
"Jangan sembarangan pikir! Kamu mungkin hanya kelelahan. Nanti kusuruh supir jemput kamu. Langsung ke rumah sakit."
"Terima kasih...Oya Van! Aku harus jujur padamu. Aku tak mau bawa dosa ke liang lahat. Dosaku sudah menumpuk jadi harus aku kurangi biar jalanku lapang bila di suruh menghadap Yang Maha Kuasa."
"Makin ngawur! Tunggu situ saja! Aku akan telepon Citra tunggu kamu."
"Van...dengar aku! Sebenarnya ada sesuatu hal membuat mama drop. Aku tak mungkin buka cerita ini di depan Citra. Apa kata Citra tentang keluarga Lingga bila tahu skandal di keluarga Lingga. Maka aku memilih omong di sini!"
"Skandal? Kau buat apa lagi? Belum cukup kamu coreng muka aku dengan skandal bejatmu?" Alvan besarkan suara setelah tahu Karin mau membuat pengakuan lagi.
"Dengar dulu! Jangan asyik marah! Mamamu memintaku singkirkan Citra dengan cara apapun lalu hendak nikahkan kamu dengan saudara dari Kalimantan. Mama memintaku menerima wanita itu. Aku marah pada mama dan cerita semua kejadian antara aku dan papa."
"Apa? Kau gila ..sungguh gila! Kau permainkan nyawa mamaku! Aku takkan memaafkan kamu!" teriak Alvan naik darah sampai ke ubun kepala. Karin terlalu lancang buka aib bikin mamanya syok hingga koma. Di mana akal sehat Karin tega sakiti wanita berumur.
"Terserah kau mau apa! Asal kamu mau tahu. Wanita yang akan di nikahkan padamu adalah anak dari selingkuhan mamamu. Selingkuhan mama adalah pacarnya waktu di Kalimantan. Mereka masih berhubungan walau mama telah menikah dengan papa. Aku pernah jumpa dengan mereka sewaktu di Jepang. Mereka tour Jepang berduaan. Mama duluan khianati papa maka aku nekat selingkuhi mama. Kau tahu apa artinya? Lingga yang demikian tenar hanya satu keluarga bejat. Aku kasihan pada ketulusan Citra. Dia tidak tahu betapa busuk keluarga suaminya."
Dada Alvan rasanya mau meledak dengar pengakuan Karin. Mama yang sangat dia hormati ternyata tidak lebih baik dari Karin. Ingin sekali Alvan banting seisi ruangan luapkan amarah dan juga rasa malu. Ternyata dia terlahir dari sepasang suami istri bejat. Pantas Alvan juga selingkuhi Citra. Ada bakat turunan.
"Van..." Karin memanggil.
"Karin...cukup sekian kisah ini! Citra dan papa tak perlu tahu. Kesehatan papa buruk, di tambah mama belum sadar. Dan kau jauhi papa dan mama!"
"Aku janji akan tutup cerita ini. Aku cuma mau membuat pengakuan padamu agar jangan salahkan papa! Papamu orang baik. Aku yang jebak dia agar punya keturunan Lingga. Aku menyesal sekarang. Aku tak punya apapun. Yang ada kehancuran. Aku malu pada Citra. Semua kejahatan aku dibalas dengan kebaikan olehnya."
"Akhirnya kau sadar kalau yang kamu lakukan itu salah. Tapi inilah hikmah dari semua tingkah kita. Yang baik tetap berada di depan walau dia sempat tertinggal di belakang. Di belakang pun dia bersinar. Sekarang kau tunggu di situ! Aku akan minta seseorang jemput kamu."
"Ya... maafkan semua kesalahanku Van! Aku ini adalah pangkal masalah daripada kehancuran keluarga ini. Aku benar-benar menyesal tetapi semua telah terlanjur terjadi. Terimakasih masih mau peduli padaku!"
"Aku lakukan karena tanggung jawab. Kau tak perlu merasa sok dibutuhkan." kata Alvan dengan kejam. Hati Alvan makin marah pada Karin telah menyebabkan Bu Dewi kolaps. Seharusnya Karin tidak kelepasan omong soal perselingkuhan pak Jono dan Karin.
Sayang Alvan tidak berpikir jauh mengapa Karin sampai berbuat nekat membongkar semuanya. Ini juga semua gara-gara Bu Dewi terlalu egois. Kalau saja Bu Dewi tidak memaksa Karin untuk menyingkirkan Citra maka hari ini Bu Dewi masih sehat-sehat saja. Siapa yang harus disalahkan dalam masalah ini? Karin Pak Jono atau Bu Dewi?
Alvan mematikan ponsel dengan kasar. Hati Alvan sungguh tidak nyaman mendengar cerita Karin tentang mamanya dengan lelaki di Kalimantan. Tak pernah terlintas di benak Alvan kalau mamanya akan tega menghianati papanya.
Di mana akal sehat Bu Dewi? Menyodorkan anak selingkuhan untuk dikawini anak kandung sendiri. Pantesan Bu Dewi mati-matian memperjuangkan Kayla masuk ke dalam keluarga Lingga. Ternyata di balik semua itu ada maksud tertentu. Alvan harus menutupi kisah ini dari Citra agar Citra tidak memandang rendah pada keluarga Lingga. Dari atas sampai bawah kelakuan keluarga Lingga sangat menjijikan. Alvan merasa diri sendiri juga sangat kotor. Terlahir dari pasangan suami istri tak bermoral.
Lama sekali Alvan terpaku pada cerita Karin. Mimpi seribu kali Alvan tak sangka mama yang dia agungkan tingkahnya sama saja dengan Karin. Tak bermoral. Ternyata keluarga Lingga mempunyai masa lalu yang sangat kelam. Lucunya Bu dewi sudah tahu salah tapi tidak mau berubah. Masih saja ngotot ingin memperjuangkan masa lalu ke masa kini.
Ntah berapa lama Alvan melamun sampai ponselnya berbunyi lagi. Alvan melirik layar ponsel di atas meja dengan ogahan. Nama Iyem tertera di layar. Tanpa tunda Alvan segera angkat.
"Ada apa?"
"Anu pak...nona Karin muntah-muntah! Wajahnya pucat. Gimana ini?"
"Astaghfirullah...coba cari mobil tetangga atau cari taksi online antar nona kalian ke rumah sakit! Jumpai Bu dokter Citra. Sekarang terus." Alvan tersadar telah lupa kalau Karin butuh pengobatan. Tenggelam dalam lamunan membuat Alvan melupakan wanita yang sedang sakit itu.
"Iya pak!"
"Cari dokter Citra..."
__ADS_1
"Siap..."
"Segera.."
Alvan panik juga walau hati sedang kesal. Mengapa masalah tak mau jauhi dia. Baru saja dia buang setumpuk daun busuk kini turun lagi daun penuh hama. Yang ini lebih mematikan. Sekali tepuk dua nyawa jadi korban.
Alvan hanya bisa pasrah pada Yang Maha Kuasa tak henti memberi cobaan. Apa belum cukup dia bayar kesalahan pada anak isteri untuk kesalahan di masa lalu?
Alvan harus sadar tak boleh terpuruk. Nyawa beberapa orang berada di bawah genggamannya. Alvan buka mata dan telinga untuk lihat dan dengar lebih banyak. Berapa ton lagi cobaan akan terpa dirinya.
Alvan angkat ponsel mengabari Citra tentang Karin. Alvan tak tahu harus mengadu pada siapa lagi. Dalam sholat yang dia dirikan memohon pengampunan dan minta diberi kelancaran dalam segala hal.
"Halo assalamualaikum...lagi ngapain sayang?" Alvan berusaha terdengar tegar anggap semua tak jadi beban.
"Biasa...main mata sama pasien! Oya ada perkembangan bagus mama! Tadi kulihat ujung jarinya ada pergerakan. Doakan tak lama lagi dia sadar."
"Alhamdulillah...terima kasih sudah perhatian!"
"Isshhh...mau anggap aku wanita asing ya? Biar bisa main kerlingan dengan cewek lain?"
"Ya Allah..Bisa disate Azzam kalau khianati mami mereka! Kan sayang orang seganteng ini jadi daging panggang."
"Huh...enak banget masih dimakan! Maunya diumpan ke ikan piranha di sungai Amazon."
"Ckckck...sadis meck!"
"Sekarang katakan ada apa? Aku masih ada pasien. Nggak ada waktu ladeni orang iseng!"
"Sebentar lagi ke sana! Tolong kau urus dia!"
"Kak Karin? Kenapa dia?" nada panik jelas terpancar dari mulut Citra yang selalu jadi incaran Alvan dan Heru.
"Coba kau periksa dulu! Katanya dia kurang enak badan. Iyem sudah antar dia ke rumah sakit. Kalau ada hasil kabari mas!"
"Mas tidak mau ke sini?"
"Bukan tidak mau tapi tak bisa. Mas tak bisa tinggalkan pekerjaan. Sebentar lagi ada rapat. Mas akan ke sana kalau ada waktu luang. Kau mau bantu mas kan?"
"Omong apa tuh? Ya sudah.. aku atur pasien dulu biar fokus urus kak Karin. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Alvan bersyukur punya isteri berhati bersih macam Citra. Madu sakit dia yang panik. Coba kalau wanita lain, sumpah serapah pasti akan berdendang bak lagu rakyat. Berkumandang tak henti di sudut bibir.
Alvan buang semua pikiran buruk mencoba fokus pada pekerjaan. Nanti ntah berita apa lagi akan di bawa Untung. Sampai detik ini laki itu belum ada kabar. Betapa sulit urus Selvia atau ada kasus baru lagi.
Kepala Alvan bakalan meledak bila ada persoalan baru. Mental Alvan dapat tendangan bebas sampai berkali-kali. Masih syukur belum bonyok. Masih dalam posisi geleng doang.
Di rumah sakit Citra berusaha secepat mungkin layani pasien yang tersisa sebelum memeriksa Karin. Sebenarnya Karin ada dokter lain karena penyakit Karin bukan bidang Citra. Cuma Citra harus dampingi Karin agar tidak makin tenggelam dalam kegundahan. Citra tak tahu mengapa Karin tiba-tiba drop padahal obat masih jalan. Tekanan psikis apa telah diberi Alvan pada Karin.
__ADS_1
Citra meminta Nadine menunggu Karin di pintu masuk rumah sakit agar cepat tertangani. Nadine telah selesaikan prosedur pendaftaran agar Karin mulus dirawat tanpa perlu menunggu lagi. Walau status Karin isteri Alvan namun tetap saja harus antri karena di rumah sakit semua pesakitan statusnya sama kecuali dalam kondisi emergency. Emergency harus didahulukan.
Nadine segera sambut Karin dengan kursi roda begitu tiba di halaman rumah sakit. Sesuai pesan Citra tak boleh ijinkan Karin berjalan jauh.
Karin sudah tahu perawat yang menyambutnya pasti suruhan Citra. Dari jauh sudah tampak perawat ini siaga menunggunya. Karin makin merasa Citra itu manusia berhati emas.
Kalau posisi Citra di tempat Karin mungkin tak ada kebaikan ini. Karin akan kuliti Citra sampai ke tulang.
Nadine mendorong Karin ke praktek Citra agar dokter bisa atur bagaimana Karin akan ditangani.
Nadine memberi kode pada Fitri untuk beritahu Citra kalau pasien yang di tunggu telah tiba.
Karin yang di dampingi Iyem terpaksa menunggu dokternya datang. Iyem agak kesal mengapa majikannya tidak di dahulukan. Seingatnya Alvan adalah pemilik rumah sakit. Seharusnya isteri beliau harus di dahulukan. Nyonya bos masih harus menunggu. Rumah sakit tidak bonafide.
Citra keluar dari ruang praktek langsung hampiri Karin. Kecemasan terpapang jelas di wajah imut cantik itu. Karin tersenyum tipis tunjukkan dia belum separah yang dibayangkan.
"Masih ada pasien lain?" tanya Karin tak enak main serobot.
"Tak ada kak! Aku sudah atur semua pasien. Ayok kita masuk ke dalam." Citra turun tangan mendorong kursi roda Karin ke dalam ruang praktek. Tak ada tanda Citra takut tertular penyakit HIV Karin. Dokter muda itu tenang membawa madunya ke dalam.
Iyem di larang ikut masuk oleh Nadine. Pembantu itu tidak perlu tahu apa penyakit Karin. Takutnya setelah tahu penyakit Karin, si Iyem tak mau merawat Karin lagi. Siapa tidak takut tertular penyakit mengerikan itu.
Nadine dan Citra yang menangani Karin. Keduanya membantu Karin naik ke tempat pemeriksaan untuk tahu kondisi Karin. Badan memang agak hangat sedikit namun tidak fatal. Denyut nadi dan detak jantung normal. Tak ada yang perlu dicemaskan. Citra dapat merasakan Karin hanya stress. Penyebab Karin stress bisa Citra maklumi.
Siapa tidak cemas bercanda dengan maut. Maut sedang mengintip nyawa Karin setiap detik. Itu tergantung bagaimana Karin sikapi hidup ini.
"Kak...tak perlu dirawat! Lanjut minum obat saja! Tak ada yang perlu dikuatirkan." Citra menepuk punggung tangan Karin seusai periksa rival dalam bercinta.
"Tapi kakak tidak tenang. Rasanya hidup ini tak ada artinya. Mengapa Tuhan tidak cepat bawa kakak pergi?" kata Karin memelas.
Nadine menuntun Karin kembali duduk di kursi roda. Perubahan mencolok terjadi pada Karin, tubuh yang dulunya bahenol kini menyusut. Tak ada lagi si selebgram cantik wara wiri di medsos.
"Nadine tolong aku ambil obat kak Karin. Siapkan untuk satu bulan!" Citra menulis resep agar Nadine menebus obat Karin. Harga obatnya selangit di khususkan untuk penderita HIV. Teknologi makin canggih telah temukan obat hambat pertumbuhan virus walau belum bisa basmi virus itu secara tuntas.
Nadine mengangguk. Wanita ngerti Citra ingin ngobrol berduaan dengan Karin. Nadine bukan tidak tahu siapa Karin. Secara umum keduanya adalah musuh. Namun Citra jadikan permusuhan menjadi keluarga yang harus dilindungi.
Kini tinggal mereka berdua. Satu istri sah dan satunya madu dalam kondisi sekarat.
Citra melebarkan senyum baru angkat bicara pada Karin. Citra sengaja ciptakan suasana nyaman agar Karin tenang.
"Kak...kalau Allah belum berkehendak takkan kata maut. Jangan pikir macam-macam! Asal kakak patuh minum obat semua akan berjalan seperti biasa. Jangan takuti diri sendiri dengan pikiran aneh!"
Mata Karin berkaca-kaca dapat siraman rohani Citra. Semua terlambat untuk mulai kehidupan berlandaskan agama. Hidup Karin telah tiba di bibir jurang. Sedikit terpeleset maut menjemput.
"Kau hanya ingin hibur aku?"
"Bukan hibur tapi berkata fakta. Ada orang duduk meninggal karena ajalnya telah tiba. Tapi ada yang tertabrak tronton masih selamat. Mengapa? Itu karena belum ajalnya. Ajal bukan kita yang atur tapi Allah. Bisa saja aku duluan dahului kakak. Itu rahasia Ilahi." Citra berkata apa adanya bukan hanya untuk menyenangkan Karin.
"Kau sehat bagaimana cepat mati? Macam saja!" sungut Karin tak senang Citra omong maut. Padahal yang duluan dia buka topik.
__ADS_1
"Kak...ada satu pesantren khusus orang pengidap HIV. Di sana mereka menimba ilmu agama tanpa was-was. Bahkan pemilik pesantren juga pengidap HIV. Mereka hidup normal dan wajar. Belajar agama bekal di hari tua. Kakak boleh gabung biar lebih kenal semua ajaran Tuhan."