ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Bahagia


__ADS_3

Bu Dewi memahami perasaan Alvan yang tengah berbunga-bunga berkumpul dengan keluarganya. Bu Dewi tidak berhak campur tangan dalam keluarga Alvan. Kalau dulu di bagaimana dia menerima Karin dan sekarang Bu Dewi juga harus menerima kehadiran Citra.


"Citra itu anak baik ma! yang salah kita telah menelantarkan Citra dan cucu-cucu kita. Harusnya kita yang malu pada cucu kita. Citra telah berjuang membesarkan ketiga anaknya tanpa bantuan dari keluarga kita." timpal Pak Jono menegakkan keadilan di antara Bu Dewi dan Citra.


"Maafkan Mama kalau telah berprasangka buruk pada Citra! Benar kata papamu kita harus bertanggung jawab pada masa depan anak-anak. Cuma Mama heran pada anakmu yang bernama Azzam itu. Gaya bicaranya lebih tua daripada Mama."


Alvan tertawa kecil mendengar penilaian Bu Dewi terhadap Azzam. Jangankan Bu Dewi Alvan sendiri saja kewalahan menghadapi kepintaran Azzam. Alvan bangga sekali mempunyai anak yang memiliki nilai lebih.


"Azzam tuh anak super genius! Di usia 8 tahun dia sudah duduk di kelas 3. Sedangkan Afifa tidak dapat mengejar kepintaran abangnya. Afifa hanya anak kecil pada umumnya. Dunianya lugu dan polos." Alvan bercerita dengan mata berbinar-binar. Orang tua mana tidak bangga memiliki anak yang mempunyai nilai lebih.


"Lalu bagaimana Afisa?"


"Afisa sama kritisnya dengan Azzam. Anak itu berprestasi di bidang senam dan jadi murid terpintar di sekolah. Afisa sama pintarnya dengan Azzam. Hanya Afifa yang lemah tapi dia cantik." Alvan promosi ketiga anaknya dengan wajah penuh cahaya terang.


Bu Dewi dan Pak Jono mengangguk-angguk ikut bangga memiliki cucu yang sangat luar biasa. Pak Jono tak sabar ingin segera sembuh untuk bisa berkumpul dengan cucu-cucunya di rumah. Pak Jono telah bersumpah akan menutup lembaran kelam dan membuka lembaran baru menyongsong hari yang lebih baik.


"Mama bahagia sekarang! Ternyata mama telah menjadi seorang Oma. Sekarang tinggal menunggu Papa sehat agar kita bisa berkumpul dalam satu rumah. Anak-anak harus tinggal bersama kita." Bu Dewi mengungkapkan harapannya untuk bisa membawa kedua cucunya ke rumah mereka yang sangat sepi. Selama ini rumah besar mereka hanya ditempati oleh Bu Dewi dan Pak Jono. Kehadiran Azzam dan Afifah akan menyemarakkan rumah yang terlanjur dingin.


"Itu Alvan tak berani janji. Citra bukan orang yang gila akan harta. Dia akan memilih hidup sederhana tanpa menyandang nama besar keluarga kita."


"Kamu harus bisa membujuk Citra untuk membawa anak-anak ke rumah. Itu tugasmu sebagai seorang bapak dari anak-anak kembar."


"Akan Alvan usahakan!" sahut Alvan dibarengi bunyi ponsel dalam saku celana. Lelaki ini segera mengeluarkan benda pipi yang berwarna hitam itu dari saku celana dan menatap kontak di atas layar. nama Untung yang keluar di atas layar.


Alvan segera keluar dari kamar untuk menyambut panggilan Untung. Alvan sengaja menghindari kedua orang tuanya agar mereka tidak mengetahui masalah yang sedang membelit masalah di kantor.


"Halo...ada apa?" Alvan langsung to the point ingin mendengar laporan untuk. Alvam merasa lebih bebas bicara di luar karena sepanjang koridor tidak ada orang.


"Semua telah jelas pak! Selvia Hakim dan Wenda telah menjelaskan semuanya kepada pihak aparat. Selvia dan hakim menjanjikan akan mengembalikan uang perusahaan namun Wenda tidak dapat mengembalikan sebagian uang yang telah digunakan untuk mengobati adiknya."


"Bagus...walau dana dikembalikan namun proses hukum harus berlanjut. Tak ada kata damai untuk mereka. Terutama Selvia..."


"Keluarga Perkasa telah ikut campur dan meminta kita cabut tuntutan. Mereka berjanji akan lunasi semua uang yang telah dicuri Selvia. Apa tanggapan bapak?"


"Lanjut proses hukum...ini jadi pelajaran buat yang lain!"


"Baik pak! Kurasa Andi harus kita tarik balik ke sini gantiin Wenda. Aku butuh teman untuk benahi pembukuan yang menyimpang."


"Baik...aku akan diskusi dengan Daniel! Kau kawal terus kasus Selvia dan cari bukti dia dan Zaki satu komplotan."


"Siap pak!"


"Nanti malam kau temani Nadine jaga papa dan mama! Pastikan mereka dalam keadaan stabil."


"Siap pak!"


Tanpa disuruh dua kali dengan senang hati untuk melaksanakan perintah Alvan menemani Nadine. Memang itu harapan Untung agar bisa lebih dekat dengan makin hari makin klik.


Alvan tidak melihat senyum gembira di wajah asistennya itu. Semangat untung berlipat ganda menanti malam tiba. Dalam bayangan untung pulang ke rumah mandi yang bersih lalu berpakaian rapi tak lupa menyemprot minyak wangi untuk memabukkan Nadine. Cinta memang luar biasa. Orang yang biasa cuek bebek bisa berubah menjadi lebay gara-gara cinta.


Seusai ngobrol dengan Untung Alvan segera masuk kembali ke ruang rawat Pak Jono. Sekarang Alvan bisa menarik nafas dengan lega karena pencurian uang di perusahaan telah menemukan titik terang. Untuk selanjutnya Alfan harus berhati-hati menandatangani setiap file yang diantar ke ruangnya. Hidup mati perusahaan tergantung di tangan Alvan sendiri.


Di dalam ruangan Bu Dewi dan Pak Jono sedang ngobrol dengan mesra. Tampak jelas keduanya saling mencintai walau Pak Jono pernah menghianati istrinya. Semoga saja ini yang pertama dan yang terakhir dalam hidup Pak Jono.

__ADS_1


Alvan sedikit segan menganggu acara kemesraan antara kedua orang tuanya. Alvan tidak dapat menyembunyikan rasa bahagia melihat kedua orang tuanya akur.


"Pa..ma...Alvan pulang dulu ya! Citra dan anak-anak pasti sedang menunggu Alvan."


"Pulanglah! Mama akan merawat papamu dengan baik! Titip salam untuk Citra dan kedua cucu mama."


Alvan mengiyakan permintaan Bu Dewi. Alvan tak sabar ingin segera jumpa Citra untuk jelaskan salah paham antara Bu Dewi dan Azzam. Alvan harus bijak sebagai seorang suami dan seorang anak. Tidak boleh berpihak pada salah satu di antara mereka. Yang utama adalah ungkap kebenaran.


Langit mulai temaram waktu Alvan tinggalkan rumah sakit. Lampu-lampu jalan satu persatu hidup menerangi pengguna jalan. Bercahaya tapi tidak seterang cahaya mentari.


Alvan mengendarai mobil berlomba dengan kendaraan lain menuju ke tujuan berbeda. Masing-masing mengarah pada ke mana mereka akan berlabuh.


Alvan membeli cemilan berupa roti untuk kedua anaknya. Cemilan roti mungkin takkan dianggap junk food oleh Citra yang over protective terhadap anak-anak.


Alvan borong beberapa jenis roti karena tak tahu mana yang jadi favorit anak-anak. Berkotak-kotak roti ditenteng Alvan masuk ke rumah Citra.


Di sudut rumah Andi tampak dua jagoan neon duduk meringkuk bosan menanti kehadiran bos mereka. Tanpa perintah Alvan kedua orang itu tak berani tinggalkan rumah Citra. Kali ini minus Andi yang bertugas jaga cafe Daniel.


"Ngapain kalian di situ?" tegur Alvan pada kedua mantan preman kampung.


Tokcer dan Bonar sigap dalam posisi siaga. Keduanya bersyukur Alvan datang akhiri tapa bisu mereka.


"Kami tunggu perintah bapak!" jawab Bonar polos.


"Ini mau magrib! Pulang dan sholat ke mesjid! Oya Bonar...kau bisa baca dan nulis?"


"Ya bisalah pak! Aku pernah kuliah tapi tak selesai karena orang tua meninggal. Mau diajak kerja kantoran?" Bonar tanya tanpa malu. Malu bertanya sesat di jalan. Itu motto Bonar.


"Aku akan lihat kemampuanmu! Besok kau ganti Andi jaga cafe Pak Daniel. Andi dibutuhkan di kantor."


"Sekarang pulang!"


"Siap pak! Mobilnya kami tinggal sini ya!"


"Parkir di tempatmu saja! Di sini ada mobil aku! Ingat jangan keluyuran malam hari! Oh ya ini ada roti bawa pulang sedikit ke rumah kalian!" Alvan menyerahkan satu kotak berisi aneka rasa roti kepada Tokcer yang maju ke depan.


Kedua jagoan neon itu tentu senang bukan main. Kalau rezeki takkan ke mana larinya. Mereka harus bersyukur memiliki bos yang sangat baik. Tegas namun tidak sombong. Kalau orang kaya yang lain biasa akan berbuat semena-mena pada bawahan. Alvan memang lain daripada yang lain.


Kedua jagoan neon itu segera pulang setelah mendapat izin dari Alvan. Malam ini perut mereka akan dihangatkan oleh roti dari toko yang dipastikan mahal. Rezeki preman insaf.


Alvan tidak membuang waktu segera mengetuk pintu rumah Citra. Bau harum masakan tercium sampai keluar mau menggugah selera perut Alvan. Makan malam yang lezat sedang menanti Alvan. Asal bisa makan dengan keluarga semua makanan terasa sangat lezat.


"Assalamualaikum..." sapa Alvan begitu anak lajangnya buka pintu.


"Waalaikumsalam..." sahut Azzam sambil mengedarkan mata keluar pagar untuk ceking dengan siapa Alvan datang. Yakin Alvan datang sendirian barulah Azzam menggeser tubuh ke samping.


"Ini Papi bawakan roti untuk Koko dan Amei! Mami di mana nak?"


Azzam menerima pemberian Alvan tanpa sungkan. aja mulai terbiasa dengan kehadiran Alvan di rumah. Wajah anak lajang ini tidak berkerut-kerut lagi melihat papinya.


"Mami ada di dapur sedang masak! Bagusnya Papi segera mandi karena baru datang dari rumah sakit." Si lajang memberi nasehat agar papinya menyadari yang namanya kebersihan.


Alvan mengangguk sambil tersenyum melihat Azzam mulai memberi perhatian. Selangkah demi selangkah akan berhasil merebut perhatian anak laki satu-satunya.

__ADS_1


"Iya nak! Papi akan segera mandi untuk membersihkan diri. Azzam dan Afifa sudah mandi?"


"Sudah Pi... sebentar lagi magrib kita akan salat berjamaah!"


Alvan menyentuh pipi Azzam dengan lembut berterima kasih atas peringatan Azzam. Punya anak bertalenta tinggi sungguh membanggakan hati.


"Papi bersih-bersih dulu ya nak! Nanti kita salat bersama! Atau Azzam mau kita salat ke masjid? Papi akan temani Azzam salat bareng-bareng dengan yang lain."


"Apa boleh?"


"Kenapa tidak boleh? Itu kan berpahala.."


"Koko akan minta izin sama mami. Sudah lama Koko ingin sholat di masjid bersama mukmin yang lain. Cuma kadang mami tidak mengizinkan."


"Kalau bersama Papi mami pasti akan izinkan. Cobalah Azzam pergi minta permisi!"


Azzam berlari kecil menuju ke dapur untuk mendapat ijin sholat ke mesjid bersama Alvan. Azzam merasa makin dewasa bila boleh sholat ke mesjid. Kehadiran Alvan di rumah bawa angin positif bagi Azzam. Anak ini akan bertambah dewasa bila dididik oleh sesama lelaki.


Alvan bergerak masuk ke kamar Citra untuk ambil pakaian ganti. Kini Alvan tidak canggung masuk kamar Citra. Alvan merasa sudah menjadi bagian dari keluarga ini.


Azzam sudah rapi menanti Alvan di ruang tamu. Kelihatannya Azzam telah dapat lampu hijau dari maminya ikut sholat berjemaah di mesjid. Azzam makin pede tampil sebagai calon remaja beriman. Alvan sendiri tak kalah rapi dengan kaos berlengan panjang warna abu rokok dipadu celana panjang warna hitam. Anak bapak sama gantengnya.


Dua cowok beda generasi ini pasti akan menarik perhatian orang yang datang menunaikan ibadah magrib. Alvan pendatang baru dan anaknya si ganteng kecil.


"Siap ke mesjid?" Alvan mematut diri agar pantas berbaur dengan orang-orang beriman bagus.


Azzam mengacung jempol tanda siap. Anak mana tidak bangga punya papi ganteng dan beriman. Alvan tidak memalukan Azzam di lingkungan kecil ini. Jangan mentang orang kaya boleh melupakan agama.


"Sudah ambil air wudhu? Wudhu di rumah jadi Azzam tak perlu wudhu di mesjid lagi. Papi sudah wudhu..."


"Ok Pi.."


Citra tersenyum bahagia melihat Alvan dan putra telah bergaul rapat. Citra semula kuatir Azzam dan Alvan akan bermusuhan seumur hidup. Jurang pemisah antara mereka makin melebar membentang jarak makin luas. Syukurlah ada timbunan nasehat mempersempit jurang itu.


Citra tak tahu itu berkat masukkan Andi pada Azzam. Andi membuka mata Azzam untuk melihat Alvan dari sisi baiknya. Jangan teropong kesalahan Alvan melulu.


"Mami...Koko pergi ke mesjid ya!" seru Azzam riang melompat girang berlari keluar.


Alvan tersenyum mengangguk kecil pada Citra. Seharusnya Citra cium tangan Alvan sebelum ke mesjid. Berhubung Alvan telah duluan ambil air wudhu maka salam hanya senyum manis.


Perlahan bayangan dua sosok beda generasi itu menghilang di telan keremangan. Citra menutup pintu untuk menyambut suara Adzan magrib. Hari ini Citra hanya sholat berduaan dengan Afifa. Itu tidak akan mengurangi kekhusyukan sholat mereka.


Alvan dan Azzam masih di mesjid mungkin dengar ceramah dari imam mesjid. Citra dan Afifa menyediakan hidangan di meja untuk santap makan malam. Citra berusaha membuka hati pada Alvan agar mendapatkan ridho cium bau surga. Sampai kapan Citra akan lari dari kenyataan kalau dia adalah istri Alvan.


Afifa duluan duduk di meja makan menanti dua punggawa rumah mereka. Alvan dan Azzam akan jadi pelindung mereka dari segala ancaman bahaya. Afifa makin bahagia merasakan punya orang tua utuh. Punya papi ganteng dan mami cantik.


Citra perhatikan Afifa tersenyum sendiri dengan heran. Apa yang terpikir oleh anak gadisnya.


"Amei memikirkan apa sayang? Kok senyum sendiri? Mau dibilang orang kurang waras?" gurau Citra menempatkan piring di depan Afifa.


"Amei senang kita punya papi. Ada Oma dan Opa lagi. Amei bisa cerita pada teman Amei punya semuanya."


"Oh itu...Iya...Amei kaya saudara! Amei harus rajin belajar biar semua bangga pada Amei. Jangan mau kalah sama Koko! Ujian nanti Amei harus saingi Koko!"

__ADS_1


"Amei suka lupa kalau sudah takut. Yang belajar hilang semua."


"Kalau gitu Amei harus banyak berdoa agar di beri ingatan kuat. Sebelum tulis jawaban baca doa dulu! Niscaya akan ingat semua!"


__ADS_2