ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Menginap


__ADS_3

Pas Andi sampai di depan rumah Citra azan maghrib berkumandang. Saatnya menyerahkan diri pada Yang Maha Kuasa. Andi tidak jadi masuk ke rumah Citra melainkan pulang ke rumahnya untuk bersih-bersih melaksanakan shalat magrib. Tugas yang dilaksanakan hanya beberapa menit tapi pahalanya seumur hidup. Andi memilih mengumpulkan pahala selagi masih mampu melakukannya.


Di dalam rumah Citra sedang mengarahkan kedua anaknya untuk melakukan shalat. Kedua anak itu pun hari ini cukup mendapat tekanan dari lingkungan. Semoga saja mereka masih mampu bertahan menghadapi cobaan hidup ini.


Seusai maghrib Alvan baru balik dari mengantar pak ustad. Rona di wajah Alvan tampak lebih baik dari sebelum bertemu sama Pak Ustad. Kini Alvan tidak meragukan statusnya sebagai suami sah daripada wanita bernama Citra.


"Assalamualaikum..." seru Alvan mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam..."


Alvan mengenal yang menjawab itu adalah suara Azzam. Putra satu-satunya yang akan mewarisi kekayaan keluarga Lingga. Alvan bersyukur Azzam telah berbuka hati menerima kehadirannya.


Azzam membuka pintu untuk papinya. Reaksi Azzam tidak banyak berubah daripada yang biasa-biasa. Tetap datar walau tidak segarang sebelumnya.


"Azzam sudah makan? Ini pizza kita yang belum sempat dimakan!" Alvan menyerahkan beberapa kotak berisi pizza.


"Tapi saatnya makan malam. Mami mana kasih makan pizza."


"Simpan saja untuk cemilan! Atau bagi sama teman Azzam."


"Iya Pi..mami ada di dalam!" kata Azzam menjemput kotak pizza dari tangan Alvan. Tampaknya ketiga jagoan neon yang bakal pesta pizza. Dia dan


Afifa mana sanggup makan sebanyak itu. Paling sanggup satu piece.


Penyambutan yang baik. Azzam telah ijinkan Alvan menemui Citra bahkan tunjukkan di mana keberadaan Citra. Awal yang manis.


Alvan tak sabar ingin lebih dekat dengan wanita yang masih halal buatnya. Cukup lama Alvan tak rasakan lembutnya kulit wanita. Alvan sendiri lupa kapan terakhir dia berhubungan badan dengan Karin. Mungkin dua atau tiga bulan lalu.


Mendapat masalah bertubi-tubi membuat Alvan melupakan hawa nafsu seorang lelaki. Gairah itu tenggelam sendiri tanpa Alvan sadari. Alvan bersyukur juga mampu menahan nafsu kalau tidak dia pasti terjangkit virus HIV. Alvan tidak akan pernah bercinta dengan wanita yang bukan muhrimnya.


Alvan mendapatkan Citra sedang menata meja makan. Kelihatannya waktunya makan malam bersama. Di meja sudah tertata beberapa macam lauk pauk sederhana.


Alvan tersenyum sendiri melihat jumlah piring yang tertata di meja. Lengkap empat porsi artinya Citra sudah mengetahui kalau dia akan pulang ke situ. Sambutan yang menyenangkan hati Alvan.


"Masak sendiri Nyonya Alvan?" sapa Alvan sambil mencolek pinggang Citra.


"Jangan genit ya! Ini di luar skenario."


"Skenario apa? Kamu adalah istri aku yang sah dari segi manapun. Apa kamu lupa kata Pak Ustad? Perempuan yang mengingkari suami akan jauh dari surga."


"Mau jual agama di sini? Urus dulu gundik-gundik bapak!"


"Ya ampun Citra! Sudah kubilang aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan Selvia. Kami murni hubungan rekan kerja."


"Kalau bapak tidak menjanjikan sesuatu tidaklah mungkin Selvia akan bertindak brutal ini. Dia merasa memiliki bapak langkah menuntut hak dia atas bapak."


"Tuntut saja! Memangnya dia punya hak apa? Jangan urus dia! Urus bini aku yang resmi saja aku sudah kewalahan. Aku masih sayang rambut di kepala. Jangan sampai rontok sebelum waktunya!"


"Ngomong..." Citra melengos keluar dari dapur mencari kedua anaknya untuk makan.


Alvan tersenyum sendiri membayangkan semaraknya hari-hari ke depan. Punya isteri cantik jelita dan anak-anak pintar. Sempurnalah dia sebagai lelaki. Di sudut hati kecil Alvan teringat pada Karin yang harus menerima karma yang telah dia tanam sendiri.


Alvan bukan manusia yang tidak mempunyai perasaan. Seburuk apapun Karin wanita itu telah mendampingi dia dalam satu dekade. Alvan harus memikirkan masa depan Karin yang memang sudah hancur.


Citra berhasil membawa anak-anak ke ruang makan. Hidangan malam ini sangat sederhana namun menggugah selera Alvan. Bukan makanan yang membuat Alvan merasa nyaman melainkan kejelasan status mereka. Kini Alvan utuh memiliki Citra dan anak-anak.


Seperti biasa Afifa sangat gembira dengan kehadiran Alfan di tengah-tengah mereka. Azzam masih bereaksi biasa Namun di wajah anak lajang itu menyimpan sesuatu yang tak dapat dilukis dengan kata-kata. Ekor mata aja melirik ke arah Alvan yang menyuap nasi ke dalam mulut. Entah apa yang akan disampaikan oleh anak lajang cantik itu.


Mereka makan dengan tertib tanpa banyak bersuara. Sesudahnya mereka harus belajar untuk menyongsong pelajaran hari esok. Itu sudah menjadi keseharian anak-anak Citra. Mereka melakukan kegiatan rutin itu tanpa perlu diminta oleh Citra lagi. Azzam dan Afifa telah mengetahui tugas-tugas mereka.


Sebelum masuk kamar mengulang pelajaran Azzam mengantar pizza kepada Andi di rumah sebelah. Pizza itu sayang kalau dibuang begitu saja. Lebih baik diberikan pada orang yang menghargainya.


Citra sibuk di dapur sementara Alvan duduk di ruang tamu sambil chatting dengan seseorang. Alvan sudah tidak sabar ingin mengabari Daniel tentang hubungannya dengan Citra sesungguhnya. Daniel takkan punya kesempatan untuk mencuri Citra darinya lagi. Citra adalah milik Alvan sepenuhnya.


Di tengah chatting suara ponsel Alvan berbunyi. Lelaki ini menjatuhkan tatapan mata ke layar ponsel. Di situ tertera nama Daniel. Ternyata si Daniel lebih penasaran daripada Alvan sendiri maka dia langsung menelepon Alvan.

__ADS_1


"Halo bro...karang cerita apa lagi lhu?" seru Daniel dari seberang sana.


"Bukan karang tapi realita. Gue sudah undang ustad untuk menjernihkan hubungan kami. Nyatanya sejernih air pegunungan. Bening.."


"Huhu mau lhu! Sekarang di mana lhu?"


"Ya bersama bini dan anak gue. Lhu kok tidak berkotek berapa hari ini! Ada apa? Perlu bantuan?"


"Perlu nggak perlu...lhu ingat cewek yang gue cerita? Wah...dia makin nekat! Dia berani masuk kamar gue minta bobok bareng!"


"Lhu embat?"


"Gue waras bro! Umurnya baru dua puluh dua. Masih bau susu! Kali aja masih ngompol di celana. Kayaknya gue harus antar dia balik ke Amerika. Pinjam Untung barang seminggu ya!"


"Buat?"


"Ngawasin cafe gue dong!"


"Gue sih boleh saja tapi kantor telah terjadi sesuatu yang butuh dia! Gimana kalau gue pinjami Andi? Anak itu jujur kok! Bahkan lebih jujur dari Untung! Dia bisa kerja sambil ngawasin cafe lhu!"


"Ngerti bisnis?"


"Pinter banget! Casingnya sih diragukan tapi isinya prosesor high grade. Tapi janji tidak lama ya! Gue juga butuh dia!"


"Ok deh! Mulai besok suruh dia datang biar gue terangi dikit tentang cafe. Gue butuh beberapa karyawan baru untuk posisi pelayan dan tukang cuci. Minta Andi rekom konconya."


"Siippp...besok dia akan ke tempatmu! Oya...gimana perkembangan kasus Zaki? Ada petunjuk?"


"Tidak mau buka mulut...pilih bungkam! Sabar dulu bro! Gimana Karin?"


"Masih dirawat. Bokap gue kena stroke ringan! Sekarang ditangani bini tercinta. Mudahan bisa pulih."


"Yang sabar bro! Dibalik rasa pahit masih tersisa aroma manis. Gue masih menyimpan rasa pada Citra. Gue jujur lho! Lhu hati-hati aja gue tikung!"


"Coba aja bro! Citra bukan Karin! Ok deh! Gue doain lhu lancar antar saudara lhu ke Amrik! Lhu doain gue juga dong!"


"Yayang...kuyang kali...bini teman mau diserobot! Kualat lhu!" semprot Alvan kesal Daniel belum terima Citra sebagai isterinya.


Daniel tertawa ngakak ciri khas cowok gondrong itu. Ada kesedihan di hati Daniel namun Daniel bukan pagar makan tanaman. Mana mungkin Daniel tega merusak kebahagiaan teman akrabnya.


"Hati-hati aja lhu bro! BTW Trim's ya sudah pinjami Andi! Salam untuk yayang Citra. Bilangin kak Daniel kangen!"


"Gue jamin sunat lhu sampai habis! Sudah ach...besok jam sepuluh Andi ke tempat lhu!"


"Okay bro...ditunggu! Byee.."


Alvan mematikan ponsel dengan hati waspada. Cinta Daniel pada Citra bukan abal-abal. Walau Alvan sudah kasih tahu status pernikahan mereka tak membuat Daniel menyerah. Api cinta tidak padam sama sekali. Ini akan membahayakan hubungan mereka. Alvan peringatkan diri sendiri untuk makin waspada kawal Citra.


"Bapak belum pulang?" tegur Citra tiba-tiba muncul bawa teh hangat. Tanya pulang tapi bawakan minuman penghangat tubuh.


"Anak isteri di sini mau pulang ke mana?" goda Alvan membuat pipi Citra bersemu merah. Teh diletakkan persis di depan Alvan layak isteri setia melayani suami.


"Tidak rencana pulang mandi?"


"Emangnya aku bau ya?" Alvan mengendus bawah lengan cium di mana sumber ganggu penciuman Citra. Masih wangi parfum harga jutaan.


"Mana kutahu...emang kucium?" Citra duduk di sofa lain ogah dekat Alvan.


"Cium juga halal..."


"Maunya...Oya tadi kusuruh Andi ke rumah Bu Maryam. Sampai sekarang belum kasih kabar!"


"Mungkin lagi ngaso...hari ini semua lelah. Terlalu banyak kejutan. Aku sangat lelah!" keluh Alvan sambil mengusap wajah. Citra iba juga lihat Alvan mendapat masalah beruntun. Citra tak berharap Alvan dirundung banyak kemelut tapi kenyataan semua itu datang secara alami.


"Dari mana ide bawa ustad ke sini?" Citra teringat pada ustad yang beri pencerahan pada hubungan mereka.

__ADS_1


"Amang di Kalimantan kasih tahu padaku kalau talak aku dulu itu gugur karena bukan keinginan sendiri. Maka itu aku pergi minta pencerahan. Ternyata memang benar. Dan kau kenapa jahat sekali biarkan aku berpikir kita memang sudah pisah secara agama."


"Apa perlu dijawab? Di matamu apa ada Citra yang jadi kacung? Melayani raja dan ratu tanpa kenal lelah?" nada Citra terdengar sinis.


"Aku memang salah tapi seiring waktu aku mulai sayang padamu. Aku tak rela kau pergi tapi kakek memaksa aku! Aku mencarimu mau minta maaf! Andai waktu itu kita ketemu mungkin hidup kita takkan begini."


"Begini bagaimana? Bukankah bapak hidup bahagia dengan Karin? Punya isteri cantik jelita pujaan para lelaki." sindir Citra sambil tertawa pahit.


Wanita liar punya nyali baru jadi pujaan. Mereka yang alim sederhana selalu terdepak ke belakang.


"Aku memang bangga menggandeng Karin tapi jiwaku hampa. Aku tak merasakan kehangatan keluarga seperti saat ini. Makanan sederhana terasa nikmat bila makan bersama kalian. Bolehkah aku tinggal bersama kalian?" Alvan menatap Citra penuh permohonan.


"Rumah kami kecil pak! Cukup untuk kami bertiga. Di tambah raksasa macam bapak rumah ini makin kecil."


"Kita bisa beli rumah yang lebih gede. Rumah nyaman untuk ketiga anak kita." tawar Alvan spontan.


"Tidak perlu...di sini cukup nyaman! Kalau bapak ingin numpang sini cukup bangun tanah kosong di belakang."


"Kau setuju aku tinggal sini?" seru Alvan tidak sembunyikan rasa gembira. Jawaban Citra secara tak langsung adalah undangan tinggal bersama.


"Terserah mau pikir apa! Aku bukan wanita tak ingin cium wangi surga."


"Nah ini baru bini Alvan...besok mamaku pulang! Kita jemput bareng anak-anak ya!"


"Tapi mereka sekolah!"


"Tibanya juga sore...dari sana ke sini berapa kali transit pesawat. Tidak ada pesawat langsung. Satu lagi...Daniel kirim salam! Dia minta Andi jaga cafe selama seminggu. Dia mau ke Amerika."


"Kok bisa?"


"Anak saudaranya kabur dari Amerika numpang di cafenya. Daniel tidak sanggup jaga anak itu maka rencana antar dia balik ke orang tuanya. Jaga anak gadis orang itu tanggung jawab gede. Daniel tak mau terjebak."


Citra manggut-manggut sok tahu dengar cerita Alvan. Padahal belum paham betul. Dari pada dibilang telmi mending jadi orang sok tahu.


"Nah sekarang bapak tak ada niat bersihkan badan?"


"Kalau sudah bersih boleh numpang tidur di kamarmu?" goda Alvan sambil berharap bisa akhiri puasa lumayan lama.


"Tidur di kamar Azzam..." ujar Citra cepat tak ijinkan pikiran nakal Alvan berkembang jauh.


"Baiklah!" Alvan mengalah dulu. Asal bisa masuk rumah ini langkah ke depan akan lebih mulus. Kerikil kecil mulai tersingkir sedikit demi sedikit.


"Pergi mandi Sono!"


"Tunggu Untung antar pakaian dulu! Aku akan minta dia ambil pakaianku di kantor."


"Baiklah! Minum tehnya! Aku akan persiapkan Kasur tambahan di kamar Azzam."


"Terima kasih nyonya Alvan!" Alvan bergenit ria mengedipkan sebelah mata menggoda wanita yang telah memberinya tiga kurcaci lucu.


Alvan mengisi dadanya dengan udara sebanyak mungkin karena ruangnya telah plong. Perjuangan beberapa waktu ini telah buahkan hasil. Azzam mulai takluk dan induknya mulai jinak. Cuma belum gitu akrab. Masih perlu penyesuaian data hati.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Andi datang bersama Bonar. Keduanya tampak segar dan rapi layak anak muda lain. Biasa rapi gini hendak apelin pacar. Bau harum parfum beda aroma berterbangan seiring kehadiran dua cowok itu.


"Maaf pak ganggu! Mau jumpa kak Citra!" ujar Andi makin tampak berisi.


"Kakakmu lagi di dalam. Ayok duduk! Ada yang mau kuomongkan!" kata Alvan menunjuk sofa di depannya.


Andi dan Bonar beringsut pelan menempatkan pantat di sofa Citra. Keduanya tidak takut dipecat karena merasa tidak bersalah hari ini. Cukup besarkan kuping dengar perintah Alvan.


"Andi tahu pak Daniel kan?"

__ADS_1


"Tahu pak!"


"Pak Daniel harus berangkat ke Amerika selama seminggu. Kau diminta urus cafenya di sana. Kau bisa awasi cafe sambil cek file dari Wenda. Tapi kau harus tinggal di sana."


__ADS_2