dan Karin. Setiap hari bekerja tanpa mengeluh, semuanya dikerjakan dengan hati tulus. Orang yang selalu berada di sisi Citra justru Daniel. Seniman gagal itu tak bosan beri semangat pada Citra.
Semestinya Daniel yang harus mendapatkan cinta Citra. Bukan manusia tengik macam dia. Dasar apa dia mendapat perhatian dari Citra.
"Mas..."
Panggilan lembut menyadarkan Alvan dari kenangan pahit di masa lalu. Wanita yang berada dalam lamunan kini berdiri di belakang Alvan. Citra membentuk siluet indah kena cahaya lampu remang-remang. Bak patung maha karya seniman ulung. Indah meminta orang menyentuhnya.
"Terbangun? Dingin...ayok masuk!" Alvan bergerak memeluk Citra. Alvan merapatkan tubuh Citra ke dadanya agar wanita itu bisa rasakan betapa sayang Alvan kepadanya.
"Mas..andai kita begini terus bukankah lebih baik daripada asyik bercanda dengan amarah?"
"Maunya mas juga begitu! Kau masih muda tapi kamu lebih maju dari mas. Umurmu kecil tapi jiwamu tua. Mas harus banyak belajar darimu!"
Citra tidak menjawab tidak Ge ER pujian Alvan. Pengalaman hidup banyak mendidik Citra gunakan kata sabar. Orang sabar pasti akan terima hasil paling sempurna.
Serangkum angin kencang berhembus menerpa wajah keduanya menyadarkan kalah angin telah bertiup kencang. Suhu udara berubah lembab tanda alam akan menangis. Menangis basahi seluruh persada.
"Yok masuk sayang! Kayaknya mau hujan."
Alvan tetap merangkul pundak Citra berjalan menuju ke peraduan untuk luruskan punggung. Citra duluan masuk ke dalam selimut disusul Alvan merentangkan tangan minta Citra masuk ke dalam rengkuhan Alvan. Harum tubuh Citra bikin pikiran Alvan makin adem. Inilah surga dunia sesungguhnya. Berada di samping orang tepat.
"Tidurlah! Besok kau masih harus kerja." Alvan mengusap pipi Citra lembut.
"Minggu depan anak-anak ujian. Kita harus luangkan waktu temani mereka belajar."
"Oh...kau biasanya gitu?"
"Iya...aku selalu kasih semangat pada mereka. Perhatian dari kita adalah tongkat bagi mereka untuk berjalan lebih jauh."
"Ya...dan satu lagi! Aku rekom mama dibawa ke Tiongkok. Di sana pengobatan lebih canggih. Kayaknya masih ada yang tak beres di otak Mama. Masih ada penyumbatan. Kalau kita biarkan akan lebih fatal. Hasil CT scan dan MRI kurang memuaskan!"
Alvan termenung percaya Citra tak mungkin bohong. Wanita ini sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengobati Bu Dewi. Citra memang ahli namun ada pakar lebih ahli lagi. Di atas gunung ada langit. Itulah pepatah kuno berkata.
"Rencanamu gimana?"
"Aku akan urus semua ijin berangkat ke sana. Mas antar mereka. Nanti sampai sana papa dan mama Afisa akan urus kalian. Aku akan hubungi profesor Wu agar tangani mama dan papa."
"Kau tidak ikut?"
"Bukankah sudah kubilang anak-anak mau ujian? Aku tak mungkin tinggalkan mereka. Mas di sana dulu sampai kondisi mama agak lumayan."
"Berapa lama di sana? Kantor gimana?" Alvan bingung sendiri bagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Keduanya sama penting.
Kondisi kantor baru saja membaik setelah Alvan turun tangan. Kini harus pergi lagi ntah sampai kapan. Bagaimana pula kondisi kantor?
"Apa mas tak punya saudara bisa handel kantor?"
"Aku anak tunggal. Papa juga tunggal. Yang ada saudara sebelah mama. Mereka mana paham soal bisnis? Untung bisa diandalkan tapi tak bisa ambil keputusan."
Citra memahami dilema Alvan. Ke kiri salah ke kanan juga salah. Tapi ini menyangkut keselamatan mama sendiri. Alvan tak boleh lepas tangan.
"Gini saja mas! Mas coba hubung saudara mama di Kalimantan minta salah satu keluarga temani mama selama pengobatan. Mas cukup antar dan boleh balik. Selanjutnya biar papa Afisa yang urus."
__ADS_1
"Andai kau bisa pergi.." keluh Alvan masih ingin bersandar pada Citra.
"Aku harus temani anak-anak selama ujian! Mereka butuh aku! Selama sembilan tahun ini aku tak pernah tinggalkan mereka dalam waktu lama."
"Aku yang temani mereka. Gantian aku temani mereka dan kau urus papa dan mama. Gimana?"
"Huusss mas bisa apa? Tidak.. aku tetap berasa di sisi anakku."
"Aku punya solusi bagus untukmu!"
"Apa itu?"
"Anak-anak kan ujian Minggu depan. Kau antar mereka ke sana bawa Nadine. Nadine kita tinggalkan di Tiongkok untuk merawat keperluan papa dan mama. Setelah dapat hasil kau bisa pulang. Gimana?"
"Tuan Alvan yang mulia. Urus visa saja tiga hari. Tunggu hasil cek beberapa hari. Mana sempat pulang tepat waktu. Tetap mas yang tepat ke sana. Boleh bawa Nadine..."
"Kau tak takut aku diculik Nadine?"
"Ge ER amat...Nadine bukan pagar makan tanaman. Tidak semua orang kayak Selvia maupun Viona."
"Kau lupa satu lagi..."
"Siapa?"
"Karin...dia adalah tokoh utama hancurnya rumah tangga kita!"
Citra tak suka Alvan kambing hitamkan Karin. Kalau Alvan punya iman sejuta Karin juga tak bisa ganggu keluarga mereka. Alvan sendiri kunci kehancuran mahligai rumah tangga mereka.
"Itulah egonya mas! Karin itu hanya pemicu tetapi yang jalankan tetap mas! Jangan salahkan orang lain tapi mas sendiri yang salah. Kalau mas teguh pada pendirian tentu tak ada hari kelabu kita. Tak perlu cari biang kerok penyebab kita terpisah. Aku tetap salahkan mas!" kata Citra datar.
Seluruh tubuh Alvan membeku dengar isi hati Citra. Kata-kata ini mungkin sudah lama terpendam dalam relung hati Citra. Cuma belum ada kesempatan diluncurkan dari bibir.
"Kau masih marah pada mas?"
"Apa kalau aku ngamuk bisa kembalikan waktu kita? Aku tak marah pada mas karena telah memberiku hadiah tak ternilai."
Tak perlu Citra jelaskan apa maksudnya Alvan sudah ngerti kalau hadiah itu adalah anak-anak cemerlang.
"Mas ngaku salah. Waktu itu mas masih muda gampang terbawa arus. Yang tampak hanya gemerlap luar. Makin ke depan mas makin ngerti bahwa itu hanyalah jalan terjal terjun ke jurang."
Citra tertawa sinis lagi-lagi Alvan salahkan usia. Waktu itu usia Citra jauh lebih muda dari Alvan dan Karin. Namun Citra bisa berpikir jauh memilih mundur untuk kebahagiaan Alvan. Sesuatu yang di awali kebohongan hasilnya kosong.
"Tampaknya mas belum paham maksud aku! Jangan salahkan siapapun dalam kemelut kita! Yang salah ego dan keangkuhan mas!"
"Iya...mas salah! Egois...bodoh dan tolol. Apa lagi menurutmu?"
"Genit..."
"Itu pasti...kalau tidak genit mana ada tiga kurcaci kita! Sekarang tidur! Besok kita tanya kesiapan Nadine berangkat ke Tiongkok."
"Baik..."
"Selamat malam sayang.. mimpi aku ya!" bisik Alvan lembut di kuping Citra. Segala yang terindah ingin Alvan berikan pada Citra sebagai tembusan kesalahan fatal meninggalkan Citra.
__ADS_1
Citra kembali pejamkan mata melanjutkan mimpi yang tertunda. Semoga esok ada jawaban atas permintaan Alvan agar Citra yang antar kedua orang tuanya berangkat ke Tiongkok.
Malam berlari mengejar fajar. Sebentar lagi fajar akan menyingsing memancarkan harapan bagi seluruh penduduk belahan dunia yang terkena sinar matahari. Matahari telah berjanji akan rajin memberi cahayanya agar terang dunia.