
Afisa terpaksa menerima saran Azzam. Betul kata Azzam, Alvan pasti punya kesedihan sendiri. Yang dia hadapi bukan orang lain. Ibu kandung sendiri. Bukan hal gampang mendaftar diri jadi anak durhaka. Afisa harus menahan diri beri kesempatan pada Alvan.
Sejujurnya Afisa menemukan pancaran tulus dari mata Alvan tapi Oma mereka kurang waras cari kesalahan cucu sampai cucu tak diberi ruang untuk bernafas.
"Iya ko... Cece tunggu kiprah Papi terhadap kita. Cece bukan orang tidak punya akal sehat menekan orang sampai tak sanggup berdiri. Papa dan Mama selalu mengajar Cece agar berhati lapang tetapi Oma kita tak pantas menerima rasa sayang di hati kita."
"Oma ya Oma...papi kita punya! Amei tidak peduli bagaimana sikap Oma yang penting kita mempunyai Papi yang baik." Afifa tidak mundur membela papinya.
"Iya Amei sayang...kamu terlalu bangga pada papimu! Cece hanya doakan semoga papimu bisa diandalkan." Afisa menepuk pipi Afifa yang manyun Afisa tidak suka pada papinya. Dilihat dari sikap Afisa yang tak ramah pantas Alvan selalu lupa punya anak Afisa.
"Papi itu orangnya sangat baik dan penyayang. Pokoknya Amei tidak mau koko dan Cece menyakiti hati Papi."
"Iya...iya .." Afisa mengalah agar mood Afifa tidak memburuk. Afisa adalah kakak yang harus mengalah pada adiknya. Seorang kakak wajib menjaga adik walau hanya perasaan.
Andi dan Tokcer kagum pada cara Azzam dan Afisa berunding menangani masalah. Ketiga anak itu persis orang dewasa bermusyawarah mencari jalan keluar untuk hindari kemelut panjang. Puji syukur pada Ilahi Citra dikaruniakan anak-anak yang sangat pintar.
Mobil terus melaju mendekati tempat tinggal baru Azzam dan Afifa. Afisa terkagum-kagum melihat rumah yang bakal mereka tempati. Di Beijing sana mereka hanya tinggal di apartemen yang tidak terlalu luas. Rumah-rumah mewah hanya diperuntukkan untuk mereka yang benar-benar kaya. Keluarga Chen hanyalah dari golongan menengah ke bawah. Tidak kaya namun takkan kelaparan.
Mata Afisa berputar-putar mengitari rumah yang dominan warna putih itu. Afisa tahu kalau rumah itu dibuat sesuai dengan keinginan maminya yang menyenangi warna putih.
Tokcer dan Andi berkewajiban mengantar ketiga anak itu kepada orang yang berhak. Kehadiran mereka telah ditunggu oleh anak Heru yang bernama Gibran. Anak lajang itu sudah tidak sabar ingin jumpa dengan Afisa yang menurutnya lebih atau dibanggakan sebagai keponakan. Tinggal di luar negeri mengukir prestasi pula.
Gibran menanti ketiga anak itu di teras sambil main ponsel. Suara klakson mobil menyadarkan lajang itu kalau orang yang dinanti telah tiba. Gibran kontak berdiri berharap dapat surprise sesuai harapan.
Pertama Azzam keluar dari mobil disusul Afifa dan terakhir Afisa. Gibran tersenyum senang Afisa sesuai dalam bayangannya. Cantik membiuskan. Kecil-kecil sudah memiliki pesona bikin jantung lelaki berdegup kencang. Bagaimana kalau Afisa dewasa.
"Om Gi...ini Cece!" seru Afifa riang seolah lupa mereka baru saja hadapi konflik.
"Wow.. keponakan om yang keren dan cantik! Ayok masuk!" Gibran berseru ceria dapat keponakan tidak memalukan.
Afisa tersipu malu dapat sambutan hangat. Mengapa mereka tidak langsung ke sini agar terhindar dari bad mood. Kepulangannya ke tanah air tidak sepenuhnya gagal, ada sisi menyenangkan jumpa keluarga maminya.
"Terima kasih...anda Om Gibran?" tanya Afisa memainkan matanya yang indah.
Gibran menepuk dada bangga jadi orang harus dihormati para kurcaci ini. Pangkatnya lebih tinggi setara dengan mami mereka. Jadi otomatis dia harus dihormati.
"Di dunia ini mana ada om sekeren ini? Ayok kita masuk! Oma sudah sediakan makan malam lezat untuk sambut kalian. Mau jumpa Oma?" Gibran menggandeng Afifa di keponakan favorit. Kecil mungil mendatangkan rasa sayang di hati.
"Mau dong!" sahut Afisa terbawa arus riang dari Gibran.
Keempat anak tanggung itu masuk mencari Oma mereka. Andi dan Tokcer mengurut dada lega lihat ketiga anak bos mereka ceria lagi.
Ini murni keegoisan Bu Dewi. Terlalu dominan ingin jadi ibu suri tanpa mahkota. Bu Dewi anggap anak-anak Citra akan tunduk dengar hidup mewah di istana Alvan. Nenek tua itu tak tahu ada belahan lain tawarkan kehangatan keluarga tenteram.
"Kita tunggu di luar saja! Hati gue capek sport dari tadi. Untung gue tak ada riwayat sakit jantung." ajak Andi pada Tokcer.
"Tenang ..ntar kupinjam jantung unta untuk lhu! Kuat dan tahan banting." guyon Tokcer tak kalah lega dari Andi.
Keduanya memilih duduk di teras yang nyaman. Hembusan angin sepoi-sepoi basah menenang jiwa yang baru jeda dari medan perang keluarga.
"Andai Bonar tahu kejadian hari ini pasti akan nangis untuk pak Alvan."
"Bonar...gimana ya keadaan si Batak itu? Lama tak sempat ngasih kabar."
__ADS_1
"Dia kerasan kok! Sekarang dia paling ditakuti di gudang! Tak ada yang berani dengannya."
Andi tertawa kalau masih ada yang takut Bonar. Tampang Rambo hati Cinderella.
"Draft gaji kita sudah keluar! Senin nanti kita gajian."
"Wah...asyik...gaji pertama dalam hidup gue sebagai karyawan tetap. Ada bocoran?"
"Emang lhu tak pernah digaji? Dasar norak?"
"Ya ampun... itu kan gaji freelance. Beda dong dengan gaji pegawai tetap di perusahaan. Emang berapa gaji gue?"
"Gaji lhu lima Jeti bonus tiga Jeti. Total delapan Jeti."
"Alhamdulillah....banyak amat! Gue bakal beli kerupuk udang satu bakul untuk emak! Dia kan suka kerupuk udang." seru Tokcer tak sangka dapat gaji lumayan pertama kali. Bisa cepat kaya kalau begini terus.
"Katanya mau umrohkan emak! Kok jadi kerupuk? Mau korupsi janji ya?"
Tokcer goyang tangan menolak bayangan Andi. Kerupuk tetap beli, rencana umroh maju terus. Niat suci harus terlaksana.
"Bonar gajinya berapa?"
Andi tidak segera jawab takut ada timbul kesenjangan rasa iri. Bonar tugasnya lebih berat karena harus waspada dua puluh empat jam. Hadapi orang-orang berotak bebal pula. Di sana rata pekerja kasar tak berpendidikan. Otot yang kerja bukan otak.
"Tugas Bonar sangat berat bro! Gajinya melebihi kita."
"Berapa kali lipat?"
"Lipat apa? Lipat ketupat? Tunggu lebaran." gurau Andi tak ingin bocorkan rahasia gaji Bonar yang dua kali lipat dari Tokcer.
Andi tertawa bersyukur dapat teman tulus. Sudah jarang ada teman setia senang lihat teman bahagia. Banyak kejadian teman makan teman. Semoga saja tidak terjadi di antara mereka. Jangan karena rasa iri merusak jalinan persahabatan yang telah berjalan bertahun-tahun.
"Aku kenal lhu bro! Kalau benar dapat liburan kita hangout bersama. Kita ajak Koko ikut bersama kita."
"Afifa gimana?"
"Kalau Afifa gue nggak berani! Harus ada izin Kak Citra dan Pak Alvan. Afifa itu kan buah hatinya Pak Alvan. Salah-salah kita bisa di sate sama Pak Alvan."
"Iya juga ..kita lihat nanti!"
Kedua konco melanjutkan obrolan ke angan mereka setelah gajian. Tujuan utama adalah sisihkan uang untuk umrohkan emak mereka. Kalau mereka hemat beberapa bulan ke depan Bu Menik dan Emak Tokcer bisa laksanakan haji kecil alias umroh. Harapan semua umat muslim di dunia ini.
Di dalam rumah Bu Sobirin tak henti memanjatkan doa puji syukur kepada yang maha kuasa telah dipertemukan dengan cucu dan cicitnya. Anak-anak Citra sangat luar biasa. Baik dan sopan. Cara Afisa bicara dengan Bu Sobirin sangat beda dengan Bu Dewi.
Afisa sangat hargai Bu Sobirin yang memandang penuh cinta pada cicitnya. Pandangan mata itu lembut meresap ke kalbu Afisa. Pantas Azzam memintanya bersabar jumpai keluarganya dulu baru ambil keputusan pulang ke Singapura.
Kini mereka duduk santai di tepi kolam di temani Snack dan jus jeruk. Bu Sobirin dan Gibran luangkan waktu temani ketiga anak itu sebelum Afisa balik ke Singapura untuk ikut kejuaraan senam.
Wajah Afisa berseri-seri jumpa keluarga ramah dari pihak maminya. Afisa betah berada di tempat barunya. Gibran dan Azzam mandi di kolam tinggalkan tiga wanita beda generasi ngobrol di tepi kolam renang.
"Afisa cantik mirip srikandi sedang Afifa cantik mirip bidadari dari surga. Aku ini Om paling beruntung punya keponakan cantik-cantik." ujar Gibran merasa nikmatnya jadi Om.
Azzam tertawa kecil biarkan Gibran merasakan kebanggaan menjadi om dari adik-adiknya. Jangankan Gibran, Azzam sendiri merasa bangga memiliki adik seperti Afifa dan Afisa.
__ADS_1
Gibran berenang jauhi Azzam untuk melihat keponakannya lebih jelas. Afisa sangat bening dengan kulit putih. Afifa putih tapi tak seputih Afisa yang mirip manusia salju. Apa menetap di Tiongkok menghilangkan pigmen sawo matang Afisa?
"Andai aku bisa lindungi kedua keponakan aku? Betapa sempurna hidupku!"
"Lusa Afisa balik Singapura untuk bergabung dengan timnya ikut kejuaraan di sana." cerita Azzam berenang dekati Gibran agar enak ngobrol.
"Baru datang sudah mau pergi! Kau akan ke sana?"
"Ya tak bisa...sekolah gimana? Bukankah kita sudah mau ujian?"
"Kau benar...kapan kita libur di sana? Kita bisa main sepuasnya dengan Afisa."
Azzam mengepak kaki ciptakan gelombang air percik ke wajah Gibran. Gibran membalas dengan ayunan tangan sehingga terjadi perang air dalam kolam.
Kegembiraan Gibran dan Azzam mengundang perhatian para cewek beda umur. Mereka ikut gembira saksikan moments indah kebersamaan tanpa konflik. Afisa abadikan moments ini lewat kamera ponsel agar bisa dibawa pulang ke Beijing.
Puas bermain ketiga anak itu diajak tidur siang oleh Oma Uyut yang baik hati. Sebelumnya Oma Uyut ajak Afisa lihat calon kamar Afisa agar dapat diatur sesuai keinginan Afisa. Afisa minta warna putih kayak warna kesukaan Citra.
Kamar itu hanya dibuat tapi penghuninya ntah kapan datang tempati kamar itu. Datang sekali ini ntah kapan Afisa akan balik sini. Afisa sudah bulatkan hati tinggal di Beijing bersama orang tua angkatnya.
Citra pulang setelah anak-anak tidur siang. Kehadiran Citra disambut Bu Sobirin. Wanita tua ini berseri-seri telah jumpa cicitnya yang kontoversi. Memang persis yang diomongkan. Sudah pintar dan cantik pula. Bicaranya sopan hargai Bu Sobirin.
"Sudah pulang nak? Lelah ya?" Bu Sobirin menggandeng Citra mendudukkan cucunya di sofa.
Citra menggeleng terharu pada ketulusan Omanya. Sungguh berbeda dengan Bu Dewi yang dengki. Kadang Citra patah semangat untuk lanjutkan hidup dengan Alvan. Namun Alvan juga tak bersalah. Citra harus dilema dihadapkan dua pilihan.
"Tadi mertua Citra mendadak Anfal. Hipertensi..."
Bu Sobirin perlihatkan mimik kaget. Hipertensi tinggi bukan penyakit main-main. Dibiarkan bisa picu stroke berat.
"Ya Allah...gimana kondisinya?"
"Alhamdulillah sudah mendingan. Sebelumnya beliau batu saja stroke ringan. Citra takut dapat serangan kedua. Ini sangat fatal. Seumur Oma hindari makan makanan berlemak dan kurangi garam. Terpenting harus happy."
"Happy dong! Siapa tak senang sudah punya cicit. Oma masih muda sudah punya cicit. Kalah teman Oma." Bu Sobirin tertawa bangga. Rasanya ingin undang teman sosialita untuk pamer cucu dan cicit sejuta cinta.
"Iya...omaku masih awet muda. Uyut paling cantik sedunia." Citra tak segan memeluk Bu Sobirin. Bu Sobirin perderas tawanya.
Tawa lepas tanpa terselip rasa iri dengki semarakkan rumah baru Citra. Kalau sudah begini tidak terpikir oleh Citra untuk ingat ada keluarga lain dari pihak Alvan. Untuk apa punya keluarga hatinya sirik melulu.
Alvan yang baru masuk tertegun dengar tawa Citra dan Bu Sobirin. Tawa itu lepas tanpa beban. Tawa yang seharusnya menjadi trademark satu keluarga utuh. Tak urung Alvan iri melihat Citra akrab dengan Perkasa.
"Assalamualaikum..." sapa Alvan tak enak nyelonong gitu saja. Salam tetap harus di depan sebagai makhluk berakal.
"Waalaikumsalam...sudah datang nak Alvan! Ayok duduk! Mau minum apa biar Oma minta bibik bikinkan." Bu Sobirin bangkit sambut cucu mantunya.
"Tidak usah repot Oma..mana anak-anak?" Alvan tak menemukan ketiga buah hatinya.
"Oma suruh tidur setelah berenang tadi. Biar saja istirahat! Sebentar lagi seluruh sanak saudara kita akan kumpul untuk kenalan sama pewaris baru Perkasa." kata Bu Sobirin sambil ketawa manis.
"Kok merepotkan yang lain Oma..bukankah cukup kita saja yang makan malam bersama." kata Citra jengah Bu Sobirin melibatkan banyak sanak saudara untuk sambut Citra.
Bu Sobirin hanya ingin mengenalkan Citra pada keluarga besar mereka. Bu Sobirin tentu mau banggakan cicit-cicitnya yang berpotensi. Umur belum enam puluh sudah dapat cicit. Bukankah prestasi gemilang? Di jaman ini jarang dapat cicit di usia belum tua amat. Usia Bu Sobirin paling lima puluh lebih tapi susah bergelar Oma Uyut.
__ADS_1
"Tak bisa dong! Opa bahkan rencana bikin pesta untuk kenalkan kamu pada relasi. Kau harus terbiasa hidup di bawah sorotan publik. Apa lagi kalau tersiar kau adalah istri Alvan. Oma yakin hidupmu takkan tenang."
"Kalau gitu jangan diumumkan! Citra seorang dokter bukan selebriti. Kasihan pasien Citra bila hidup Citra dikekang publik. Citra tak bisa melangkah. Biarlah begini saja! Citra sudah puas begini." tukas Citra tak mau hidup di bayangi incaran media.