
Tokcer dan Bonar masuk ke dalam untuk jadi pegawai patuh. Apa pun perintah Alvan harus jadi prioritas. Keduanya pernah masuk rumah Citra yang mungil jadi tidak bakal tersesat. Rumah Citra juga seupil mau nyasar ke mana.
Citra masih berdiri dekat meja makan menanti kehadiran dua preman itu. Sikap Citra yang selalu hargai orang membuat keduanya sedikit lega.
"Ada apa kak?" tanya Tokcer duluan buka mulut sebelum Citra beri perintah.
"Kalian sudah kenyang?"
"Belum kak! Nyatanya makanan restoran itu seupil tapi harganya selangit. Pantas restoran besar makin kaya. Lauk sedikit bayarnya mahal. Mending makan di warteg. Kenyang pakai dana minim." Bonar tidak malu bongkar kondisi kekinian perutnya.
Citra tertawa geli dengar keluhan Bonar. Si Batak rakus mana cukup makan sekerat daging doang. Menu utama Bonar adalah nasi, lauknya tak jadi masalah. Ikan asin doang juga diterima asal ada nasi.
"Artinya kamu tak bisa tinggal di luar negeri. Kamu cukup jaga tanah air saja."
"Kok gitu kak? Aku juga pingin main ke luar negeri kalau ada duit." tukas Bonar cepat.
"Kamu rakus sih! Di luar negeri orang tak makan segentong. Mereka makan cukup sepotong daging dan kentang. Ataupun sepotong roti. Kau bisa?"
Bonar menggeleng. Bila tinggal di luar negeri pola makan begitu mending jaga tanah air. Di sini boleh makan sepuasnya asal ada duit. Mana ada banyak peraturan makan.
"Ya sudah kak! Aku jaga kampung saja."
"Nah ..sekarang kalian habiskan semua lauk ini. Sesanggup kalian. Ok?"
Pucuk dicinta ulampun tiba. Berharap dapat makanan tambahan terwujud seketika berkat kebaikan Citra. Makanan di meja masih lumayan banyak. Andai dipindah ke perut mereka sudah pasti akan bermanfaat. Lagu keroncongan akan segera berakhir.
"Boleh kak?" tanya Bonar belum percaya diberi jatah makan enak.
"Boleh asal kalian tak merasa jadi anak tiri makan lauk sisa!"
"Mana mungkin kak! Terima kasih ya! Yok Tok! Jangan malu-malu! Kak Citra sudah ngasih lampu ijo kok!"
Tokcer malu pada sikap norak Bonar. Anak itu seperti baru keluar dari penjara tak pernah sentuh makan enak. Tidak segan berada di rumah orang.
Citra sengaja tinggalkan dua orang itu agar keduanya tidak membersihkan isi piring. Citra memilih bergabung dengan Alvan temani laki itu ngobrol. Citra tuan rumah tetap harus sopan pada tamu walau tamu itu papi anaknya.
Citra mendapatkan Alvan sedang telepon dengan seseorang lewat ponsel. Alvan bicara sangat serius mengabaikan kehadiran Citra. Tampak ada yang kurang mengena dalam obrolan itu. Raut wajah Alvan keruh tidak ceria seperti tadi waktu makan bersama. Citra bukan orang kepo memilih menghindari Alvan agar laki itu nyaman ngobrol dengan orang di seberang sana.
Citra masuk kamar biarkan Alvan sendiri di ruang tamu. Memang bukan tuan rumah yang baik abaikan tamu. Alvan termasuk tamu atau calon tuan rumah. Jawaban ini masih harus menunggu waktu yang bisa jawab.
Citra merebahkan diri di ranjang tak ingin membayangkan apapun. Alvan mau ngobrol dengan siapa pun bukan urusan Citra. Mereka masih terpisah oleh status. Citra belum ada hak mengorek keterangan Alvan komunikasi dengan siapa.
Citra kosongkan pikiran biar tenang. Sayang keinginan itu tak sesuai harapan. Makin ingin Citra lupakan Alvan makin kuat Alvan seliweran di otak wanita ini.
Citra memukul kepala agar bayangan Alvan menjauh. Berkali-kali Citra beri peringatan pada diri sendiri agar tahu diri bahwa Alvan itu hanya mantan suami. Citra tak punya hak melarang Alvan komunikasi dengan siapapun.
Di saat Citra sedang perang batin pintu kamarnya diketok dari luar. Citra menatap pintu bertanya siapa di balik pintu luar. Tokcer atau Alvan ganggu dia.
Ogahan Citra menyeret sendal membuka pintu. Pintu tidak dikunci cuma diputar gagang langsung terbuka.
Sosok gagah Alvan berdiri di depan pintu perlihatkan wajah muram. Apa yang telah terjadi? Mengapa Alvan berubah murung. Apa Karin makin parah atau ada kejadian di kantor.
__ADS_1
"Ada apa pak?"
"Aku harus ke Jogja sekarang juga. Papa jatuh pingsan di kantor dan stroke. Kau mau temani aku?" lirih Alvan pelan.
"Ya Allah...kenapa begini? Bukankah papamu sehat sebelum pergi ke Jogja?"
"Dia berpikiran soal penyakit Karin. Dia takut menular ke dia. Papa sempat demam maka dia langsung drop."
"Bapak tahu dari mana?"
"Pak Man asisten Kakek dulu yang cerita. Sekarang Pak Man kan pegang kantor di Jogja. Papa di sana hanya untuk hindari Karin. Siapa sangka dia tak sekuat bayangan aku! Aku juga salah terlalu menekan beliau."
"Ayok kita bicara di luar!" Citra risih bicara di depan pintu kamar. Citra seperti perempuan nakal sedang menggoda tamu untuk masuk ke dalam kamar. Selanjutnya jual tubuh sesuai kesepakatan perempuan malam. Betapa jijik wanita jual tubuh demi duit juga obral nafsu.
Alvan tidak menyahut biarkan Citra yang tentukan tempat ngobrol. Alvan merasa bersalah telah menekan papanya sampai hilang kontrol. Pak Tua itu pasti menyesal telah berkhianat dari anak isteri. Mama Alvan juga tak ada kabar sama sekali. Dari berangkat sampai detik ini tak pernah komunikasi dengan keluarga.
Alvan sengaja minta saudara mamanya tidak ijinkan mamanya telepon ke rumah agar tidak terbongkar semua keburukan papanya. Maka itu putus tali komunikasi.
Citra mengambil air minum di dapur untuk Alvan. Alvan butuh dukungan dari orang terdekat agar kuat hadapi cobaan beruntun. Citra berharap dia bisa meringankan beban Alvan walau sedikit.
Di dapur Tokcer dan Bonar telah siap bersihkan meja makan. Sangat bersih tak ada sisa. Kedua cowok itu susah payah cuci piring meringankan tugas Citra. Sabun dan air bertaburan satu dapur. Meja memang bersih namun dapur berantakan.
Citra tak punya waktu protes kegagalan dua preman itu untuk menyenangkannya. Citra fokus cari solusi untuk bantu Alvan cari jalan keluar menangani kesehatan papanya.
"Minum pak!" Citra menyodorkan gelas berisi air putih supaya Alvan lebih tenang.
"Terima kasih..."
"Bapak akan ke Jogja?" Citra mengambil gelas kosong dari tangan Alvan.
"Iya...kau ikut?"
"Tidak...aku menunggumu di sini! Bawa papamu pulang sini! Aku dokternya...aku akan merawatnya!" sahut Citra menyakinkan Alvan dia akan berusaha semampunya ringankan penyakit stroke pak Jono.
"Apa itu yang terbaik?"
"Tentu saja! Aku bukan Tuhan maha tahu tapi tak ada salah aku mencoba semampu aku! Berangkat sekarang saja! Aku takkan ke mana-mana." ucap Citra lembut melelehkan hati Alvan.
"Baiklah! Aku akan segera berangkat. Besok aku akan balik bawa papa. Aku titip anak-anak ya! Kau jelaskan pada Afifa kejadian mendadak ini."
"Aku pasti bisa! Kuminta Tokcer antar kamu?"
"Tidak...Tokcer tidak ngerti apa-apa. Biar Untung saja! Aku akan telepon dia sekarang. Tokcer biar di sini jaga kalian. Oya...nanti Untung akan beri uang pada Bonar untuk beli pakaian layak. Minta Andi urus dia! Andi lebih ahli soal busana."
"Andi pasti senang bapak perhatian pada temannya. Aku juga ucapkan terima kasih atas semua yang telah bapak lakukan untuk kami!"
"Memangnya aku sudah lakukan apa? Aku hanya melaksanakan kewajiban sebagai suami dan papi anak-anak aku. Terhadap ketiga tukang pukul kamu ya sebagai bos terhadap bawahan. Aku teleponi Untung dulu ya!"
"Silahkan!" Citra meninggalkan Alvan bicara dengan asistennya. Kini Citra harus buat perhitungan dengan dua preman berlagak baik hati itu.
Niat hati membantu Citra namun mereka tak sadar menambah kerja Citra. Busa sabun memenuhi bak cuci piring, air muncrat mana-mana buat lantai becek. Kalau tidak hati-hati bisa terpeleset. Salah-salah kepala bocor kena hantam lantai ubin.
__ADS_1
Citra gelengkan kepala tak tahu harus omong apa? Kain serbet meja makan digunakan ngepel lantai oleh dua pengacau dapur. Kain semungil gitu bisa digunakan untuk apa? Puluhan kali ngepel juga takkan kelar.
"Sudah tuan-tuan?" kata Citra sambil mengejek.
"Kak...maaf ya! Kok jadi berantakan?" Bonar menggaruk kepala lihat lantai dapur Citra basah kuyup bak baru habis dimandiin.
"Itu cara kerja kalian pakai kaki." sungut Citra tak urung jengkel. Dapurnya yang biasa bersih dan wangi berkat sentuhan Andi kini bak kena angin ****** beliung. Coba ada Andi. Dijamin kepala dua preman itu akan pindah ke bokong. Bukan takut dipancung tapi takut kena omelan Andi yang lebih judes dari Mpok Nori.
"Kami pakai tangan kok kak! Sumpah..." Bonar mengangkat dua jari menunjuk ke atas.
"Artinya tangan kalian sama saja dengan kaki. Sudah pergi keluar sono! Oya..jangan berisik ya! Pak Alvan lagi bad mood. Anteng saja ya!"
"Iya kak!" koor Tokcer dan Bonar. Perlahan keduanya beranjak dari dapur dengan langkah super ringan. Maunya tak bersuara biar tak ganggu bos yang katanya lagi kurang pas.
Keduanya keluar dari rumah Citra duduk di teras tanpa berani ngobrol. Kadang suara mereka tak terkontrol bisa meledak setiap saat. Terutama Bonar yang pernah berguru pada Tarzan hutan. Sekali teriak satu kampung terdengar suaranya. Cari aman adalah tutup mulut.
Citra terpaksa bereskan dapur sambil menunggu Alvan selesai berembuk dengan Untung. Citra tak mau ikut campur. Hak Citra belum sampai boleh ikut ambil keputusan. Dia cuma punya kewajiban beri pengobatan sebagai seorang dokter. Pak Jono adalah kakek Azzam maka Citra harus kerahkan segenap tenaga memulihkan kesehatan kakek Azzam.
Citra tak boleh ingat kesalahan pak Jono karena semua orang punya kesalahan. Karma akan dipanen orang yang melakukan kesalahan. Semua berpulang pada akhlak masing-masing. Mungkin orang akan mengira Citra bodoh masih peduli pada Karin padahal wanita itu sudah jahat pada Citra.
Citra tak punya hakimi Karin atas semua kesalahan yang telah dia perbuat. Citra memang tak suka pada Karin bukan berarti mata hati dibuka untuk lihat kesengsaraan Karin. Citra bukan manusia berhati busuk harap kehancuran orang. Citra hanya berpegang teguh ajaran agama jangan hakimi kesalahan orang apa lagi benci pada orang itu. Tuhan akan beri ganjaran setimpal atas semua dosa-dosa yang kita pupuk. Terbukti Karin panen karma jelek. Ditinggal suami, kehilangan anak dan kena penyakit mematikan. Apa yang tersisa dari wanita jahat itu? Nol..
"Citra...Untung sudah datang! Aku mau berangkat!" Alvan muncul di dapur Citra sambil menenteng ponsel di tangan.
Citra hentikan kegiatan tangan. Wanita ini mangut seraya beri senyum menawan agar Alvan terhibur dilepas dengan senyum tulus.
"Bolehkah aku memeluk kamu? Sebagai sahabat, teman, papi Afifa atau isteri?"
"Tidak boleh...peluk saja anak-anak kamu!" tolak Citra jual mahal.
Alvan tidak terima penolakan. Ijin tidak ijin dia ingin rasakan kehangatan Citra biar dia lebih kuat hadapi cobaan baru ini. Laki ini menarik tubuh Citra ke pelukan merengkuhnya erat-erat. Kepala Citra berada di dada Alvan mendengar denyut jantung Alvan yang kencang.
Tanpa sadar Citra meraba jantung Alvan berharap kencangnya jantung Alvan karena dia.
Tangan Alvan melingkar di punggung Citra datangkan satu perasaan aneh di relung hati Citra. Perasaan apa itu?
"Hati-hati di rumah ya! Jaga kedua anakku. Kalau ada yang penting teleponi aku! Untung siap back up kamu. Satu lagi. Jangan terima gombalan Heru! Dia itu playboy kelas kakap. Wanitanya tidak muat satu bis. Ingat itu! Tunggu aku pulang ya!"
"Iya...bapak hati-hati juga! Aku di sini menunggumu!"
"Terima kasih. Aku lega sekarang. Aku pergi." Alvan mengecup ubun kepala Citra tanpa ada penolakan. Menolak tak ada guna. Tenaga Citra takkan mampu melawan tenaga laki tegap itu.
"Biar kuantar! Sudah memeluk anak-anak kamu?"
"Sudah...aku hanya cium mereka takut ganggu tidur mereka! Yok!" Alvan mengajak Citra keluar dari dapur tanpa melepaskan Citra dari pelukan. Tangan Alvan berpindah ke pundak sejajar dengannya cuma tingginya beda hampir tiga puluh sentimeter.
Tokcer dan Bonar tersipu malu lihat kedua majikan mereka demikian mesra. Pasangan saling mencintai seharusnya memang gitu. Beri contoh baik buat yang lain agar ikut saling beri kemesraan. Semoga kemesraan ini tidak berlalu.
"Aku pergi ya! Jaga diri! Dan kamu berdua jaga kakak dan adik-adik kalian. Siaga dua puluh empat jam." Alvan kasih pengarahan pada dua mantan preman itu.
"Siap pak! Laksanakan!" Bonar menyahut pakai hormat militer segala.
__ADS_1
"Bagus...Tung...berikan amplopnya pada Citra! Nanti aku akan telepon." Alvan meminta Untung berikan uang untuk Bonar pada Citra. Biarlah uang itu dipegang Citra dulu sebelum diserahkan pada Bonar. Bonar tidak secerdik Tokcer dan Andi. Tampang saja sangar tapi hatinya hello Kitty.