ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Insiden Pagi


__ADS_3

Adzan subuh membangunkan Citra dari tidur nyenyak. Ntah kenapa pagi ini perasaan Citra lebih plong dari biasa. Badan Citra lebih ringan walau telah beberapa kerja berat di camp pengungsian.


Citra segera bangun untuk membangunkan anak-anak sholat subuh walau Citra sendiri sedang halangan tak bisa laksanakan kewajiban umat Islam. Tapi Citra tetap punya kewajiban membimbing anak-anak menjadi umat muslim sejati. Di pupuk dari kecil maka akarnya akan makin kokoh berdiri tegak menopang batang yang akan tumbuh dari hari ke hari.


Ternyata Azzam sudah duluan bangun. Anak sulung Citra itu telah membentang kain sajadah menanti mami dan adiknya sholat subuh. Lajang itu tampak makin ganteng dalam baju koko warna maron. Kedewasaan Azzam makin nyata seolah dia adalah kepala keluarga.


Citra perhatikan Azzam tanpa bersuara. Tanpa dia sadari anak telah tumbuh menjadi anak remaja tanggung. Waktu berlalu cepat tidak menunggu orang malas. Waktu yang telah berlalu tak mungkin kembali. Tak ada istilah balikkan waktu. Maka itu isilah waktu dengan hal-hal berguna. Jauhi segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama kita.


"Mami..." Azzam menyadari kehadiran Citra di dekatnya.


Citra mendekati Azzam lalu mendekap anak itu dalam pelukannya. Citra jarang sekali memeluk Azzam karena lajang itu seperti malu dipeluk Citra di depan orang ramai.


Pagi ini cuma ada mereka berdua maka Azzam tidak keberatan di peluk Citra. Malah Azzam membalas pelukan Citra dengan erat sambil menempelkan wajah ke dada Citra merasakan kehangatan sang mami.


"Mi...apa Koko boleh tanya?"


"Tanya apa nak?" Citra mengelus kepala Azzam penuh kasih sayang.


"Apa papi sengaja tinggalkan kita?"


Citra tak sangka pagi-pagi Azzam telah menuntut jawaban atas kejadian masa lalu. Citra wajib menjernihkan masalah agar Azzam tidak berkubang dalam dendam. Anak sekecil Azzam belum pantas hakimi orang tua sendiri.


"Sayang...papi memang tak ingin meninggalkan mami tapi kakek papi memaksa papi meninggalkan mami karena sesuatu alasan. Papi ada mencari kita namun ada halangan membuat papi tak menemukan kita. Koko harus hargai papi karena dia berani mengaku salah!"


"Harus ya mi?"


"Harus...mami tahu Koko tak suka pada papi karena mami. Koko membela mami kan?" Citra merasakan anggukan kecil Azzam di dada. Citra sudah menduga dari awal penyebab Azzam tak suka pada papinya.


"Iya mi..."


"Koko harus belajar sayang pada papi. Sekarang bangunkan Amei untuk sholat. Mami ke dapur siapkan sarapan."


Azzam tidak bertanya mengapa Citra tidak ikut sholat. Azzam sudah terbiasa kalau sewaktu-waktu maminya tidak sholat. Azzam tidak perlu bertanya karena ngerti maminya tidak ikut sholat pasti ada penyebab.


"Mi.." panggil Azzam sebelum Citra mencapai dapur.


Citra menunda langkah menanti kelanjutan omongan Azzam. Apapun omongan Azzam tetap harus Citra hargai. Citra berusaha menanam rasa cinta di hati Azzam pada Alvan. Perlahan Azzam akan melihat kesungguhan pada mereka.


"Koko mau omong apa?" tanya Citra dengan sabar.


"Apa Koko boleh gunakan laptop mini pemberian papi?"


Citra nyaris melupakan laptop mini yang dibeli Alvan untuk Azzam. Sampai detik ini Azzam tidak menyentuh barang pemberian Alvan itu. Betapa sabarnya Azzam tidak gunakan barang canggih itu walau dalam hati pingin. Rasa kesal Azzam mengalahkan hasrat hati menggunakan alat canggih dari Alvan.


"Itu pemberian papi Koko! Tentu saja boleh digunakan! Apapun yang diberi papi untuk Koko adalah hak Koko! Tapi janji pakai yang bijak ya!"


"Terima kasih mi!"


"Kok ke mami? Ke papi Koko dong! Pergilah! Waktu sholat hampir habis!"


Azzam meloncat girang meluapkan kegembiraan bisa gunakan alat canggih yang dia intip pagi siang malam. Rasa gengsi yang tinggi melarang Azzam menyentuh pemberian Alvan. Azzam mungkin lupa pernah menerima ponsel canggih Alvan. Dasar anak-anak emosi setinggi leher.


Mentari mulai perlihatkan cahaya jingga di belahan Timur. Semburat jingga kemerahan perlahan muncul mewarnai langit. Udara masih adem menyejukkan kulit. Waktu tepat menikmati sinar lembut mentari pagi.


Azzam dan Afifa masih menunggu sarapan pagi olahan sang mami. Tak pelak mereka merindukan masakan sang mami setelah sekian hari berpisah. Azzam mulai kutak kutik laptop pemberian Alvan di ruang tamu. Azzam tak dapat menyembunyikan rasa kagum pada Alan canggih ini. Kecil cabe rawit. Kecepatan internetnya puluhan kali lipat daripada laptop jadul Azzam. Laptop Azzam adalah warisan dari Citra semasa kuliah. Prosesor masih model siput merangkak. Lamban namun bisa berjalan.

__ADS_1


Di tangan Azzam laptop model kekinian. Prosesor Intel core i9 x. Kecepatannya mempermudah pengguna melakukan tugas kantor ataupun tugas kuliah. Mata Azzam berbinar telah menemukan laptop sesuai seleranya. Tangan kecil Azzam mengetik sana sini mencoba kecanggihan hadiah dari Alvan. Kepuasan terukir di wajah lajang ganteng itu.


Afifa main tablet ntah nonton film kartun anak-anak. Gadis mungil itu tertawa-tawa sendiri merasa lucu. Azzam tidak sempat komentari tawa Afifa karena sibuk dengan mainan barunya. Kedua Abang adik itu tenggelam dalam dunia masing-masing.


"Koko....Amei..." terdengar seruan beberapa suara bernada beda. Azzam dan Afifa saling berpandangan memasang kuping dengar lebih jelas suara siapa? Lebih dominan suara Bonar si Batak sangar.


Azzam meletakkan laptopnya dengan hati-hati di atas meja. Azzam selalu telaten menjaga semua barangnya. Sekecil apapun barangnya tetap berharga di mata Azzam.


Azzam lantas keluar melihat siapa yang datang pagi sekali. Keasyikan Azzam jadi terganggu oleh suara granat Bonar.


Pintu dibuka, angin segar berlomba-lomba masuk ke dalam rumah Azzam menyapa penghuni rumah. Udara dalam ruangan jadi lebih sejuk diterjang angin segar.


"Selamat pagi tiga serangkai pendekar kampung!" sapa Azzam melucu.


"Lari pagi yok boy! Mumpung masih sejuk." ajak Bonar menggerakkan tubuh kiri kanan melemaskan otot. Tokcer berlari di tempat unjuk kekokohan kaki panjangnya. Yang aneh justru Andi, tangan disematkan di pinggang namun yang bergerak malah pantat. Goyang kiri kanan mirip penyanyi dangdut sedang show di panggung.


"Siippp...ijin mami dulu ya!" Azzam berlari kecil minta ijin pada Citra di dapur.


Azzam senang bisa jalan pagi bersama tiga preman kampung cari udara bersih sebelum dibantai polusi akut. Sebentar lagi asap kenderaan akan memenuhi udara hasilkan karbondioksida.


"Mi...Koko joging sama kak Andi ya!" ucap Azzam memberitahu pada Citra.


"Iya... sekalian ajak kak Andi sarapan!"


"Ada kak Totok dan Kak Boneng lagi! Apa diajak semua? Bukankah merepotkan mami?" protes Azzam tidak tega merepotkan Citra.


"Tidak apa. Berbagi itu indah. Paling mami tambah telor ceplok! Pergilah! Cepat balik ya!"


"Amei tidak ikut lho! Ini acara cowok."


"Ngerti mi!" Azzam melesat balik ke ruang tamu jumpai adik kesayangan."Amei...Koko pergi lari pagi ya! Amei temani mami di rumah ya!"


"Iya ko!" sahut Afifa tanpa melihat wajah Azzam. Gadis itu terlalu asyik pada tontonan hingga tak open sekeliling. Azzam menggeleng tak ngerti tontonan apa bisa menarik perhatian Afifa.


Azzam meninggalkan Afifa untuk bergabung dengan kelompok preman tanggung itu. Sebelumnya Azzam menutup pintu untuk hindari segala kemungkinan buruk.


"Yok kak!" seru Azzam semangat berlari pagi bakar kalori tubuh. Tubuh Azzam cukup sehat untuk ukuran seumuran Azzam. Azzam mirip Alvan tinggi besar. Tubuh Azzam sudah setinggi tubuh Citra.


"Come on!" seru Andi memulai langkah berlari kecil diikuti Bonar dan Azzam. Tokcer masih sibuk lari di tempat belum terbersit ikuti langkah ketiga sahabatnya.


"Woi Tok...kami tinggal ya!" teriak Bonar terdengar bergema satu kampung.


Tokcer melambai mengusir ketiganya agar duluan lari. Tokcer menyombongkan kalinya yang lebih panjang dari Andi dan Bonar. Azzam tak bisa dianggap karena masih kanak-kanak.


"Hhuuu...sombongnya! Gue gunting kakinya batu nyaho!" sungut Bonar jengkel pada keangkuhan Tokcer. Kaki saja dibanggakan. Apa perabotan lain juga hendak dipamerin untuk dibanggakan?


"Gue doain jempol diseruduk tikus got!" timpal Andi sumpahi Tokcer dibalas tawa derai Bonar dan Azzam. Tahulah kalau Andi sudah nyengir bibir ke kiri. Bibir tertumpuk di kiri bak orang kena stroke.


Keangkuhan Tokcer beralasan. Tak butuh waktu lama supir Alvan itu sudah berada di dekat ketiga yang duluan lari. Tokcer nyengir kuda mengejek kekurangan kaki yang lain.


"Sombong...bentar lagi juga osteoporosis!" celetuk Andi melengos tak mau lihat tampang angkuh Tokcer.


"Iri ya! Kaki gue kuat dari sononya! Bisa lari secepat kilat!"


"Emang keturunan kuda kok!"

__ADS_1


"Kok tahu?" olok Tokcer imbangi gurauan Andi.


"Tuh tampangnya mirip kuda lumping!"


"Sialan lhu! Kirain muji gue kokoh kayak kuda! Jatuhnya ke kuda lumping." Tokcer mengejar Andi hadiahkan tendangan kuda marah ke pantat Andi.


Azzam dan Bonar berhaha hihi senang melihat kelucuan teman mereka. Candaan segar di pagi hari.


Sebelum mereka berbelok ke ujung jalan, di depan jalan telah berdiri dua emak-emak mengenakan daster batik warna warni. Satu gendut bergelambir dan satunya kurus kering bagai tak makan sepuluh tahun.


Kedua emak-emak itu berkacak pinggang halangi jalan tak ijinkan keempat pemuda itu melewati pagar tubuh mereka. Otomatis keempat pemuda ini berhenti tak berani lewat. Bukan tak berani tapi hormati orang tua.


"Assalamualaikum Bu Siti Bu Maryam..." sapa Andi sopan.


"Waalaikumsalam. Ance..dasar apa kau ajak Tokcer kerja di kantoran? Seharusnya kau ajak anak ibu kerja di kantoran. Si Kasim kan supir kayak Tokcer!" ujar Bu Maryam yang berbadan subur.


Andi melongo. Mimpi apa dia semalam pagi-pagi kena semprot emak-emak. Memangnya apa salah dia ajak teman dekatnya ikut kerja. Undang-undang dari mana tak bolehkan teman mencari duit secara halal.


"Bu...bukan aku yang masukkan Tokcer tapi Azzam! Yang punya perusahaan kan papi Azzam. Papi Azzam butuh supir ya dia minta papinya pekerjakan Tokcer." Andi mengeles agar bisa lepas dari semprotan emak-emak lagi emosian.


"Papi Azzam? Sejak kapan Azzam punya papi? Omong jangan tambah-tambah! Pokoknya Kasim harus kerja jadi supir kantor kamu. Ibu lihat emaknya Tokcer naik mobil mahal. Ibu juga mau." seru Bu Maryam makin keras mengundang para tetangga keluar rumah melihat keributan gratis pagi hari.


"Anak aku Sadikin juga! Enak saja Tokcer dan Bonar mondar mandir naik mobil mahal! Kami juga mau! Hei kau Ance...mulai besok kau bawa Kasim dan Sadikin kerja di gedung tinggi. Pakai baju berdasi dan jas seperti di sinetron. Awas kalau kau tidak ajak Sadikin!" nimbrung ibu yang kurus kering.


Lidah Andi mendadak hilang tak bisa bicara lagi. Tokcer dan Bonar terkesima mirip orang hilang roh. Pagi yang seharusnya penuh canda tawa mengapa berubah tegang kayak gini. Azzam lebih bingung dijadikan kambing hitam oleh Andi. Azzam mana ikut terlibat soal kerja ketiga konconya. Mereka hadir di kantor Alvan tanpa sepengetahuan Azzam.


"Tunggu nek! Ini pasti salah paham...Kak Tokcer dan Kak Bonar kerja sama papi aku bukan karena Azzam tapi memang dibutuhkan." ucap Azzam mewakili Andi menjernihkan masalah.


Bu Maryam mendelik pada kelancangan Azzam ikut campur urusan orang dewasa.


"Hei anak kecil...siapa papimu? Jangan sembarangan ngaku punya papi berkantor di gedung tinggi."


"Bu...kami memang kerja di kantor papinya Azzam! Kalau tidak bagaimana papinya Azzam percayakan mobil mahal pada kami." Tokcer berusaha menjelaskan duduk perkara agar tak ada salah paham.


"Papi Azzam? Sejak kapan Azzam punya papi kaya?"


"Ya sejak Azzam dilahirkan! Kok ibu sewot kami dapat kerja? Tidak kerja dibilang preman kampung. Maunya apa sih?" ujar Bonar makin tak ngerti apa maunya emak-emak kurang vitamin itu.


"Mau ibu Kasim gantiin Tokcer bawa mobil mewah!" Bu Maryam langsung utarakan niat hati.


"Sadikin gantiin Ance kerja di gedung tinggi!" sambung Bu Siti menaikkan dagu ke atas.


"Bu...itu kantor besar! Bukan pasar bisa berbuat sesuka hati. Kami kerja punya bidang masing-masing! Tidak bisa seenak dengkul kayak di pasar. Bisa main gertak lalu merampas daerah orang. Yang jaga kantor itu polisi dan tentera. Salah dikit di dor!" Andi terpaksa berbohong demi kebaikan. Orang kampung model kedua emak bicara hanya mengandalkan suara besar tanpa penyaringan. Nyerocos seenak dengkul.


"Tapi kenapa Tokcer boleh kerja?" tanya Bu Maryam lembut setelah dengar adanya aparat.


"Emang aku salah apa Bu? Aku cari rezeki untuk hidupi ibu aku! Kami cari uang secara halal. Tidak palak orang, tidak maling, tidak menipu kok! Kalau anak ibu mau kerja datang dan lamar di kantor pak Alvan papi Azzam. Ibu tak boleh memaksa kehendak. Itu melanggar hukum!" Tokcer berusaha sabar menerangkan cara masuk kerja. Bukan dengan cara brutal memaksa kehendak sendiri.


"Apa Kasim akan diterima?" tanya Bu Maryam mulai hilang sikap arogan yang menjulang tinggi tadi.


"Itu bukan wewenang kami! Pak Alvan sedang keluar kota. Besok mungkin beliau balik. Coba melamar kerja secara sopan! Nah ibu-ibu sudah paham bukan!"


"Tapi ibu pingin naik mobil mahal macam ibumu!" rengek Bu Maryam bikin Andi gemas. Dasar orang syirik, pantang lihat orang lain senang.


"Bu...itu mobil Azzam! Mobil itu ditempatkan di sini khusus antar jemput Azzam dan Afifa ke sekolah. Bukan untuk bersenang-senang."

__ADS_1


__ADS_2