ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Penculikan


__ADS_3

Alvan mencubit pinggang istrinya yang mungil. Ingin rasanya Alvan ******* tubuh mungil di sampingnya sampai bersatu dengan dirinya. Tapi Alvan tak ingin obral nafsu karena dia mencintai Citra sepenuh hati.


"Baiklah! Aku izinkan kamu melakukan poliandri tapi dengan catatan aku yang memilih cowoknya."


"Wow... betapa keren suami aku! Baru kali ini kudengar ada suami bersedia di poliandri." Citra mengelus dagu Alvan yang bebas bulu jenggot. Lainya selalu tampil necis bikin para wanita pada histeris.


"Mas calon untukmu. Di belakang kantor kita ada yang namanya uwak Ulim. Beliau seorang duda berusia 95 tahun. Kurasa itu sangat cocok untukmu. Dia pasti akan menyayangi kamu. Kau setuju calon dari mas?"


Citra dipermainkan oleh Alfan. Memberinya seorang lelaki berusia 95 tahun sama saja menyuruhnya merawat orang jompo. Bukannya bersenang-senang dengan suami baru malah harus menjaga lansia."


"Mengapa mas tidak tawar saja Citra jadi relawan di panti jompo. Bisa poliandri lebih banyak. Dasar..." Citra pasang muka masam tersinggung dianggap remeh oleh Alvan. Gini-gini pasaran Citra masih lumayan tinggi. Ratingnya tidak kalah dengan anak gadis lain.


"Sori canda...aku tidak rela bini aku dikerling orang apa lagi membagi. Kusate tuh cowok!" Alvan teringat Hans dan Daniel yang telah buka mulut suka pada Citra. Hans waktu itu belum mengetahui kalau Citra adalah istri Alvan sehingga berterus terang. Mungkin sekarang Hans sangat malu kalau bahas soal perasaan terhadap Citra. Mengakui perasaan di depan suami wanita yang dikejar.


"Huhu..cemburu toh! Yok tidur! Semoga esok tidak ada konflik ya! Selamat tidur!" Citra hadiahkan kecupan di bibir Alvan sebagai penghantar mimpi indah.


"Selamat malam!" Alvan merengkuh isterinya lebih erat tak ingin berpisah.


Pagi cerah awali kegiatan di rumah Citra. Alvan berangkat ke kantor bersama Andi berhubung laki itu belum punya SIM. Tokcer lakukan tugas antar kedua bocah majikan sementara Citra masih setia dengan motor matic menuju ke tempat kerja.


Citra tidak sadar diikuti oleh dua orang mengendarai sepeda motor jenis besar. Sekilas keduanya berbadan tegap memantau Citra dari jauh. Mereka menjaga jarak dengan Citra agar tidak ketahuan menguntit dokter itu.


Di tempat agak sepi tiba-tiba sebuah mobil melewati motor Citra menghalangi wanita itu melajukan motornya.


Citra hentikan motor secara mendadak takut menabrak mobil yang tiba-tiba muncul. Jantung Citra nyaris copot dihadang orang tanpa sebab jelas.


Tiga orang lelaki bertampang sangar turun dari mobil hampiri Citra yang sudah terkepung oleh tiga lelaki itu. Citra belum turun dari motor tak tahu harus berbuat apa. Siapa orang-orang itu? Apa tujuan mereka halangi Citra ke rumah sakit?


"Siapa kalian?" tanya Citra gugup.


"Ikutlah dengan kami nona! Kami takkan menyakiti kamu asal kamu patuh!" salah satunya berkata dengan suara berat.


"Aku tidak kenal kalian mengapa kalian culik aku?"


"Bukan culik tapi hanya mengundang nona jumpa majikan kami! Nanti kalian akan kenalan. Silahkan! Motormu akan kami amankan!"


"Tidak...aku tak mau ikut sebelum kalian ceritakan siapa majikan kalian! Aku akan teriak kalau kalian main kasar." ancam Citra berbuat tampak gagah padahal dalam hati hendak pingsan.


"Jangan memaksa kami berbuat kasar! Sayang kulitmu yang putih jadi lecet! Kami takkan berbuat kasar asal nona kerja sama."


"Tidak...tolong!" teriak Citra berusaha menarik perhatian orang. Sayang keadaan jalan agak sepi. Kebetulan Citra ambil jalan pintas untuk hindari kemacetan. Puluhan kali Citra lalui jalan ini tak pernah ada kejadian. Mengapa pagi ini apes jumpa orang jahat.


Salah satu orang itu mendekap Citra agar hentikan teriakan. Temannya satu lagi beri kode agar seret Citra masuk ke dalam mobil. Citra yang bertubuh mungil tak berdaya diseret dua begundal bertubuh tegap.


Di saat kritis satu motor besar berhenti tepat di depan kedua lelaki yang menyeret Citra. Laki di atas motor melepaskan tendangan tepat di punggung orang yang memegang Citra. Teman nya satu lagi membekuk orang lain. Perkelahian tak seimbang terjadi di tengah jalan raya sepi. Dua lawan tiga. Citra segera lari menjauh naik ke motornya berusaha kabur.


Citra tidak dapat berpikir normal selain kabur ke jalan yang lebih ramai. Motor Citra sempat tak mau hidup bikin wanita ini makin panik. Selama ini hanya nonton di film maupun televisi adegan baku hantam. Tak disangka Citra mengalami kejadian ini secara pribadi. Satu pengalaman tak terlupakan dalam hidup Citra.

__ADS_1


Untunglah motor Citra dapat hidup setelah distarter berulang kali. Citra tak sempat lihat bagaimana kelanjutan baku hantam antara dua penolong dengan tiga penjahat. Citra harus pergi sejauh mungkin cari selamat. Terdengar egois tapi Citra di situ hanya menambah buruk keadaan.


Akhirnya Citra tiba di halaman parkir rumah sakit. Dengan kaki masih bergetar Citra masuk ke dalam rumah sakit untuk menenangkan diri. Citra terduduk di bangku stainless yang tersusun sepanjang rumah sakit untuk pengunjung.


Wajah Citra bukan pucat lagi tapi sudah putih bak kertas siap diisi dengan huruf. Setelah atur nafas Citra mengeluarkan ponsel untuk menelepon Alvan.


"Assalamualaikum mas!" sapa Citra dengan suara bergetar. Ketakutan tak dapat Citra sembunyikan dari kepekaan kuping Alvan.


"Waalaikumsalam..ada apa sayang? Kok terdengar gemetaran?"


"Mas ..tadi aku hampir diculik! Untung ada dua orang tolong aku! Aku lari...ntah bagaimana nasib orang yang menolongku! Mas mau lapor polisi?"


"Ya Tuhan .. dugaan mas tidak meleset! Orang yang menolong kamu itu aparat yang mas minta lindungi kamu. Mereka polisi sayang! Tenang...mas akan cari tahu bagaimana ceritanya! Kau minum air hangat dulu! Mas akan jemput kamu. Tunggu di rumah sakit ya! Jangan ke mana-mana!"


"Iya mas! Gimana anak-anak? Apa mereka akan ganggu anak-anak kita?"


"Anak-anak yang kawal juga. Kau tenanglah! Tokcer akan jaga mereka!"


"Mas singgah juga di sekolah anak-anak ya!"


"Iya...kau tenanglah! Semua akan baik-baik saja. Mereka yang jahat pasti akan mendapat hukuman setimpal."


"Iya mas!"


Alvan mematikan hubungan untuk urus rencana penculikan Citra. Alvan sudah menduga hal ini akan terjadi maka meminta aparat kawal ke manapun Citra pergi untuk sementara ini. Orang yang mengikuti Citra sejak kemarin adalah orang yang diminta Alvan mengawal Citra.


Feeling Alvan tidak meleset. Ternyata ada orang tak sabar ingin turun tangan kejam lenyapkan Citra. Alvan bersumpah tidak akan tinggal diam untuk balas kejahatan orang itu. Siapapun orangnya tak ada ampunan dari Alvan.


Nadine yang menerima telepon Alvan langsung melesat mencari Citra. Betapa sedih Nadine melihat Citra duduk bengong seperti orang kehilangan roh. Wajah putih tak berdarah. Sudah putih makin putih.


Alvan segera hubungi Heru untuk kabarkan penculikan Citra. Alvan menduga ini tak jauh dari bagian ibu Selvia. Wanita itu pasti akan lakukan apapun untuk lenyapkan Citra agar memuluskan jalan Selvia menuju ke pelukan Alvan.


Alvan makin jijik pada Selvia sekeluarga. Sudah berkali dia menolak tapi masih juga merongrong Citra. Tampak hanya dengan kata maaf tak membuat Ibu Selvia kapok. Kali ini Alvan takkan berbaik hati walau Heru memohon ampun.


Keadilan harus ditegakkan. Tidak bisa bilang damai karena ingat orang tua. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Citra? Dilukai bahkan terburuknya dihabisin.


Heru yang mendapat berita ini langsung menuju ke lokasi ditunjuk Alvan. Heru tak kalah marah dengar tak bosan-bosan keluarga mereka usik Citra. Padahal Heru sudah umumkan status Citra merupakan bagian keluarga Perkasa. Mengapa masih ada orang kurang kerjaan ingin menganggu Citra.


Ternyata hanya dua begundal berhasil ditangkap. Satunya lagi berhasil kabur, langsung ditetapkan sebagai buronan kepolisian. Polisi harus bekerja keras untuk mencari komplotan penculik Citra. Tak mungkin tak ada dalang karena Citra tidak bermusuhan dengan ketiga kantong beras itu.


Tangan Heru sudah gatal ingin hajar mereka yang disuruh culik Citra. Apa mereka tidak takut berhadapan dengan keluarga besar Perkasa dan Lingga? Mereka belum kenal tangan kejam Heru. Dari luar Heru tampak baik dan ramah tapi di dalam ada monster siap muncul terkam orang-orang kurang kerjaan.


Heru ditemani pihak kepolisian menemui para penculik di sel tahan kantor polisi. Sebelum diselidiki kesalahan mereka maka belum bisa jadi tahanan penjara. Masih ada tahap penyelidikan.


Ternyata Alvan sudah duluan tiba di kantor polisi untuk bertanya mengapa mereka culik Citra. Memangnya mereka kenal Citra sehingga tega turun tangan keji?


Kedua penjahat hanya menunduk tak berani angkat kepala menatap dua pria mempunyai kekuasaan tak terhingga di tanah air.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruh kalian culik isteri aku? Jawab!" bentak Alvan menggelegar bergema satu ruang kantor.


Tak ada yang menjawab. Heru yang berdiri di samping Alvan menggeram ingin letakkan bogem mentah ke muka yang memelas itu. Kegarangan sebagai penjahat terkikis berubah jadi muka hello Kitty terjatuh ke septic tank.


"Tak mau jawab ya! Tolong bapak tambahkan pasal perampokan disertai ancaman pembunuhan. Hukuman mati pak!" kata Heru pada polisi yang menemani mereka.


"Akan kita tindak lanjuti pak! Kedua orang ini memang sudah sering buat onar. Tak ada ampun bagi mereka."


"Bagus...mereka pilih lindungi bos mereka ya biarkan! Toh bosnya senang di luar sedangkan si bodoh ini hidup sengsara di penjara." ujar Heru berusaha provokasi emosi kedua penjahat itu.


Alvan menggigit gigi berusaha menahan emosi agar kelepasan hajar kedua begundal bayaran ini. Alvan yakin ada aktor besar di balik rencana penculikan Citra. Keduanya sudah terima uang maka memilih bungkam.


"Tak perlu sidang pak! Hukuman mati saja!" kata Heru menakuti kedua penjahat itu.


"Nggak bisa...harus sidang dulu!" sahut salah satu di antara mereka. Kalau disidang paling habiskan setahun di penjara. Mereka sudah sering keluar masuk penjara jadi penjara bukanlah tempat menakutkan bagi mereka.


"Enak aja disidang! Sudah terbukti kamu hendak lenyapkan isteriku. Itu sudah kejahatan tidak terampuni. Kalian lakukan di depan mata polisi lagi. Masih ada ampun? Mimpi kalian!"


"Tapi biasa kami disidang dulu!"


"Itu dulu! Yang kita bicara sekarang. Kau tahu siapa yang kalian culik? Itu anakku...anak keluarga Perkasa! Pernah dengar nama Perkasa?" Heru dekat akan wajah ke wajah penjahat itu.


Keduanya memucat dengar nama Perkasa yang terkenal kaya raya. Sepak terjang keluarga Perkasa cukup disegani. Kali ini kena batu raksasa. Bukan hanya tersandung tapi bakal digencet orang kaya itu.


"Dan satu lagi kutambahkan. Orang yang kalian culik itu isteri aku. Alvan Lingga. Mungkin pernah juga dengar nama Lingga?" timpal Alvan agar nyali kedua curut itu makin menciut.


Muka yang tadi pucat kini berubah putih keabuan. Sungguh salah makan obat culik orang yang dilindungi orang kaya setanah air. Nasib mereka akan remuk tanpa perlu pergi ke tukang ramal lagi. Tak perlu diramal sudah diketahui bakal apes.


"Kami sungguh tidak tahu orang yang kami culik kerabat kalian! Kami hanya disuruh culik dokter Citra." kata salah satu penjahat mulai dihinggapi rasa takut.


"Sekarang sudah tahu kan? Lebih kerja sama agar hukuman kalian diringankan. Jangan bodoh lindungi orang jahat! Dia enak di luar kalian sengsara di penjara. Ajak sekalian biar main monopoli di penjara." kata Heru kalem.


Kedua penjahat saling berpandangan lempar kode. Mengaku artinya melanggar kode etik, tidak ngaku nikmat siksaan sedang menanti. Orang berkantong tebal macam Heru dan Alvan gampang saja iring mereka ke penjara mengerikan.


"Baiklah! Kami ngaku tapi mohon pertimbangkan kejujuran kami!"


"Ok..." Heru berubah baik dan ramah. Heru menepuk bahu penjahat itu kasih semangat berkata jujur. Mereka tetap di penjara namun ada pertimbangan bila seret dalangnya.


"Sebenarnya kami berdua dapat orderan culik nona dokter untuk disingkirkan. Itu orderan dari Nyonya Sukamto. Satu lagi orderan dari Banjar hanya untuk takuti Bu dokter agar jauhi calon suaminya. Dua orderan untuk satu target yakni nona dokter."


Alvan dan Heru tercengang. Ternyata orang yang ingin sakiti Citra bukan satu orang melainkan dua kelompok. Nyonya Sukamto ibunya Selvia dan orderan dari Banjar tentu ada hubungannya dengan keluarga mamanya Alvan di Kalimantan Selatan.


"Bagus...terima kasih sudah mengaku! Tolong berikan bukti agar kami bisa tindak lanjuti kejahatan yang membahayakan Bu Dokter."


"Semua ada di ponsel kami yang telah disita. Tolong ringankan hukuman kami! Kami juga punya keluarga."


"Sekarang baru ingat keluarga ya? Bagaimana nasib anak-anak aku bila terjadi sesuatu pada ibu mereka?" Alvan mencowel kepala sang penjahat saling gemasnya.

__ADS_1


"Begini pak! Sekarang mereka sudah ngaku! Silahkan bapak ambil tindakan ringkus orang jahat itu! Aku takkan melindungi penjahat walau dari keluargaku!" kata Heru diplomasi. Sebenarnya Heru sedih harus menangkap tantenya. Tapi perbuatan tantenya memang melanggar hukum. Tantenya akan berakhir di penjara bersama Selvia.


Itulah akibat suka main hakim sendiri. Pikir diri sendiri adalah pemilik dunia. Sah saja berbuat seenak perut sakiti orang. Heru takkan bela tantenya.


__ADS_2