
Kedua anak lajang itu sepakat pergi dengan angkot. Nyali keduanya belum segede nyali harimau gunakan fasilitas kantor untuk bersenang-senang. Terutama Tokcer. Baru dipercaya sudah ngelunjak sok kaya. Tokcer buang jauh pikiran itu agar awet di perusahaan Alvan. Kerjanya juga tidak sulit, cukup antar jemput dua kurcaci Citra. Spesifik menjaga kedua bocah kesayangan Alvan. Asal Tokcer bisa penuhi tuntutan Alvan maka dia akan awet bekerja di tempat Alvan.
Tokcer membantu ibunya turun dari mobil dengan telaten. Tetangga yang usil intip dari jendela lihat preman kampung itu mendadak jadi orang kaya. Dari mana duit Tokcer sanggup beli mobil semahal itu. Gaya Tokcer juga berubah lebih perlente. Kaos oblong terkoyak-koyak tak menempel di tubuh kekar itu lagi.
Tokcer membuka pintu pagar rumah Andi sekalian menggandeng ibunya masuk ke rumah sahabatnya itu. Ibu Tokcer bangga bukan main Tokcer dapat kerja walau cuma supir.
"Andi..." seru Tokcer tidak melupakan ciri khas preman senang main teriak.
Pintu rumah Andi terkuak menyembulkan tubuh Andi dari dalam. Andi berpakaian rapi mirip orang hendak pergi kondangan. Kemeja disetrika rapi tanpa ada lukisan kusut sedikit pun. Ditambah bau minyak wangi harga gocengan menganggu penciuman Tokcer.
Tokcer menggeleng-gelengkan kepala salut pada penampilan terkini Andi. Sifat banci Andi belum sembuh total. Cara berpakaian sudah ok tapi gaya masih terbawa ke arah feminim.
"Lhu kecebur got ya? Kok bau karbit?" olok Tokcer gatal mulut ingin goda Andi.
"Woi...ini minyak wangi kubeli dari warung Wak Sugeng! Ini yang termahal. Sembarangan ngasih komen." Andi berkacak pinggang persis emak-emak ngajak berantem.
"Yang paling mahal harga seribu kan? Perih hidung gue nyium bau histeris lhu! Emak lhu mana? Ntar keburu malam susah nyari angkot!"
"Iya...bawel...Bu...ayo cabut! Ntar nggak dapat angkot!" seru Andi dari depan pintu.
Dasar Andi tidak ada sopannya. Memanggil ibu sendiri kayak panggil anak kecil.
"Andi...kok pakai angkot? Emang mobil Tokcer mana?" dari ruang tamu terdengar suara Untung menyahuti keinginan Andi kejar angkot.
Untung yang setia jalankan perintah bos duduk santai di ruang tamu bersama Nadine. Dua kurcaci Alvan sedang belajar ditemani Nadine. Kedua anak itu bersikap lebih baik lagi tanpa kehadiran orang tua. Mereka tahu diri tidak menyusahkan orang lain.
"Ada di depan mas! Kami mana berani pergi dengan mobil pak Alvan. Itu kan mobil buat kerja!" Andi menyahut dengan kenesnya. Andi ingin beri kesan baik pada Untung biar dilapor yang baik-baik pada Alvan. Siapa tahu dapat bonus ganda nanti.
"Tak apa! Aku yang tanggung jawab. Kalian pergi saja dengan mobil. Sudah malam gini susah cari kenderaan umum. Cuma hati-hati jaga mobil bos! Jangan ngebut dan kunci yang baik selama di parkiran!"
Mata Andi bersinar senang dapat ijin dari tangan kanan bos pergi dengan mobil mahal. Pamor Andi akan melonjak ke langit jadi buah bibir satu kampung. Bawa emak-emak belanja pakai mobil harga ratusan juta.
Senyum manis kontan hiasi bibir manyun Andi. Di kelopak mata sudah terbayang orang akan terkagum padanya pergi disupiri Tokcer. Punya uang cukup tebal untuk memanjakan sang ibu.
"Hei...jaga amanah orang! Jangan lupa daratan! Ntar ibu dibawa lupa bawa pulang!" omel Nadine menambah nasehat agar Andi sadar itu mobil kantor. Bukan untuk bersenang pamer harta.
"Isshhh kebangetan tuh mulut! Emang emak itu sampah! Dibawa untuk dibuang? Sembarangan...ibu...ibu...cepat dikit!" seru Andi tak sabar ingin segera cabut.
Bu Menik keluar dari kamar sambil merapikan rambut yang sudah rapi. Ibu tua ini grogi hendak diajak belanja di toko besar. Biasa beli pakaian paling di emperan pasar baju murah meriah. Andi dapat rezeki ingin menyenangkan orang tua merupakan karunia tak terhingga.
"Ibu sudah rapi An?" Bu Menik pamer body dibalut terusan warna coklat tua. Sekilas tak ada yang berubah selain Bu Menik lebih bersih. Wajah tetap keriput menunjukkan usia sesungguhnya.
"Rapi nek! Nenek tambah cantik kok!" Azzam yang nyahut menyenangkan hati orang tua. Mulut Azzam fleksibel, bisa manis bisa beracun. Tergantung di mana mulutnya berkoar. Azzam menyayangi Bu Menik tentu saja berusaha menyenangkan nenek tua tersebut.
"Terima kasih sayang! Cucu nenek ini paling tahu mana yang cantik. Nenek pergi dulu! Siap belajar langsung bobok ya!"
"Iya nek!" sahut Azzam dan Afifa serentak. Bu Menik tertawa puas melenggang keluar rumah untuk bergabung dengan Tokcer dan ibunya.
__ADS_1
Tokcer bersiul menggoda Bu Menik yang tampil luar biasa rapi. Sangat beda dengan sehari-hari hanya berdaster.
"Wah emakku ini! Cantik nian! Apa kata Wak Sugeng nanti?" olok Tokcer membuat semua tertawa. Bu Menik tidak ambil hati candaan Tokcer. Tokcer terkenal suka bercanda walau tampang preman.
"Nah kita cabut! Ayok nona-nona produk sebelum Masehi silahkan duduk di jok belakang! Aku sebagai tangan kanan mas Untung duduk di samping supir preman ini!" Andi berlagak pamer jadi bos malam ini. Andi berjalan ke pintu kiri menanti Tokcer bereaksi.
"Hei...mau disate lhu? Ijin siapa bawa mobil?" bisik Tokcer takut di dengar tetangga yang sibuk intip dari balik jendela.
"Mas Untung suruh kita pergi dengan mobil! Dia yang tanggung jawab. Sudah...ayok cabut! Malam ini gue bos, lhu supir gue! Bukain pintu buat bos Andi!" Andi makin sok gaya plonco Tokcer yang sekarang jadi supir.
Tokcer hadiahkan toyoran di kepala Andi saking geram di lecehkan Andi. Tokcer bukan malu jadi supir tapi tak tahan gaya bossy Andi. Alvan yang kaya raya tidak norak kayak Andi. Sekali di kasih hati ngelunjak minta jantung.
"Dasar banci kalengan! Lhu bawa aja mobil! Gue kejar dari belakang." Tokcer sengaja ganggu Andi karena tahu laki lunak itu tak pandai nyetir.
"Mau kupecat lhu? Malam ini gue bosnya! Ayok buka pintu!"
Bu Menik dan Bu Tokcer pusing saksikan dua begundal saling adu mulut. Diteruskan bisa-bisa batal perginya.
"Kalian ini mau tengkar atau pergi? Riasan ibu sudah luntur nih!" ujar Bu Menik hilang kesabaran.
"Oh maaf Bu! Silahkan naik!" Tokcer tersadar telah melupakan dua wanita mulia berdiri di samping mobil menunggu mereka sudahi acara adu mulut.
Tokcer telaten memasukkan dua wanita itu ke dalam perut mobil. Seumur hidup Bu Tokcer baru kali ini naik mobil mewah. Bu Menik sudah pernah rasakan waktu diajak Alvan makan di restoran mewah. Bau harum mints aroma terapi menyeruak mendingin kepala. Betapa damai berada di mobil empuk berbau harum.
Tokcer dan Andi masuk duduk di posisi masing-masing. Tokcer di kanan selaku supir sedang Andi di kiri selaku bos kw tiga belas.
Keharuman bau mints sirna begitu Andi masuk. Harum yang tadi menyegarkan pikiran berubah bau histeris mengacaukan otak. Tokcer ingin sekali melempar Andi keluar agar tidak mencemari mobil dengan minyak wangi murahan.
"Apa iya? Aku cium kok harum! Emak-emak cantik bau aku gimana? Penuh magic kan?" Andi menoleh ke belakang minta pendapat pada dua wanita seumuran itu.
"Magic apaan? Bau terasi..." rengut Bu Menik buat Andi patah hati. Niat mau pamer gaya malah kena sekak mental.
Tokcer ketawa terbahak-bahak sampai keluar air mata. Dia masih lumayan ibaratkan bau Andi kayak karbit. Bu Menik sadis langsung vonis bau terasi.
Wajah Andi kontan murung. Orang berhati Cinderella model Andi paling cepat iba hati walau itu hanya guyonan untuk olok Andi. Minyak wangi murahan Andi baunya tentu tidak seharum minyak wangi produk ternama.
"Gitu aja manyun! Gue hanya canda! Ntar kita beli yang harumnya memabukkan pak Alvan. Harum semriwing...ok?" bujuk Tokcer tak ingin perpanjang rasa kesal Andi. Semangat berbelanja bisa pupus bila ngambekan Andi berkepanjangan.
"Bener?"
"Bener...kita berangkat ya!" Tokcer starter mobil gulingkan roda ke toko pakaian incaran mereka. Suasana riang kembali memenuhi seisi mobil Alvan. Malam ini dua cowok muda serasa jadi jutawan kaya raya walau isi dompet belum setebal duit orang tajir.
Rasa iri dan syirik bertalu-talu di hati orang tak puas lihat orang lain bahagia. Berbagai dugaan bermain di benak mereka. Menerka keajaiban apa menerjang kehidupan Tokcer dan Andi. Paling mereka berpikir Tokcer maling mobil ataupun penipuan. Itu pikiran paling umum untuk kondisi Andi dan Tokcer terkini.
Andi dan Tokcer mana ambil pusing apa yang ada di pikiran orang. Yang penting mereka tidak berbuat nakal membangun dosa. Hajar terus cari happy.
Kembali pada kisah perseteruan dua ekor singa ganas di kamp pengungsian. Di sana langit membentang bak kain hitam membungkus langit. Hanya ada cahaya remang hasil pijaran sinar lampu obor. Hanya di tenda pengungsi dan mesjid diberi lampu agar tidak total gelap.
__ADS_1
Petugas dari kebupaten telah berpindah ke dalam mesjid bergabung dengan para relawan lain. Dua dokter kabupaten berusaha cari luang ngobrol dengan Heru dan Alvan. Siapa tak bermimpi jadi nyonya besar orang kaya punya nama mendunia. Tak perlu jadi isteri pertama alias ratu, jadi selir urutan ke sekian juga sudah cukup memuaskan.
Alvan dan Heru bukan orang bodoh tak tahu rencana dua dokter itu singkirkan Citra dan Melati. Tanpa dua dokter dari kota mereka berdua berkuasa di bagian kesehatan. Mereka pikir Heru dan Alvan akan berada di situ sampai beberapa hari. Kesempatan keluarkan jurus rayuan maut masih tersedia.
Citra dan Melati sudah packing untuk pulang ke kandang masing-masing. Persahabatan yang baru terbangun cepat sekali berakhir. Untuk berhubungan di kemudian hari bukan tak ada tapi semua punya tugas tersendiri. Kapan ada waktu luang berkumpul lagi. Paling wara-wiri di wa dan video call.
Seperti biasa Citra senang nikmati angin malam tanpa polusi di tempat biasa. Ini malam terakhir dia menikmati udara dingin di pengungsian. Setelah ini kapan lagi dia datang ke tempat ini. Melalui perjalanan darat butuh waktu cukup panjang. Butuh waktu sampai berjam-jam. Tidak mungkin Citra tinggalkan anak dan tugas injakkan kaki di desa ini.
Citra duduk memeluk lutut menghalau rasa dingin menggigit tulang. Kepala diketengahkan ke langit kelam meresapi kesunyian malam. Rasanya tenang banget duduk santai ditemani koor serangga malam. Bunyi binatang kecil bersahutan bak orkestra kolosal sedang manggung hibur hati Citra yang lara.
"Citra...kok sendirian?"
Citra menurunkan dagu memandangi sosok Heru yang datang mencarinya. Heru hafal tempat Citra menyendiri. Tidak perlu bertanya Heru langsung tebak di mana adanya wanita mungil pencuri hati.
"Emang biasanya aku ajak orang satu kamp pengungsi untuk duduk sini?"
Heru tertawa dengar jawaban Citra. Tawa empuk incaran wanita pencinta dewa Yunani itu.
Heru ambil tempat tak jauh dari Citra tanpa ijin. Belum ada undang-undang melarang orang duduk barengan di tempat terbuka. Selama duduk dengan sopan tak ada dekrit akan turun beri hukuman.
"Besok kau akan pulang! Ikut heli aku atau ikut Alvan?"
"Mungkin aku ikut pak Alvan karena dia pemilik rumah sakit tempatku bekerja. Gerry juga ikut."
"Aku tak paham cara pikir Pemda sini! Ada relawan rumah sakit besar mereka tolak. Dokter yang baru datang itu dokter umum belum pengalaman. Untuk sekedar demam bolehlah! Coba kalau dapat kasus macam dua pasien dulu! Botak rambut mereka obati luka segitu parah." Heru keluar unek-unek di hati tidak respek pada kebijakan Pemda memulangkan dokter spesialis.
"Biar saja! Toh tak ada pasien serius. Hanya demam, diare dan ISPA. Mereka pasti bisa."
"Aku boleh menemui kamu lagi kan?"
"Kenapa tidak? Mas Heru orang baik pantas dihargai. Aku suka berteman dengan siapa saja. Apalagi orang ngerti tata Krama."
"Terima kasih! Bolehkah aku tanya soal Alvan?"
Hati Citra mencelos disinggung soal Alvan. Apa Heru mengetahui sesuatu hubungan dia dan Alvan? Citra bukannya tak mau ungkap hubungan mereka. Satu tanah air tahu isteri Alvan hanya Karin. Secara tiba-tiba dia muncul akui diri sendiri isteri Alvan bukankah cari sensasi?
Hidup Citra pasti tidak akan aman disorot berbagai media. Masa lalu yang tertutup rapat akan meledak jadi santapan media. Netizen itu kejam tak kenal kompromi pasti akan hujat dia jadi pelakor. Citra belum siap hadapi situasi begini.
"Mas mau tanya apa?"
"Mengapa kau takut pada Alvan? Apa dia sangat kejam pada pegawai rumah sakit?"
Citra menunduk tak tahu harus jawab apa. Berkata jujur atau gambarkan Alvan bos diktator selalu berkuasa atas seluruh pegawai.
"Aku yang akan jawab pertanyaanmu!" Alvan muncul bak setan datang dari kegelapan. Sosok tinggi itu sudah berdiri di depan Citra dan Heru.
"Pak Alvan..." seru Citra belum ingin Alvan bongkar hubungan mereka.
__ADS_1
Alvan menarik Citra bangkit dari tempat duduk kayu darurat tempat dia habiskan malam. Alvan merapatkan tubuh Citra ke dadanya tanpa peduli perasaan Heru.
Heru terhenyak kaget tak sangka Alvan berani berbuat sejauh ini pada Citra