ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Tokoh Baru


__ADS_3

"Kalian berdua kembali tugas seperti biasa. Dan kau Andi periksa semua file yang dikasih Wenda. Periksa cermat! Jangan ada yang terlewatkan! Aku mau mereka bayar lipat ganda uang yang ditilep." Alvan merapatkan gigi geram ingat kebusukan Selvia.


Mengapa orang dia anggap baik selalu berakhir menyedihkan. Pertama Karin, sekarang Selvia. Apa di dunia ini tak ada wanita bisa dipegang omongannya? Pura-pura baik lalu di belakang bertampang setan.


"Iya pak! Oya Untung...malam ini aku nginap di rumah Citra. Tolong bawa pakaianku ke sana! Pesan makan malam untuk kedua anakku." Alvan beri tugas sampingan pada Untung sebelum lakukan tugas kantor.


Citra sudah berangkat, otomatis tanggung jawab kedua anaknya beralih ke tangan Alvan. Suka tidak suka Alvan tetap harus menjaga kedua bocil itu. Untungnya Alvan melakukannya dengan senang hati. Kepergian Citra memberinya kesempatan dekati Azzam. Tanpa Citra maka Azzam akan bergantung pada Alvan. Memang itu harapan Alvan.


Di rumah sakit Heru datang lagi kontrol luka di tangan. Sebenarnya tangan Heru tak ada masalah. Laki ini cuma ingin jumpa Citra di dokter cantik pencuri hati. Heru iseng saja kunjungi Citra sebelum ke kantor.


Heru yakin Citra takkan ladeni dia bila jumpa di luar tugas. Jalan satu-satunya hanya ikut antri sebagai pasien. Heru sudah siapkan sejuta alasan agar bisa cuci mata soroti wajah imut nan cantik.


Alangkah kecewa Heru waktu lihat dokter yang duduk di ruang Citra bukan dokter harapannya. Ntah sejak kapan Citra berubah jadi dokter laki berumur. Sudah terlanjur datang Heru terpaksa basa basi tanya tentang lukanya yang mulai mengering. Gatal alergi juga sudah berkurang.


Nampaknya Heru harus cari cara lain untuk dekati Citra. Pura-pura sakit takkan mempan digunakan pada Citra lagi. Namun pagi ini bukan itu topiknya. Ke mana dokter pujaan hati itu. Heru harus putar otak cari tahu mengapa Citra tidak bertugas.


Jalan satu-satunya tanya pada suster yang catat daftar pasien yakni si Fitri. Heru pura-pura tanya soal resep kemarin apa ada copynya. Alasan klasik tapi tetap berguna digunakan. Resep dari Citra hilang.


"Maaf sus!"


Fitri mendongak kepala menatap wajah dewa Yunani itu dengan sorot penuh rasa kagum. Memandang saja sudah mendatangkan sejuta rasa di hati. Bagaimana rasanya kalau wajah itu berada dalam radius beberapa mili.


"Sus..." Heru menggoyang tangan di depan mata Fitri.


Fitri tersipu malu ketangkap sedang terpesona oleh ketampanan lelaki mirip dewa itu. Heru sudah terbiasa digilai para wanita tidak kaget Fitri terbius. Cuma ada satu wanita anggap remeh ketampanannya Heru yaitu Citra. Citra tidak pandang sedikitpun pada sosok yang dianggap cowok cantik rupawan.


"Oh pak Heru!" Fitri merasa pipinya panas menahan malu.


"Aku mau minta tolong apa resep dari dokter Citra ada copynya?"


"Bukankah pak Heru sudah tebus obatnya?"


"Sudah tapi obatnya hilang! Aku lupa simpan di mana?"


"Oh... mengapa tidak minta sama dokter Bambang tadi?"


"Aku lebih cocok dengan dokter Citra." Heru langsung suarakan isi hati mencari dokter yang telah merebut seluruh jiwanya.


"Dokter Citra sudah terjun ke daerah bencana gempa. Ntah kapan balik."


"Daerah bencana gempa? Bukankah itu tidak cocok untuk seorang wanita?" Heru tak sadar bicara dengan nada tinggi. Heru sangat terkejut Citra dikirim ke daerah bencana yang pasti tidak ramah. Jauh dari fasilitas memadai.


"Pak...dokter Citra itu mengabdi pada masyarakat. Dia pergi untuk menolong orang terkena musibah. Sebagai dokter mana boleh pilih lahan nyaman melulu." Fitri mau tak mau harus bicara tak sopan pada Heru. Fitri memang kagum pada Heru sebagai wanita normal tapi Fitri lebih kagum pada pengabdian Citra.


"Di mana dia di tempatkan?"


"Itu harus tanya panitia. Dokter Citra tak punya wewenang memilih tempat. Dia bertugas di mana di tempatkan." sahut Fitri mulai ilfil pada dewa Yunani itu. Mentang kaya kok tidak ngerti profesi dokter tak bisa memilih siapa pasien dan di mana bertugas.


Heru mangut sok ngerti padahal tidak tahu apapun. Hati Heru tergelitik ingin tahu persis di mana Citra di tempatkan. Dengan begitu dia bisa terjun ke lokasi kunjungi wanita incarannya. Waktunya pamer perhatian pada Citra. Mungkin saja Citra tersentuh oleh perhatian kecil yang dia berikan.


"Ok terima kasih! Aku akan cari tahu sendiri. Permisi!" Heru melangkah pergi dengan gagah. Setiap derap langkah Heru mengundang kerlingan mata para wanita. Heru terlalu sempurna jadi seorang lelaki.

__ADS_1


Fitri mencibiri gaya arogan Heru. Tampang bernilai sembilan tidak dibarengi hati bersih sama saja bohong. Tampang tidak jamin bisa beri kebahagiaan pada isteri. Sikap arogan justru menekan isteri tak nyaman. Bini Heru kabur bersama orang Arab mungkin karena sikap Heru yang terlalu monopoli kehidupan sang bini.


Heru kembali ke mobilnya menuju ke kantor. Dalam hati Heru bertanya mengapa ada orang sebodoh Citra mau pergi bertugas di daerah rawan bencana. Menolak diberi tahta mewah memilih duduk di kursi reyot. Apa ini perbedaan Citra dengan wanitanya yang lain?


Heru makin tertarik masuk ke dalam kehidupan Citra. Citra seperti labirin menyesatkan menantang Heru cari jalan keluar dari lingkaran menyesatkan. Heru harus berjuang taklukkan wanita berhati besi itu.


Dalam perjalanan ke kantor Heru meneleponi seseorang cari tahu di mana pos bencana alam. Heru mesti tahu segalanya tentang Citra.


"Halo...cari tahu di mana dokter Citra dari rumah sakit Health Center di tempatkan! Segera!" Heru langsung mematikan hp setelah beri perintah pada orang yang menerima teleponnya.


Heru melarikan mobil sekencang mungkin menuju ke kantor. Tugas kantor sudah menanti karena cukup lama Heru istirahat di rumah sakit demi jumpa Citra. Citra telah menyita separuh perhatian Heru.


Belum sampai di kantor Heru dapat telepon dari seseorang. Laki ini angkat telepon dengan tak sabar berharap ada kabar gembira. Setiap ada berita tersemat kata Citra merupakan kabar suka cita bagi Heru.


"Pak...dokter Citra ada di kampung W! Mereka ke sana lewat udara karena tempatnya terisolasi longsor panjang. Pemkab sedang berusaha singkirkan longsor cuma butuh waktu."


"Baiklah! Siapkan helikopter sore nanti! Bawa makanan dan bahan kebutuhan pokok. Sediakan selimut dan kelambu untuk pengungsi."


"Kita ke sana pak?"


"Iya..."


"Tapi malam ini bapak ada janji dengan nona Viona! Bapak sendiri yang atur waktunya!"


"Batalkan! Katakan aku ingin berkunjung ke daerah bencana. Viona mana mau ikut ke daerah kumuh tanpa fasilitas."


"Baik pak! Kita berangkat jam berapa?"


"Siap pak!"


"Gitu aja!"


Heru lega setelah tahu posisi Citra bertugas. Hasrat hati jumpa Citra makin menyala di dada Heru. Saatnya turun tangan bantu sesama manusia. Kali ini Heru terjun langsung ke lokasi lihat kondisi terkini daerah kena dampak gempa. Tak urung hati Heru berbunga-bunga mirip remaja sedang dimabuk api asmara.


Heru tiba di kantor dengan wajah sumringah. Beberapa pegawai perempuan yang selama ini terbius ketampanan bosnya makin mabuk kepayang oleh wajah cerah sang bos. Satu kantor berasa harum semerbak karena hari ini bos mereka tidak pasang wajah seram.


Kena siraman air dari surga wajah Heru. Bersinar cerah bikin hati para pegawai makin lumer meleleh.


Heru tak sabar menanti hari menuju ke senja. Sebelum senja dia sudah harus terbang ke lokasi bencana. Melakukan perjalanan malam hari bukan solusi tepat. Berangkat selagi hari kasih terang merupakan langkah terbaik.


Heru fokus bekerja sebelum berangkat. Di luar sana asisten Heru sudah menyiapkan semua pesanan Heru. Tak lupa si Laba asisten Heru menyiapkan makanan untuk Heru. Heru pasti tak bisa pulang malam ini mengingat betapa bahaya terbang di malam hari. Laba pasti ikut ke sana karena tugasnya melayani bos manja itu.


Tok tok. Pintu kantor Heru diketok dari luar. Suara ketokan pelan dan sopan. Heru tidak perlu lihat pakai mata sudah tahu siapa pengunjung dari luar itu.


"Masuk!"


Sekretaris Heru yang berusia empat puluhan muncul dari balik pintu. Wanita berkacamata tebal itu mengangguk sopan pada Heru sebelum kemukakan alasan menemui bos.


"Ada apa Bu Hafsah?" tanya Heru lembut pada sekretaris warisan papanya. Heru hargai wanita yang setengah hidupnya bekerja untuk keluarga Heru.


"Ada nona Viona! Aku sudah larang dia ganggu bapak tapi dia bersikeras mau jumpa bapak." lapor nona Hafsah sopan seperti biasanya.

__ADS_1


Heru menarik nafas. Viona mana mau pergi kalau belum jumpa Heru. Foto model kawakan itu terlalu pede untuk ditolak oleh Heru. Viona selalu merasa di depan dari wanita lain. Maunya Viona diajak jadi bintang iklan motor produk Yamaha yang punya jargon Yamaha Semakin di depan.


"Biarkan dia masuk Bu!" Heru pilih mengalah ketimbang Viona bikin keributan di kantor.


"Tapi dia bawa koper pak! Apa mau pindah ke kantor?"


Heru mengerjit alis bingung Viona bawa koper segala. Viona mau pamitan pergi berfoto untuk kerja atau pamitan ke luar negeri? Untuk lebih jelas Heru ijinkan Viona masuk agar Viona tidak gentayangan di kantor.


"Ijinkan saja Bu! Nanti dia teriak bikin onar! Pusing kepala aku!"


"Iya pak!" Hafsah mengiyakan perintah Heru dengan berat hati. Wanita model Viona sudah terlalu banyak lalu lalang di keseharian Heru. Hafsah tak bisa hitung lagi berapa wanita ngaku pacar duda keren itu. Semua ingin jadi nyonya besar Heru Perkasa.


Viona masuk setelah dilepas Hafsah. Gaya heboh Viona mewarnai ruangan Heru. Viona kenakan gaun ketat perlihatkan tubuh goal memancing kedipan mata para cowok. Viona pantas disebut fotomodel papan atas karena tubuhnya memang terlahir berjalan di atas catwalk.


"Sayang...aku datang!" seru Viona menarik koper masuk ke ruang kantor Heru.


Heru terpaksa beri senyum palsu untuk menyenangkan cewek kelas atas tersebut. Nama Viona cukup diperhitungkan di dunia fashion. Banyak perancang membidik Viona untuk jadi brand ambassador produk mereka.


"Dari mana? Kok bawa koper? Terima job ke luar kota?"


Viona bukan menjawab malah melempar diri ke pangkuan Heru. Kedua tangan Viona melingkar di leher kokoh Heru. Keduanya persis pasangan sedang memadu kasih. Andai Citra lihat pemandangan gini tidak ragu tendang Heru dua belas pas. Langsung gol masuk comberan.


"Tadi Laba bilang yayang mau tinjau lokasi gempa. Aku mau ikut sekaligus bikin story untuk Ig aku. Viona fotomodel lakukan kegiatan sosial berbagi pada korban bencana alam."


Heru mendorong Viona agar bangun dari pangkuannya. Heru merasa tak enak mesraan di tempat kerja. Ini akan bawa aura sial bagi kantor. Di kantor pantang ada perbuatan maksiat. Kantor tempat orang mengais rezeki. Heru harus bisa memisahkan tugas dan asmara.


"Vi...daerah itu terisolir! Kami ke sana bukan untuk jalan-jalan tapi untuk berbagi dengan para korban. Di sana mungkin tak ada listrik, tidur di tenda plastik. Kau bersedia hidup serba kekurangan?"


Viona merangkul Heru dari belakang menempelkan kepala ke punggung Heru. Viona memasrahkan hidup pada Heru. Viona sangat mencintai laki bertampang dewa dalam mitos itu.


"Di mana ada kamu di situ ada aku. Demi yayang apapun akan kulakukan!"


Seharusnya hati Heru tersentuh pada ketulusan Viona. Tapi ntah mengapa hati itu tidak tergerak menerima kalimat menyentuh hati sanubari. Heru merasa kalimat itu terlalu sering dia dengar dari bibir bergincu merah.


"Vi...pulanglah! Besok aku akan teleponi kamu. Kulitmu akan rusak kena sinar matahari. Ayo manis! Jangan bodoh! Di sana tak ada bangunan tersisa." Heru berusaha melepaskan tautan tangan Viona di pinggangnya. Heru merasa risih dipertontonkan kemesraan di tempat kerja.


"Aku akan pakai Sunblock mahal untuk lindungi kulitku. Aku mau kasih semua orang Viona bukan cuma cantik raga tapi juga cantik dalam."


"Baik tapi jangan mengeluh bila tak ada listrik. Mandi shower air hangat cuma mimpi di sana." Heru mencoba menakuti Viona agar merubah pikiran ikut ke daerah bencana.


Viona pikir Heru ke sana untuk piknik. Tujuan utama Heru adalah lihat kondisi Citra sekalian berbagi pada korban bencana alam. Heru bersedia kucur sebagian dana untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Menyumbang sedikit takkan menguras kekayaan Heru yang melimpah ruah.


"Aku siap! Ayok berangkat!" Ujar Viona manja menggoyang tangan Heru agar tanggap pada niat baiknya.


Heru sudah bayangkan masalah besar bila Viona ikut. Gadis mahal macam Viona apa sanggup bertahan di daerah terpencil tanpa fasilitas memadai. Pasti Heru kena imbas sengsara dituntut ini itu oleh Viona. Viona terbiasa hidup manja, semua keinginan Viona seperti sabda tuan puteri meminta pelayanan dari para dayang.


"Jangan sekarang! Aku masih ada rapat siang nanti! Agak sorean baru berangkat. Kau pulang dulu ya! Aku masih banyak pekerjaan." bujuk Heru habis akal hadapi model manja macam Viona.


"Ok...aku pergi belanja saja! Di sana panas atau dingin? Aku harus beli pakaian lebih banyak untuk beradaptasi dengan lingkungan."


Heru meringis merasa giginya ngilu. Belum apa-apa Viona sudah buat hati Heru mencelos. Di daerah bencana siapa peduli pakai baju apa? Mau jadi fotomodel di daerah bencana pamer di medsos dia sedang berempati pada korban bencana?

__ADS_1


__ADS_2