
Bukan Citra yang gerah melainkan Alvan kurang suka pada gaya slebor gadis ini. Kenal juga nggak sudah sok akrab. Alvan buang muka tak mau menatap Bryan maupun Laura. Laki ini anggap dua makhluk tak diundang ini hanya pengacau.
"Kami kebetulan lihat Bu dokter maka kami ikut! Boleh dong gabung?" tanya Laura mengerling Alvan.
"Oh boleh...mau minum apa?" tanya Citra ramah tak masalahkan kedua junior itu ikut gabung.
"Aku jus sirsak..." ujar Laura genit caper.
"Aku jus jeruk saja. Tidak ditawarin makan?" Bryan si muka badak tak segan protes cuma ditawarin minum.
"Oiya...mau makan apa?"
"Apa aja yang penting enak!"
Wajah Alvan makin kusut muncul dia ekor rayap ganggu acara mesra mereka. Rencana mau romantis dengan Citra ambyar diganggu rayap.
Daniel kembali bawa tiga gelas minuman di tangan. Warnanya merah segar membuat Citra menduga itu jus buah naga. Daniel mengantar sendiri untuk menyenangkan hati Citra dan Alvan. Demi mereka berdua Daniel menurunkan pangkat. Tidak masalah jadi pelayan dari dua manusia yang dia sayangi.
"Ya Tuhan...Ya Tuhan cogan.." seru Laura histeris melihat sosok seniman gagal datang hampiri mereka.
"Norak..gitu saja dibilang ganteng! Gantengan aku dong!" Bryan memasang gaya biar Laura tertarik masukkan dia dalam kategori cowok keren.
Laura tidak peduli pada Bryan. Matanya sayu menatap cowok berambut panjang itu. Rambut Daniel panjang namun tersisir rapi diikat dengan karet. Tak ada kesan urakan seorang seniman gagal.
Alvan tidak menarik lagi setelah lihat Daniel. Daniel lebih menarik dari Alvan yang terlalu serius dalam penampilan. Gaya santai Daniel bikin hati Laura terpanah. Lagu-lagu cinta bertebaran di atas kepala gadis ceria ini. Satu pertanyaan untuk Laura. Apa dia itu punya cinta atau senang lihat cogan doang. Semua mau diembat jadi pajangan di hati.
"Hai cogan ..aku Laura...murid suhu Citra!" Laura duluan dekati Daniel. Daniel bingung kok tiba-tiba hadir dua orang di antara temannya.
"Kalian ini siapa ya?" tanya Daniel penuh tanda tanya.
"Kenalkan...aku Laura Pujangga Cinta binti Cupido!" Laura mengulurkan tangan disambut Daniel dengan muka tolol.
Alvan menarik nafas lega terbebas dari ulet bulu bikin gatel. Kini giliran Daniel dikerubuti bulu-bulu halus dari gadis nekat ini. Alvan tak dapat tahan tawa lihat tampang bodoh Daniel jumpa gadis nekat. Dari nama saja sudah bikin perut orang digelitik sejuta jari. Geli.
"Mas ganteng ini pelayan cafe? Tak apa..pelayan juga manusia. Sini biar kubantu angkat pesanan!" Laura merebut nampan dari tangan Daniel yang masih terpesona gaya barbar Laura.
Seumur hidup Daniel baru kali ini jumpa orang senekat Laura. Sudah urakan kasar lagi. Kepedean nya sungguh luar biasa. Natasha yang menurut Daniel cukup bikin pusing kini muncul yang lebih parah.
"Mulai hari ini aku akan bantu mas ganteng kerja di sini. Atau kerja di rumahku saja! Mataku jadi adem lihat pemandangan bagus!" oceh Laura meletakkan jus Alvan dan Citra di atas meja. Habis itu Laura menarik Daniel duduk di kursi samping Bryan.
"Duduk sini temani kita! Kalau bos kamu marah minta berhenti. Aku buka cafe baru untukmu."
Citra dan Alvan tersenyum sedangkan Daniel masih seperti orang linglung baru sadar dari obat bius. Tingkah Laura norak memalukan cewek. Tapi gadis itu tidak open dengan semua tata krama buat orang terikat.
Bryan sendiri merasa kalah norak dari Laura. Nyali Laura warisan dari suku kanibal jaman purba. Tebal muka tak kenal kata malu. Barusan tadi tergila pada suami Citra kini alih perhatian pada pemilik cafe.
"Laura...yang anteng dong! Ini pak Daniel pemilik cafe ini. Dia ini saudara suami aku!" kata Citra menurun semangat Laura yang terlalu menggebu.
Mata Laura membesar tak sangka cowok ganteng ini ternyata pemilik cafe. Api cinta Laura makin berkobar tak bisa padam lagi. Curahan air mobil pemadam kebakaran takkan mampu padamkan nyalaan terlanjur besar ini.
"Aku ngelamar kerja di sini. Kerja part time. Siang magang sorenya bantu di cafe. Gitu saja keputusan." Laura melamar kerja dia juga buat keputusan pola kerjanya. Daniel selaku bos cafe benar dibuat takjub oleh gadis ini. Laura tidak terlalu cantik tapi manisnya bukan main. Mirip gadis Jepang punya gigi gisul.
__ADS_1
Bukan cantiknya dilihat Daniel tapi sifat koplak gadis ini. Dia berbuat sesuka hati seolah-olah sudah mengenal Daniel bertahun-tahun. Padahal hari ini jumpa perdana.
"Laura...jangan gitu! Pak Daniel kan malu. Ayo duduk manis! Calon dokter tak boleh grasa grusu." Citra berusaha menurunkan semangat Laura yang terlanjur meloncat ke atas.
"Aduh Bu Dokter...nggak nipu, nggak maling, nggak berzinah, nggak korupsi ngapain malu? Aku kan mau mengenal mas cogan ini!"
"Tuh lihat muka Pak Daniel sudah ketakutan melihat gayamu yang serba menakjubkan! Ayok duduk!" Citra tidak hanya berkata juga menarik Laura duduk anteng di kursi beri kesempatan pada Daniel bernafas teratur.
"Ok...pokoknya mulai besok aku masuk kerja!" jawab Laura melempar senyum termanis yang dia punya. Orang yang sambut senyum Laura bisa kena penyakit diabetes saking manisnya.
Daniel yang dari tadi diam perlahan mengatur nafas agar tidak mati menahan nafas. Baru kali ini Daniel jumpa orang demikian cuek. Tak mau dengar omongan orang seakan dia pemilik seisi dunia.
Alvan beruntung terbebas dari incaran Laura. Laki ini tenang menikmati senja bersama Citra. Semoga teman Laura di Bryan tidak senekat Laura. Kalau keduanya sama koplak Alvan bisa mati tenggelam dalam kecemburuan. Gaya anak muda ini terlalu bar-bar.
"Nona Laura...kamu ini cemilannya batu bara ya! On terus!" Daniel baru bersuara setelah berhasil kuasai diri.
Laura tertawa renyah suka guyonan Daniel. Laura senang jumpa orang satu aliran. Tidak serius sikapi hidup ini. Alvan memang ganteng namun mukanya terlampau matang menjurus ke kaku. Selera Laura bukan orang mahal senyum.
"Minumnya pertamax...aku tak pelit bersedia bagi cemilan untuk bapak! Kita sama-sama nikmati cemilan lezat ini."
Alvan bosan dengar guyonan tak bermutu ini. Rencana habiskan senja dengan Citra berantakan gara-gara murid tak berotak. Pantang lihat orang senang.
"Bro...kami cabut dulu ya! Mau nonton." Alvan bangkit dahului yang lain. Citra tahu Alvan gerah lihat gadis slebor ini ganggu rencana indah yang dia harapkan.
"Eit...dapur sudah masak untuk kalian! Habis makan baru pergi. Jangan kecewakan koki kami dong!" Daniel menahan Alvan dan Citra kabur dari cafe. Keduanya pasti jengah oleh tingkah Laura memilih pergi.
"Apa kami boleh mendapat tempat privasi tanpa gangguan?" Alvan utarakan isi hati tak mau di usik saat berduaan dengan isteri tercinta. Laura dan Bryan mendelik tak suka dianggap pengganggu. Mereka datang murni mau dekat dengan guru pembimbing mereka. Citra dianggap menarik oleh kedua anak muda itu.
"Ok...di mana saja ok asal dekat dengan mas ganteng." Laura cuek bebek ditegur Daniel. Sungguh orang bermental baja. Tidak lumer walau sudah ditolak.
Bryan pasang muka masam tak bisa nikmati wajah dokter cantik pencuri hati. Dua orang kurang waras suka milik orang. Apa keduanya pantas jadi dokter?
Alvan bangkit dari kursi menggamit tangan Citra pindah tempat. Andai kedua manusia ikuti mereka berarti kedua orang tak punya naluri. Sudah diusir secara halus masih mendesak hendak ikuti Alvan dan Citra tunjukkan dia orang ini kurang waras. Hanya ODGJ tak paham bahasa halus orang umum.
Citra mau tak mau ikut suami walau dalam hati tidak tega lihat wajah murung kedua calon muridnya. Salah mereka juga berbuat di luar konteks. Masa ikuti guru pembimbing sampai ke ujung langit.
Citra dan Alvan bernafas lega biarkan Daniel layani dua orang kurang akal itu. Daniel pasti dibuat pusing tujuh keliling oleh sikap Laura tak mau tahu. Apa yang dia inginkan harus tercapai. Dia kesengsem pada Daniel maka dia akan kejar sampai dapat. Senja apes buat Daniel.
Pasangan ini habiskan senja berduaan. Semua terasa indah dan manis setelah lalui hari-hari pahit. Alvan sengaja berbuat seromantis mungkin termasuk saling menyuap makanan. Sesuatu yang tak pernah dia lakukan sebelumnya. Bahkan bersama Karin.
Citra tergugah melihat kesungguhan Alvan membayar waktu yang terbuang. Memulai dari awal belum terlambat cuma caranya berbeda dengan gaya ekstrim anak muda masa kini. Mereka bukan remaja bercinta tapi pasangan tua baru belajar cara pacaran.
"Kau sangat cantik..." puji Alvan di sela makan makanan suguhan Daniel.
"Rayuan basi...nggak ada uang receh." melengos Citra.
"Sumpah...kamu memang cantik! Aku beruntung bisa nikahi kamu! Aku harus berterima kasih pada kakek. Kakek hebat bisa memilih yang terbaik dari yang baik."
"Dulu mata mas katarak ya!"
"Bukan katarak tapi buta. Buta hati...untunglah sekarang sudah melek!"
__ADS_1
"Tak usah ungkit masa lalu lagi! Kita tutup buku! Kak Karin juga akan temukan kebahagiaan sendiri. Kita harus maju ke depan. Yang lalu jadi kenangan saja. Kita ambil yang bagus jadi bekal ke depan."
Alvan mengangguk setuju omongan Citra. Citra bijak tak buka kaset lama lagi. Cuma mulut perempuan bisa dipegang tidak? Dia suruh tutup buku kadang dia yang buka lagi baca kisah lama. Kalau sekedar baca tanpa komentar masih mending. Keluar kata komentar pedas itu yang pedih di kuping Alvan.
"Kita tunggu kabar dari Heru. Kapan dia ada rencana pulang kita langsung urus visa. Aku ingin nikmati liburan bersama kamu dan anak-anak. Setelah itu fokus bekerja cari uang banyak untuk bahagiakan kalian."
"Kalau itu rencana mas salah besar. Kami tak perlu gunung emas cukup papi berhati emas. Sayang anak isteri. Itu sudah merupakan kunci satu keluarga sakinah."
Alvan meraih tangan Citra janji akan wujudkan keinginan Citra. Permintaan sederhana yang mudah dipenuhi asal hati Alvan tidak bercabang. Fokus pada keluarga saja.
"Insyaallah aku akan usaha. Kamu jangan segan tegur bila aku salah melangkah! Jangan pergi tinggalkan aku begitu saja! Selamanya aku takkan bisa keluar dari lingkaran setan tanpa bimbingan mu!"
Citra biarkan tangannya berada dalam genggaman Alvan. Mungkin ini akan menjadi pegangan Alvan hingga akhir hayat. Semoga keinginan itu terwujud.
Sebelum magrib pasangan ini pulang untuk menunaikan panggilan wajib. Dekatkan diri pada Allah semua rintangan niscaya akan tersingkir. Percayalah pada kuasa Allah. Allah takkan biarkan umatnya berada dalam kesulitan selamanya. Pasti ada jalan terang suatu hari nanti.
Pagi hari Alvan mengantar Citra ke rumah sakit dengan hati was-was takut di tengil Bryan goda Citra lagi. Anak itu tidak takut pada Alvan sedikitpun. Jelas Citra punya suami berlatar belakang kuat masih juga sosor ke depan.
"Sayang...kamu jangan ladeni bocah tengil yang suka iseng itu!" kata Alvan dalam perjalanan ke tempat kerja Citra.
"Mereka hanya anak muda belum temukan jati diri. Nanti juga bosan sendiri. Mas pikir aku ini anak kecil gampang dirayu pakai permen lollipop?" Citra tertawa dengar kekuatiran Alvan. Citra mana mungkin tertarik pada murid sendiri. Di mana harga seorang pembimbing.
"Aku takut kehilangan kamu!" Alvan ulurkan tangan kiri mengelus pipi mulus Citra.
"Bucin ni ye...kita sudah terlalu tua untuk itu! Masa kita sudah berlalu. Mas sudah petik buah dari kesalahan masa lalu. Buah busuk kan?"
"Iya...kau sudah telepon Karin?"
"Astaghfirullah...lupa mas! Ini gara-gara calon murid. Aku sampai lupa janji mau telepon kak Karin. Sekarang ya mas!"
"Terserah kamu! Itu urusan kalian sesama wanita. Secara moral mas tak ada sangkut paut dengan Karin lagi. Kalau berhubungan murni karena kemanusiaan."
"Baiklah! Nanti di rumah sakit saja! Kalau mas tak mau dengar pembicaraan kami."
"Terserah! Sekarang mas bebas dari tekanan batin. Harapan mas cuma kamu dan anak-anak. Lain tidak."
"Terima kasih mas percayakan masa depan mas pada kami."
"Kapan rencana operasi mas? Mas tak sabar ingin beri adik pada Afifa."
"Mas sudah siap?"
"Siap lahir batin. Mas percayakan hidup mas padamu. Berhasil atau tidak bukan tujuan utama. Paling tidak kita sudah mencoba."
Citra manggut. Alvan sangat ingin punya anak lagi selain Azzam dan kedua saudaranya. Andai Alvan pulih pasti ada selusin adiknya Azzam. Citra masih muda dan sehat. Bukan kendala menambah momongan. Tapi tetap berpulang pada kuasa Tuhan.
"Aku jadwalkan lusa. Mas coba kosongkan satu hari untuk perbaiki syaraf yang salah. Bukan operasi besar cuma jangan banyak gerak saja! Dua tiga hari juga pulih."
"Siap Bu dokter. Insyaallah tahun depan Azzam sudah punya adik."
"Idih...pikir bikin kue. Ya nggak secepat itu jadinya. Pokoknya usaha saja."
__ADS_1
Alvan acung jempol setuju. Citra bersedia lakukan operasi Alvan sudah bersyukur. Semoga sukses buka jalan bagi Alvan menambah anggota baru di keluarga.