ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Tantangan


__ADS_3

Tantangan baru buat Alvan. Buat satu proposal proyek besar tidak sesulit menjadi imam buat keluarga. Bertahun Alvan hidup buta agama, hanya tahu agamanya Islam namun melaksanakan kewajibannya sebagai umat Islam nol sama sekali.


"Pak.." Citra merasakan keraguan Alvan.


"Aku...." Alvan makin gugup lihat senyum Citra. Senyum tulus Citra terasa seperti ejekan di mata Alvan. Citra sedang merendahkan sisi gelap Alvan selaku orang tua. Alvan makin tak pantas sandang predikat orang tua dari tiga anak kembar.


"Ambil air wudhu! Tahu kamar mandi di mana kan?" ucap Citra santun tanpa nada sinis. Semua hanya perasaan Alvan menutupi rasa bersalah jauh dari agama. Pantas Allah beri ujian sangat berat agar Alvan sadar betapa pentingnya beribadah sesuai agama.


Dengan hati berat Alvan laksanakan permintaan Citra. Alvan tak bisa mundur lagi dari kewajiban pagi ini. Terlanjur masuk ke dalam perangkap Citra. Niat tukang tangkap baik supaya Alvan menyadari kesalahan murtad dari agama yang dianut.


Semua sudah menanti Alvan melaksanakan sholat berjamaah sekeluarga. Alvan kelihatan ragu memimpin sholat pertama di keluarga. Semua hafalan ayat telah pupus dari ingatan. Udara dingin tak berpengaruh pada Alvan. Terbukti dari dahi keluar keringat dingin takut ada kesalahan.


"Apa perlu Koko jadi imam?" sindir Azzam kena telak di jantung Alvan.


"Papi bisa walau mungkin ada kesalahan." Alvan akui kekurangannya agar malu banyak. Azzam mungkin bisa maklumi kekurangan Alvan bila telah berkata jujur. Tak ada guna sok hebat di hadapan anak bermulut kritis itu. Alvan sudah mengaku banyak salah tak ada sela bagi Azzam mengecam nilai keagamaan Alvan.


Alvan berdiri paling depan membaca niat serta takbiratul ihram. Selanjutnya baca doa Iftitah dilanjutkan baca surat Al-fatihah dan baca surat lain. Sholat subuh dua rakaat diselesaikan Alvan susah payah. Menjadi imam di keluarga jauh lebih sulit dari pada memenangkan tender proyek. Punggung Alvan serasa dihujani jutaan jarum tajam. Cenat cenut kena hujaman tatapan sinis Azzam. Alvan memang tak bisa melihat pandangan tak bersahabat Azzam namun feeling Alvan katakan Azzam anggap remeh papi tak bermutu.


Afifa dan Azzam cium tangan Alvan seusai baca doa terakhir. Disusul cium tangan Citra. Alvan ingin Citra mencium tangannya layak keluarga utuh. Namun itu hanya keinginan Alvan yang takkan pernah terwujud. Citra tahu batasan hubungan mereka. Citra tak ingin permalukan diri sendiri anggap Alvan masih suami.


Citra ramah pada Alvan murni karena anak-anak. Sedikitpun tidak terpikir ingin kembali pada lelaki plin plan macam Alvan. Kejadian Karin makin membuka mata Citra siapa Alvan.


Baik selagi membutuhkan. Begitu ada masalah keluar tanduk siap menanduk orang bikin onar. Karin salah satunya. Karin buat Alvan terbelit skandal, otomatis Karin dianggap pembawa bencana. Nasib buruk sedang menanti Karin.


Citra tak mau alami hari buruk macam Karin. Lebih baik hindari penyakit ketimbang sakit kepanjangan.


Azzam dan Afifa menyusun sajadah dan mukena ke tempat yang sudah tersedia khusus untuk peralatan sholat. Citra sengaja istimewa kan tempat itu agar kedua anaknya tahu betapa penting beribadah sebagai umat beragama.


Di luar sana mulai ada aktifitas suara kenderaan serta orang lalu lalang joging ataupun berolahraga ala kadar. Azzam dan Afifa berlomba keluar rumah mencari Andi. Seperti biasa mereka bertiga akan lari pagi keliling komplek untuk menyehatkan badan.


Citra biarkan saja tidak melarang. Sebelum Afifa sakit mereka juga begitu. Seusai sholat rajin olah tubuh biar sehat.


Alvan bengong di ruang tamu tanpa ada yang peduli. Citra sudah masuk ke dapur memasak sarapan. Itu sudah jadi tugas rutin Citra. Melayani anak-anak setulus hati.


Alvan mengantuk di sofa. Tak ada kegiatan lain selain melamun. Bermimpi ingin masuk jadi anggota keluarga Citra bukan perkara gampang. Masih banyak hambatan walau sekarang Alvan telah dapat sedikit akses. Itu belum apa-apa untuk merangkul anak-anak seutuhnya.


Matahari bersinar cerah mengiringi keluarga Citra menjalankan aktifitas. Alvan mengantar anak-anak ke sekolah sementara Citra berangkat bertugas di rumah sakit.


Citra dengan motor maticnya tiba di rumah sakit. Seperti biasa tempat parkir Citra telah tersedia berkat satpam setia Citra. Tak ada orang lain boleh parkiran di situ selain Citra.


Tentu saja satpam itu dapat hadiah senyum manis dari dokter cantik itu. Hati Citra sedang bahagia karena awal pagi yang baik. Azzam maupun Afifa tidak persulit Alvan pagi ini. Kedua anak manis itu patuh ikut Alvan ke sekolah.


Citra melangkah dengan langkah ringan menuju ke tempat dia praktek. Perawat yang bertugas mencatat daftar pasien sudah stand by di tempat. Di dalam ada perawat lain khusus membantu Citra mengurus pasien. Kerja sama dokter dan perawat dibutuhkan agar tercipta hasil maksimal.


Perawat tukang catat menyambut kehadiran Citra dengan sopan. Wajahnya ceria sebagaimana dokternya.


"Selamat pagi dok!" sapa Fitri cerah.

__ADS_1


"Pagi...sudah ada yang daftar?"


"Ada tiga pasien. Di dalam ada kak Nadine. Dia sudah ditarik untuk bantu Bu dokter." cerita Fitri semangat. Nadine perawat senior dengan jam terbang lebih dari enam tahun. Kinerja Nadine tak usah diragukan.


Wajah Citra kontan ceria dapat perawat kelas kakap. Nadine sudah sangat ngerti soal pengobatan. Tak perlu Citra arahkan lagi sudah ngerti apa yang harus dilakukan seorang perawat. Citra bersyukur Nadine di pindahkan ke bagiannya. Tak usah ditanya Citra tahu ini pasti ulah Alvan. Alvan tahu Citra dekat dengan Nadine.


Citra segera masuk ruang prakteknya. Citra tak sabar ingin beri ucapan selamat bergabung pada Nadine.


Nadine sudah bereskan semua peralatan medis Citra. Citra tinggal pakai apa yang perlu digunakan. Di mata Citra perawat senior itu makin glowing walau umur tak muda lagi.


"Selamat pagi Bu dokter cantik!" sapa Nadine mengulum senyum menggoda Citra.


Citra menyimpan tas di bawah meja sebelum menjawab. Dari laci Citra keluarkan foto Azzam Afifa dan Afisa sedang main salju di lapangan terbuka. Ketiga anak itu tertawa ceria mengenakan pakaian musim di gin yang tebal. Merekalah pelita Citra.


"Peluk aku!" pinta Citra setelah merapikan meja kerja.


Nadine dengan senang hati penuhi permintaan Citra. Bisa bekerja sama menyembuhkan pasien merupakan harapan Citra maupun Nadine. Cuma Citra tak sangka Nadine bisa ditarik bantu dia.


"Terima kasih sudah datang!" Citra pura-pura ingin cium Nadine dengan gaya lebay. Nadine tertawa ngakak ikut senang.


"Ini berkat papi Afifa! Aku juga mau terima kasih telah beri Andi pekerjaan. Anak itu semangat banget."


"Alvan ada cerita kalau Andi bekerja dengan baik. Pangkatnya lumayan lho! Asisten sekretaris Alvan."


"Apa saja jadi asal jangan membusuk di rumah! Semoga dia takut pada papi Afifa dan berubah." Nadine punya harapan Andi tinggalkan gaya kebancian yang paling dia benci.


Nadine bukannya marah malah cekikan. Citra melepaskan pelukan biarkan Nadine bergerak bebas. Berpelukan gitu bisa datangkan rumor negatif bila terlihat orang lain. Orang tak tahu betapa dalam persahabatan dua tetangga itu.


Citra memberi kode pada Nadine untuk mulai panggil pasien pertama. Jam di dinding tepat jam delapan pagi. Waktunya bertugas.


Nadine membuka pintu beri tanda pada Fitri untuk panggil pasien pertama. Nadine masuk ke dalam menanti pasien pertama masuk. Biasa Nadine merawat pasien rawat inap. Tugasnya lebih berat dari pada membantu Citra di ruang praktek. Bagi Nadine semua itu sama karena itu pengabdian seorang medis.


"Pak Heru..." seru Nadine tanpa sadar setelah pasien masuk.


Citra mengangkat kepala dengar nama yang tak asing lagi di kuping. Janjinya Minggu depan baru datang cek up kok baru selang satu hari sudah datang. Datang paling pagi pula. Pasien ini harus direkom ke dokter ahli jiwa.


Bukan syaraf tangan yang bermasalah tapi syaraf di otak. Citra menggeram dalam hati kesal bukan main pada pasien songong ini. Kapan dia akan selesai ganggu Citra.


Laki bertampang dewa Yunani itu duduk santai di depan Citra tanpa berkata. Hanya matanya menatap lurus ke manik mata Citra ntah mencari apa di situ. Citra perbesar mata melototi kelakuan Heru yang kurang sopan.


Nadine bingung menyaksikan Heru dan Citra saling menatap seperti sedang perang bola mata. Perang tanpa gawang itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya Citra mengalah.


Citra yang waras harus mengalah pada orang kurang satu syaraf di otak. Pasien lain masih menunggu. Kalau diladeni sampai tengah malam juga takkan kelar.


"Ada keluhan apa?" tanya Citra dingin.


"Banyak dokter sayang.. semalam tak bisa tidur terbayang wajah Bu dokter! Apa ada obatnya?" tanya Heru serius tanpa senyum.

__ADS_1


Nadine menutup mulut ingin ketawa tapi tak berani karena lihat wajah Citra memerah. Bisa dibayangkan rasa kesal Citra pagi-pagi dapat pasien aneh bin ajaib.


"Ada pak! Rendam kepala bapak di akuarium. Rendam lima jam. Pasti sembuh!" sahut Citra kalem berusaha menahan emosi. Habis sudah mood indah yang terbangun dari pagi tadi. Pasien pertama sudah pancing emosi Citra.


"Akuarium aku isinya piranha. Aku masih sayang wajahku yang ganteng. Gimana kalau Bu dokter jadi dokter pribadiku. Rawat aku di rumah sampai sembuh." Heru menawarkan pekerjaan menggigit kuping Citra. Pedih sampai ke gendang dalam.


"Maaf pak Heru...aku ini dokter semua orang! Apa sih mau bapak? Di luar masih menanti pasien lain. Mungkin nyawa mereka dalam bahaya. Bapak ke sini buat rusuh."


"Eiittt...aku ini juga pasien! Aku datang konsultasi tentang penyakit aku! Tanganku masih perih kalau digerakkan. Kalau diregang terasa sakit."


Kalau ada palu Godam ingin rasanya Citra hantam kepala pasien songong itu. Luka di tangannya masih dalam proses penyembuhan. Digerakkan tentu masih perih apalagi dibuat regangan. Itu membahayakan syaraf yang baru dioperasi. Bisa-bisa terluka di dalam.


"Pak...bukankah sudah kubilang jangan banyak gerak dulu! Kok bandel? Mari kuperiksa! Ulur tangan!" ketus Citra mulai tak ramah.


"Apa tak berbaring?"


"Yang sakit tangan pak! Ngapain baring?"


"Oh!" sahut Heru dengan muka lugu. Kalau bukan di rumah sakit ingin sekali Citra dempul mata elang Heru biar tidak liar menatapnya. Sumpah disambar geledek Citra risih jumpa pasien segila ini.


Citra membuka balutan luka Heru dengan hati-hati lihat perkembangan bekas jahitan. Citra tidak pernah pantau kondisi luka Heru sejak ditangani dokter Rahma. Seharusnya tak ada masalah kalau Heru ikuti semua saran dokter.


Lukanya masih memerah mulai mengering. Citra cuma heran mengapa ada bentol merah di sekeliling luka. Tidak banyak namun akan mendatangkan rasa gatal.


"Kak Nadine coba ambil sedikit alkohol! Kita bersihkan lukanya! Bapak ada makan makanan laut atau alergi obat?" tanya Citra serius tangani luka di tangan Heru. Citra menyesali keteledoran perawat memantau luka Heru. Tak seharusnya luka itu tumbuh bintik merah.


"Aku tak tahu...cuma tiga hari lalu Linda bawa kerupuk udang. Aku lapar makan dua potong." jawab Heru belum menyadari kalau bintik merah akan bawa akibat fatal. Andai makin banyak Heru pasti akan merasa gatal. Tangan jahil Heru akan menggaruk menimbulkan luka baru. Luka lama belum sembuh timbul luka baru.


Citra membersihkan luka sekitar tangan Heru sebelum ditarok salep. Penyebab timbul bintik masih harus dicari. Tak mungkin gara-gara dua potong kerupuk udang timbul bintik di sekitar luka bekas operasi.


"Pak untuk sementara ini jaga makan. Hindari seafood dulu! Aku akan periksa obat bapak! Mungkin ada alergi obat." Citra serius memeriksa Heru. Citra menyesal telah menuduh Heru cari perhatian. Ternyata luka bekas operasi Heru memang ada masalah.


Heru menikmati setiap sentuhan Citra. Rasa kagum pada Citra makin membludak. Tidak hanya cantik tapi juga bertanggung jawab sebagai dokter. Tidak sia-sia dia menaruh hati pada dokter muda itu. Cintanya makin bersemi membentang hamparan penuh bunga bermekaran.


"Untuk sementara aku kasih obat alergi. Obat yang sudah ada bapak lanjutkan! Kalau ada terasa makin tak nyaman bapak silahkan konsultasi dengan aku!" Citra membuka diri mengingat Heru adalah pasiennya juga.


"Boleh minta nomor kontak Bu dokter cantik?"


"Boleh...tapi hanya untuk konsultasi sakit. Bukan untuk yang lain ya!"


Heru tersenyum licik. Untuk sekarang mengangguk jadi pasien manis. Ke depan Heru tidak janji jadi pasien patuh. Untuk dapat nomor kontak Citra harus pakai akal. Citra bukan wanita yang bisa ditaklukkan pakai materi ataupun nama besar.


Heru tak tahu selain dia masih ada satu nama besar mengharap Citra masuk ke pelukannya. Nama yang tak kalah keren dari Heru. Mereka para pengusaha muda selaku andalkan kekayaan meraup wanita-wanita yang disukai.


Puluhan wanita antrian mencari perhatian Heru. Sayang Heru tidak tertarik pada wanita yang mencintainya karena harta. Heru sudah sering jumpa wanita yang suka padanya karena nama besar Heru. Tak ada yang menolak pesona Heru.


Baru kali ini Heru jumpa ada wanita menolaknya. Tidak mempan dirayu pakai nama besar Heru Perkasa. Wanita ini menghindar makin memicu rasa penasaran Heru untuk mengejar. Mantap hati Heru mengejar Citra. Tidak peduli status Citra janda muda. Heru tidak butuh status. Heru cuma perlu Citra.

__ADS_1


__ADS_2