ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Ke Cafe Daniel


__ADS_3

Karin tetap jadi isteri siri Alvan karena Citra tak bisa ditemukan. Demikian sepenggal kisah hidup Alvan dan Citra di masa lalu. Citra yang cukup pahit buat Citra gadis mungil yang harus menelan pil pahit. Niat Citra terima nikah dengan Alvan hanya untuk menyenangkan Pak Wira. Semua harus dibayar mahal oleh Citra. Citra kehilangan kebebasan dan direndahkan tak ubah seperti kacung. Citra bukan peduli sekali dengan status namun perlakuan Alvan dan Karin membuatnya muak. Keduanya mengira tanpa mereka Citra tak bisa hidup layak.


Sembilan tahun berlalu. Secara tak sengaja Alvan bertemu dengan mantan isterinya. Wanita itu tetap imut dan makin cantik. Wajahnya tenang cerminkan kematangan walau tak selaras dengan bentuk tubuh yang tak bisa tumbuh besar.


Wajah dingin Citra kembali terbayang di benak Alvan. Citra menyimpan kenangan buruk padanya. Janji mau bantu dia pengobatan namun wanita itu menolak dengan alasan operasi. Penolakan halus.


Alvan masih berada di cafe Daniel berharap dapat wangsit selesaikan persoalan yang timbul mendadak. Datang pada Daniel adalah pilihan tepat. Temannya itu paling banyak ide dan saran walau kadang di luar topik.


"Van...kau yakin itu Citra?" Daniel memastikan yang ditemui Alvan adalah Citra.


"Hans yang perkenalkan kami. Begitu lihat gue dia langsung pamit. Siapa lagi kalau bukan Citra. Dia sangat beda dengan dulu. Dia telah tumbuh dewasa, wibawa menghanyutkan." gumam Alvan masih terbayang sosok berpakaian putih berdiri di pintu ruang praktek Hans.


"Jangan bilang kau tertarik! Dia adalah barang yang sudah kau campakkan. Dengan statusmu sebagai presiden direktur pantang pungut sesuatu yang terbuang."


"Aku tak membuangnya. Kakek yang paksa aku ceraikan dia. Demi Karin terpaksa kulakukan. Secara hukum dia masih isteriku."


"Jangan asyik sebut Citra isterimu! Mantan...ingat! Mantan bini. Aku akan senang hati kejar mantanmu itu. Aku suka padanya dari dulu." Daniel jujur tak takut Alvan marah. Laki itu sudah tak punya hak atas Citra. Hubungan mereka hanya terkendala oleh selembar kertas. Daniel akan usahakan Citra dapatkan kebebasan penuh..


"Apa Citra suka padamu?"


"Kita lihat nanti. Dia selalu tertawa bila di dekatku. Aku mau jadi terminal terakhirnya."


"Coba saja! Kau ingat empat tahun lalu?" Alvan review kejadian yang berakibat fatal pada alat reproduksinya. Alvan sama sekali tak menyangka kejadian itu bawa dampak pada keturunannya. Alvan bahkan tak punya kesempatan jadi orang tua.


"Ingat...kenapa? Bukankah hanya luka di atas paha kena himpitan dashboard? Kenapa? Lukamu kembali kumat?" Daniel berpindah duduk di dekat Alvan untuk dengar lebih detail kasus lama itu.


"Aku terlalu meremehkan luka itu. Luka itu merusak syaraf di alat produksi anak. Singkatnya aku mandul."


"What??? Kamu mandul? Lalu apa guna harta satu kapal bila tak ada penerusnya. Coba kau cek ulang! Siapa tahu dokternya sedang mabuk salah diagnosa."


"Hans tidak main-main membantuku. Dia rekomendasi Citra untuk operasi syarafku tapi wanita itu menolak secara halus. Dia pergi tinggalkan gue gitu saja. Hancur gue!"


"Tidak Citra masih ada dokter lain. Asal ada harapan dokter mana saja sama. Citra tidak bisa disalahkan menolakmu. Kau beri kenangan terlalu buruk padanya. Besok kutemani jumpa Hans cari solusi. Santai bro!" Daniel menepuk bahu Alvan menguatkan laki.


Laki manapun akan syok bila tahu dirinya bukan laki sempurna bisa beri keturunan pada keluarga. Harga diri sebagai laki remuk bak tahu busuk dibanting ke lantai. Sudah benyek tak berbentuk pula.


"Karin bilang dia hamil." ujar Alvan pelan seakan tak ingin didengar Daniel. Cuma sayang kuping Daniel sudah terlanjur dengar. Tak urung Daniel ikut membeku.


Karin tak berubah walau tahun telah berganti. Bertambah usia bukan semakin baik tapi makin liar. Alvan divonis mandul dan isteri hamil. Logika apa sedang bermain dalam hidup Alvan.


"Mungkin Hans salah diagnosa. Karin hamil anakmu." Daniel mencoba hibur Alvan walau tahu itu tak ada guna.


"Hans sudah beri vonis bibitku nol persen. Apa dia berani salah diagnosa? Karin berselingkuh di belakangku. Aku terlalu percaya padanya sampai tak lihat sifat nakalnya." gumam Alvan menyesal tak percaya kata-kata kakeknya dulu. Kakeknya sudah puluhan kali bilang Karin itu perempuan nakal tapi Alvan tak percaya. Alvan terlalu pede kalau Karin itu yang terbaik.


"Sori bro! Karin memang sudah gitu dari dulu. Aku pernah cerita sekilas tapi kau tak percaya. Dia punya banyak simpanan. Waktu di Jogja dulu tiap malam gonta ganti cowok di klub. Kau setia tunggu di rumah sambil plonco gadis pujaan ku. Karma buat lhu!"


"Sial kamu! Kenapa tak getok kepalaku biar sadar?"

__ADS_1


Daniel tertawa geli melihat Alvan kesal tak melihat Karin tembus pandang. Isi jeroan Karin tertutupi oleh kecantikan yang membius Alvan. Ternyata isi jeroan bau busuk semua.


"Apa kata-kata kau dengar? Sekarang kau selidiki siapa tukang tanam itu! Jangan kau umumkan dulu perihal penyakitmu! Biar dia kira kau percaya anak dalam rahimnya bibitmu. Singkirkan dia harus pakai bukti! Aku siap bantu kamu dengan syarat."


"Sudah berani tawar menawar? Gede juga nyalimu."


"Demi Citra aku harus tangguh. Aku bantu kamu tapi berjanji bebaskan Citra dari pernikahan bau tai ini."


"Aku tak janji. Bukannya bantu cari jalan tapi bikin otakku makin panas."


"Emang oven main panas. Tergantung keputusanmu. Toh lhu ngak tertarik pada gadis kecil itu! Kalau gue sejuta persen suka. Gue menjomblo demi tunggu dia muncul. Doa anak Soleh dijabar Allah. Dia yang kutunggu hadir."


"Terserah kamu dah! Yang penting cari info siapa badaknya si Karin. Malam ini gue tidur sini ya! Malas pulang lihat sampah."


"Cepat amat lidahmu! Kemarin masih memuja sampahmu


bagai peri tanpa dosa. Kini jijik sama sampah. Dengar bro! Sekali sampah tetap sampah." Daniel tertawa sinis pada perubahan Alvan pada Karin. Karin yang diagungkan selama ini ternyata pemain. Alvan hanya sapi perah untuk keluarkan dentingan fulus. Syukur Alvan sadar walau terlambat.


"Jangan cerewet! Jangan bilang gue di sini kalau dicari siapapun!"


"Termasuk Citra?" pancing Daniel lihat logat Alvan dengar nama Citra.


"Siapapun!"


"Bagus...artinya Citra juga tak berarti bagimu! Aman dah gue! Silahkan tidur sepuasmu asal masih ingat bangun. Takut kebablasan jumpa malaikat elmaut. Gue kerja dulu bro! Nikmati rasa sakit hatimu." Daniel mengumpulkan jari di bibir beri tanda kecupan pada Alvan.


Alvan meraih minuman bersoda yang belum sempat diminum. Kaleng itu meluncur mulus ke arah Daniel. Daniel tertawa ngakak menghindar pakai jurus turun temurun yakni monyet jantan kabur ditimpuk pisang. Daniel berhasil kabur dari incaran Alvan.


Menjelang malam ponsel terbaru Alvan berbunyi. Alvan yang belum beranjak dari tempat dia rebahan dari siang intip layar ponsel sekejap lalu tutup mata tak berniat menyahut panggilan dari seberang.


Ponsel itu berbunyi tak henti bikin pelak telinga. Ingin rasanya Alvan non aktifkan ponsel agar tak diganggu. Tapi takutnya Karin curiga mengapa Alvan tak angkat panggilannya. Wanita itu pasti akan lebih hati-hati tak bisa dikorek kesalahan yang sedang digeluti.


"Halo...ada apa?" Alvan angkat dengan ogahan.


"Sayang...kok belum pulang? Tidak rindu padaku? Sudah mau jadi daddy kok loyo? Ingat lho sayang! Anak ini ada berkat keperkasaanmu. Daddy di mana biar kujemput?"


"Aku masih di kantor. Ada sedikit masalah dengan investor. Jaga diri saja!"


"Sayang...apa hadiah buatku? Masa tak ada penghargaan buat calon mami?"


"Tunggu aku pulang dulu. Jangan ngelayap! Di rumah saja!"


"Malam aku ada janji sama pemilik butik. Mereka endorse aku untuk promo pakaian batik mereka. Janji cepat pulang. Aku akan hati-hati jaga anak kita."


Suara manja Karin tak menggugah rasa simpatik Alvan. Ntah kenapa laki ini merasa jijik membayangkan laki lain berada di atas tubuh wanita yang dia anggap malaikat itu. Rasanya Alvan ingin menampar wajah cantik itu agar mengaku siapa ayah biologis dari anak yang dikandung Karin. Cuma untuk sementara ini Alvan tak bisa bertindak anarkis. Laki ini harus tahu siapa di balik hamilnya Karin.


Semua amarah harus dipendam dalam hati sampai saatnya tiba. Alvan butuh penjelasan dari Karin atas pengkhianatan wanita tersebut.

__ADS_1


Daniel kasihan pada Alvan cuma Daniel tak bisa masuk terlalu jauh dalam urusan rumah tangga Alvan. Dari dulu Daniel ingatkan Alvan kalau Karin tak sebaik dugaan Alvan. Alvan terlalu dibutakan cinta. Tai gigi dianggap coklat. Inilah akibat cinta buta. Susah melihat fakta.


Jam sepuluh malam Alvan mencoba teleponi Karin. Namun ponselnya tak aktif. Di luar jangkauan. Mau tak mau Alvan hubungi pembantu rumah tangganya yakni Bik Ani. Sayang Bik Ani juga tak angkat telepon. Jalan terakhir adalah teleponi Iyem pembantu muda dari desa. Iyem yang montok bermuka bulat kayak bakpau isi kacang hijau.


Syukur ponsel Iyem tersambung. Tak perlu tunggu waktu lama terdengar suara Iyem yang kocak. Anak itu selalu riang walau sering kena marah oleh Karin.


"Halo...bapak...Ini Iyem." Iyem langsung kenalin nomor ponsel Alvan. Gadis gendut itu mungkin senang diteleponi majikan ganteng di malam hari. Siapa tahu nasib mujur dapat hadiah.


"Isteri aku mana?"


"Nona Karin sudah pulang tadi. Tahu bapak belum pulang dia pergi lagi. Katanya jemput bapak."


"Jemput aku? Ke mana perginya?"


"Kurang tahu pak! Nona cuma bilang gitu. Tak ada pesan lain. Mungkin sebentar lagi tiba di tempat bapak."


"Emang jam berapa dia keluar?"


"Jam delapan tadi. Bawa mobil kecil yang warna merah! Bapak ada pesan lain?"


"Oh tidak...mungkin malam ini aku tak pulang. Bilang sama isteriku untuk cepat tidur. Jaga rumah."


"Siap pak! Bapak tenang saja. Iyem berani kok!"


"Aku percaya. Sudah ya!"


Belang Karin makin ketahuan. Beraninya wanita itu pergi tanpa buat laporan. Ponsel dimatikan lagi. Mau ke mana wanita itu dalam keadaan hamil. Pergi mencari bapak biologis anaknya atau cari kesenangan bersama laki lain lagi.


Puyeng kepala Alvan ingat tingkah Karin. Diberi kepercayaan dan kebahagiaan hakiki masih memilih jalan berlumpur. Mau apa sih wanita itu?


Cafe Daniel mulai sepi pengunjung karena malam makin tua. Cafe Daniel bukan cafe maksiat ijinkan orang berbuat hal senonoh di sana. Boleh datang pacaran tapi dalam batas wajar. Hargai adat ketimuran yang junjung tinggi norma kesopanan.


Alvan keluar cuci mata lihat beberapa pengunjung masih ngobrol nikmati sisa makanan orderan mereka. Betapa cerianya pengunjung walau hanya hidangan sederhana. Cafe Daniel sediakan menu ramah di kantong. Tidak mencekik usir pelanggan. Sasaran Daniel adalah kalangan muda yang punya dana pas-pasan. Hendak traktir cewek di tempat romantis tanpa pikir budget kuras isi kantong. Cafe Daniel adalah pilihan tepat.


Alvan memilih cari tempat agak sudut untuk rasakan hembusan angin malam. Udara dingin agak lembab tanda akan turun hujan lebat. Andai keluarganya baik-baik saja mungkin detik ini Alvan sudah lelap dalam pelukan Karin. Mereka akan menyatukan hati dalam ikatan cinta. Harungi lautan gairah bersama cinta mereka yang tak pernah padam di hati Alvan.


Bukan cinta tulus didapat Alvan justru pengkhianatan menyayat hati. Keangkuhan Alvan sebagai suami tergoyahkan. Harga diri Alvan koyak berkeping-keping karena Karin harus hamil anak orang. Salah Karin atau nasib apes Alvan. Karin berselingkuh untuk dapat anak yang didambakan keluarga. Wanita itu berhasil menipu keluarganya namun tak berhasil tipu Alvan. Alvan masih beruntung bisa merobek topeng Karin. Muncul sudah wajah aslinya.


Daniel melihat Alvan dari jauh. Kondisi Alvan cukup prihatin. Punya bini cantik tapi satu marga dengan buaya buntung. Biasa laki yang dijuluki buaya darat tapi ini luar biasa. Karin berhasil terobos nominasi bergelar wanita buaya buntung pertama yang dikenal Daniel.


Daniel berbaik hati membawa dua kaleng minuman beralkohol rendah untuk memulihkan rasa percaya diri Alvan. Mabuk sedikit untuk lupakan duka bukan hal buruk. Alvan butuh sedikit hal ekstrem untuk buang rasa lelah di otak. Mabukan itu jawaban teranyar.


Daniel hampiri Alvan sambil tenteng dua kaleng bir alkohol rendah. Berlebihan juga tak baik. Sekedar buang suntuk mungkin tak jadi masalah.


"Suntuk bro!" Daniel letakkan kaleng bir di atas meja persis di depan Alvan.


"Menurutmu?" Alvan melengos buang muka malas menatap wajah sahabatnya. Setiap tawa Daniel seperti ujung jarum menusuk hati Alvan. Tawa full ejekan.

__ADS_1


"Jangan terlalu diambil hati! Mungkin Hans salah vonis lhu! Besok lhu balik tanya lebih jelas. Gue temani lhu!" Daniel tarik kursi di seberang Alvan. Dengan santai Daniel buka minuman penghalau rasa dingin. Ada rasa hangat mengalir di urat darah setelah teguk minuman itu.


Alvan mengangguk tanpa semangat. Semoga apa yang dibilang Daniel jadi fakta. Hans teledor bikin vonis atas penyakitnya. Salah diagnosa. Alvan takkan hukum Hans bila memang salah beri diagnosis penyakitnya.


__ADS_2