ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Calon Heru


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi Heru dan tamunya belum mendarat. Kelihatannya mereka datang terlalu cepat. Alvan tidak menyalakan Citra karena tahu istrinya itu pasti sedang rindu padam saudara jauhnya. Rasa rindu yang menggebu-gebu membuat Citra tak sabar menanti kehadiran mereka.


Alvan dan Citra berdiri bersama-sama dengan yang lain menanti kehadiran sanak keluarga mereka. Sebenarnya Alvan tidak begitu antusias menyambut kehadiran Heru. Tetapi demi Citra dia harus bersabar. Apapun akan dia lakukan untuk membayar kesalahannya di masa lalu.


Wajah Citra berseri-seri Itu sudah merupakan pemandangan yang sangat indah buat Alvan. Kalau bisa Alvan ingin selalu mengukir senyum di wajah cantik itu. Tak ada lagi duka di dalam hidup Citra. Kalau Alvan seorang penyanyi dia bersedia bersenandung untuk menghibur Citra dengan lagu-lagu cinta yang indah. Sayangnya Alfan hanya seorang pebisnis yang tidak mengerti hal-hal berbau romantis.


Cukup lama menunggu akhirnya pesawat yang dinanti-nanti mendarat juga. Euforia di dalam Citra makin mencuat. Hal sekecil ini saja bisa membuat Citra begitu bahagia. Benar kata orang tidak semua kebahagiaan didapat dari setumpuk materi. Rasa cinta yang tulus mampu menciptakan kebahagiaan yang lebih berharga.


"Mas..." Citra menarik tangan Alvan untuk salurkan betapa dia sedang bahagia. Citra mau Alvan ikut merasakan kebahagiaannya. Alvan ikut berbahagia bukan karena kehadiran Heru dan temannya melainkan bahagia melihat Citra senang.


"Kau senang sayang?"


"Ya senang...bayangkan Afung bisa datang ke kampung halaman aku! Dia sudah lama ingin kemari. Baru hari ini bisa terealisasi."


Dalam batin Alvan monolog sendiri. Aku bahagia melihatmu bahagia. Kalau hal sekecil ini bisa membeli kebahagiaanmu aku siap hadirkan siapapun yang kau inginkan.


Tak lama kemudian orang yang dinanti muncul. Heru bagai dewa perang diapit oleh tiga bidadari bermata kecil. Heru membawa tiga wanita berkulit bening. Ketiganya punya ciri khas orang dari negeri tirai bambu. Citra tak peduli siapa teman Heru, tujuannya cuma satu yakni jumpa saudara angkat anaknya.


Citra melambai memancing perhatian keempat orang itu. Mata jeli Heru menangkap sosok Citra dan Alvan. Tubuh Alvan yang tinggi besar cepat tertangkap fokus lensa mata.


Heru berjalan ke arah mereka dengan dua bagasi di tangan. Yang lain masing-masing bawa satu bagasi.


Citra berlari kecil menyambut Heru dan Afung yang dia harapkan dari tadi. Afung yang melihat Citra langsung merentangkan tangan menanti tubuh mungil itu mendarat di badannya.


Afung dan Citra berpelukan erat seperti seribu tahun tidak jumpa. Afung tak henti mengecup pipi Citra bikin orang berpikiran negatif. Tentu saja mengira keduanya pasangan abnormal padahal mereka hanya saling melepaskan rindu.


(Author tidak perlu karang cerita dalam bahasa Mandarin. Anggap saja sudah di translate langsung ke bahasa kita)


"Kamu sudah kurus kak!" Afung merasakan tubuh Citra makin tipis. Sudah kecil tambah kecil.


"Perasaanmu saja! Kau bawa siapa?"


"Hampir lupa...ini teman sesama pesenam! Mereka mau berlibur juga. Pas mau dibayarin sama kakeknya Cece ya mereka ikut! Ayok salaman!" Afung menarik tangan Citra untuk kenalan dengan kedua atlet senam lain.


"Hai...aku Citra..apa kabar?" Citra mereka satu persatu.


"Aku Mung Si..." kata yang agak tinggi.


"Aku Lan Yin..."


"Mari kukenalkan ini papinya Chai Sia. Namanya Alvan." Citra menyeret Afung untuk kenalan dengan suaminya.


Sekilas Alvan ngerti apa yang dikatakan Citra pada Afung karena menyangkut namanya. Alvan samasekali buta soal bahasa Mandarin hanya beri seulas senyum plus anggukan kecil. Mau menyapa harus pakai bahasa apa? Apa mereka juga ngerti bahasa Indonesia atau bahasa Inggris? Daripada malu Alvan memilih hanya tersenyum. Jalan praktek tidak persulit diri sendiri.


Alvan melirik Heru yang sedang gembira. Wajah ganteng itu makin berminyak kena goyangan senam Afung. Di mata Heru terpancar Kilauan sejuta bintang penuh bentuk hati. Cuma Alvan bertanya apa Heru mengerti bahasa daerah Afung? Bagaimana cara mereka komunikasi? Pakai bahasa Tarzan atau pakai bahasa isyarat.


Alvan bergeser pindahkan tubuhnya dekat Heru cari info akurat tentang wanita dari negeri jauh itu.


"Ssttt...lhu ngerti mereka omong apa?" tanya Alvan dengan suara kecil. Alvan takut teman Citra mendengar pertanyaan dari mulutnya. Ketahuan bodoh kan memalukan.

__ADS_1


"Nggak...selama ini Afisa jadi translator...gimana? Cocok nggak Afung jadi Tantemu?"


"Hebat...satu ayam satu bebek saling komunikasi pakai bahasa unggas. Satu berkotek dan satunya berkwek-kwek." olok Alvan menertawai kelucuan dua makhluk beda jenis ini.


"Kualat kamu. Om sendiri diejek. Lama-lama nanti dia juga bisa. Oya...Selamat ya atas prestasi Afisa! Dia anak luar biasa. Semangatnya patut dapat acung jempol. Aku terharu sewaktu dia akui aku sebagai kakeknya. Orang pada bilang kakek Afisa ganteng dan keren. Aku bangga dong!" Heru menepuk dada bak pahlawan dapat bintang jasa.


"Anak aku kok yang dipuji kakeknya. Artinya aku yang nanam om yang panen!" ujar Alvan sewot. Heru tertawa lebar tak merasa bersalah. Posisinya lebih tinggi dari Alvan dalam urutan keluarga maka Heru merasa pantas mendapat penghormatan dari masyarakat umum. Punya cucu berprestasi selalu bikin hati berbunga.


Heru menepuk bahu Alvan menyabarkan laki itu, "Besok kau cetak lagi yang model gitu ya! Semoga darah dari Perkasa lebih kuat dari darah Lingga. Aku tak keberatan merawat kurcaci kamu bersama Afung."


"Geer...belum tentu si sipit mau sama om! Dia belum tahu penyakit om yang suka ngelaba!"


"Huusss...makin nakal nih cucu! Berani ngatain om sendiri! Ayok kita pulang! Apa mau nginap di Bandara?" usul Heru gerah berdiri lama di bandara. Keempat wanita itu masih seru bercerita. Mungkin sekedar lepas rindu atau mulai bergosip.


"Sayang...kita pulang?" tanya Alvan setuju usul Heru. Dia masih harus balik ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan. Tak mungkin Alvan seharian temani tamu dari luar itu.


"Oh iya mas..." sahut Citra tersadar kalau mereka masih di bandara.


Citra mengajak temannya segera tinggalkan bandara. Sambil melanjutkan obrolan mereka melangkah bersama.


Di luar pintu bandara tampak asisten Heru si Laba sudah menanti. Asisten Heru datang menyambut bos Perkasa pulang. Kantor juga mulai kelimpungan kehilangan nahkoda kendalikan kemudi perusahaan.


Laba tahu diri segera menyambut koper bosnya menyeret tempat baju Heru menuju ke parkiran mobil.


"Lha kita pulang sama siapa? Ikut mobil om atau ikut mas Alvan!"


"Kalau om sibuk biar Afung pulang dengan kami. Om pergi saja! Aku akan urus calon Tante aku ini." gurau Citra tak enak hati pada Heru. Gimanapun Selvia itu saudara sepupu Heru. Berita meninggalnya Selvia mungkin akan jadi pukulan buat Heru.


"Bagus juga rencanamu! Kau aturlah yang terbaik. Kalau kamar di rumahmu tak cukup tempatkan saja di rumah kami. Om langsung ke kantor dulu! Bilang sama Afung om pergi kerja, sore nanti sudah di rumah." Heru berkata sambil menatap Afung. Semoga gadis bermata sipit itu paham niat Heru. Bukan ingin mengabaikan tamu tapi ada tugas urgen harus dihandle.


"Baik... hati-hati om!"


Heru turunkan kepala buat anggukan kecil. Heru menebar senyum mautnya sebelum tinggalkan pelataran bandara bersama Laba. Keduanya duluan tinggalkan bandara.


Alvan memberi kode agar mereka menyusul. Dia juga banyak kerja tak bisa ditinggal. Siap antar Citra dia harus balik kantor mengais rezeki. Tanggung jawab Alvan makin berat karena punya tanggungan banyak. Alvan akan ambil alih semua biaya sekolah Azzam dan Afifa. Tak lupa Alvan kirim uang ke Afisa agar anaknya itu tidak merasa diabaikan.


Potong cerita Alvan berhasil antar para wanita ke rumah Citra. Alvan langsung balik kantor tak punya waktu temani tamunya Citra. Biarlah sisa hari ini jadi milik Citra dan temannya.


Citra menempatkan Afung dan kedua temannya di ruang tamu dan kamar Afisa. Afisa tidak ada di tanah air maka kamar itu digunakan untuk tamu. Paling juga mereka seminggu di sini. Bahkan mungkin tak sampai.


Ketiga tamu Citra tak habis kagum pada dekorasi rumah Citra. Afung tak menyangka kalau ternyata Citra itu orang berada. Apa penyebab Citra hidup susah di negara mereka. Kuliah dan kerja banting tulang untuk hidupi ketiga anaknya.


Afung sedikitpun tidak sangka hidup Citra sangat makmur. Rumah mewah dan suami ganteng. Dari tampilan Alvan jelas tergambar Alvan bukan sembarangan cowok. Kharisma laki itu mampu membiuskan para cewek.


Citra mengundang ketiga tamu nikmati teh terbaik dari tanah air. Teh melati dari kebun penduduk kampung. Organik tanpa pestisida. Orang Tiongkok paling getol minum teh. Ntah semacam tradisi atau memang minuman favorit orang sana.


Asap panas mengepul dari cangkir keramik menyebarkan harum menggoda hidung para wanita-wanita itu. Bahkan Mung Si mendekatkan cangkir ke hidung untuk hirup bau harum teh khas tanah air.


"Wangi sekali..."

__ADS_1


"Itu harum bunga melati. Orang sini mencampurkan daun teh dengan bunga melati. Aku suka sekali teh ini. Ada sedikit pahit tapi menyegarkan." cerita Citra promosi bunga berbau harum itu.


"Apa ada yang campurkan dengan Mei kui Hua (bunga mawar)?" tanya Lan Yin penasaran cara paduan teh di sini.


"Jarang...tapi mungkin ada juga. Nanti kalau kalian balik sana boleh bawa pulang oleh-oleh daun teh dari Indonesia. Kalian bisa buat perbandingan. Ayo minum!"


Keempatnya meresapi teh dengan perlahan sambil merasakan aroma wangi penenang jiwa.


"Oya. .mana koko dan Amei?" Afung edarkan pandangan mencari kedua bocah Citra.


"Mereka masih di sekolah. Sebentar lagi juga pulang. Kau sudah rindu pada mereka?"


Afung tertawa ditanya pertanyaan yang menurutnya aneh. Mana mungkin dia tidak rindu pada kedua bocah kembar itu. Terutama Afifa yang lugu. Afung sekeluarga hanya bisa menyimpan rindu pada kedua bocah kecil itu. Mereka bukan keluarga kaya raya sanggup bayar tour keluar yang butuh biaya besar. Kini ada kesempatan datang ke tempat impian mereka tentu saja takkan lewatkan hari ini.


"Aku rindu sama Amei! Apa dia masih menggemaskan seperti dulu?"


Citra mengganggu mengiyakan kata Afung. Afifa dan Azzam tentu saja makin besar bila dibanding dengan terakhir dia meninggalkan kota Beijing. Anak-anak akan tumbuh dari hari ke hari mencari dewasaan.


"Kamu akan pangling melihat Koko dan Amei. Sebentar lagi mereka akan pulang."


"Siapa yang akan menjemput mereka? Apakah suamimu akan balik ke sekolah untuk menjemput mereka?"


"Oh tidak... mereka memiliki sopir pribadi. Sopir pribadi mereka akan mengantar dan menunggu mereka pulang sekolah."


"Wah... betapa kayanya suamimu sanggup membayar banyak karyawan! Kalau kita di sana semua harus kita kerjakan sendiri." Mung Si mulai ikut nimbrung. Gadis ini juga takjub lihat kelebihan orang tua Afisa yang mereka kenal dengan panggilan Chai Sia.


"Ini hasil kerja keras suamiku! Semuanya datang bukan dari langit tapi hasil keringat sendiri."


"Iyalah! Masa suamimu merampok. Aku suka di sini cuma udaranya agak panas. Afung kan mau jadi orang sini. Dia suka pada kakeknya Cece." Lan Yin buka rahasia Afung yang kesengsem pada Heru.


Muncul lagi orang buta karena cinta. Afung mungkin tulus menyukai Heru tetapi Citra melakukan ketulusan Heru. Omnya itu termasuk buaya buntung yang mencari mangsa sana-sini. Heru perayu kelas wahid. Citra kuatir Afung menjadi korban daripada gombalan omnya itu.


"Kau suka pada om aku?" Citra menyelidiki reaksi Afung.


Afung hanya tersipu malu tidak iyakan pertanyaan Citra. Cuma Afung tampak gelisah diselidiki Citra. Antara iya dan tidak. Secara kasat mata Heru bisa diandalkan namun Afung belum mengenal Heru lebih dalam.


"Fung...menikah dengan orang berbeda kultur itu tak gampang. Pertama kau harus tinggalkan agamamu karena tak pernah ada calon suami meninggalkan agama demi wanita. Kalau soal sifat dan tanggung jawab om aku boleh dapat nilai sempurna. Dia orangnya sangat baik dan penyayang. Kau pikir baik-baik dulu soal ini! Kau akan meninggalkan duniamu untuk pindah ke dunia baru. Kau sudah siap menjalani kehidupan yang serba baru ini?" Citra langsung beri ulasan pahit agar Afung tidak hanya memikirkan indahnya bercinta.


Masa pacaran memang indah. Semua tampak indah serta sempurna. Ada pepatah mengatakan kalau kudu cinta tai gigi bisa dianggap coklat.


"Aku siap kak Citra. Cece dukung aku masuk ke dalam keluarga kalian. Cece yang hubungkan kami." sahut Afung malu-malu kucing. Pipinya yang putih berona merah.


"Baik...apa kata keluarga di Beijing? Apa mereka tahu kau sedang tergila-gila pada kakek Cece?" Citra melanjutkan interogasi Afung.


Afung tak berani menatap wajah Citra secara berhadapan. Afung takut Citra menangkap keraguan di matanya. Heru tampan dan kaya, itu saja sudah bikin Afung terlena. Di tambah gaya Flamboyan Heru membuat Afung terperangkap dalam pesona duda itu.


"Mereka tidak komentar selain serahkan keputusan kepadaku!"


"Ok...kalau gitu aku dukung! Jangan menyesal kalau adanya ketidak cocokan! Yang utama kau harus belajar agama Heru. Kau harus ganti agama. Itu syarat utama! Aku akan bicara dengan keluarga di Beijing."

__ADS_1


__ADS_2