ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Ngidam Parah


__ADS_3

"Tuh dengar! Mereka milik kita artinya milik Perkasa juga. Aku yang akan kasih nama. Pokoknya harus ada Perkasanya."


Citra menarik nafas pusing lihat Heru tak mau ngalah. Alvan belum tentu terima anaknya menyandang nama Perkasa. Jelas-jelas itu anak Lingga.


"Sudah...jangan ribut lagi! Mereka akan menyandang dua nama. Kita pulang saja! Om mau pulang atau ke kantor?"


"Kantor...kau hati-hati ya jaga cucu aku! Tak perlu turun naik tangga lagi. Semua pekerjaan biar dihandle pembantu. Atau om tambah Art di rumah." Heru memberi perhatian total pada Citra.


"Om tidak usah kuatir! Aku sudah pernah melahirkan kembar tiga tambah satu juga tak jadi masalah. Aku janji akan hati-hati menjaga mereka agar cucu Om bisa bertambah banyak."


Heru mangut-mangut senang mendapat jawaban positif dari Citra. Dengan bertambahnya anak-anak Citra maka keluarga akan semakin semarak. Afung pasti tidak akan kesepian ditemani oleh para kurcaci kurcaci yang lucu. Heru yakin Afung pasti akan mencintai anak-anak Citra seperti yang telah dia lakukan pada Azzam dan kedua adiknya.


"Om balik ke kantor dulu ya. Kalian hati-hati dalam perjalanan pulang. Begitu sampai di rumah kamu istirahat saja."


"Iya om.."


Heru melambai pada Alvan lalu acungkan jempol tanda kagum dan salut pada Alvan. Orang yang pernah divonis tidak memiliki bibit ternyata mampu membuat sensasi dengan menghadirkan 4 anak di dalam perut Citra.


Alvan merangkul Citra membawanya duduk di bangku stainless agar istrinya itu tidak kelelahan. Tadi sebelum mengetahui dirinya hamil Citra tidak merasakan apapun. Setelah mendengar diagnosa dokter bahwa dia sedang hamil mendadak Citra merasa dia sangat lelah. Apa ini hanya efek dari psikis? Sebaliknya Alvan merasa full power untuk menjaga isterinya.


"Maafkan aku sayang!" Alvan mendadak minta maaf setelah Citra duduk di bangku stainless.


"Untuk apa minta maaf? Tugasku memang merawat suami dan anak-anak."


Alvan menggeleng bukan untuk itu dia minta maaf melainkan telah menyusahkan Citra mengandung anak-anaknya. Tidak tanggung sekali produk dapat empat bayi.


"Mas minta maaf telah membuatmu mengandung 4 bayi lagi. Mas tahu ini pasti akan menyusahkan kamu karena mengandung bukanlah hal yang gampang. Apa yang merasakan hari ini menjadi satu peringatan buat Mas untuk menghargai ibu muda yang sedang hamil. Mas bersumpah akan menyayangi kalian sampai akhir zaman."


Kalimat yang so sweet untuk menyenangkan seorang ibu hamil. Alvan ingin ungkap dia sangat mencintai Citra juga anak-anak mereka. Tak peduli berapa anak mereka tetap saja berharga bagi Alvan.


"Itulah apes buat aku jumpa mas yang tamak. Sekali cetak ramai." kata Citra seraya mencibir.


Alvan terkekeh melihat Citra manyun. Laki ini tahu Citra hanya pura-pura marah. Siapa tak senang dapat tambahan anak lagi. Alvan sudah bayangkan betapa semaraknya rumah mereka dengan bertambahnya anggota keluarga.


"Itu karena kita berjodoh!"


Di saat begini Citra teringat Karin. Bagaimana reaksi wanita itu bila tahu Alvan dan dia bakal punya anak lagi. Karin pasti akan bersedih karena selama bersama Alvan dia tidak memiliki anak. Tetapi dengan Citra langsung mendapat anak kembar 4 lagi. Apakah ini permainan hidup yang telah dirancang oleh Tuhan? Alvan dan Karin tidak akan pernah berjodoh.


"Mas...apa kak Karin harus tahu kabar in"


Alvan termenung tak bisa langsung jawab. Kalau mereka sengaja telepon kabari Karin ini merupakan satu pukulan untuk Karin. Mereka bisa dianggap sedang mengejek Karin.


"Jangan sekarang kabarin Karin! Tunggu setelah dia menikah dengan ustadz Syahdan baru kita kasih tahu bahwa kamu senang hamil. Bukankah itu lebih baik?"


Citra setuju pada kebijaksanaan Alfan. Setelah mempunyai suami mungkin perasaan Karin akan lebih baik menerima kabar bahwa Citra telah mengandung anak Alvan lagi.


"Iya mas.. satu lagi mas! Apa aku masih boleh praktek?"


"Mas tidak akan melarang kamu asal kamu bisa menjaga diri dengan baik. Tetapi dengan catatan cuma boleh setengah hari. Jamu harus ingat pesan dokter bahwa kamu tidak boleh lelah karena di perutmu bukan berisi satu bayi tetapi 4 bayi."


"Iya mas!!! Terimakasih. Gimana perasaan mas sekarang? Sudah enakan?" Citra mengusap pipi Alvan ingin tahu reaksi laki itu setelah tahu akan jadi papi dari empat bayi. Artinya dia kali lahiran Citra mendapat tujuh anak. Prestasi luar biasa.


Wanita bertubuh mungil telah mengukir rekor terbaik sebagai seorang ibu muda. Dua kali melahirkan dua kali dapat keajaiban. Ini kebetulan atau memang Tuhan sayang pada Citra.


"Perasaan mas adem karena disogok empat anak."


"Kalau ada umur panjang kita sudahi melahirkan anak. Cukup tujuh anak. Pemerintah anjurkan dua anak saja malahan tujuh. Kelebihan lima anak."


"Yang lima itu bonus dari Tuhan. Nggak usah berencana dulu. Kita tunggu sampai mereka lahiran. Biarlah Tuhan yang tentukan rezeki kita!"

__ADS_1


"Iya mas..."


Untung datang menjemput bos mereka pulang ke rumah. Lagi-lagi Untung harus ambil alih perusahaan berhubung bos kurang sehat. Untung tak tahu bosnya lagi ngidam. Alvan wakili Citra ngidam.


Alfan tidak menolak walaupun harus merasakan seluruh badan pegal dan perut diaduk-aduk oleh centong gede. Bisa membantu Citra meringankan penderitaan itu merupakan berkah bagi Alvan. Kini Alvan mengerti bagaimana penderitaan seorang ibu muda yang mengandung anak. Ternyata tidak semudah yang dia bayangkan. Alvan baru sehari merasakannya serasa dunia mau kiamat.


Maka itu Alvan berjanji akan menyayangi Citra sepenuh hati. Wanita mungil itu telah bersusah payah memberi Alvan penerus keluarga Lingga. Citra tidak mengharap balasan apapun selain mengharap Alvan menyayangi keluarga dan tidak berbuat macam-macam di luar dengan wanita lain.


Keduanya tiba di rumah tanpa banyak kendala. Alvan segera ajak Citra istirahat di kamar. Alvan masih dipenuhi euforia dapat anak lagi. Rasanya tak sabar ingin kasih tahu Azzam dan kedua adiknya bahwa mereka akan menjadi kakak lagi. Apapun cerita tetap harus tunggu anak-anak pulang sekolah.


Citra tidak merasa harus bed rest karena dia tidak rasakan gejala apapun. Alhamdulillah tubuhnya tetap fit walau harus kerja keras menjaga empat janin. Mengandung empat janin sekaligus rawan keguguran maka Citra harus pandai menjaga diri agar keempat anak terlahir sehat.


"Mas keluar sebentar ya!" Alvan meninggalkan Citra sendiri dalam kamar bermaksud keluar dari kamar.


"Mau ke mana? Mas kan baru sehat."


"Tidak ke mana! Cuma cari angin di luar. Kamu istirahat saja."


"Ya ampun...jangan over dong mas! Aku ini seorang dokter tahu yang terbaik untuk anak kita. Tiduran terus malah bikin badan pegel. Aku mau lihat ke dapur apa menu untuk anak-anak."


Alvan menunda langkah belum yakin Citra bisa beraktifitas seperti sebelum hamil. Padahal dari kemarin Citra susah hamil cuma belum ketahuan maka tak ada kata kuatir. Begitu ketahuan Alvan berubah agresif melarang Citra berbuat ini itu.


"Ya sudah .. hati-hati ya!"


"Iya pak!"


Alvan keluar kamar menuju ke ruang tamu. Tujuan Alvan ke ruang tamu ingin berbagi kabar baik pada Daniel sahabat tersayang. Daniel wajib tahu kalau dia akan segera dapat keponakan lagi.


Alvan aktifkan ponsel mencari kontak Daniel. Dalam sekejab hubungan tersambung. Kapan Daniel pernah menolak telepon dari sahabat terbaiknya.


"Halo bro...lagi ngapain?" Alvan duluan menegur.


"Sinting...gimana Laura mu? Sudah kau banting di ranjang?"


"Mau tahu atau tahu banget?" olok Daniel tertawa ngakak dengar nama Laura di bawa dalam obrolan.


"Nggak mau tahu...sudah waktu lhu mikirin penerus! Kelamaan ntar bibit lhu dimakan virus!"


"Huusss amit-amit! Anak gue bakal saingan dengan lhu! Lhu punya kembar tiga gue kembar Lima. Mana ada istilah Daniel kalah dari Alvan!"


"Edan...emang lhu Tuhan bisa ngatur! Ini gue kasih kabar baik buat lhu! Lhu bakal jadi om lagi!"


"Yang bener? Citra hamil lagi?"


"Yap tepat...Citra sudah hamil!" kata Alvan bangga.


"Cepat amat! Rasanya lhu baru dioperasi! Kok sudah hamil. Lhu garap pagi siang malam ya?"


"Edan...hancur dong bini gue! Sewajarnya saja tak tokcer! Coba lhu tebak kali ini dia hamil berapa bayi? Tebakan berhadiah."


"Apa hadiahnya?"


"Laura .."


"Sakit jiwa...Gue mau Citra! Hamil anak lhu nggak masalah. Gue akan sayang pada mereka seperti anak gue. Lhu kawin lagi deh sama cewek lain! Bintang sinetron kek, Miss world kek, Miss universe kek. Citra buat gue!"


"Sarap lhu! Citra itu milik pribadi! Lhu sama Laura saja. Anak itu cukup baik. Gara lhu dia kecelakaan tapi dia tidak buka cerita. Artinya dia emang sayang elu. Hargai perasaannya bro!"


"Itu tak perlu kau ajar. Gue tahu yang terbaik. Sekarang ceritakan berapa ekor keponakan gue!"

__ADS_1


"Sialan lhu! Emang anak gue anak kucing main hitung ekor."


"Lha bokapnya kan singa! Wajar tanya berapa ekor bayi singa bakal terlahir?" tangkis Daniel tak mau disalahkan Alvan.


"Kalau didengar Citra bisa disunat sekali lagi! Dia itu jago sunat orang usil. Gue aja hampir berapa kali kena ancaman pisau sunat. Habis deh modal gue disunat lagi."


Daniel tertawa ngakak dengar betapa seriusnya Alvan gambar sosok bini berprofesi dokter. Pekerjaan Laura dan Citra hampir sama. Apa kelak dia juga akan kena ancaman demikian?


"Ngeri punya bini dokter! Salah dikit terbang burung perkutut kita! Gue kok nggak sabar mau tahu berapa keponakan gue. Jangan bilang kembar lagi ya!"


"Tebakan lhu jitu! Kembar empat!"


"Allahuakbar... benar-benar keluarga kucing besar. Dua kali lahiran anak lhu tujuh? Beruntung banget lhu bro! Padahal itu jatah gue!" Daniel pura-pura sedih.


"Cuci otak lhu jangan asyik mikirin bini teman! Pertama gue juga nggak percaya. Tapi setelah lihat sendiri di monitor USG baru gue percaya! Emang ada empat titik."


"Selamat ya bro! Semoga keponakan gue yang ramai lahir selamat. Jaga Citra agar mereka semua sehat. Semoga kelak anak-anak gue juga kembar tiga atau empat. Gue nggak mau kalah dari lhu!"


"Kutunggu kiprah lhu dan Laura. Jangan kendor bro! Sudah waktunya halalin anak orang."


"Insyaallah secepatnya! Berdoa saja ya!"


"Pasti...bawa Laura jenguk Citra biar dia tidak bosan di rumah. Jadwal kerjanya sudah kupangkas. Hamil kembar empat rawan bahaya."


"Setuju. Aku hanya bisa kirim doa. Kuminta aku yang rawat Citra kamu tak ijin. Kalau Citra milikku pasti kusimpan di brankas biar tak masuk angin."


"Wong edan...aku masih waras! Lhu yang sudah sinting gara kelewat lama jomblo! Udah ach..gue mau kasih kabar ke orang tua gue dulu! Mereka pasti gembira tambah cucu lagi."


"Wajar ..tapi bro! Kau ingat Karin? Apa reaksi dia Citra hamil anak lhu lagi? Dia pasti akan berpikir lhu sengaja tak mau anak darinya. Sepuluh tahun bersama tak ada tumbuh kecebong di perutnya."


Alvan termenung mendengar kata Daniel. Nasib seolah permainkan Karin. Sepuluh tahun jadi isteri Alvan berakhir sedih. Kini muncul berita dahsyat akan berdengung di kuping wanita itu. Bagaimana perasaan wanita itu?


"Aku sudah diskusi dengan Citra. Tunggu dia menikah dengan ustad Syahdan dulu baru kami kabari. Sekarang nggak usah dulu. Takut dia sakit hati. Lhu tahu gue tak bermaksud menolak anak darinya tapi Tuhan memang tak ijinkan kami menyatu. Biarlah dia bahagia dengan caranya sendiri!"


"Semoga begitu adanya! Semua orang berhak bahagia. Semoga semua berjalan lancar ya! Aku minta jatah satu anak ya!"


"Kamu dan Heru sama saja! Dia malah minta dua. Aku yang tanam kalian mau petik hasil. Tidak ada jatah."


"Sinis amat! Maksud gue jatah gue kasih nama. Bukan minta jatah anak lhu! Gue ngeri bayangin pisau operasi bini lhu! Bisa disunat burung kebanggan gue rebut anaknya."


"Nah itu lhu ngerti! Ok..gue tutup dulu ya! Gue tunggu undangan dari lhu!"


"Rebes..." canda Daniel buat Alvan tersenyum.


Alvan meletakkan ponsel di atas meja dengan senyum lebar terukir di bibir. Bayangan bayi lucu bermain di pelupuk mata Alvan. Kali ini dia akan dampingi Citra melihat anak tumbuh dari hari ke hari. Waktu yang terbuang dulu akan Alvan bayar kontan.


Hidung Alvan menangkap sesuatu yang sangat bau busuk membangkitkan rasa mual di perut. Alvan tak dapat menahan diri mencium bau terasi bakar dari dapur. Laki ini auto mual ingin muntah.


Secepat kilat Alvan berlari ke arah wastafel kecil dekat ruang makan. Ini tempat terdekat tumpahkan isi perut. Berkali-kali Alvan mengeluarkan seluruh isi perut sampai lemas. Yang di dapur tak ngerti ada orang tersiksa akibat bau terasi.


Hidung Alvan jadi sensitif sejak ketahuan Citra hamil. Sedikit bau aneh terasa menyengat di hidung.


"Citra..." seru Alvan tak tahan lagi cium bau yang dia rasa seperti bau bangkai.


Citra keluar dari dapur mendengar teriakan suaminya. Citra kaget lihat Alvan terduduk lemas di lantai granit marmer.


"Ya Allah...kau kenapa mas?" Citra cepat-cepat papah lakinya bangun. Citra agak susah bangunkan tubuh yang dua kali lebih besar darinya.


"Kenapa ada bau bangkai di rumah?" kata Alvan tak berdaya.

__ADS_1


"Bangkai? Nggak kok...kami lagi bikin sayur bening di makan sama sambal terasi. Wangi kok!"


__ADS_2