ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Daniel Cemburu


__ADS_3

Assalamualaikum...untuk menjawab pertanyaan mengapa bab novelku dipangkas jadi satu bab adalah karena aku pulang kampung. Dari kota ke kampung jarak tempuh 12 jam. Di tengah perjalanan aku usahakan satu bab agar pembaca aku tidak vakum. Mohon rasa maklum.


Kami orang kecil belum mampu beli yang bersayap maka harus puas dengan si roda bulat.


Andaikata selama ini ada kata maupun kalimat tidak berkenan di hati pembaca mohon dimaafkan. Yang kukarang hanyalah fiksi imajinasi. Tidak ada di alam nyata. Terima kasih sekali lagi dukungan pembaca setiaku. Tetap dukung aku beri like, komen dan vote. Love you all.


😍😍♥️♥️💞💕♥️♥️🥰🥰


Alvan maju jalan tanpa peduli pada orang iseng yang suka bikin onar. Di dunia ini siapa lagi suka isengi Alvan kalau bukan seniman gagal pemilik cafe.


Alvan mendengar suara sepatu mengejar langkahnya. Derap langkah kasar dan derap sepatu hak tinggi. Suara sepatu belakang membuat Alvan hentikan langkah.


Alvan hentikan langkah secara mendadak membuat orang yang kejar dia menabrak Alvan dari belakang. Ternyata sepatu Daniel belum pasang rem pakem. Tidak efektif diajak lari cepat.


Alvan tertawa lihat Daniel mengusap hidungnya yang kesakitan gara menabrak tubuh besar Alvan. Di belakang Daniel menyembul satu raut wajah gadis muda. Wajah itu sangat manis mirip paduan Asia dan Barat. Rambutnya sedikit pirang kecoklatan. Mata coklat muda. Ntah mata asli atau pakai softlens. Gadis sekarang kan suka pasang softlens agar tampil beda. Padahal itu sangat berbahaya. Kalau lagi sial bisa terjangkit infeksi bila tangan tidak steril waktu pasang softlens.


Sangat tidak dianjurkan kalau hanya untuk menunjang penampilan. Tapi kalau mata memang minus ya apa boleh buat.


"Sialan lhu raksasa! Punya tubuh dikecilin dikit napa?" rutuk Daniel masih meraba hidungnya. Mana tahu sangkut di tubuh Alvan. Itu satu-satunya hidung buat hirup oksigen. Kayaknya belum diperjual belikan.


"Jalan pake mata! Jalan kok pake hidung!"


"Gue sumpahi lhu pilek sepuluh tahun. Biar bocor hidung lhu!"


"Sumpah orang sirik tidak dijabarkan Allah! Bilang sepuluh menit tiba. Ini sudah berapa puluh kali dari sepuluh menit." Alvan menyodorkan jam melingkar di pergelangan tangan ke hidung Daniel.


"Lhu ini tolol atau bodoh! Tadi gue lihat seluruh anggota Perkasa di depan. Gue gabung situ nungguin lhu muncul! Lhu pikir otak gue kena banjir bandang tak paham situasi?" Daniel mengerling kesal pada Alvan. Dia sudah datang dari tadi tak berani ganggu Alvan.


Yang lebih berkepentingan berada di luar. Mana mungkin dia sok penting nyelonong usik Alvan.


"Lhu sudah lama di sini?"


"Ya sudah! Saking panas tempat duduk gue ceplok telur masak jadi telor mata sapi." sungut Daniel belum puas merepeti Alvan.


"Sori bro! Otak dikit hangat! Eh..tidak mau kenalkan gadis lhu?" bisik Alvan di kuping Daniel.


"Lhu suka ngak? Kita tukeran yok! Gue kasih Natasha buat lhu! Lhu serahkan Citra. Impas kita!" kata Daniel mesum.


Alvan hadiahkan towelan di kepala Daniel jengkel pada ide sinting laki itu. Emang Citra dan Natasha barang boleh dibarter?


"Pulang aja lhu! Otakmu masuk angin! Pulang dan kerokin! Dibiarkan bisa kena kanker otak lhu!"


"Huusss amit-amit...kualat doain jelek teman sendiri! Ayok kenalan dulu sama Natasha! Kali aja lhu kesengsem." Daniel menyeret Alvan dekati Natasha yang kalem menunggu kedua pria sinting itu diskusi.


"Hai ..kamu Natasha calon bini Daniel?" sapa Alvan kontan bikin Natasha tersenyum manis.


"Aku Natasha..."


"Alvan...teman Daniel! Senang jumpa. Selama ini hanya dengar cerita belum jumpa orangnya. Nyatanya cantik seperti cerita Daniel." Alvan mengarang cerita bebas. Padahal Daniel tidak pernah puji Natasha cantik. Natasha akan semakin ge er mengira Daniel suka padanya.


"Oh...Daniel suka cerita aku ya! Pasti cerita jelek aku."


"Oh tidak...dia malah senang kamu datang jadi teman ngobrol. Masih kuliah?"


"Baru saja tamat di hukum."

__ADS_1


"Wah pengacara atau calon hakim! Kalau ada laki bejat kamu penjarakan saja apalagi yang suka pada istri orang. Laki kayak gitu harus di kebiri secara kimia."


Mata Daniel membesar menyerupai mata sapi. Melotot ingin habiskan Alvan yang super ngawur. Makin ke depan omongan Alvan makin ngelantur. Niat amat merusak pasaran Daniel.


"Nat...jangan ambil di hati ya! Alvan ini mantan penghuni rumah sakit jiwa. Baru sembuh dikit. Belum waras sepenuhnya."


Mata coklat Natasha terbelalak besar. Gadis ini tak percaya orang seganteng Alvan mantan orang sakit jiwa. Tidak tampak sedikitpun Alvan ada gangguan di kejiwaan. Bahkan laki itu berkharisma.


"Ganteng-ganteng kurang waras ya? Kasihan.." keluh Natasha iba pada Alvan. Natasha sangat menyayangkan cowok seganteng Alvan punya kelainan jiwa.


Giliran Daniel tertawa ngakak berhasil jatuhkan pasaran Alvan. Satu sama point alias seri.


Alvan mendesah malu Natasha percaya pada bualan Daniel. Dilihat dari ciri-ciri Natasha sebagai gadis polos pasti akan anggap bualan Daniel itu kenyataan. Habis sudah harga diri bos Lingga. Dianggap ODGJ oleh Natasha.


"Memang kasihan Nat! Maukah kau beri perhatian lebih pada sahabatku ini? Ikuti dia ke mana pergi! Lindungi dia!" kata Daniel dengan suara sesedih mungkin.


"Apa Alvannya mau? Tapi aku sukanya ke kamu. Aku tak bisa dekat dengan laki lain. Alvan memang ganteng tapi aku cintanya ke kamu Dan!" ujar Natasha terus terang bikin Alvan lega.


Natasha bidadari patut diacungi jempol. Sekali cinta selamanya tak berubah. Tak peduli Daniel gimana cintanya tetap menyala panas.


"Kalian pasangan cocok. Aku doakan semoga naik pelaminan! Punya selusin anak biar bisa bentuk kesebelasan sepak bola."


"Wow...benarkah? Aku suka itu! Semoga jadi ya!"


"Amin..."


"Dasar songong..." omel Daniel tak suka Natasha makin tergila padanya. Seribu cara hindari Natasha agar gadis itu mati rasa padanya. Datang si Alvan bego malah kasih semangat. Daniel makin tak bisa lepas dari gadis ini.


"Ayok kita ngobrol di atas! Mama aku sedang dioperasi oleh Citra." Alvan bawa suasana penuh canda ke suasana serius.


"Belum tahu...Citra sedang berusaha."


"Citra memang the best! I love you Citra!" Daniel mendekap dada seolah Citra berada di dalam dada laki ini. Sumpah mati Alvan jijik dengan tingkah Daniel ekspresi rasa suka pada isterinya. Kalau bukan berada di rumah sakit rasanya tidak segan hadiahkan tinju maut ke hidung yang baru jadi korban tabrakan.


"Siapa Citra?" tanya Natasha cemburu Daniel tak malu ungkap cinta pada Citra. Seperti apa wanita idola Daniel.


"Jangan kamu dengar orang gila ini! Citra itu isteri aku! Dianya tak tahu malu asyik kejar isteri aku."


Natasha mangut menarik nafas lega. Daniel boleh jatuh cinta sejuta kali pada Citra tapi takkan mengubah fakta itu milik orang lain.


"Oh... isteri kamu pasti cantik!"


"Sangat cantik..kami sudah punya tiga anak! Jadi tak usah kuatir lakimu akan lari ke Citra. Nanti kita bawa ke dukun jampi-jampi dia biar sadar. Ok?"


"Ok..." Natasha tertawa senang ancaman kehilangan Daniel mengecil. Wanita pujaan Daniel punyaan teman sendiri. Mana mungkin Daniel tega rebut istri teman.


"Kalian berdua kualat permainkan perasaan cintaku! Cinta aku tulus pada Citra." Daniel pura-pura marah pada Alvan dan Natasha. Daniel bukannya tak tahu jalan menuju ke Citra buntu total. Daniel cuma senang kacaukan mood Alvan untuk hiburan semata.


"Cinta Yang salah tempat bro! Seharusnya cinta lhu letakkan di dalam dada Natasha. Dia cocok untuk lhu! Ya kan Nat?"


"Betul...kita cocok..." seru Natasha semangat dapat dukungan Alvan.


"Masih bau susu...anak kencur gitu! Udah ach...gue mau jumpa yayang Citra dulu." Daniel melengos duluan jalan tinggalkan Alvan dan Natasha yang tersenyum simpul. Playboy tobatan macam Daniel tak susah diurus. Asal Natasha tidak putus asa pasti akan berhasil rebut cinta Daniel.


"Kamu jangan ambil hati ya! Dia orang memang gitu tapi setia kok! Dia tak pernah serius pada cewek. Banyak cewek suka padanya tapi dia cuek. Kamulah orang paling lama bertahan di samping Daniel. Semangat!"

__ADS_1


Natasha angguk setuju. Natasha takkan putus asa merebut cinta Daniel walau jarak usia mereka cukup jauh. Natasha tak peduli seberapa tua Daniel. Yang penting dia suka.


Alvan dan Natasha ngobrol sambil berjalan menuju ke ruang operasi Bu Dewi. Mereka hanya boleh menanti di luar ruang karena hanya dokter dan para pembantu dokter diijinkan masuk ke ruang operasi.


Daniel duluan sampai di sana menatap Alvan dan Natasha dengan tatapan menuduh. Dia telah lama tiba di sana mengapa dua makhluk beda jenis ini tiba selang waktu cukup lama. Apa yang dikerjakan Alvan dan Natasha dalam perjalanan ke ruang operasi?


"Kalian sedang berencana menikah dalam waktu dekat ini?" tanya Daniel tepatnya menuduh.


"Iya...mau minta doa restu Citra jadikan Natasha istri muda. Dia mau kok!" guyon Alvan dibalas tinju di lengan Alvan oleh Daniel.


"Enak aja...lhu nikahi Natasha aja! Citra buat gue."


"Emang Citra mau? Nggak usah mimpi pacari Citra. Kamu bisa lewat disembur Azzam pakai racun. Aku punya pasukan berani mati lindungi nyokap mereka. Playboy cap badak model lhu remuk dibantai pasukan gue." ejek Alvan bikin nafas Daniel sesak.


"Lhu mau jadi bini muda laki gocap ini? Lhu katarak ya?" ujar Daniel pada Natasha.


"Lumayan dari pada ditolak kamu terusan. Jadi istri kedua juga tak apa." sahut Natasha santai bikin Daniel keki.


"Bini kedua? Ketiga tau...laki ini sudah punya dua bini! Satu malaikat dan satunya nek lampir. Kamu mau dijuluki apa? Kuntilanak?" kata Daniel sewot Natasha sudah berpihak pada Alvan. Alvan memang cowok sejuta pesona. Ganteng, kaya dan gagah. Di mana kekurangan Alvan?


"Aku akan jadi bidadari di hati Alvan biar setara dengan malaikat. Ogah jadi Kunti!"


"Ya sudah..kamu jadi peri tercantik saja! Citra pasti terima kamu kok! Citra itu orangnya legowo. Mau terima madu asal aku bahagia." kata Alvan melirik Daniel yang mukanya berubah kecut.


"Nyesel gue ajak Natasha ke sini! Apa kata saudara gue kalau anaknya kepincut laki beristeri segudang. Ayok pulang!" Daniel menarik Natasha untuk pergi.


"Terlambat bro! Kami sudah kenalan kok! Natasha tak mau pulang ke Amerika minta gue nikahi biar bisa di tanah air. Gue terima tantangan ini."


"Lhu buaya buntung tak tahu malu. Anak sudah remaja masih mikir bini muda. Ngak malu sama umur bro?"


"Lho? Natasha rela kok! Ya kan Nat?"


"Sudah...kalau kau mau jadi warga Indonesia biar gue Kawini lhu! Jangan sampai terjebak sama buaya tua ini! Besok kita nikah." Daniel berkata dengan gaya pede nikahi cewek Amerika yang kayanya nyusahin dia. Giliran Natasha minta lindungi Alvan, dia sewot.


Natasha bersorak girang berhamburan ke pelukan Daniel. Suara Natasha memang mengganggu kegiatan dalam ruang operasi. Namun mungkin terdengar hanya sedikit karena ruang operasi tertutup rapat. Bahkan mungkin kedap suara.


Alvan terhibur di antara kegalauan. Akhirnya Daniel kena pancingan sandiwaranya. Padahal keduanya tidak berencana berakting. Semua mengalir begitu saja. Daniel ternyata menyimpan rasa suka pada gadis muda ini. Jarak usia cukup jauh membuat Daniel ragu melangkah ke depan bersama Natasha.


"Selamat ya Bro! Senang kan dapat daun muda? Segar lagi!" Alvan menyalami Daniel yang sedikit malu kena pancingan sandiwara Alvan.


"Sialan lhu jebak gue! Kirain benar lhu mau bantu Natasha dapat KTP Indonesia!" Daniel meninju Alvan pelan. Alvan tidak menghindar biar Daniel lupakan rasa lega berani ambil sikap.


"Gue masih waras walau lagi punya sejuta masalah. Kau pikir Azzam bakal tinggal diam? Bisa diumpan ke ikan piranha oleh Azzam. Belum lagi Afisa. Anak itu lebih sadis dari Azzam. Keras tak mau ngalah." Alvan bercerita tentang Afisa yang terlalu keras.


"Nasib lhu bro! Cetak anak kelebihan gizi! Ntar besok cetak yang biasa saja. Sesuai standard saja! Gue aja ngeri bicara sama Azzam. Andai Afisa lebih tajam lagi gue menyerah deh!"


"Nat...silahkan duduk! Capek berdiri kan? Bersiaplah simpan energi jadi pengantin Daniel!"


Natasha hanya tersenyum tanggapi gurauan Alvan. Jauh di lubuk hati Natasha bersyukur akhirnya Daniel menyerah bersedia nikahi dia. Ini berkat kepiawaian Alvan iring Daniel ke sandiwara tanpa sutradara. Sandiwara spontan.


Daniel mengajak Natasha duduk di bangku stainless. Letaknya agak jauh dari pintu ruang operasi. Bangku itu sengaja diletakkan jauh agar suara berisik pengunjung tidak ganggu kegiatan operasi.


Alvan tahu diri ambil tempat berjarak dari Daniel. Alvan bukan laki bodoh tak tahu Daniel menyimpan rasa cemburu pada bila ada yang dekat Natasha. Mulut bilang tak suka tapi tingkah jelas lukis aku sedang cemburu. Gitulah huruf terlukis di raut wajah Daniel.


"Dan...lhu jangan jilat ludah sendiri ya! Nikah jangan besok tapi tunggu mamaku sehat dikit. Biar kami jadi kerabat sebelah kamu."

__ADS_1


"Iya...emang lhu pikir otak gue kena soda api? Otak ini masih berfungsi baik. Lhu aja yang kebablasan lihat kerikil sungai jadi intan! Intan asli lhu campakkan!" omel Daniel ingatkan Alvan soal Karin.


__ADS_2