
Pilih punya pilih akhirnya Azzam jatuhkan pilihan pada mie goreng. Sesungguhnya Citra beli mie goreng untuk Alvan. Citra masih ingat makanan kesukaan Alvan untuk sarapan pagi. Laki itu tak pernah menolak makan mie goreng olahan Citra sepuluh tahun lalu. Kadang mie goreng bawang, mie goreng seafood, ataupun mie goreng telor. Laki itu menyukainya.
Adakah rasa kangen pada makanan olahan Citra satu dekade ini? Mungkin juga Alvan melupakan semua kenangan bersama Citra. Mungkin harus dilupakan karena tak ada yang manis. Semua pada pahit. Lebih pahit dari minum jamu terpahit sedunia.
"Koko makan mie ya!" Azzam menunjuk mie dalam kotak putih. Citra tidak menyahut pakai mulut, hanya anggukan kecil menyetujui pilihan Azzam. Citra fokus pada Afifa yang tak kunjung buka mata melihat cahaya keemasan matahari menerobos masuk melalui jendela.
Citra mengecup pipi Afifa bangunkan putrinya penuh rasa sayang. Kedua anaknya jadi tumpuan harapan Citra di kemudian hari. Tak ada niat sedikitpun membuka hati untuk laki manapun. Cukup pelajaran tak berharga dari masa lalu.
"Sayang mami bangun!" bisik Citra menggesekkan bibir ke kuping Afifa. Cara Citra cukup manjur. Terbukti gadis kecilnya buka mata dengan ogahan.
"Papi mana?" kalimat pertama Afifa di pagi ini. Hati Citra mencelos. Afifa tersihir oleh Alvan, otak anak itu dipenuhi bayangan papinya. Kelak Citra akan menemukan kesulitan memisahkan Afifa dari Alvan. Afifa terlalu menyayangi idola barunya. Kerinduan hadirnya seorang pelindung buat Afifa terpesona oleh Alvan.
Tantangan berat menanti Citra di kemudian hari. Alvan bukan gampang diraih selama masih ada Karin. Citra percaya Karin takkan ijinkan Alvan bersatu dengan keluarganya. Dari dulu hingga sekarang.
"Papi sudah ke kantor. Papi harus kerja toh! Nanti dia balik. Hari ini Amei boleh pulang. Kita istirahat di rumah ya!" rayu Citra lembut biar perasaan Afifa nyaman.
"Iya mi...Amei boleh ke kamar mandi?" Afifa menyibak selimut berniat membuang air kecil. Dari semalam Afifa tidur tanpa gangguan maka kini terasa sesak.
"Oh tentu...sini mami bantu!" Citra cepat-cepat membantu Afifa bangun lepaskan panggilan alam. Bocah itu mungkin full tank mendesak minta dikosongkan. Citra angkat infus berikut selangnya ikut masuk ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Afifa buang isi perut yang tersimpan dari semalam. Panggilan alam yang tak bisa ditunda. Citra menunggu Afifa hingga bebas dari segala tuntutan alam.
Azzam habiskan mie goreng tanpa sisa. Perut lajang ini cukup besar tampung satu bungkus mie. Kalau dikasih ke Afifa paling sanggup habis setengah. Maka itu pertumbuhan Afifa tak sebagus Azzam. Azzam tak ubah tong sampah siap tampung segala barang. Selama makanan itu layak dan sehat tak ada istilah tak enak di mulut Azzam. Tak baik menolak rezeki mulut itu motto Azzam.
Citra menyuruh Azzam membereskan semua barang-barang yang dibawa dari rumah karena menurut info Afifa diijinkan pulang. Tinggal tunggu dokter Budi cek Afifa sekali lagi. Bila hasil cek up tidak ada masalah Afifa boleh tinggalkan rumah sakit.
Sambil menanti kehadiran dokter Budi cek Afifa, Citra iseng-iseng buka internetan cari hiburan. Tak jauh beda dengan Azzam dan Afifa. Kedua anak itu dapat ijin main ponsel selama satu jam. Citra bukannya tak tahu menunggu adalah pekerjaan membosankan. Waktu berjalan sangat lamban bila lakukan aktifitas yang satu ini. Kalau boleh Citra akan memilih bertugas seperti biasa merawat orang sakit.
Tak terasa hampir satu jam menanti akhirnya dokter spesialis anak dokter Budi datang mengunjungi Afifa. Dokter Budi ditemani dua perawat muda membawa catatan medis Afifa.
Afifa tidak rewel diperiksa dokter Budi. Tahap demi tahap dilalui aman. Gadis kecil ini memperhatikan setiap gerakan dokter Budi dengan pancaran mata berbinar. Afifa tak sabar ingin segera bebas dari penjara mewah.
Azzam dan Citra duduk manis menanti hasil kerja dokter Budi. Di dalam hati berdoa semoga Afifa terbebas dari penyakit yang berapa hari ini gerogoti tubuh mungil Afifa.
"Ok nona kecil! Untuk sementara sudah sehat. Jauhi gorengan dan yang dingin-dingin! Mau pulang?" tanya dokter Budi ramah.
Afifa mengangguk senang. Wajahnya berseri-seri bak dapat undian lotre kelas satu. Hari-hari membosankan akan segera berlalu. Tidak perlu berbaring di tempat tidur menatapi tetesan cairan infus. Afifa tersenyum perlihatkan modal gadis cantik yakni dekik di pipi warisan Alvan.
Dokter Budi mengelus kepala Afifa gemas saksikan kecantikan gadis cilik mirip boneka India. Kecil saja sudah cantik, gimana kalau tumbuh besar jadi remaja. Berapa cowok akan patah hati mengharap balasan cinta Afifa.
Citra mengusap wajah puji syukur anaknya telah sembuh. Citra berjanji dalam hati akan lebih teliti menjaga Afifa agar jangan terulang kejadian sama.
"Nah... bersiap pulang! Oya dokter Citra! Aku akan buat resep. Kau tebus lanjutkan pengobatan sampai demam tak balik." dokter Budi beri pengarahan pada Citra pengobatan Afifa selanjutnya.
"Iya dok! Terima kasih atas perawatan pak dokter!"
"Itu tugas kita toh! Aku pergi dulu. Nona manis...jaga diri ya!"
__ADS_1
"Iya pak Dokter! Terima kasih." suara manja Afifa terdengar merdu di kuping dokter Budi. Citra beruntung punya anak-anak cantik. Modal masa depan sudah ada. Tinggal bagaimana Citra mendidik kedua anaknya menjadi manusia multiguna.
"Sama-sama..." dokter Budi pergi diiringi dua perawat khusus bagian anak-anak.
Citra tersenyum pada Afifa. Kelegaan terukir di wajah imut Citra. Dia tak perlu lagi bersama Alvan. Alvan tak ada alasan hilir mudik di depan mata karena Afifa sudah sehat. Citra benar-benar ingin bebas dari Alvan. Citra tak ingin jadi duri dalam rumah tangga Karin. Adapun masalah internal Karin dan Alvan itu jadi urusan pribadi mereka. Citra tak berhak ikut campur. Bukan berhak atau tidak, Citra memang tak mau tahu.
"Ok...mami pergi tebus obat dulu! Nanti ada ibu perawat buka selang infus Amei. Amei tak boleh takut ya! Tuh ada Koko yang jaga! Koko bisa kan?"
"Serahkan pada Koko! Amei kan pemberani. Sama kecoa saja Amei tidak takut. Ya kan Mei?" Azzam berdiri dengan gagah siap jadi pahlawan Afifa.
"Iya mi! Amei pukul kecoanya!" Afifa bercerita penuh rasa bangga.
"Besok tak boleh bunuh binatang kecil. Kecoa kan ngak ganggu Amei. Cukup diusir jauh. Kecoa juga ciptaan Tuhan punya hak untuk hidup." Citra berkata dengan sabar mengajari Afifa berbaik hati pada sesama makhluk hidup.
"Tapi Amei jijik lihat kecoa. Dia curi makan di dapur."
"Dia mencuri karena lapar. Kalau kenyang dia pergi bobok. Mungkin dia punya dedek bayi di sarangnya. Coba Amei bayangkan bagaimana nasib dedeknya bila induk mati! Anak mami anak baik hati. Ya kan?"
"Maaf mi! Amei lupa itu!" Afifa menunduk merasa bersalah telah memisahkan induk dan bayi kecoa. Padahal itu hanya karangan Citra agar Amei tidak membunuh makhluk ciptaan Tuhan.
"Minta maaf kok sama mami! Sama kecoa dong! Nah..Amei sudah ngerti kan? Mami pergi tebus obat Amei biar kita cepat pulang! Koko...jaga adik!"
"Siap nona Citra!" gurau Azzam dibalas delikan mata Citra. Sekilas dilihat Azzam lebih cocok jadi adik Citra ketimbang jadi anak. Tinggi mereka tak jauh beda. Azzam hampiri menyamai Citra. Tapi faktanya Azzam tetap anak yang terlahir dari rahim Citra.
Benar saja kata Citra. Sepergi Citra datang perawat membuka selang infus Afifa. Tanpa rasa takut Afifa ijinkan perawat melaksanakan tugas. Anak model begini disukai para dokter dan perawat. Tidak cengeng menyusahkan para medis melaksanakan tugas.
"Terima kasih ibu suster!"
"Sama-sama anak manis! Di rumah banyak istirahat ya! Ingat jangan main panas dan air hujan! Ntar sakit lagi!" nasehat perawat mencowel pipi Afifa dengan gemas. Baru sembuh sakit saja bikin gemas. Apalagi sehari-hari dalam kondisi fit. Afifa pasti jadi pusat perhatian orang.
"Janji ibu suster! Afifa bosan di sini! Untung ada papi, mami dan Koko Azzam. Kalau Amei sendiri di sini pasti ngak betah." celoteh Afifa.
"Afifa anak baik maka disayang. Nah ibu suster buang dulu bekas botol obat! Tetap di sini sampai mami datang. Ok?"
"Ok.." sahut Afifa dengan suara beningnya.
Perawat tersebut membereskan selang dan bekas botol infus Afifa. Limbah medis itu harus dibuang di tempat tertentu agar tak jadi sarang kuman.
Tinggallah Azzam dan Afifa. Afifa turun dari ranjang kasur dengan melompat lincah. Afifa sudah tak sabar ingin bergerak bebas sebagaimana biasa. Afifa tak ubah seperti seekor kelinci keluar dari kurungan kandang. Berjalan sana sini periksa seluruh ruang rawat.
Rasa ingin tahu Afifa membuat gadis ini tak henti explore lingkungan yang dia tempati beberapa hari ini. Tidak terlalu menarik. Monoton tidak ada sesuatu menarik hati.
"Amei...duduk diam kenapa? Pusing lihat Amei mondar mandir kayak setrikaan." ujar Azzam sakit mata lihat Afifa hilir mudik satu ruang.
Afifa terkekeh tidak terpengaruh pada larangan Azzam. Afifa tahu Azzam tidak benar kesal padanya. Rasa cinta Azzam padanya tidak usah diragukan. Sayang sepenuh hati walau kadang Azzam suka usilin Afifa.
"Cari harta karun Ko! Kali aja dapat emas satu ton!"
__ADS_1
"Emas satu ton? Mas-mas ganteng tuh banyak! Dari yang keriput sampai yang bayi. Amei mau yang mana? Koko akan pilih satu untuk Amei!"
"Idiihh...itu sih mas Jogja! Amei mau jumpa mas sinis! Papi sudah janji bawa Amei naik kereta api!"
Kini giliran Azzam terkekeh oleh kata-kata Afifa. Masinis supir kereta api dieja jadi mas sinis. Candaan segar membuka hati.
"Bukan mas sinis tapi masinis."
"Beda tipis ko! Eh papi kok belum datang ya! Amei kan mau pulang. Papi kok tidak jemput." tiba-tiba Afifa teringat pada Alvan. Dari pagi Afifa belum lihat Alvan. Gadis kecil ini tak tahu kalau Alvan tidur di situ. Pergi pagi sekali.
"Papi sibuk kerja Amei! Kita sudah besar tak boleh terlalu manja. Orang dewasa punya tugas tidak kecil. Mereka punya tanggung jawab pada kerja mereka. Kayak mami jadi dokter. Mami harus pergi tinggalkan kita untuk bekerja. Kalau boleh mami tentu ingin bersama kita di rumah. Amei ngerti maksud Koko?" bujuk Azzam tak ingin Afifa merongrong Alvan. Alvan punya tanggung jawab lain selain urus mereka. Sama seperti Citra, Azzam juga tidak ingin Alvan berada di lingkaran mereka.
"Iya ko...Amei ngerti." Afifa menyahut lirih. Dalam hati pasti belum terima Alvan pergi tanpa kabar. Afifa trauma sekian lama Alvan tidak muncul. Apa sekarang Alvan akan pergi tanpa kabar lagi.
"Nah Amei main game saja! Kita tunggu mami datang."
"Iya ko!" Afifa berjalan lunglai balik ke ranjang mengambil tablet yang tergeletak di atas ranjang. Dengan sisa tenaga Afifa meraih tablet tanpa berniat mainkan benda canggih itu.
Azzam merasakan semangat Afifa mengendor tak bisa jumpa Alvan. Azzam bukan tak kuatir Afifa akan sangat bergantung pada Alvan pada hari-hari mendatang. Alvan bukan milik pribadi mereka. Papi mereka masih punya perempuan lain harus dipertimbangkan.
"Sini Koko bantu Amei download game menarik. Amei suka main masakan atau dekorasi rumah?"
"Masakan saja! Dekorasi rumah membosankan." Afifa menyodorkan tablet pada Azzam.
"Duduk dekat Koko biar kita pilih bersama. Kita pilih game offline. Amei bisa main tanpa jaringan internet. Koko akan download banyak biar Amei puas main." Azzam berusaha mengalihkan perhatian Afifa dari Alvan ke tablet.
Semangat Afifa belum full walau Azzam sudah berusaha semaksimal mungkin menyenangkan adik semata wayang. Kisi hati Afifa tetap tersimpan bayangan besar dari Alvan.
Azzam melupakan hasrat main game demi menyenangkan Afifa. Azzam sanggup melawan hasrat menggebu ingin main game online. Adiknya lebih penting dari permainan di hp. Afifa segalanya bagi Azzam.
Satu persatu game Azzam download dari playstore android ke tablet Afifa. Azzam sengaja pilih game yang bisa dimainkan tanpa jaringan internet. Afifa bisa main kapan saja dia mau.
"Assalamualaikum.." sapaan familiar mengerakkan kepala kedua anak itu menoleh ke pintu.
"Waalaikumsalam...mami...kita pulang?"
"Iya...bersiaplah! Mami sudah panggil taksi. Koko coba cek lagi pastikan tak ada yang tertinggal."
"Tapi Koko lagi download game untuk Amei."
"Tinggal dulu! Ntar taksi sudah datang."
"Iya mi! Amei pegang dulu tabletnya. Koko bantu mami." Azzam sigap berikan tablet pada Afifa. Azzam tahu maminya sudah lelah urus semua administrasi rumah sakit. Biaya perawatan Afifa tentu bukan kecil.
Dari ruang rawatnya saja bisa ditebak harganya pasti mahal. Semua serba luks. Peralatan di rumah Azzam kalah total dibanding dengan isi ruang rawat Afifa. Peralatan rumah Citra sederhana sesuai kemampuan Citra. Tak penting kemewahan santapan mata, yang penting penghuni rumah hidup sehat dan bahagia. Itu kunci utama satu rumah.
Singkat cerita Citra berhasil boyong kedua anaknya pulang ke rumah mereka yang jauh dari kata mewah. Afifa dan Azzam tak bisa sembunyikan rasa senang bisa kembali ke kandang mereka. Tempat ternyaman di bumi ini.
__ADS_1