
Alvan tak percaya pada niat konyol Heru ingin minta dua dari empat bayi dalam perut Citra. Dia sudah kehilangan setengah Afisa apa sejarah kehilangan anak akan terulang lagi?
"Om..Citra belum tentu setuju."
"Dia akan setuju. Kau pikir urus empat bayi segampang kamu tender proyek? Citra bisa bertugas seperti biasa dan bayimu dirawat Afung dan Uyut mereka. Mereka tidak akan berpisah cuma mereka akan menyandang nama Perkasa.
"Aku kok makin pusing? Beri aku waktu berpikir. Aku sudah kehilangan Afisa sekarang harus kehilangan dua lagi?"
"Tahun depan kau produksi lagi lima. Jatahku tiga dan kau dua."
"Om edan...emang kau pikir Citra hamil aku tak menderita? Dia tidak ngidam tapi aku yang ngidam. Dasi kerja aku saja sudah copot gara-gara bertingkah aneh di kantor. Satu kantor pikir bos mereka ada kelainan jiwa. Enak aja kamu yang dapat anakku. Nggak bisa."
"Kau tak kasihan pada Afung dan Citra? Satu rindu anak dan satunya repot urus empat bayi. belum lagi anak-anak kamu yang lain. Bisa tinggal tengkorak bini lhu! Pikirkan itu."
Alvan menjadi ragu untuk menjawab. Dia yang punya anak kok Heru yang atur. Mentang-mentang pangkatnya lebih tinggi mau berbuat seenaknya pada keluarganya. Alvan masih waras tidak gampang iyakan permintaan Heru. Dia perlu pikir panjang kali lebar ijinkan Heru kuasai anaknya. Tidak tanggung pula minta dua. Memangnya anak mereka anak kucing bisa diadopsi sesuka hati.
"Beri aku waktu berpikir. Dan lagi anak-anak belum lahir. Kita doakan mereka lahir selamat dulu. Tunggu om pulang tanah air dulu baru kita bahas lagi. Siapa tahu ada keajaiban buat Afung."
"Aku berharap begitu tapi dokter sudah vonis rahimnya rusak berat. Oya ..besok kau atur pesawat untuk jemput kami. Kami mau pulang."
"Ya ampun om! Mending pulang sama pesawat komersial. Kirim pesawat butuh satu hari lagi. Aku akan jemput di Bandara."
"Kau benar....otakku kok buntu! Ya sudah nanti kukabari kamu jadi terbang! Aku mau bawa Afisa tapi anak itu bersikeras mau selesaikan pertandingan musim dingin. Aku tak mau kejadian Afung terulang pada cucu aku. Kau tunggu kabar dariku! Untuk sementara kita rahasiakan masalah ini. Cuma kau dan aku yang tahu."
"Emang om pikir mulutku mulut ember? Aku bukan emak-emak kurang kerjaan. Kutunggu saja. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..."
Dada Alvan serasa mau meledak akibat ulah Heru seenak dengkul mau rampas anaknya. Alvan belum rela pisahkan anak-anaknya walau masih satu lingkungan. Dia sudah kehilangan Afisa diasuh oleh orang jauh. Apa kini harus ngalah ijinkan orang adopsi anaknya lagi. Dia saja masih ingin tambah anak dari Citra. Kalau ada selusin lagi.
Alvan meletakkan ponselnya di atas meja dengan hati hampa. Ruang yang adem oleh hembusan angin AC tak mampu dinginkan kepala yang sedang membara akibat ulah Heru.
Heru tak ubah seperti malaikat maut hendak cabut seluruh urat kehidupan Alvan. Mau ngeluh pada siapa? Kepala laki ini sudah cukup pusing karena bantu Citra ngidam. Om baik hati menambah pikiran laki ini bikin sensasi baru.
Belum sempat urat di kepala lurus ponsel Alvan berbunyi lagi. Alvan layangkan mata ke arah benda pipih itu. Siapa lagi ganggu otak kusut ini.
"Karin..." desis Alvan heran.
Ada apa wanita ini meneleponi dia? Cukup lama mereka tidak saling kontak sejak Karin ditalak oleh Alvan. Angin apa bawa wanita ini meneleponi dia.
"Halo ada apa?" tanya Alvan datar tanpa nada akrab. Alvan harus tegas karena Karin bukan siapa-siapa lagi selain hubungan teman.
"Assalamualaikum..." terdengar suara halus sopan dari seberang.
__ADS_1
Alvan senang suara Karin berubah jauh lebih ramah dan sopan. Tidak angkuh kayak dulu lagi.
"Waalaikumsalam..."
"Apa kabar Van? Senang mau jadi papi lagi?"
"Dari mana kau tahu?"
"Citra yang kasih kabar. Selamat ya! Betapa subur kamu bila bersama Citra. Sekali lahiran tiga atau empat. Tampaknya kalian memang ditakdirkan jadi pasangan serasi. Beda dengan aku yang jadi wanita serpihan. Digauli bertahun tak pernah hamil."
"Kau mau omong apa? Antara kita sudah selesai. Jangan ungkit kisah lama lagi! Kita punya jalan masing-masing."
"Aku tidak bermaksud apa-apa hanya heran mengapa kau tak mau hamili aku sampai aku nekat berbuat serong. Andai aku bisa hamil waktu itu mungkin cerita hidupku tidak begini."
Alvan mengernyit alis heran mengapa Karin belum menyerah padahal dia katakan telah ikhlas terima keadaan sekarang. Apa yang membuatnya ungkit masa lalu suram. Apa masih ada tertinggal ganjalan di hati?
"Karin...kau sendiri bikin ulah! Aku tidak kejar semua kesalahan kamu mungkin kamu sudah harus bersyukur. Kau lupa dengan berapa pria kau bagi ranjang aku? Apa ini aku yang minta? Aku sudah beti segalanya padamu tapi kau tak pernah puas. Kau anggap aku laki tolol yang bisa kau permainkan demi ego kamu? Sudah begini kau cari kambing hitam. Jangan paksa aku berbuat kasar!" kata Alvan mulai emosi disalahkan Karin. Kalau Tuhan belum beri rezeki pada mereka apa Alvan yang salah?
"Aku marah kenapa kau tak mau hamili aku? Kenapa harus Citra?" bentak Karin dengan nada tinggi. Jelas wanita ini masih menyimpan dendam pada Citra. Artinya basa basi dia pada Citra hanyalah sandiwara tutupi kesalahan dia sendiri.
"Apa salah Citra? Dia sudah hindari kita kasih kita kesempatan bersama. Siapa yang merusak semuanya? Kau harus berpikir lebih dewasa Karin. Semua sudah aman kau buat ulah lagi. Bukankah kau sudah terima ustad Syahdan? Kenapa harus ada dendam lagi?"
"Aku tidak dendam cuma tidak puas. Mengapa Tuhan berpihak pada Citra? Lalu di mana aku? Di mana keadilan aku?"
"Ya ampun...apa mau kamu? Kukira kau telah ikhlas terima semua ini nyatanya kau masih menyimpan kemarahan. Jadi untuk apa kau lakukan semua sandiwara pura-pura berubah? Kau selalu bilang terima ikhlas bahkan telah serahkan seluruh warisan pada Azzam dan Afifa. Kau berubah pikiran?"
"Sekarang katakan apa mau kamu? Tapi ingat jangan sekali-kali menyakiti Citra dan anak-anak! Mereka tak ada hubungan dengan masa lalu kita. Kesalahan kita jangan dibebankan pada Citra! Dia bersikeras aku harus kembali padamu dan tuntut pisah secara baik-baik. Waktu itu dia sembunyikan anak-anak dari aku. Tapi dengan kelakuan kamu apa kita masih bisa kembali bersama? Kau jawab sendiri!"
"Andai dulu aku hamil mungkin aku takkan lari ke laki lain. Aku akan di rumah jaga anak tapi kenapa kau tak mau tanam bibit di rahimku?"
Alvan tertawa sinis dengar keluhan Karin. Kata-kata Karin menuduh Alvan sengaja hindar punya anak dari Karin. Tak pernah terpikir oleh Alvan berbuat begitu. Dia berharap cepat punya anak tapi Tuhan belum menjawab harapannya. Ternyata di belahan lain dia punya anak dari wanita yang dia siakan. Nasib sedang permainkan siapa?
"Baiklah! Kau mau main hitungan dengan aku bukan? Aku bukan lelaki pertama untukmu tapi aku berusaha legowo anggap aku juga bukan manusia suci. Lalu Ryan simpanan kamu walau kau sudah jadi isteri aku dan Zaki. Berapa Ryan dan Zaki lalu lalang dalam hidup kamu aku tak tahu karena aku percaya padamu. Tapi apa kudapat? Kau berzinah dengan bangga hingga hamil anak laki lain."
"Tapi itu anak bapakmu?"
"Apa bedanya? Dia juga laki lain kan? Seharusnya kau malu Karin. Citra sangat tulus padamu kamu pukul dia dari belakang. Setiap hari sebut namamu takut kamu drop. Apa ini balasanmu pada orang yang begitu baik?"
"Kalau itu aku tak ragu. Aku tahu dia wanita baik tapi dia telah merampas kebahagiaan aku. Dia telah ambil kamu dari aku!"
"Kita sudah hancur sebelum dia datang. Dia malaikat penolong kita. Sekarang kau mau apa? Paksa dia pergi lagi?"
"Iya...aku mau tahu berapa tulus dia sebagai manusia? Aku tak dapat kamu dia juga tak perlu dekat kamu. Kau harus adil. Kau sudah ceraikan aku dan kau juga harus ceraikan dia! Impas kan?"
__ADS_1
"Kukira kau sudah berubah Karin. Pengalaman hidup tak ajar kamu menjadi lebih baik. Sampai mati aku takkan ceraikan dia. Aku lindungi dia dengan nyawaku!"
Karin tertawa kesetanan dengar keteguhan Alvan menjaga Citra. Tampaknya tak ada yang bisa goyahkan cinta Alvan dari Citra. Citra orang beruntung dapat cinta yang sangat besar dari Alvan. Karin tak perlu kuatir lagi Alvan akan berpaling ke wanita lain. Citra berhak menerima bayaran dari kebaikan hatinya.
"Baiklah! Aku takkan ganggu kalian! Selamat bahagia ya! Aku lega Citra mendapat cinta tulus darimu. Aku juga akan bahagia bersama ustad. Aku juga akan punya anak."
"Kau hamil?"
"Tidak...aku belum gila ambil resiko hancurkan masa depan anak. Aku akan adopsi anak Ambar. Wanita yang kalian kirim ke pesantren. Maaf tadi aku keras! Aku tak bermaksud apa-apa hanya takut kau goyah terhadap Citra. Kita semua berhak bahagia."
"Ya Allah...kukira kau benaran ingin hancurkan Citra. Aku benar tak sanggup hidup tanpa Citra."
"Wanita sebaik Citra tak pantas kita pecundangi. Sayangi dia ya! Aku lega kau tulus pada Citra. Jangan karena tubuhnya melar nanti kau main gila dengan wanita lain. Aku takkan maafkan kamu!"
"Terima kasih Karin. Aku lega kau maklumi keadaan kami. Aku juga minta maaf telah kasar! Kau mau test aku?"
"Iya...paling tidak aku tahu aku telah tamat di hatimu. tak ada tempat sedikitpun bagiku di hatimu. Aku hanya bisa ucapkan selamat bahagia buat kalian sekeluarga dan semoga Citra selalu dalam kondisi sehat sampai hari lahiran."
"Amin..sekali lagi maaf dan terima kasih Karin! aku juga mendoakan semoga kamu bahagia dengan ustadz Syahdan."
"Amin...dalam untuk Citra ya! Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam.."
Alvan meletakkan ponsel mengusap wajah dengan lega. Semula Alvan mengira Karin mau cari masalah ungkit masa lalu mereka. Kalau sudah begini Alvan akan sakit kepala. Karin memang susah dicerai tapi sedikit banyak ada kenangan antara mereka. Seburuk apapun Karin tetap tersisa pahit manis dalam hati.
Alvan menarik nafas dalam-dalam mengisi kekosongan oksigen dalam rongga dada. Alvan harus tegas pada siapapun yang ingin mengacaukan rumah tangga dengan Citra. Tak boleh ada sela buat orang lain masuk ke dalam.
Alvan bersiap angkat kaki dari kantor. Lelaki ini membereskan semua dokumen penting simpan di tempat aman agar tidak terjadi kebocoran lagi. Alvan harus semakin dewasa sikapi kecurangan dalam perusahaan.
Bos Lingga bawa mobil sendiri pulang untuk berkumpul dengan keluarga. Keluarga tempat paling nyaman setelah seharian peras otak demi perusahaan. Demi masa depan anak-anaknya.
Alvan tidak ceritakan rencana Heru adopsi anak mereka. Alvan takut Citra jadi pikiran. Ini akan merusak mood wanita hamil itu. Alvan tak mau ambil resiko membebani Citra dengan pikiran buruk. Biarlah tunggu kelak Heru sudah di tanah air baru mereka bahas lagi.
Esoknya Heru kasih kabar kalau mereka pulang hari itu juga bersama kedua orang tua Heru. Orang tua Alvan ditinggal di Beijing lanjutkan pengobatan. Afung tentu saja ikut pulang bersama Heru.
Alvan dijadwalkan menjemput Heru dan keluarga pukul tujuh malam karena pesawat langsung dari Beijing tanpa transit.
Alvan sudah janji akan jemput opa Azzam dan Uyut mereka tanpa di dampingi Citra dan anak-anak. Mereka cukup menunggu di rumah saja. Alvan tak mau Citra kelelahan jalan terlalu jauh.
Rencana Citra harus kontrol kandungan ditunda sampai Uyut mereka pulang. Citra mau Uyut bayi ikut lihat perkembangan sang janin yang cukup ramai. Ntah bagaimana reaksi Uyut mereka punya cucu kembar empat. Satu keajaiban bagi keluarga besar ini. Citra belum tahu musibah besar telah terjadi pada Afung. Heru dan Alvan masih rahasiakan musibah Afung. Biarlah semua jadi rahasia Tuhan.
Citra dan anak-anak sudah persiapkan diri menyambut kehadiran Uyut yang mereka cintai. Bu Sobirin pandai ambil hati anak-anak maka dia jadi Oma Uyut favorit. Beda dengan Bu Dewi yang agak egois. Terlalu banyak bicara sehingga Tuhan murka tutup mulutnya.
__ADS_1
Hampir jam sembilan Alvan baru berhasil bawa pulang orang tua keluarga Perkasa.
Bu Sobirin tak sabar ingin jumpa Citra yang bikin pamornya makin melangit. Oma Uyut yang masih muda dan baik hati. Umur lima puluh tahun lebih sudah jadi Oma Uyut. Prestasi luar biasa.