ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Karin Bertobat


__ADS_3

Walaupun Bu Sobirin mengatakan hal yang baik tetapi dalam hati tetap terasa ada sesuatu yang mengganjal perasaan. Selvia bisa jatuh sampai hari ini karena wanita itu terobsesi pada dirinya. Secara tak langsung Alvan harus ikut bertanggung jawab.


"Kalian pergilah balik kerja! Jangan berpikir yang bukan-bukan! Semua ada yang ngatur kita boleh berencana tapi yang menentukan tetap yang di atas. Oma tidak apa-apa. Oma akan baik-baik saja."


"Oma yakin?" tanya Citra belum percaya Bu Sobirin akan baik saja. Bagaimanapun Selvia itu adalah anak dari adiknya.


Bu Sobirin tersenyum untuk menghilangkan keraguan di dalam hati Citra dan Alvan. Bu Sobirin yakin Alvan juga tidak berniat jahat pada Selvia.


"Terima kasih Oma ..kalau gitu Alvan balik ke kantor! Biarlah Citra cuti satu hari! Aku telepon ke rumah sakit agar Citra ijin tak masuk."


"Pergilah! Hati-hati di jalan!"


Alvan meraih tangan Citra untuk pulang ke rumah Citra di sebelah rumah Bu Sobirin. Keduanya hanya melewati halaman tanpa pagar. Halaman kedua rumah saling menyambung untuk mempermudah mereka saling mengunjungi setiap saat. Tak ada jarak antara dua rumah ini.


Alvan mengetahui kalau perasaan Citra sedang tidak dalam kondisi fit. Maka itu Alfan mengantar Citra sampai ke dalam kamar. Citra benar-benar syok mendengar kepergian Silvia secara mendadak.


Setelah berada dalam kamar Alvan memeluk Citra erat-erat. Keduanya saling menguatkan agar tidak terpengaruh pada kepergian Selvia. Memang bukan mereka penyebab meninggalnya Selvia tetapi Selvia masuk penjara berawal dari diri mereka secara otomatis beban mental akan tersandang di pundak.


Citra merebahkan kepalanya yang kecil ke dada bidang Alvan. Di sinilah tempat paling damai di seluruh bumi ini. Berada dalam pelukan orang yang tepat.


"Sayang...ini bukan kemauan kita." bisik Alvan lembut. Tangan Alvan tak henti mengusap kepala Citra seperti sedang membujuk anak kecil.


"Kita punya andil menyebabkan Selvia meninggal. Andai kita tak penjarakan dia."


"Kalau kita tidak penjarakan dia maka di dalam perusahaan kita akan muncul Selvia Selvia baru yang menggerogoti uang perusahaan. Aku hanya ingin memberi pelajaran pada Selvia bukan menginginkan kematiannya. Siapa sangka dia mendapat penyakit HIV menyusul penyakit covid. Bagaimana pula dengan kondisi Karin? Apa dia akan bernasib seperti Selvia?"


"Tidak mas...kak Karin sudah tertangani baik. Untuk sementara dia aman asal jangan stress dan rajin minum obat! Nanti aku akan teleponi dia! Kita harus kabari kepergian Selvia agar dia lebih mawas diri. Untuk sementara dia jangan banyak keluar rumah. Imun tubuhnya tidak sekuat kita."


"Baiklah! Mas di rumah kawani kamu saja! Mas kuatir tinggalkan kamu sendiri di rumah."


"Kan ada Oma di sebelah. Mas pergi saja!"


"Ngusir nih?" Alvan menyentuh daerah sensitif Citra.


"Isshhh...mesum! Sana..pergi kantor!"


"Ikut ke kantor dengan aku! Aku merasa lebih tenang bila kau berada di samping Mas. Mas takut kamu kesepian sendirian dan memikirkan hal-hal negatif."


"Aku tidak selemah yang Mas kira. Aku cuma sangat kaget mendengar kepergian Selvia. Aku tak apa di rumah sendirian. Kalau bosan aku akan ke tempat oma."


Alvan meneliti wajah Citra mencari kebohongan di wajah itu. Alvan menemukan Citra memang tidak bisa ditinggal karena wajahnya tersirat rasa cemas mendalam. wanita ini berusaha menyembunyikan perasaan yang sesungguh nya.


"Temani mas ya! Mas akan lebih tenang bila bersamamu di saat begini. Kamu adalah pelengkap hidup Mas. Tanpa kamu semua menjadi hambar."


Sebenarnya kalimat-kalimat yang dikatakan oleh Alvan ini datangnya sangat terlambat. Sudah banyak cerita-cerita berkeliaran di sekeliling mereka. Tetapi tak ada salahnya bila memberi Alfan kesempatan kedua. Sekarang tinggal bagaimana Alvan menjalani kesempatan kedua ini.


"Baiklah! Tapi apa mas tidak malu punya isteri tidak glamor macam Kak Karin ataupun sosialita yang lain?"


Alvan menyentik dahi Citra tak terima dianggap gila penampilan. Alvan tak peduli ocehan orang lain tentang istrinya. Alvan yang memiliki istri dan tahu isi dalam istrinya yang imut ini. Orang lain mau berkata apa itu urusan mereka.


"Masih ngingau ya? Omong nggak pakai saringan. Sejak kapan aku malu padamu? Mas yang harus rendah diri tidak sekuat kamu hadapi badai. Ayok siap-siap kita ke kantor! Untung tak ada di kantor, si Andi belum mampu handel seperti pekerjaan kantor."

__ADS_1


"Tunggu aku cuci muka dulu biar segar! Mukaku kusut ya?"


Alvan memegang dagu Citra meneliti apa ada yang kusut? Wajah itu kencang belum ada kerutan satupun. Sesuai usia Citra yang belum capai tiga puluh tahun wajarlah belum ada garis kerutan.


"Ada kerutan di sini! Biar kuhilangkan!" Alvan mengusap bibir Citra dengan bibirnya. Ulah usil Alvan berhasil kunci Citra dalam ciuman panjang.


Alvan memaksa Citra berbagi lidah. Alvan terpaksa bungkukkan badan agar bisa imbangi isteri mungilnya. Cukup lama Alvan mengajak Citra berpetualang dalam cinta mereka sampai Citra kehilangan oksigen murni.


Alvan melepaskan Citra sambil tersenyum kecil. Ciuman lumayan panas membuat pipi Citra kembali berona merah. Hal ini membuat Alvan makin gemas. Sama suami sendiri masih malu-malu kucing, padahal mereka sudah puluhan kali nikmati indahnya kebersamaan di atas ranjang.


"Suka? Mau diulang?" olok Alvan menggoda Citra. Citra melengos masuk kamar mandi untuk bersihkan wajah dari kekusutan. Ditambah ciuman mesra Alvan. Wajah Citra makin berantakan.


Alvan hempaskan tubuh ke ranjang bersyukur dapat isteri yang pandai menjaga diri. Dia tetap setia menjaga kesucian seorang isteri walau jauh dari pantauan suami. Sedangkan yang berada di depan mata tak ubah seperti kucing liar keliaran mencari mangsa. Sifat Citra dan Karin bagaikan langit dan bumi. Herannya Alvan justru terjebak pada perangkat Karin.


Alvan semakin yakin untuk mempertahankan Citra dengan cara apapun. Citra tak boleh meninggalkannya walaupun hanya selangkah. Alvan harus pintar mengikat Citra untuk berada di sampingnya sampai maut memisahkan mereka. Jalan satu-satunya adalah memberi Citra anak lagi agar Citra makin terikat padanya. Alvan harus memaksa Citra cepat operasi kendala dia.


Citra keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Wajahnya kinclong mirip muka anak remaja sedang jatuh cinta. Bibir Citra agak bengkak kena setrum bibir Alvan. Ingin sekali Alvan ketawa tapi takut Citra tersinggung. Bibir yang mungil itu agak memerah.


"Siap berangkat?" Alvan bangkit dari kasur merapikan baju yang sedikit kusut. Bos besar Lingga tak ubah seperti laki umum bila berada di sisi Citra. Wibawa seorang bos redup di tangan Citra. Alvan lebih mirip singa ompong.


"Aku bedak dikit dulu. Wajahku agak kusam."


"Kalau kau suka kita ada import kosmetika dari luar. Kau boleh coba. Nanti mas minta karyawan kirim satu set untukmu biar bini mas makin yahud."


"Apa mas tidak takut banyak pasien jatuh cinta pada dokternya yang terlalu cantik."


"Mas akan angkat senjata perangi musuh yang coba main mata. Kamu harus pakai masker setiap obati pasien. Mas tak rela orang lain lihat wajah bidadari kamu!"


"Maunya kamu tidak kerja lagi. Cukup tunggu aku dan anak-anak pulang. Aku lebih tenang kalau kau berada di rumah."


Citra mendelik tak suka Alvan intervensi soal kerjanya. Kuliah sampai ke negeri tirai bambu hanya untuk menjadi seorang ibu rumah tangga? Itu lelucon paling menggelikan sejagat raya. Kalau tahu dirinya cuma jadi pajangan di rumah lebih baik tidak usah kuliah sama sekali. Buang uang tenaga dan pikiran.


"Di rumah aku hitung beras sebutir demi sebutir biar tahu tiap bulan mas sumbang berapa butir beras untuk isi perut aku?" kata Citra sinis.


"Ya nggak gitu! Ayok kita ke kantor! Siapa tahu kamu tertarik duduk di bangku CEO. Aku jadi wakil kamu." Alvan merangkul pundak Citra menuju keluar kamar.


Citra berkelit bebaskan diri dari rangkulan Alvan. Dari tadi dia mau perbaiki bedak di wajah belum kesampaian gara punya suami usil. Citra cepat-cepat menambah sedikit bedak padat ke wajah agar tampak segar.


Alvan perhatikan cara Citra berdandan seraya menggeleng. Cuma segitu isterinya berdandan. Kalau Karin dulu satu jam sebelum berangkat keluar rumah sudah duduk di depan meja rias. Berlapis-lapis benda kosmetika pindah ke wajah Karin sampai hadir bidadari yang pernah duduk di hati Alvan.


"Ayok berangkat!" Citra merapikan bedaknya ke tempat semula.


"Cuma segitu?" Alvan masih kurang percaya Citra berdandan hanya tepuk-tepuk wajah dengan bedak. Sangat simpel.


"Maunya mas betapa ember bedak dempul wajahku? Bukan makin cantik malah jadi amburadul. Yok ach..!" Citra duluan keluar dari kamar hanya bawa tas kecil berisi ponsel. Tas kerja ditinggalkan begitu saja karena tidak balik rumah sakit.


Alvan takjub pada isteri serba simpel. Tidak neko-neko minta budget lebih hanya untuk beli alat kosmetika.


Keduanya kembali meluncur di jalan raya. Kemacetan terurai karena jam masuk kerja sudah. berakhir. Orang sudah duduk manis di tempat kerja masing-masing.


Citra dan Alvan santai tidak tergesa berangkat kerja. Sudah terlanjur terlambat apa yang mau dikejar lagi.

__ADS_1


Alvan hidupkan musik lembut agar tidak membosankan. Wajah Citra sudah tampak lebih tenang bisa terima berita meninggalnya Selvia. Hati Citra terlalu lembut untuk melihat orang sedih. Dia sedih boleh, orang lain sedih dia ikut sedih.


"Mas...aku telepon Kak Karin ya!" Citra minta ijin teleponi madunya. Masih ada ganjalan di hati Citra teringat Karin juga mengidap HIV. Citra bukan takut Karin bakal ikut nyusul Selvia tapi takut Karin tidak ikuti semua jalan pengobatan HIV.


Alvan mematikan alunan musik beri kesempatan Citra ngobrol dengan Karin. Alvan bersyukur punya isteri pengertian mau paham kesulitan Alvan dalam urusan cinta.


Citra mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya lalu cari kontak Karin. Benda pipih di tangan Citra mengeluarkan nada panggilan.


"Halo... assalamualaikum Citra!Apa kabar dek?"


"Waalaikumsalam.. ceria amat suaranya. Kalau bukan mas Alvan di sisiku aku bisa berpikiran kalian sedang bersama."


Terdengar tawa renyah Karin. Nada ceria penuh semangat. Satu hal yang baik untuk kesehatan Karin. Citra ikut tertawa senang Karin temukan kegembiraan.


"Aku merasa jauh lebih baik sekarang. Aku sudah ngobrol dengan Abi Syahdan. Dia banyak kasih masukkan tentang penyakit aku! Dia juga mengidap HIV. Sudah enam tahun tapi sehat selalu."


"Duh Abi Syahdan...mesra amat! Jangan-jangan kakak lagi puber kedua!"


"Huusss tak enak didengar Alvan!! Nanti dia kira kakak genit kayak dulu. Gimana anak-anak? Kapan kakak jumpa mereka?"


"Pasti kak! Aku akan undang kakak makan malam di rumah untuk kenalan sama kakak. Mereka akan segera ujian. Paling juga seminggu."


"Kakak tak sabar tunggu hati itu. Kirim salam untuk mereka ya!"


"Pasti disampaikan. Gimana kesehatan kakak? Rajin minum obat kan?"


"Rajin dong! Kakak merasa jauh lebih fresh berkat masukkan Abi Syahdan. Aku ingin ke sana untuk belajar agama."


"Boleh kak! Kapan kakak mau pergi bilang saja biar diantar mas Alvan. Oya...ada yang ingin kusampaikan! Ini berita duka!"


"Berita duka? Ada apa Cit? Jangan katakan papa dan mama Alvan terjadi sesuatu!"


"Oh tidak..ini soal Selvia! Dia sudah meninggal subuh tadi. Dia kena HIV dan covid. Paduan dua virus ini persingkat umurnya."


Tak ada jawaban dari seberang. Citra hanya dengar ******* nafas kasar Karin agak kencang. Perasaan apa sedang melanda wanita itu. Senang atau ikut bersedih.


"Kak..." panggil Citra perlahan.


"Kakak turut berdukacita. Lalu bagaimana ibu Selvia?"


"Mas Alvan akan cabut tuntutan. Untuk sementara kami tak berani ke rumahnya karena takut salah paham. Kau kan tahu mengapa Selvia masuk penjara. Dia langsung dikebumikan oleh pihak rumah sakit karena covid nya."


"Itulah akhir dari orang jahat. Dia jebak aku terinfeksi HIV. Dia sendiri terinfeksi juga. Jujur ya kakak tidak terlalu sedih kepergiannya! Bukan kakak kejam tapi cara dia kuliti lawannya lebih kejam. Selvia sanggup lakukan apapun demi tipu cinta Alvan. Dari awal kakak sudah tahu Alvan jatuh cinta padamu. Kakak juga jahat butakan mata Alvan agar tidak melihatmu. Kakak juga dapat karma atas kesalahan kakak."


"Ngomong apa itu? Kaset lama jangan diulang lagi! Kita bikin kisah baru direkam di ponsel canggih biar bisa sharing bersama. Terima kasih kakak sudah jujur cerita perasaan mas Alvan sesungguhnya. Kalau jodoh takkan lari gunung dikejar."


"Kau lihay bicara. Terima kasih sudah memaafkan aku! Aku merasa menjadi manusia setelah lalui cobaan ini. Sebelumnya aku ini manusia jahat. Akankah manusia penuh dosa kayak aku bertobat diterima Allah?"


"Allah itu maha Pemurah! Dia punya sejuta maaf pada makhluk ciptaanNya. Asal kita bertobat dengan sungguh hati semua dosa kita akan dihapus. Sekarang kakak jangan pikir apapun. Nikmati hidup dan rajin minum obat. Itu saja kuncinya. Mau tour, mau shopping silahkan!"


"Aku mau ke Demak jumpa Abi Syahdan! Apa Alvan akan ijinkan? Aku akan belajar agama sebelum dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa."

__ADS_1


__ADS_2