ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Kucing Untuk Azzam


__ADS_3

Azzam tidak mengeluarkan suara menanggapi kata-kata Afifa. Azzam lebih suka berspekulasi dengan pikiran sendiri. Apa yang terjadi masa lalu maminya. Kini satu persatu orang yang ngaku kerabat muncul menambah hiruk pikuk keseharian mereka. Bukan Azzam tak punya hati tapi anak ini mulai berpikir mengapa baru sekarang orang-orang muncul mengaku ini itu. Dari pihak maminya muncul om dan Oma, kini dari sebelah papinya juga muncul opa. Belum lagi yang lainnya. Berapa banyak orang lagi akan meramaikan ketenangan mereka yang telah berjalan sekian tahun.


Alvan tak heran kalau Azzam belum beri jawaban. Dari hari ke hari Alvan makin mengenal Azzam. Azzam itu anak kritis tak gampang dipengaruhi. Memang seharusnya seorang lelaki harus bersikap begitu. Semoga Azzam tidak plin plan kayak dia di kemudian hari.


"Koko Azzam...kok diam?" tanya pak Jono yang sekarang lebih suka dipanggil opa. Panggilan itu merdu sekali di telinga pak Jono.


"Ach tidak apa opa...opa cepat sembuh ya!" Azzam tidak tega menyemburkan racun karena opanya belum sehat untuk dengar isi hati Azzam yang pasti akan pedih di telinga.


Citra dan Alvan menoleh ke arah Azzam dengan tatapan penuh terima kasih. Ternyata Azzam memang anak penuh perhitungan. Dia tahu di mana harus menginjakkan kaki. Tidak sembarangan melangkah.


"Terima kasih sayang opa! Kalian harus jumpa Oma kalian. Dia pasti bahagia jumpa kalian. Opa telah banyak berbuat salah, semoga pintu maaf terbuka untuk opa." pak Jono masih terbawa rasa bersalah telah bodoh terjebak dalam hawa nafsu sampai lupa siapa yang jadi teman selingkuh. Masih untung Alvan besar hati tidak menghukumnya. Apa karena dia papanya? Pak Jono yakin hubungan Alvan dan Karin akan tamat. Lelaki mana Sudi punya istri model ayam loncat.


"Pa...jangan omong macam-macam di depan anak-anak! Aku antar anak-anak pulang dulu. Anak kecil tak baik terlalu lama di rumah sakit. Citra akan di sini observasi penyakit papa." tukas Alvan cepat agar si jeli Azzam tidak menangkap adanya sesuatu hal tak beres.


"Oh...kenapa cuma sebentar? Opa masih ingin cerita dengan tuan putri cantik dan pangeran tampan." Mata Pak Jono meredup karena Alvan ingin membawa anak-anak pergi dari ruang rawatnya. Pak Jono belum puas merasakan sensasi jadi kakek dari anak-anak Alvan. Afifa yang menggemaskan dan Azzam yang menghanyutkan.


"Opa...Amei akan datang lagi kalau Opa sudah sehat! Amei akan berdoa agar opa cepat sembuh!" Afifa mengelus lengan Pak Jono seakan dia jadi orang tua menenangkan anak kecil dengan sejuta janji manis.


"Terima kasih sayang...opa akan sembuh! Opa janji.."


"Kita high five dulu. Janji kesatria sejati tak boleh diingkari!" Afifa menguarkan telapak tangan mungil ingin beradu dengan pak Jono. Pak Jono menyambut tangan Afifa menepuknya perlahan. Plok bunyi dua tangan beradu.


Afifa tertawa renyah bahagia dapat teman baru untuk berbagi cerita. Kini Afifa punya teman main selain Alvan. Semoga opa seasyik papinya bermain.


Hati Pak Jono makin sesak mengingat kebodohan besar yang dia lakukan. Betapa nikmat hidup tanpa berbuat dosa. Bisa menyaksikan tawa lepas cucu kandung.


"Sekarang kalian pulang ya! Janji datang jenguk opa lagi ya! Opa akan merindukan kalian."


"Amei juga akan rindu..."


Alvan mengumpulkan kedua anaknya untuk pulang. Alvan bukan tak mengijinkan anak-anaknya berada dekat pak Jono tapi anak-anak tak baik terlalu lama di rumah sakit. Jutaan virus berterbangan di seluruh rumah sakit. Siapa tahu ke mana virus-virus itu berlabuh. Kalau lagi apes bisa saja kena pada anak-anak.


"Kami pulang ya pa! Citra akan di sini temani papa!" Alvan menggandeng Azzam dan Afifa siap-siap berlalu dari ruang rawat pak Jono.


"Guys..say something to tour grandpa!"(Anak-anak katakan sesuatu pada opa kalian!). Citra ingatkan kedua anaknya untuk sopan hormati yang lebih tua. Didikan sejak dini akan tertanam di dalam apik dalam sosok yang masih bisa diisi dengan hal-hal baik. Anak-anak itu ibarat kertas bersih yang akan diisi oleh orang tuanya. Apa yang akan diisi tergantung cara orang tua menulis di kertas itu. Mau yang baik atau buruk terserah penulisnya.


"Opa...cepat sembuh!" seru Afifa semangat.


"Opa...ikuti anjuran mami biar cepat pulih! Kami akan datang lagi."


"Kalian memang cucu Lingga. Opa sudah tenang kalian ada. Opa bahagia..." Pak Jono kembali mewek diberi semangat oleh malaikat kecil yang berbudi. Citra sangat berjasa pada keluarga Lingga memberi penerus berbobot. Kalaupun pak Jono pendek umur tak ada penyesalan lagi. Dia telah melihat penerus keluarga.


"Assalamualaikum..." seru Azzam dan Afifa barengan sebelum pergi bersama Alvan.


"Waalaikumsalam..." Citra melambai pada kedua anaknya.


Alvan menggandeng kedua malaikat kecilnya berlalu. Alvan bersyukur pertemuan kakek dan cucu berjalan aman. Si cerdik Azzam tidak banyak komentar sehingga Alvan tidak perlu susah hati. Alvan paling takut pada mulut Azzam. Dia bicara fakta tapi harus dengan cara mencubit hati orang lain.

__ADS_1


Kini hanya tinggal Pak Jono dan Citra dalam ruangan. Tanpa anak-anak mereka lebih leluasa ngobrol. Pak Jono pasti punya puluhan pertanyaan ditujukan pada Citra. Citra siap memaparkan kejadian masa lalu agar pak Jono makin kenal siapa Karin.


"Citra periksa papa dulu ya!" Citra halau rasa grogi dengan pasang stetoskop ke telinga untuk periksa seluruh fungsi organ tubuh. Detak jantung pada pak Jono berbunyi kencang melebihi batas normal. Citra tidak curiga ada penyakit jantung, Citra lebih mengarah pada euforia pak Jono jumpa cucunya. Citra memaklumi kegembiraan pak Jono. Ini bagus untuk kesehatan pak tua itu. Lelaki itu akan lebih semangat mengejar kesembuhan.


"Papa cuma perlu istirahat dan rajin fisioterapi ya! Citra akan bantu dengan akupuntur bila telah pulang ke rumah. Di sini kita tidak dianjurkan lakukan pengobatan tradisional."


"Papa ikuti anjuranmu nak! Ke mana kamu selama ini? Alvan mencarimu kayak orang gila. Asal ada waktu dia ke Jogja cari jejakmu. Tapi tak pernah ketemu." Pak Jono bukan rahasia yang tak pernah Alvan katakan.


Citra menarik nafas sambil menyimpan stetoskop ke kantong baju. Bagaimana bisa ketemu kalau ada tangan setan ikut campur. Karin akan halangi Alvan jumpa Citra dengan cara busuk sekalipun.


"Citra ada di Jogja. Karin menutup semua akses Alvan untuk jumpa denganku. Citra selesai kuliah di UGM lanjut ke Beijing ambil sepesial. Lalu kerja di sini, Citra tak tahu ini rumah sakit Alvan. Di sini kami jumpa lagi."


"Jadi kalian juga baru jumpa? Alvan baru tahu dia punya anak?"


Citra mengangguk tidak menampik analisa pak Jono. Andai dia tidak melamar kerja di sini mungkin selamanya Alvan takkan tahu punya anak-anak cantik. Mereka akan tetap terpisah jadi orang asing.


"Iya...Citra membawa tiga anak ke Beijing melanjutkan kuliah sambil belajar akupuntur. Di sana Citra jumpa keluarga baik menampung kami. Pasangan suami isteri tanpa anak. Mereka suka pada Afifa tapi Afifa lemah maka mereka meminta didik Afisa. Afisa adalah atlet senam. Sekarang dia sedang berlomba."


"Kau tega pisahkan anak-anak?"


Citra tersenyum pahit seraya duduk di sofa. Ngobrol sambil berdiri membuat Citra merasa tambah pendek. Sudah kerdil jadi tambah kecil. Sebenarnya Citra malas mengorek kisah lama yang hanya menggores luka di dada. Namun Citra harus beri satu jawaban ke mana dia selama ini. Bukan kabur seperti dugaan keluarga Alvan.


"Citra tak punya pilihan. Keluarga itu telah banyak membantu kami. Afisa di tangan mereka juga berprestasi. Baik di olahraga maupun pelajaran sekolah. Afisa dan Azzam anak jenius. Afifa yang agak lemah." Citra berterus terang keadaan Afifa tidak sebagus kedua saudaranya.


"Kau pasti sangat menderita membagi waktu kuliah dan anak!"


"Tidak...Citra bahagia bisa besarkan anak-anak tanpa bantuan orang lain."


"Itu hanya yang di atas bisa jawab. Kita doakan yang terbaik! Papa jangan pikirkan apapun karena stress akan pengaruhi kesehatan. Pikirkan kurcaci Alvan saja?"


"Kau benar....aku punya tiga cucu cantik? Ach...papa lupa bersyukur pada kebesaran Tuhan! Di balik deritamu terselip kemuliaan hati. Oya...mungkin Alvan sudah cerita tentang kebodohan papa! Apa kau juga marah pada papa?"


"Iya...papa telah khianati kebaikan Alvan! Tapi lupakan semua itu. Kita semua sudah tahu ganjaran orang bersalah. Karin dapat jatah paling besar sesuai kesalahannya. Dia kena HIV dan kehilangan bayinya! Itu telah merengut setengah jiwanya."


Pak Jono teringat kalau dia juga berhubungan dengan Karin. Apa dia juga terjangkit virus mematikan itu.


"Papa dan Alvan gimana?"


"Tidak ada reaksi. Papa dan Alvan negatif HIV."


"Terima kasih ya Allah!" pak Jono ucap syukur tidak terjangkiti penyakit mematikan itu. Rasa bersalah tidak dapat dihapus namun Pak Jono telah mempunyai jawaban untuk tetap bersama dengan istrinya. Kalau dia terjangkit virus HIV maka dia akan terasing dari keluarga.


"Iya Pak kita harus bersyukur! Ini akan jadi pelajaran bagi kita semua. Apa yang namanya dosa itu hanya nikmat sesaat akibatnya jauh lebih dahsyat daripada nikmatnya."


"Papa akan ingat semua itu nak. Ini pelajaran yang tidak akan papa lupakan seumur hidup."


"Sekarang papa istirahat saja kalau ada apa-apa tinggal pencet bel Citra akan datang. Citra akan menulis resep obat untuk papa."

__ADS_1


"Terima kasih nak... jasamu tak akan papa lupakan selamanya. Terutama telah memberi Papa cucu yang cantik."


"Mereka adalah bagian dari nyawa Citra. Citra akan menjaga mereka hingga jadi orang berguna. Citra balik ke kantor dulu. Papa pencet bel bila ingin sesuatu. Perawat akan datang."


"Pergilah menyibukkan diri! Papa akan menunggumu balik sini."


"Papa baik-baik saja di sini! Citra keluar ya!" Citra ancang-ancang keluar dari ruang rawat Pak Jono untuk bikin resep obat pak Jono.


Di tempat lain Alvan mengantar kedua anaknya pulang ke rumah Citra. Kalau boleh Alvan ingin bawa Azzam dan Afifa pulang ke rumahnya. Di sana lokasi lebih luas. Keduanya bisa bergerak bebas sekeliling rumah. Sayang Citra terlalu kokoh untuk dikalahkan. Pendirian Citra sulit dirubah.


Sebelum pulang Alvan ajak Azzam dan Afifa membeli pizza sebagai makan siang. Azzam mau rasa daging sapi sedang Afifa mau daging ayam. Alvan memesan sesuai selera anaknya. Tak lupa Alvan pesan lebih teringat ada dua jagoan neon jaga rumah.


Azzam dan Afifa senang sekali diijinkan makan pizza oleh Alvan. Kalau di tangan Citra makanan model gitu jauh dari mulut kedua anak ini. Citra tak ijinkan anaknya makan junk food. Ternyata punya papi sangat menyenangkan. Lebih paham keinginan anak.


Azzam dan Afifa sudah tak sabar ingin makan pizza pesanan selera masing-masing. Harum keju cukup menggoda perut keduanya.


Alvan tak puas menatap kedua anaknya. Mereka adalah keajaiban dunia Alvan. Tinggal bagaimana membawa Afisa pulang tanah air. Lengkap sudah kebahagiaan Alvan.


"Pi..." panggil Afifa buyarkan lamunan Alvan.


"Ya?" Alvan menyentuh pipi chubby Afifa dengan lembut.


"Kasihan Cece tak bisa ikut makan!"


"Oh itu...kalau liburan kita pergi ke Beijing jumpa Afisa!"


"Kita balik sini kan? Amei tak mau tinggalkan sekolah."


"Balik dong! Rumah Afifa kan di sini! Kita ajak Afisa pulang sini. Kita kumpul bersama tak terpisah lagi. Afifa mau rumah baru? Papa beli rumah besar untuk Azzam dan Afifa. Kamar gede dengan bathtub. Di rumah ada kolam renang. Kita bisa piara kelinci kalau Afifa suka."


"Afifa tak suka kelinci dikurung di kandang. Kasihan mereka Pi! Harusnya mereka bahagia lari di hutan. Koko Azzam suka kucing. Koko ada kucing yang lucu tapi ditinggal di Beijing karena tak bisa dibawa pulang."


Alvan berbalik pada Azzam ingin tahu keinginan anak lajangnya. Alvan berharap Azzam mau buka diri agar Alvan tahu apa kesukaan anak itu.


"Mau kucing lagi? Papi beli untuk Azzam. Mau jenis apa? Kita ke pet shop sekarang juga."


Sebenarnya Azzam girang ditawarin bintang kesukaannya tapi dia masih ada bos yang kurang ramah pada binatang. Citra malas bantu Azzam urus kucing. Buang pub dan bersihkan kandang merupakan jatah Citra bila Azzam piara kucing. Azzam suka main sama kucing tapi tidak mau tahu soal kebersihan kucing.


"Takut mami tak suka.." ujar Azzam lirih.


"Memangnya kenapa?"


"Koko malas sih! Tiap pagi mami yang buang pub Rambo. Bulu Rambo kadang rontok di mana-mana. Koko tak mau nyapu sih! Nona Citra ngambek!" cerita Afifa sambil tertawa.


"Benar Azzam? Kalau kita rawat binatang harus tanggung jawab. Kasih makan dan urus segala keperluannya. Gini saja! Kita beli kucingnya biar simpan di tempat papi. Azzam boleh datang setiap saat untuk main dengan kucingnya. Gimana?"


"Koko mau tapi apa mami tidak marah? Nanti Koko dibilang buang uang."

__ADS_1


"Papi yang beli...kita ke pet shop dulu baru pulang! Ok?"


"Ok.." sahut Azzam terpancing kegembiraan.


__ADS_2