
Azzam mana rela adik-adiknya pindah tangan. Sudah begini jalan paling bagus adalah menghindar. Cuma Azzam dan Alvan harus cari solusi agar tak ada perpecahan antara Lingga dan Perkasa. Mereka harus tetap bersatu wujudkan dua kerajaan damai.
"Beri waktu pada Koko untuk cari terbaik supaya Oma Uyut tidak merasa ditinggalkan. Papi jangan omong apapun dulu dengan mami dan Oma Uyut. Biar Koko yang cari solusi!"
"Papi percaya kamu anak bijak. Sekarang tanggung jawab kamu tambah besar. Adik-adik sudah ada enam. Kamu harus jadi suri teladan bagi mereka."
Azzam mengangguk iyakan harapan Alvan. Azzam sendiri sadar kalau jalan ke depan makin berat. Adik-adiknya nanti belum tentu patuh seperti Afifa dan Afisa. Mereka hidup dari dua lingkungan berbeda. Dari kecil Azzam susah dididik bertanggung jawab sedang adiknya sekarang hidup dalam gelimang harta dan limpahan perhatian berlebihan. Azzam takut adiknya nanti jadi anak manja.
"Pi...ada satu permintaan Koko!"
Alvan buka kuping lebar-lebar dengar permintaan Azzam yang sudah pasti akan beri tingkat kesulitan sangat tinggi.
"Katakan! Papi akan berusaha penuhi semua permintaan kamu."
"Baik...jangan sekali-kali didik adik-adik dengan harta! Mereka takkan menjadi apapun. Yang ada anak manja tak tahu arti perjuangan orang tua. Didik mereka seperti mami didik kami. Dengan kasih sayang dan pengertian."
Alvan tak tahu harus bergembira atau bersedih punya anak bijak macam Azzam. Gembira karena punya keturunan bisa jadi panutan sedangkan bersedih atas ketidak Adilan yang dia berikan pada Azzam dan kedua adiknya. Mereka hidup secara keras tanpa kemewahan. Sedangkan dia dan Karin foya-foya tak ingat ada orang berjuang keras besarkan tiga anak.
"Papi janji...papi janji..." Alvan hampir menetes air mata saking terharu dengar permintaan Azzam. Alvan malu pada anak sekecil Azzam. Umur baru sejagung tapi cara pikir mirip orang tua. Apa mungkin Azzam ini titisan kakek Wira?
"Sekarang Koko pergi tidur dulu! Besok masih harus ke sekolah. Papi tak usah terlalu memikirkan permintaan opa Heru. Keputusan tetap di tangan papi."
Alvan melongo. Siapa yang jadi orang tua dan siapa yang jadi anak? Rasanya kok terbalik? Azzam pula yang beri nasehat pada papinya agar tak usah berpikiran.
Azzam meninggalkan Alvan masih terbengong saking kaget dinasehati anak sendiri. Lama-lama Azzam yang kepala keluarga. Alvan hanya jadi lelaki tua invalid tak punya pendapat lagi.
Satu hari berlalu lagi. Semua beraktifitas seperti biasa. Alvan dan Citra tak tahu kalau anak mereka yang bernama Azzam sedang peras otak cari solusi terbaik untuk dua keluarga. Tak boleh ada jurang pemisah antara dua keluarga. Mereka harus tetap akur walau kelak mereka akan jalani hari-hari masing-masing. Itulah Azzam anak sulung Lingga yang punya talenta super bijak.
Secara diam-diam Alvan beli rumah saudara Laura dan lakukan renovasi dalam hal warna. Cat rumah yang mirip pelangi dirombak jadi warna putih bersih karena Citra suka akan kebersihan. Tiap kamar anak direnovasi sesuai karakter anak untuk gambarkan jiwa anak-anak.
Yang lain tak banyak renovasi karena memang sudah sangat bagus. Arsitek rumah ini pasti orang hebat karena rumah terbangun sangat apik.
Alvan ingin beri yang terbaik pada keluarganya. Ini kesempatan bagus tunjukkan ketulusan pada keluarga bahwa dia mencintai keluarga besarnya. Berapa banyak anak dia tidak keberatan asal semua tumbuh sehat.
Acara syukuran kelahiran anak Alvan berlangsung meriah walau hanya dihadiri keluarga dekat. Amang sekeluarga datang dari Kalimantan karena penasaran dengan anak-anak Alvan yang kuat biasa.
Sahabat Alvan dalam suka duka juga turut hadir bersama pasangan yang akan segera dihalalkan. Siapa lagi kalau bukan Daniel seniman gagal. Tak ketinggalan ketiga jagoan neon datang bersama gebetan masing-masing. Tokcer makin lengket dengan Fitri karena Natasha terlalu jauh untuk dijangkau.
Semua berseri-seri menyaksikan keempat bocah yang makin hari makin sehat dan makin menarik. Serangkaian acara sarat dengan pesan moral dan adat berlangsung hikmat. Semuanya tentu tak luput dari campur tangan Bu Sobirin. Dia yang susun semua rencana syukuran ini. Azzam makin tak tega pisahkan adiknya dari Oma Uyut. Namun apapun terjadi mereka tetap harus pindah supaya Alvan punya harga sebagai kepala rumah tangga.
Tak mungkin selamanya Alvan numpang hidup pada keluarga Perkasa. Ada masanya dia harus berdiri di atas kaki sendiri.
Acara yang ditunggu-tunggu akhirnya datang yakni cukuran rambut para bayi kembar. Alvan, Citra, Afung dan Heru masing-masing gendong satu anak untuk dicukur oleh para tetua. Pak Jono paling duluan lalu disusul Bu Dewi barulah Bu Sobirin dan pak Sobirin.
Tepuk tangan bergema tatkala moments penting ini terlaksana. Senyum merekah di setiap sudut bibir tamu. Puji syukur dan doa dipanjatkan untuk keselamatan anak-anak ini.
Azzam menatap nanar rangkaian acara ini. Tak pelak Azzam bersyukur adik-adiknya mendapat banyak doa dari tamu. Semoga mereka jadi anak Soleh dan Soleha.
__ADS_1
Dari jauh Azzam menangkap ada yang tak beres pada Oma mudanya. Mata jeli Azzam melihat berapa kali Afung terhuyung ke belakang dengan Alika di tangan. Ada sesuatu yang tak beres dengan Omanya itu.
Azzam berlari kencang melihat Afung terjerembab jatuh. Anak ini segera sambut adiknya sebelum terpelanting ke lantai bersama Afung.
Semua kaget sampai berseru kencang lihat Afung jatuh dan bayinya jatuh di atas tubuh Azzam. Azzam tak sempat tangkap adiknya hanya bisa buang badan agar adiknya tak menyentuh lantai keras.
"Ya Allah .." teriak Bu Sobirin kaget sambil mendekap mulut.
Di saat semua terbengong, Daniel bergerak angkat sang bayi yang berteriak kencang akibat kaget tidurnya terusik. Heru secepatnya serahkan bayi lelaki di tangannya kepada orang terdekat. Heru tak lihat siapa yang gendong bayi Alvan. Dia harus segera membantu Afung yang jatuh ke lantai granit. Untunglah bayi dan Afung tidak apa-apa. Cuma si kecil menangis kencang akibat kaget.
Suasana menjadi agak kacau gara Afung terjatuh. Semua bayi diletakkan kembali ke stroller kecuali Alika yang masih nangis. Citra ambil alih bayinya agar tenang. Diusap Citra beberapa kali Alika langsung diam dapat merasakan yang merengkuh dia adalah orang yang telah melahirkan dia ke dunia ini.
"Bawa Afung ke dalam dulu biar kuperiksa!" ujar Citra setelah semua kembali tenang.
Si bucin Heru membimbing Afung perlahan menuju ke ruang keluarga rumah Citra agar bisa ditangani dokter yang sudah lama tidak praktek.
Anak-anak telah anteng menikmati tidur cantik mereka. Seumur itu kalau bukan nangis ya tidur. Selain itu apa yang bisa mereka lakukan. Alvan siaga menjaga bayi-bayinya takut terjadi hal tak diinginkan lagi. Alvan bisa gila bila terjadi sesuatu pada keempat bayi yang baru datang ke dunia ini.
Citra buka praktek di rumah memeriksa kondisi Afung. Tak ada yang perlu dikuatirkan. Semua normal kecuali denyut jantung lebih kencang sedikit. Bagi Citra itu tak bawa masalah.
Laura calon isteri Daniel ikut dalam pemeriksaan ini karena dia juga dokter walau cuma dokter umum belum spesialis kayak Citra.
"Gimana Tantemu Citra?" buru Heru tak sabar mau tahu hasil pemeriksaan kesehatan isterinya.
Citra menyimpan peralatan medis sambil tersenyum. Heru agak jengkel pada Citra tak jaga perasaannya. Isterinya sedang kurang sehat dia malah tersenyum. Padahal Heru hampir pingsan ketakutan lihat isterinya terjatuh tanpa alasan jelas.
"Maksudmu?" tanya Heru agak gugup. Pria bertampang dewa Yunani itu grogi plus salah tingkah dengan sekilas diagnosa Citra.
"Aku curiga ada Heru junior dalam perut Tante aku yang cantik ini. Tapi untuk pastikan kita cek ke rumah sakit."
"Yang bener?" teriak Heru menggelegar bikin kaget tamu yang masih lanjutkan acara.
"Ssssttt...om ini bikin malu! Setua gini kayak anak-anak. Semoga dugaan aku benar ya! Rumah kita bakal tambah anggota baru lagi. Selamat ya om!" Citra menyalami Heru yang masih belum percaya dia bakal punya anak lagi.
Tanpa sadar air mata laki ini menetes saking bahagia bisa memberi adik pada Citra dan Gibran. Hari ini kebahagiaan berganda. Acara syukuran sungguh bawa berkah.
Heru segera memeluk Afung yang belum paham sepenuhnya walau ngerti sedikit-sedikit arah pembicaraan Citra dan Heru.
"Selamat ya pak Heru! Semoga ini jadi keajaiban berganda. Bu Afung bagusnya istirahat saja! Tak usah ikut gabung lagi. Untuk pastikan lebih baik kita cek langsung di rumah sakit." Laura turut beri dukungan meramaikan suasana bahagia ini.
Heru mengangguk percaya pada diagnosa Citra walaupun belum ada kepastian. Citra bukan dokter abal-abal pasti tahu sekelumit bagaimana kesehatan wanita yang dia cintai. Harapan Heru tentu saja ada adik untuk Gibran. Dengan demikian dia tak perlu incar anak Alvan lagi. Beradu mulut dengan Alvan soal anak bukanlah hal menyenangkan. Laki itu matian pertahankan anak-anak. Itu wajar karena bapak di manapun akan lakukan hal sama. Kalaupun ada orang tua tega campakkan anak itu berarti orang itu setan menyamar jadi manusia.
Citra dan Laura meninggalkan Heru Afung yang tengah bersuka-cita. Setiap pasangan pasti berharap mendapat penerus dalam pernikahan. Ini salah satu mengapa orang mau menikah.
Kehadiran Citra dan Laura disambut oleh Bu Sobirin yang menjaga cicit-cicitnya. Di raut wajah wanita tua ini tersimpan rasa kuatir walau tidak ditunjukkan secara nyata karena orang masih berpesta.
Citra mendekati Bu Sobirin lalu memeluk wanita paro baya itu sambil mencium pipi masih segar itu. Bu Sobirin awet muda walau usia sudah di atas kepala lima. Bu Sobirin selalu berpikir positif tanpa ingin merusak makna arti keluarga sakinah.
__ADS_1
"Ada apa? Ada kejutan?" bisik Bu Sobirin membalas pelukan Citra.
"Kejutan besar. Tante Afung akan beri cucu pada Oma."
Bu Sobirin menjauhkan badan Citra tak percaya omongan Citra. Afung telah mendapat masalah dengan rahimnya. Bisa mendapat keturunan merupakan kebesaran Allah. Allah takkan beri cobaan di luar batas daya manusia itu. Allah beri cobaan karena sayang pada kita untuk perbaiki semua kesalahan yang pernah kita lakukan.
"Yang bener?"
"Insyaallah...untuk lebih akurat lebih baik kita cek ke dokter! Selamat ya Oma!"
"Wah...tambah lagi anggota keluarga kita! Kau akan mendapatkan adik lagi. Lucu ya! Sebesar gini masih dapat adik. Azzam akan mendapat om kecil."
"Gimana kalau Tante kecil?" gurau Citra buat Bu Sobirin tertawa lebar.
"Nggak masalah. Maunya memang cewek biar Gi punya tugas jaga adik. Sekarang kan masih bertugas jaga keponakan. Wah ..Gi! Kamu akan direpotkan sama adik dan keponakan. Ah ..betapa indah hidup ini!" Bu Sobirin mengelus dada bersyukur keluarganya mendapat berkah berlipat ganda.
Di salah sudut rumah Citra tampak Azzam masih belum sepenuhnya tenang setelah lalui kejadian menegangkan. Anak ini tak bisa bayangkan bagaimana kalau adiknya jatuh ke lantai. Apa kepalanya akan terbentur lantai granit? Gimana kalau pecah dan meninggalkan mereka.
Azzam bergidik bayangkan akibat buruk bila terjadi sesuatu pada adik-adiknya yang baru kenal dunia. Jantung Azzam masih berdetak kencang ingat syok mental yang baru dia terima.
"Halo anak muda..."
"Oh kakek...ayok duduk!" Azzam segera berdiri memberi tempat pada seorang lelaki paro baya bertubuh sehat. Wajah orang itu mencerminkan jiwa keras. Ciri khas orang Kalimantan. Tampang keras tapi hati lembut.
Amang menepuk bahu Azzam salut pada kesopanan anak itu. Amang sudah dengar betapa hebat anak Alvan ini. Jumpa pertama sudah beri kesan mendalam.
Amang duduk di tempat yang disediakan Azzam. Laki itu menatap Azzam lekat-lekat seperti ingin memulai satu pembicaraan mendalam. Azzam berdiri dengan sopan dengan kedua tangan bertautan di bawah perut. Sikap anak terdidik baik.
"Kamu tentu Azzam bukan? Kau kenal aku?"
Azzam mengangguk, "Papi sudah kasih tahu bahwa kakek ini adik dari Oma."
"Anak baik! Ayok duduk samping kakek!" Amang menarik Azzam agar duduk bersebelahan dengannya. Amang risih juga ngobrol dengan Azzam dalam suasana kaku. Azzam tidak banyak beri reaksi seperti anak umum. Dia beri kesan wibawa bikin orang segan.
"Mau main ke Kalimantan?" tanya Amang.
"Pingin juga tapi tunggu adik-adik gedean dikit. Kasihan mami awasi adik-adik sendirian. Aku sebagai anak sulung wajib bantu mami ngawasin adik."
"Oh...kau anak baik! Kakek besok sudah balik ke Kalimantan bersama Oma kamu! Dia akan berobat di sana. Semoga pengobatan tradisional mampu beri keringanan pada Oma kamu."
"Amin...Kita semua berharap Oma cepat sehat." jawab Azzam datar hanya sekedar basa-basi.
Amang manggut-manggut setuju omongan Azzam. Kesembuhan Bu Dewi diharapkan semua orang. Tidak bisa sembuh total seratus persen tak apa asal bisa jalan dan bisa bicara itu sudah syukur.
"Azzam masih marah pada Oma?"
Azzam menatap Amang dengar pertanyaan aneh ini. Dari mana Amang menduga kalau dia marah pada Oma mereka. Mereka hanya anak kecil tak boleh simpan dendam pada orang tua. Jauh hari Azzam sudah lupakan rasa kesal pada Omanya cuma belum bisa bermanja seperti pada Bu Sobirin.
__ADS_1