ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Isteri Semu Korupsi


__ADS_3

Untung menjadi gemas pada sikap Wenda. Apa yang ditunggu wanita itu beri penjelasan mengenai Mark up uang perusahaan. Wenda tak bisa lari dari tanggung jawab raibnya sejumlah uang. Untung takut Alvan mengira dia ikut terlibat. Untung tak salahkan Alvan bila berpikir demikian. Itu sangat wajar karena Untung asisten Alvan. Semua berkas kantor harus melalui dia baru ke tangan Alvan.


Untung sudah hilang kesabaran terhadap Wenda. Wanita itu minta dikasari baru mau jawab.


"Serahkan ke polisi saja pak! Biar semua lebih jelas." Untung keluarkan suara karena batas kesabaran sudah habis. Berdiam diri terusan takkan selesaikan problem. Tetap harus ada satu jawaban.


Wenda menghela nafas menatap Untung yang lagi kesal. Wajah Wenda pucat pasi sampai tubuh bergetar.


"Maaf pak! Aku yang input data. File pertama dan kedua ditanda tangani bapak karena aku sengaja bikin rangkap. Bapak terlalu percaya padaku maka lengah tak lihat filenya ada dua rangkap." Wenda berkata dengan suara pelan.


Untung mengangkat tangan ingin gampar wajah wanita yang telah beberapa tahun jadi partner kerjanya. Teganya Wenda berbuat curang pada orang telah baik padanya.


Andi sigap menangkap tangan Untung agar tidak salah bertindak. Memukul wanita adalah salah. Belum menghukum orang malah terjerat hukum. Andi tak ingin Untung terjerat hukum baru.


"Kau gila ya? Sudah berapa lama kau buat curang gini? Berapa dana sudah kau tilep?" Untung mengurut dada merasa sedih. Untung tak sangka Wenda akan berbuat sejauh itu. Wenda yang tampak lugu dan baik ternyata seekor ular berkepala dua.


"Aku hanya disuruh Bu Selvia dan Pak Hakim. Aku sengaja letakkan file ini biar diperiksa Andi karena aku tak sanggup lagi bantu mereka." lirih Wenda memelas. Wenda tampak sangat tertekan di interogasi Untung dan bosnya.


Alvan terhenyak tak sangka di balik kecurangan Wenda ada dalang lebih besar. Wenda tak mungkin bekerja sendiri karena wanita ini tak mungkin bisa cairkan dana perusahaan. Hanya Alvan dan Selvia berwewenang bicara soal dana perusahaan. Alvan belum yakin Selvia berani bertindak jauh korupsi uang perusahaan. Bisa jadi Wenda fitnah Selvia lindungi kesalahan dia.


"Kau ada bukti dalangnya Selvia?" tanya Alvan masih bersabar. Bertindak kasar bukannya memperbaiki keadaan. Malah makin runyam bila Wenda stress tak bisa buka cerita.


"Ada pak! Aku sengaja beri file pada Andi agar kecurangan ini terbuka. Bu Selvia sudah siapkan dua file untuk pemasukan dana hasil tambang. Aku disuruh minta tanda tangan bapak lagi. Kali ini dananya sangat besar maka aku takut. Uang enam ratus milyar di mark up jadi empat ratus."


"Dananya sudah masuk?" tanya Untung ketar-ketir memikirkan korupsi besaran di perusahaan. Sungguh permainan sangat mengerikan. Tak sedikitpun Untung akan mengira Selvia dalang utama. Posisi wanita itu sangat kuat di perusahaan. Mengapa masih bisa tergiur uang haram.


"Sudah. Bu Selvia memintaku bikin file rangkap serta nota bapak untuk keluarkan dana sebesar dua ratus milyar dari uang yang baru masuk. Aku takut melangkah terlalu jauh maka aku menyerah."


Alvan merasa seluruh badannya lunglai tak punya daya lagi. Orang kepercayaannya tak lebih dari lintah mengisap darahnya. Mengapa tak terpikir oleh Alvan ada wanita sedemikian berani curi uang besaran di perusahaan. Selvia wanita elegan dan pintar mengapa bisa terpikir jalan pintas cepat kaya.


"Sudah berapa lama mereka berbuat curang?" tanya Alvan dengan mata menyala menahan emosi.


"Ada sepuluh kali pak. Ada lima milyar, ada tujuh milyar. Yang ini sangat besar aku jadi takut."


"Ooo...kalau kecil kau bersedia kerja sama. Berapa persen kau dikasih koruptor itu?"


"Bu Selvia pernah bantu aku biayai adikku operasi dan beliin rumah buat aku. Selebihnya aku tak pernah terima uang dari mereka. Aku bersumpah pak!"


"Sumpah pemuda atau sumpah palapa?" nimbrung Andi gemas lihat orang dia anggap kakak baik ternyata maling. Mulut Andi mencong kiri kanan omel Wenda dengan kata-kata tak jelas.


Kalau bukan dalam suasana tegang ingin rasanya Untung tertawa lihat gaya banci Andi muncul secara refleks. Untuk sembuhkan Andi dari jiwa feminim tidak segampang makan nasi. Butuh proses lama.


"Kau tahu ini ada hukumannya! Apa kau tak takut dipenjara?" tanya Alvan meneliti rona wajah Wenda yang semakin pucat. Rasa takut di hati Wenda melebihi rasa takut pada setan seram. Penjara yang dingin siap menampungnya.

__ADS_1


"Aku siap di penjara. Ibuku mendukung aku menyerahkan diri. Aku tak pernah tenang sejak bantu mereka buat curang."


"Alasan apa kau bantu mereka?"


Wenda angkat kepala sebentar melirik Alvan. Cuma sekilas Wenda besarkan nyali lirik bosnya. Orang bersalah tak mungkin punya nyali menghadap orang dicurangi.


"Aku hanya bantu Bu Selvia tegakkan keadilan. Bu Selvia isteri bapak yang pertama tapi bapak rahasiakan demi Bu Karin. Bukankah kasihan Bu Selvia? Wajar dia menilep uang bapak karena bapak tidak adil." Wenda memberanikan diri kemukakan alasan dia bantu Selvia.


Alvan besarkan mata sekaligus pertajam pendengaran takut dia salah dengar. Kata-kata Wenda di luar dugaan Alvan dan kedua asistennya. Dari mana analisa Wenda katakan Selvia isteri Alvan. Gosip kacau dari mana sumbernya?


"Apa kamu bilang! Selvia isteriku? Yang bilang siapa?"


"Bu Selvia. Semua orang tahu bapak punya isteri yang dirahasiakan. Bu Selvia ngaku dia orangnya. Bapak sengaja tidak ekpos dia demi Bu Karin. Ini tidak adil."


Andi ingin cekik leher Wenda peragakan gaya mencekik orang. Sayang Andi cuma berani cekik angin. Isteri Alvan yang sesungguhnya adalah kakak kesayangannya. Mengapa lintah pengisap darah ngaku bini Alvan. Andi tidak terima Citra dilecehkan Wenda. Enak aja gantiin posisi Citra dengan wanita penipu.


"Kak...bini pak Alvan itu wanita mulia. Bukan penipu kayak Selvia! Ngaku-ngaku bini pak Alvan! Punya ******** nggak? Atau ******** habis diserbu belatung." omel Andi tidak jaga sopan santun lagi. Laki feminim ini nyerocos seperti biasa. Lupa dia berada di kantor elite.


"Jangan sembarangan Andi! Bu Selvia punya bukti foto nikah dengan pak Alvan. Dia minta aku rahasiakan sesuai permintaan pak Alvan. Coba kalian bayangkan betapa hancur perasaan Bu Selvia!"


"Foto apa?" tanya Alvan makin tak ngerti apa tujuan Selvia karang cerita heboh ini. Selvia tidak pernah berbuat hal aneh selama bekerja sama. Bahkan tidak berbuat senonoh merayunya. Mengapa tiba-tiba ngaku isteri Alvan yang dirahasiakan.


"Aku pernah lihat foto pak Alvan dan Bu Selvia memakai baju pengantin. Berpelukan mesra."


"Baju pengantin? Di mana fotonya?"


"Aku ngerti pak! Bapak ingat tahun lalu Selvia jadi model kita untuk gaun pengantin dari Korea? Waktu itu Bu Selvia ajak bapak berfoto bersama untuk jadi kenangan event pemotretan gaun pengantin. Aku ada di situ. Hanya satu lembar foto bapak. Aku ada simpan filenya." Untung mendadak ingat event pemotretan yang diselenggarakan perusahaan mereka. Selvia ikut jadi model atas permintaannya sendiri.


Selvia minta Alvan ikut foto untuk jadi arsip. Tak disangka Selvia gunakan foto itu untuk menipu Wenda. Sungguh cara licik mencari dukungan dari sesama wanita. Pura-pura terzolimi. Artinya dari awal Selvia sudah buat rencana membawa Alvan ke pelukannya. Cuma wanita itu bermain manis.


Alvan menyugar rambut tak habis pikir mengapa Selvia yang sangat dia hargai sanggup menjatuhkan dia berkali-kali. Menipu uangnya, kini menipu statusnya. Apa tujuan Selvia pada Alvan.


"Wenda...Selvia itu bukan isteriku! Isteri aku ada di rumah. Yang pasti dia bukan Selvia. Aku menyembunyikan dia atas permintaannya. Andi dan Untung tahu siapa isteriku sesungguhnya. Sekarang kau akui semua kesalahanmu! Aku mau minta bantuanmu!"


"Benar Bu Selvia bukan isteri bapak?" Wenda mulai ragu pada keyakinan diri. Alvan secara gamblang ungkap ada wanita lain berdiri di posisi isteri sahnya.


"Ya bukanlah! Bini pak Alvan wanita mulia! Pak Alvan sudah punya tiga kurcaci kok! Cantik dan ganteng kayak aku! Selvia bukan tandingan kakak aku! ***** penipu gitu mau jadi bini pak Alvan. Najis tau .." umpat Andi bela kakak tersayangnya. Andi sakit hati bila Citra dikucilkan.


"Maafkan aku pak! Aku tidak tahu Bu Selvia menipu." Wenda makin tertekan bela orang bersalah.


"Woi...orang berani menipu bos tentu berani menipu curut macam kak Wenda! Moncongnya penuh busa bohong. Tampang puteri raja hati nenek sihir." Andi masih melanjutkan omelan membela Citra.


"Wenda...kau tahu konsekuensi menipu uang perusahaan? Kalau kau mau kerja sama aku akan peringan hukumanmu."

__ADS_1


"Mau pak asal aku terbebas dari beban dosa. Aku akan berbuat semampuku bantu bapak untuk tebus semua kesalahan aku!" Wenda bertekad perbaiki kesalahan yang terlanjur dia lakukan. Tak ada yang bisa Wenda lakukan sekarang selain membantu Alvan bongkar persekongkolan dalam perusahaan. Dengan ini mungkin hati Wenda bisa lebih lega. Masuk penjara tak masalah asal jangan dikejar rasa bersalah.


"Bagus...untuk sementara kau berbuat seolah tak ada apa-apa. Beri dua filenya biar kuteken. Tapi ingat input di data harus angka sesungguhnya. Biarkan mereka keluarkan dana dari perusahaan!"


"Tapi pak! Kalau bapak teken tanda keluar dana maka semua itu sah atas ijin bapak."


"Teken dua file dulu...ijin keluar dana takkan ku teken. Aku akan keluar kota beberapa hari untuk hindari kamu dari kejaran Selvia. Dia pasti nagih tekenku untuk keluar dana. Kita lihat apa yang akan mereka perbuat. Memalsukan tanda tangan atau stempel perusahaan. Di sini kita baru bisa tangkap mereka." Alvan menjelaskan rencananya pada Wenda untuk jebak Selvia.


"Biasa pak Hakim bagian keuangan yang urus semua pengeluaran dana. Aku tak tahu bagaimana pembagian kedua orang itu."


"Siapa lagi terlibat?" tanya Untung yang dari tadi cuma menyimak.


Wenda menggeleng tak tahu. Perannya tak sejauh itu. Dia cuma bertugas minta teken Alvan. Bagaimana permainan Selvia dan manager keuangan Wenda buta sama sekali.


"Kau pantau kapan mereka bergerak. Kabari Untung apa rencana mereka. Aku akan blokir semua rekening perusahaan sebelum mereka sempat tarik dana. Ingat jangan sampai mereka tahu rencana kita." Alvan beri peringatan pada Wenda agar tidak berbuat salah lebih jauh.


Sudah tahu salah masih melanjutkan sama saja gali kuburan tanam diri sendiri. Alvan hanya berharap Wenda ada niat baik membantunya bongkar korupsi cukup besar di kantornya. Cuma Alvan tak sangka Selvia tega manfaatkan Wenda guna capai hasrat nafsu serakah. Selvia berasal dari keluarga terpandang. Rasanya sangat jauh kemungkinan Selvia akan berbuat curang. Tapi fakta berkata lain.


"Aku siap pak! Aku akan didik Andi duduk di posisiku sampai aku keluar nanti. Aku minta maaf sekali lagi pak! Terima kasih bapak masih percaya padaku! Aku akan bayar semua kesalahan aku pak!" Wenda membungkuk badan persis di depan Alvan.


"Baiklah! Kau bimbing Andi gantiin kamu! Kau harus ikut bertanggung jawab atas semua ini. Kau tak bisa lari dari hukum."


"Iya pak! Aku siap kembalikan rumah yang di beri Bu Selvia cuma uang operasi adikku telah habis. Terpakai semua untuk tutupi biaya rumah sakit."


"Itu nanti kita bincangkan. Kau tetap berbuat seolah tak ada apa-apa. Bekerja seperti biasa. Balik ke ruangmu! Ingat..kau harus tampil tanpa ada kecurigaan mereka."


"Iya pak! Permisi..." Wenda balik badan meninggalkan ruang Alvan. Wajah Wenda masih pucat penuh rasa takut. Namun hati kecil Wenda merasa lega telah mengakui kesalahan yang amat besar dalam hidupnya. Seharusnya dari dulu Wenda berani ungkap kejahatan di perusahaan Alvan. Kerugian Alvan tidak kecil di tilep uang oleh oknum tak bertanggung jawab.


Alvan menyandarkan punggung ke sandaran bangku merasa lemas. Alvan terlalu lengah beri kepercayaan pada seseorang hingga mengalami kerugian tidak kecil. Untung ikut lemas cukup terpukul rekan kerjanya tega berbuat kesalahan sangat fatal.


Andai Wenda tidak klarifikasi kecurangannya berserta Selvia, Alvan pasti curiga padanya ikut dalam game mematikan ini. Otak kecil Untung belum bergeser meramaikan pesta panen duit dari kantong Alvan.


Andi yang dari tadi bagai cacing kepanasan ingin sekali ajak Wenda ikut masuk ke dalam tanah. Untuk rasakan jadi mayat hidup. Masih hidup tapi tak punya hati.


"Dasar batang pisang!" rutuk Andi sinis pada Wenda yang hilang keluar ruang Alvan.


Alvan dan Untung serentak menoleh ke arah Andi tertarik pada julukan baru buat Wenda. Apa hubungan korupsi dengan batang pisang.


"Kok batang pisang? Apa bukan manusia berhati iblis?" tanya Untung diliputi tanda tanya.


"Masak nggak tahu hanya batang pisang punya jantung tapi tak punya hati. Hatinya sudah dimakan rayap." Andi menyahut pakai gaya lebay alias ngondek.


Alvan mendehem ingatkan Andi jaga sikap. Tiang di rooftop siap memakan korban. Mangsa lengah pasti jadi korban tiang tanpa belas kasihan itu.

__ADS_1


Andi tersadar telah melanggar janji pada Alvan. Berulang kali Alvan ingatkan Andi untuk pamer gaya lelaki tulen. Bukan laki nyiur melambai tertiup angin.


Andi kontan berdiri siaga satu dalam posisi siap. Alvan cuma bisa puas untuk hari ini. Besok belum tentu anak itu ingat ancaman siaga di rooftop.


__ADS_2