ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Mencari Jati Diri


__ADS_3

"Kak...aku dukung kakak cari jati diri di pesantren. Mungkin Kakak akan lebih tenang berada di tempat yang damai. Di sana warganya semua juga pengidap virus HIV. Tapi bukan berarti kami mengusir Kakak dari kehidupan kami kami tetap ada selamanya untuk kakak. Kakak tak boleh putus asa dan harus bersemangat menjalani hidup ini untuk mengalahkan virus yang nakal itu."


"Terima kasih Cit! Andai waktu bisa diputar aku memilih kamu berada di sisiku."


Citra tertawa mendengar harapan Karin yang tak mungkin terulang kembali. Waktu yang telah berlalu tak mungkin kembali lagi. Yang tertinggal hanyalah penyesalan.


"Kak...kapan kakak mau pergi kabarin kami ya! Mas Alvan pasti akan antar kakak ke sana. Satu lagi, meninggalnya Selvia hanyalah takdir nasibnya. Kita semua juga tidak berkehendak dia meninggal mendahului kita."


"Iya kakak ngerti! Terima kasih untuk semuanya Cit! Kau hati-hati ya! Assalamualaikum.." Karin duluan mematikan ponsel tanpa sempat mendengar salam dari Citra.


Di rumah besar Alvan, Karin duduk termenung sendirian di dalam kamar. Perjalanan hidup seorang manusia itu sangat misteri. Tak ada yang tahu kapan dan di mana ajal akan menjemput. Ada sedikit penyesalan di hati Karin telah melakukan sesuatu hal buruk pada Selvia. Pada waktu dia menjenguk Selvia di tahanan ia menyuntikkan beberapa cc darahnya ke dalam tubuh Selvia. Waktu itu Karin dibutakan oleh dendam gara-gara Selvia dia mengidap penyakit HIV.


Waktu itu Karin hanya berpikir apa yang dia rasakan harus juga dirasakan oleh Selvia. Cuma Karin tidak menyangka kalau virus di tubuh Selvia akan menyebar sangat cepat.


Lagi-lagi rasa sesal yang datang terlambat. Tak seharusnya Karin dibutakan oleh dendam kesumat ingin membalas semua kelakuan Selvia. Ternyata akibatnya sangat fatal memakan korban jiwa. Apakah Selvia meninggal gara-gara jadi korban dendam di hati Karin?


Sebagai manusia yang masih mempunyai sedikit hati nurani muncul juga rasa sesal di hati Karin. Berbagai kata andai muncul di benak Karin cuma sayang semua telah terlambat. Selvia telah pergi membawa rasa sesal dan dendam di hati Karin.


Karin merasa dadanya bergejolak dipenuhi oleh sesuatu perasaan aneh yang tak pernah dia rasakan. Rasa takut akan hukuman atas dosa-dosanya.


Karin segera angkat telepon ingin berbagi penyesalan kepada orang yang dianggap menjadi guru spiritual nya beberapa hari ini. Orang yang sama sama mengidap HIV tapi mempunyai keimanan sangat luar biasa.


Dengan tangan bergetar Karin klik kontak Abi Syahdan yang sering memberinya masukan untuk menjadi manusia yang lebih baik.


"Halo Assalamualaikum bi.." ujar Karin begitu hubungan tersambung.


"Waalaikumsalam... Apa kabar hari ini nona Karin?" terdengar suara wibawa namun lembut.


"Kurang baik Abi...ada temanku meninggal karena penyakit yang sama. Aku baru saja mendapat kabar dari keluarga kalau teman itu meninggal subuh tadi."


"Kamu takut? Dengar ya nona! kalau ajal sudah menjemput sakit atau tidaknya orang itu maut itu tetap datang. Virus itu hanyalah penyebab bukan penentu. Kalaupun dia tidak mengidap virus HIV kalau ajalnya sudah tiba dia akan meninggal dengan cara lain. Jadi tidak perlu memikirkan hal-hal yang belum tentu menjadi inti penyebab. Kamu cukup perbanyak dzikir dan berdoa di dalam shalat. Niscaya hatimu akan tenang dan damai. Atau kamu datang aja ke sini! Di sini banyak teman-teman yang memiliki nasib sama. Kemarin sore ada seorang wanita melahirkan di sini. Untuk sementara bayinya tidak terjangkit virus dari ibunya. Itu menunjukkan kuasa Allah masih berbaik hati pada wanita ini. Kamu harus yakin pada diri sendiri bahwa Allah itu tidak tidur dia memantau umatnya setiap detik. Kitanya yang harus bersikap baik menunjukkan bahwa kita memang umatnya yang taat." orang yang bernama Abi Syahdan memberi wejangan pada Karin untuk tidak ketakutan. Rasa takut tidak akan menyelesaikan masalah justru akan menurunkan stamina Karin sendiri sehingga mengakibatkan fisiknya menurun. Virus akan berkembang merajalela bila kondisi seseorang sedang drop


"Benarkah begitu BI?"


"Benar... apakah Abi berbohong dapat pahala?"


"Aku maulah ke sama untuk lihat bayi itu!"


"Silahkan! Kapan kamu ada rencana ke sini? Nanti Abi akan meminta teman menjemputmu di sana."


"Tidak perlu repot Bi! Aku bisa ke sana kok!"

__ADS_1


"Tak usah sungkan. Kami di sini memiliki dana tersendiri untuk menjemput mereka-mereka yang memerlukan bantuan. Kamu tinggal katakan kapan berencana ke sini maka teman-teman di sini akan menjemputmu untuk bergabung bersama-sama kita di sini."


"Gitu ya Bi! Aku akan bicara dengan keluargaku dulu. Nanti aku kabarin Abi lagi." jawab Karin makin yakin untuk berangkat menimba ilmu di pesantren Abi Syahdan. Karin berharap di sisa hidupnya muncul keajaiban merubah nasibnya.


"Baik...kabari setelah kau yakin untuk ke sini. Abi akan urus orang jemput kamu. Yang semangat ya!"


"Pasti Abi... assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..."


Karin merasa lega setelah mendapat pencerahan dari Abi Syahdan. Apa yang dikatakan Abi Syahdan dan Citra ternyata hampir sama. Mereka memiliki pemahaman agama yang lebih baik daripada Karin. Karin harus banyak belajar dari Citra. Karin tak perlu malu mengakui keunggulan Citra. Karin juga telah lega Alvan berada di tangan yang tepat. Semoga Citra dapat membimbing Alvan menjadi orang yang lebih baik dan taat pada ibadah.


Karim berjanji pada diri sendiri untuk bicara dengan Alvan dari hati ke hati. Karin sudah ambil keputusan akan mencari kehidupan baru tanpa mengusik ketenangan Alvan dan Citra. Citra berada di antara mereka hanya menambah beban pada Alvan. Semoga keputusan Karin meninggalkan Alvan mencari kehidupan baru di pondok pesantren akan menjadi pilihan terbaik.


Sementara di kantor, Alvan membawa Citra langsung masuk ke kantornya. Alvan tak suka para pegawai berpikiran negatif pada Citra. Semua sudah tahu kalau Citra adalah isteri sah Alvan. Namun mulut ember para penggemar gosip selalu saja karang cerita plus tambahan bumbu penyedap biar ada rasa.


Alvan tidak terusik oleh gosip-gosip murahan yang ingin lihat Citra jatuh. Mereka tak tahu isteri inilah yang berjasa beri masa depan pada Alvan.


Alvan sibuk urus setumpuk file sedangkan Citra duduk santai di sofa sambil main ponsel. Kayaknya Citra sedang chatting dengan seseorang. Citra tersenyum sendiri baca tulisan di layar ponsel. Entah kabar apa kena di hati Citra sehingga terbit senyuman manis.


Alvan curi pandang ke arah Citra penasaran dengan siapa isterinya chatting. Siapa demikian hebat sanggup membuat wajah imut itu berhias senyum. Dari tersiar berita Selvia meninggal Alvan tak lihat seberkas cahaya di raut muka cantik itu. Siapa punya power dahsyat mengembalikan senyum di wajah istrinya.


"Senang banget..." kata Alvan sekenanya. Laki ini tak berani tanya langsung takut Citra tersinggung mengira dia selingkuh.


"Ini chatting dengan Afung. Dia akan berangkat dari sana ke sini bareng om Heru. Katanya om Heru seperti aktor film. Ganteng..."


Alvan agak cemburu Citra memuji Heru setinggi bintang. Rasa cemburu yang salah letak. Kan bukan Citra yang puji Heru melainkan cewek bernama Afung. Di tilik dari namanya jelas produk dari negeri tirai bambu. Apa hubungan Afung dan Heru? Citra harus selidiki hal ini. Soalnya kedua orang ini adalah orang yang sangat dekat dengannya. Citra tak ingin tali silaturahmi putus gara-gara keisengan Heru goda adiknya mama angkat Afisa.


"Heru pulang bawa cewek?"


"Iya...Afung itu adiknya mama Afisa. Dia pesenam juga. Sepertinya om Heru kecantol cewek Tiongkok."


"Emang bisa?" Alvan menyipitkan mata anggap remeh pesona Heru.


"Kenapa tidak? Cinta itu tidak pandang bibit bebet bobot. Dia merdeka. Aku senang bila om Heru serius dengan Afung. Afung gadis baik cuma mungkin ada dikit kekurangan."


"Lha kamu ini...sudah tahu ada kekurangan kau masih senang om kamu jadian sama orang dengan nilai min! Bukankah sama saja dorong om kamu ke dalam bara api."


Citra mencibir ejek pada Alvan yang sok sempurna. Kalau mau berkaca Alvan sendiri jauh dari kata sempurna. Kalau mau diumpamakan ke satu bentuk nyaris tak berbentuk. Tidak oval juga tidak bulat. Tepatnya somplak sana sini. Cuma untuk saat ini Citra malas berdebat.


Lebih bagus pikir yang positif saja. Sebentar lagi dia akan jumpa saudara jauh. Sayang Afisa tak dapat ikut pulang karena mengejar pelajaran tertinggal selama ikut latihan dan bertanding.

__ADS_1


"Yang dipertuan agung Alvan...Afung itu cuma manusia biasa yang tak luput dari kekurangan. Soal moral dan akhlak dia jauh melebihi kita. Afung itu hanya ada satu kekurangannya yakni penakut. Afung selalu takut melakukan sesuatu yang menyakiti orang, takut akan makhluk gaib dan terakhir takut pada benda yang lunak seperti cacing belut dan ular. Itu saja kekurangan Afung."


"Itu sih bukan kekurangan melainkan phobia terhadap sesuatu yang menyangkut benda menggelikan. Aku juga geli melihat benda lunak yang bisa bergerak. Itu bukan takut lho! Tapi geli..."


"Nanti coba ke kamar mandi dan periksa apa di badan bapak ada sesuatu yang mirip ular buntung?" olok Citra dibalas cibiran bibir Alvan. Laki ini tahu Citra sedang menggodanya. Benda pusakanya di bilang ular buntung. Miris amat nasib benda pusakanya. Tanpa benda pusaka itu tak ada ketiga kurcaci luar biasa.


"Buntung tapi kau selalu terkenang bukan? Nah tuh ngaku!" balas Alvan tak mau kalah point dari Citra. Isteri kecilnya selalu berusaha cari sela cacat Alvan. Sekecil apapun akan dijadikan bahan untuk mengejek dirinya.


"Siapa lagi doyan ular buntung pemalas? Kerjanya tidur melulu. Diajak kerja bermalasan. Apa yang bisa dibanggakan?" ujar Citra santai kembali fokus pada layar ponsel karena ada notifikasi masuk.


Citra lebih tertarik chatting dengan seseorang jauh di sana. Kali ini Citra tidak hanya tersenyum melainkan tertawa terbahak-bahak setelah membaca huruf-huruf di layar ponsel. Alvan jadi penasaran apa yang dikatakan orang bernama Afung pada Citra. Mengapa Citra bisa tertawa sampai terpingkal-pingkal.


"Wah kurang waras..." desah Alvan monolog.


Citra mendengar tapi malas menjawab. Wanita ini ketik di layar ponsel balas chatting dari Afung. Alvan kembali fokus pada kerja biarkan Citra nikmati dunianya. Citra jarang liburan jadi biarlah dia rasakan kebebasan tanpa pikir tugas.


Keduanya berdiam diri tenggelam dalam tugas masing-masing. Citra bukan bertugas namun bercanda dengan seseorang di ponsel. Alvan bersyukur Citra bukan wanita cerewet yang berusaha menarik perhatian Alvan. Citra mencari kesenangan dalam dunianya.


"Mas....Om Heru sudah berangkat. Nanti kita jemput di bandara ya!" kata Citra mendadak dengan suara lebih keras dari biasanya.


Alvan tersentak kaget dengar ajakan Citra yang mendadak. Dari tadi hening tanpa bising wajar Alvan terkaget-kaget disuguhi suara keras nyaring lagi.


"Untung lakimu tak ada penyakit jantung. Suaramu tajam juga ya! Pedih telinga aku!" Alvan mengusap daun telinga korban seruan Citra.


"Gitu aja kaget! Suara Karin lebih kencang tak bilang kaget? Lebay amat..."


Ini baru wanita kata Alvan dalam hati. Keluar juga ekor Citra cemburu pada Karin. Mulut bilang bisa terima Karin, begitu ada kesempatan Citra juga bawa nama Karin dalam obrolan. Ini menandakan Citra itu isteri tulen. Bukan isteri abal-abal tak peduli berapa banyak suami punya piaraan.


"Karin sudah biasa kayak tarzan kota. Teriak sana sini, aku tak kaget dia teriak. Justru kamu luar biasa bikin sensasi. Biasa kalem bisa juga menyamai Karin jadi Tarzan."


"Nah mas belum kenal aku seutuhnya. Aku bisa lebih histeris kalau sudah naik darah. Suka potong memotong kalau lagi panik. Apalagi kalau ada daging lunak gampang dibabat. Sekali tebas langsung innalillahi." kata Citra kembali kalem sambil beri senyum manis ala Citra.


Alvan merasa Citra sedang menguji nyalinya katakan sifat asli Citra. Seorang dokter sering memegang pisau operasi terbiasa beset daging maupun kulit. Kayaknya tak ada kendala bagi Citra menambah satu operasi ilegal. Targetnya tentu burung pusaka milik Alvan.


"Ngawur...emang seorang dokter boleh sembarangan operasi orang?" Alvan meraba burung pusakanya di antara paha. Untung saja tersembunyi aman di balik celana.


"Lha...kalau dokter tidur ngelindur bayangin operasi ya pasti operasi! Hati-hati jaga pusaka lunak mu! Bisa jadi korban mal praktek. Simpan baik-baik dalam brankas ya!" olok Citra bikin Alvan semakin tak nyaman. Cuma bayangin saja sudah terasa seram. Gimanalah bila hari itu tiba. Citra tidur ngelindur.


"Huusss...bikin ilfil saja! Kau pergi tidur saja! Aku masih ada kerja." usir Alvan ngeri sambung obrolan tak bermutu.


"Jam gini tidur? Jauh rezeki! Aku akan duduk manis tidak ganggu mas! Silahkan kembali bertugas pak Alvan yang terhormat!" Citra perbaiki cara duduk biar tampak elegan sebagai wanita berkelas. Citra silangkan kaki meletakkan kedua tangan di atas lutut. Sekarang Citra bergaya saingi Selvia yang sering pasang pose begitu. Menampilkan gaya wanita sosialita kekinian.

__ADS_1


"


__ADS_2