
Selesai sholat Isya Azzam kedatangan tamu istimewa dari kampung tempat dia tinggal dulu. Siapa lagi kalau bukan jagoan neon yang sekarang tersisa dua. Satu lagi jaga gudang lihat tikus pacaran. Tokcer dan Andi datang untuk ajak Azzam main pada hati Minggu nanti. Niat ini sudah tersusun cukup lama cuma belum ada waktu terealisasi. Minggu ini waktu tepat karena Bonar dapat cuti setelah sekian hari tidak jumpa konconya.
Sebagai tuan rumah yang baik, Azzam menyuguhkan minuman segar buat konconya. Tokcer dan Andi disambut bak tamu agung oleh Azzam. Azzam tak dapat menyimpan rasa rindu kepada kedua konconya terutama Andi teman berantem. Musuh terindah Azzam.
Ketiga lajang beda usia ini duduk santai di teras sambil menikmati angin malam yang segar. Mumpung masih gratis nikmati sebanyaknya. Takut besok hirup oksigen harus bayar. Buang air kecil di mal saja kadang di kutip bayaran.
"Gimana ko? Apa betah di sini?" tanya Andi.
"Lebih senang tinggal di rumah lama. di sana ada kalian dan nek Menik." kata Azzam mengeluarkan isi hati yang sesungguhnya. Rumah besar gedong belum tentu menjamin kebahagiaan seorang manusia.
"Apa orang di sini tidak ramah pada Koko dan Amei?"
"Ramah banget! tetapi tetap terasa ada yang kurang di dalam hati Koko. Mungkin koko dan Amei sudah terbiasa berada di sisi kalian. Tiba-tiba harus berpisah membuat kami merasa kehilangan."
"Papi kamu sedang berusaha membeli rumah Bu Hajjah yang di simpang itu. rumah gedongan yang paling gede di kawasan kita. Papi kamu sudah menyuruh kak Andi untuk nego sama Bu Hajjah. Bu Hajjah masih menunggu keputusan anaknya."
Mata Azzam langsung berbinar mendengar keterangan dari Andi kalau Alvan berusaha memberi rumah di sekitar kawasan rumah lama mereka. Ada rasa bahagia membuncah di dalam hati Azzam.
"Benarkah kak Andi?"
"Ya Allah nih bocah! Sejak kapan kak Andi mu suka berbohong? Kak Andi juga senang kalau kalian pindah ke sana lagi. Kita bisa dekatan lagi."
"Lalu bagaimana dengan keluarga yang di sini?" akhirnya Tokcer mengeluarkan pendapat memikirkan keluarga Perkasa yang telah membeli rumah untuk Citra dan anak-anak.
Azzam dan Andi termenung mendengar kata-kata Tokcer yang harus menjadi bahan pemikiran. Bukan gampang katakan ingin pindah langsung bisa pindah. Mereka juga harus menjaga perasaan keluarga uyutnya. Azzam dilanda keraguan mengenai hal ini.
"Kak Tokcer ada benarnya. Gimana Uyut kalau kami pindah secara mendadak?"
"Ya nggak bisa mendadak bro! Rumah itu akan direnovasi oleh papimu dulu. semua tegel dan keramik akan dibongkar untuk diganti dengan model baru. Desain rumah bu Hajjah kan model lama jadi papi ingin memberi nuansa masa kini pada kalian." Andi menjelaskan semua arahan dari Alvan.
Azzam dan Tokcer manggut-manggut maklum. Paling tidak mereka tidak pindah secara mendadak menyakiti hati Uyut mereka yang sangat baik. Jika perlu Azzam ingin bawa membawa kedua orang itu tua itu tinggal bersama mereka. kedua ujung Azzam dan Afifa adalah orang tua yang berhati mulia. Mereka bisa memilah yang baik dan yang jahat. Terbukti mereka tidak berpihak pada Selvia yang telah berbuat curang pada Alvan dan Citra.
"Hei...siapa kalian?" tiba-tiba terdengar suara cewek berseru semangat. Ketiga lajang itu menoleh mendapatkan seorang cewek meneliti mereka satu persatu bak kamtib sedang sidak penjahat.
"Kami manusia kak...bukan alien!" ujar Azzam kurang suka pengacau model Natasha bergabung pada acara reunian orang kampung.
Natasha duduk seenaknya di kursi tak peduli pada ocehan Azzam. Gadis ini lebih tertarik pada kedua teman Azzam. Di bawah sorotan lampu teras yang sedikit remang membuat Andi dan Tokcer terlihat bak pangeran dari negeri entah berantah.
"Wah...ganteng amat teman you Zam... Siapa namamu?" tanya Natasha langsung kepada Tokcer yang masih kebingungan disebut sebagai orang ganteng. Apa mungkin mata Natasha kena debu sehingga tidak melihat dengan jelas. Cowok selevel mereka di anggap ganteng gimana lah kalau melihat Alvan dan Heru. Bisa mati berdiri anak gadis ini.
"Kak...ini temanku! Sudah masuk sono! Jangan ganggu acara kami!" usir Azzam tak suka Natasha merusak acara mereka.
Natasha berkacak pinggang menantang Azzam. Natasha tidak terima Azzam melarangnya kenalan dengan cowok yang dia anggap laki paling ganteng seantero bumi.
"Aku kan pingin kenalan. Kok kamu yang larang?"
__ADS_1
"Bukan ngelarang nona. Kami di sini orang beradab. Bukan orang yang nggak ngerti sopan santun. Kakak ini tamu tapi tak jaga image sebagai tamu. Hotel saja tidak akan menerima orang yang tidak mempunyai tata krama." Azzam memulai serangan yang dia tahan dari sejak jumpa Natasha. Pas pula tidak ada orang tuanya maka Azzam mendapat angin melakukan serangan malam.
"Kamu anak kecil mulutnya kok kayak petasan. Meledak-ledak."
Andi terkekeh mendengar Natasha ibaratkan mulut Azzam sebagai petasan. Belum tahu nih cewek gimana beracunnya mulut si lajang. Petasan masih termasuk golongan bawah, belum di ibaratkan bom atom.
Omanya sendiri bisa dikuliahi sampai naik darah apalagi hanya seorang Natasha. Kecil nilainya buat Azzam.
"Duduklah nona! Tak baik marah-marah di malam hari. Ntar kesambet setan lho!" kata Tokcer pelan masih terngiang di kuping pujian Natasha padanya. Kepala Tokcer masih membesar kena rayuan gombal si gadis bule itu.
"Iya kak! Hanya kakak yang baik." Natasha patuh pada Tokcer ambil tempat di samping pengawal pribadi Azzam.
"Baik karena belum diantar ke rumah sakit. Coba kalau sakit! Sangat tidak baik." Azzam menyusul bantah omongan Natasha.
Kata-kata Azzam kembali memancing rasa dongkol di hati Natasha. Ingin sekali Natasha kemplang kepala Azzam agar tidak ikut campur urusan orang gede.
"Ko...jangan gitu! Sama cewek nggak boleh kasar!" ujar Tokcer lembut.
Natasha terlena dengar suara Tokcer yang merdu di kuping. Tokcer seperti pangeran penunggang kuda putih datang hampiri putri dari negeri dongeng. Pendek kata di mata Natasha lelaki berkulit gelap itu mirip pangeran impian.
"Ya kak!" kata Natasha mirip ******* nafas.
Azzam dan Andi jijik dengar jawaban Natasha mirip orang kesambet setan cinta. Natasha jatuh cinta pada pandangan pertama. Jatuh pada Tokcer.
Andai Azzam tahu Natasha nyaris menikah dengan Daniel mungkin cerita akan lain lagi. Jaminan Natasha jadi perkedel goreng digiling Azzam. Azzam takkan biarkan temannya dibodohi gadis tak punya pendirian model Natasha. Cintanya segampang iklan di medsos. Pertama lihat terkagum-kagum lantas raib begitu saja rasa kagum itu.
Natasha tidak ambil pusing di usir Azzam. Pesona Tokcer lebih kuat dari rasa jengkel Azzam. Dada Natasha sedang berdenting dawai asmara kesurupan roh cinta Tokcer.
Tokcer si jomblo akut tak kalah songong. Natasha terpesona dia melongo tak percaya ada cewek bule kesengsem padanya. Jiwa jomblo Tokcer meronta minta pengertian Andi dan Azzam.
"Orang gila..." cetus Andi tak ngerti mengapa ada orang katakan Tokcer ganteng. Kalau Tokcer dibilang ganteng artinya bintang-bintang film top susah kehilangan pamor. Tampang bernilai lima kalahkan tampang bernilai tujuh milik Daniel.
Sungguh dunia terbalik. Tetapi atas nama cinta semua jadi legal. Tak ada tirai penyekat dua insan bila terpaut oleh pandangan pertama.
"Yok kita pindah! Ada dua ekor musang mulai memadu kasih." Andi menarik tangan Azzam agar beri waktu pada Tokcer dan Natasha saling mengenal.
Azzam berpangku tangan menggeleng mengapa tiba-tiba Tokcer si sangar jadi bucin. Azzam masih terlalu muda untuk paham apa artinya cinta. Cinta itu misterius, dia datang tak dapat diprediksi. Datang bersama hembusan angin bertiup di relung hati. Adem tenangkan jiwa kerontang Tokcer. Asal jangan angin dari tiupan pabrik pembawa polusi. Tokcer bisa keracunan cinta.
"Kak Tokcer gila ya!"
"Aiya...kau masih kecil! Kita pergi lihat kucingmu yok! Aku sudah lama tak jumpa si Kitty dan Brondy! Kangen juga..." Andi lebih dewasa kasih kesempatan pada Tokcer untuk ngobrol dengan cewek bule tamu Azzam. Andi sengaja alihkan fokus Azzam dari Natasha.
Kalau Azzam masih di sini kedua orang itu pasti akan di halangi tembok tebal. Azzam pasti akan usilin Tokcer dan Natasha.
"Tapi kak..."
__ADS_1
"Sudah...biarin mereka ngobrol. Kasihan Kak Tokcer kamu tak pernah jumpa cewek pas. Ingat dulu dia dihina orang tua pacarnya? Biarkan dia bahagia." Andi bijak merangkul pundak Azzam berlalu dari teras. Azzam belum puas biarkan Natasha usik temannya memalingkan wajah ke belakang lihat apa yang dikerjakan dua makhluk lain jenis itu.
Natasha bergeser lebih dekat Tokcer. Kini keduanya duduk berdekatan saling dempet. Azzam besarkan mata kaget Natasha sangat berani pada cowok yang baru dia kenal.
Natasha mencerminkan diri sebagai cewek tak punya harga. Baru kenalan sudah main dempetan. Papi dan maminya sudah punya anak tidak berkelakuan sejelek itu. Azzam langsung vonis Natasha cewek tak bermoral.
Andi dapat membaca pikiran Azzam menyeret anak ini secepatnya tinggalkan lokasi Tokcer dan Natasha berada. Kalau tak percaya pada akhlak Natasha, Andi percaya Tokcer takkan sembarangan main embat. Anak itu masih ada moralnya. Andi tidak kuatir Tokcer akan nekat.
Andi dan Azzam kini berada di kamar khusus untuk kedua kucing Azzam. Kamar itu sengaja dirancang agar kedua ekor binatang itu nyaman. Tempat tidur dan tempat main di dekor sedemikian rupa oleh Heru untuk menyenangkan cucu.
Kitty dan Brondy tampak senang kehadiran majikan mereka. Keduanya berebutan minta disayang Azzam. Andi dicueki karena jarang jumpa. Insting kucing yang peka bisa kenali yang mana pemilik mereka.
"Wah...Kitty makin cantik!" Andi menangkap Kitty membawanya ke pelukan. Pertama kucing kecil itu meronta tak suka digendong Andi. Berkat elusan di kepala menyebabkan kucing kecil itu merasa aman. Tak ada gerakan berarti dari Kitty. Malah kucing itu adem dipeluk Andi.
"Kitty jatuh cinta sama kak Andi!" Azzam tertawa derai senang Kitty anteng di peluk Andi.
Andi tak henti membelai kepala Kitty biar ngantuk. Kelemahan kucing berada di kepala dan leher. Andai kita usap dan belai kedua daerah itu kucing ganas juga akan anteng. Ini pengalaman dari pencinta kucing. (Kebetulan author memiliki banyak kucing jadi ngerti dikit soal kucing).
"Asal kita menyayangi sesuatu dengan tulus. Yang kita sayangi akan rasakan itu. Seperti kak Andi sayang Koko dan Amei. Kalian kan tahu betapa kak Andi sayang kalian."
Azzam angguk setuju kata Andi. Kalau kasih sayang Andi pada mereka tak diragukan. Sebelum Andi kerja pada papinya Andi sudah sayang pada mereka. Cinta Andi murni bukan dari koneksi Alvan.
"Kak Andi betah kerja sama papi?" tanya Azzam.
"Betah dong! Kak Andi merasa jadi manusia berguna. Bisa hasilkan uang dari tangan sendiri. Bukan minta dari Tante Nadine. Gaji kak Andi banyak lho! Gaji Tante Nadine saja kalah!" ujar Andi bersemangat masih terbayang pertama kali terima uang berikat-ikat.
"Berapa kak? Ada lima juta?"
"Lima juta apa? Dua puluh juta. Gaji kak Tokcer lima juta tapi dia dapat bonus karena kawal kalian. Kak Bonar juga banyak. Dua kali gaji kak Tokcer. Kak Andi tak berani cerita pada kak Tokcer takut dia sedih gajinya paling rendah."
"Papi gaji kalian sesuai kemampuan kalian. Kasihan juga papi harus keluarkan uang segitu banyak untuk bayar karyawan. Sebulan mungkin Beratus juta ya!" Azzam makin iba pada Alvan. Amarah pada Alvan telah capai titik beku. Tidak panas sama sekali. Azzam harusnya beri dukungan pada Alvan agar makin semangat cari uang untuk tutupi gaji karyawan.
"Lebih dari itu. Koko dan Amei harus dukung papi. Jangan beri papi tekanan berat! Papi harus kasih makan ratusan karyawan dan keluarga. Koko paham maksud kak Andi?"
"Paham kak!" Azzam bersyukur papinya punya Karyawan punya rasa empati tinggi. Memperhatikan bos juga keluarga bos.
"Bagus...tugas Koko sekarang belajar yang baik agar bisa membantu papi kelak. Semuanya milik Azzam dan adik-adik Azzam. Azzam yang tua harus jadi panutan. Bilangin Afisa jangan judes pada papi! Kasihan papi Koko."
"Koko paham..." Azzam menunduk agak sedih ingat Afisa hakimi Alvan dengan kejam walau detik akhir Afisa sedikit berubah. Azzam akan buka hati Afisa agar terima Alvan secara tulus.
"Good...ingat hari Minggu nanti kita pergi main ya! Refreshing sebelum ujian. Senin kalian sudah ujian kan?"
"Iya kak! Amei gimana? Kita bawa?"
"Itu harus tanya mami dan papi. Kan Andi tidak berani sembarangan ajak Amei." Andi utarakan rasa segan. Andi bukan tak mau ajak Afifa. Anak itu tidak sekuat Azzam. Daya tahan tubuh Afifa agak rapuh.
__ADS_1
Sudah dekat ujian membuat Andi makin takut ajak Afifa. Kalau diajak anak itu sempat drop bisa tamat riwayat Andi dibantai Alvan. Siapapun tahu Alvan lebih sayang pada Afifa. Perhatian Alvan pada Afifa lebih besar daripada Azzam.
Mungkin Afifa anak bungsu atau karena gadis kecil itu mirip boneka. Andi tidak tahu persis.