ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Liburan


__ADS_3

Azzam senang Citra tidak cerewet kayak di rumah. Mood maminya sedang tidak bagus. Azzam belum tahu apa penyebab maminya merancang rencana kabur dari Alvan. Alvan telah berbuat salah apa lagi? Orang yang bisa beri jawaban hanyalah Citra dan Alvan. Azzam sebagai anak tidak punya hak bertanya jauh hubungan orang tua.


Alvan membawa keluarga besarnya naik ke lantai dua puluh delapan sesuai keterangan dari cewek penjaga meja resepsionis. Seorang room boy membantu Alvan dkk membawa koper sampai ke lantai tujuan. Tokcer dan Bonar langsung sok merasa telah tumbuh sayap bisa terbang tinggi. Biasa mereka melayani orang kini dapat kesempatan dilayani sungguh nikmat rasanya.


Kamar mereka bersebelahan merupakan suite room seharga selangit. Hanya orang berkocek tebal sanggup nginap di kamar luar biasa indah ini.


Citra, Alvan dan Afifa masuk ke kamar paling besar sedangkan ketiga lajang masuk ke kamar sebelah. Azzam sengaja ikut Tokcer untuk saksikan bagaimana noraknya kedua mantan preman jadi penghuni hotel mewah.


Ketiga lajang beda usia melongo saking terpesona saksikan keindahan dekor kamar hotel tempat mereka nginap. Seperti berada di rumah sendiri saja. Semua lengkap di sana. Ada kulkas, dapur mini dan tempat tidur gede. Ada sofa plus meja serta lemari terbuat dari kaca.


Bonar berdiri di depan dinding kaca menurunkan pandangan ke bawah. Semua tampak kecil seperti kotak hp. Mobil saja tampak mini dilihat dari atas. Bonar bergidik membayangkan bagaimana kondisi tubuhnya bila terjun bebas dari lantai setinggi gini.


Bonar meraba bulu kuduknya yang merinding geli oleh imajinasi liarnya.


"Ko...kita foto-foto biar jadi kenangan!" pinta Tokcer tak kalah kampungan.


"Yok tapi sebelumnya kita video call sama kak Andi dulu! Kita lihat reaksinya?" jiwa usil Azzam muncul setelah lega tak jadi pergi. Azzam tidak tega tinggalkan Alvan di saat papinya butuh sandaran.


"Pinter....bisa kencing di celana tuh makhluk! Yok.. mulai!"


"Siip..." Azzam coba hubungi Andi yang kini ntah di mana.


Untunglah cepat terhubung. Wajah Andi penuh kecemasan terhias di layar ponsel Azzam. Azzam tertawa cekikan lihat betapa seriusnya Andi menatap liar sekeliling ruang yang asing baginya.


"Ya ampun ko! Kau berhasil kabur ke mana? Ayok pulang! Papimu mau bunuh diri tuh minum wedang jahe!"


"Kami sudah di Jepang! Mau kenalan sama orang Jepang Made in Indonesia? Sini... Tara.."


Dua wajah jelek muncul berdiri di belakang Azzam. Andi makin terbelalak lihat siapa orang Jepang dimaksud Azzam.


"Hai...aku Sakurata.." olok Tokcer beratkan suara biar mirip orang Jepang.


"Aku Naruto..." sambung Bonar bikin Andi mau meledak di sana.


"Dasar kadal buntung...bebek botak...kalian di mana?" teriak Andi terpancing emosi. Andi tak terima dipermainkan konconya. Mereka enak-enakan di tempat mewah sedang dia sibuk sama tugas.


"Kami di Jepang...sebentar lagi mau jalan-jalan sepanjang Tokyo!" sahut Azzam makin menggoda Andi.


"Maulah aku ke Jepang! Kali aja jumpa Doraemon! Mau pinjam pintu ajaib dan baling-baling bambu!"


Ketiga lajang itu tak dapat menahan tawa lihat ekspresi wajah Andi mulai mendung. Sebentar lagi bakal hujan lokal sekitar wajah Andi.


"Datang aja! Kita tunggu kok! Tolong bawa baju kami ya! Malu tak ada baju ganti!" Kata Tokcer sok santai.


"Tunggu...kalian ke Jepang! Emang ada pasport? Sejak kapan ke Jepang belum satu jam. Naik pesawat super jet juga tidak sampai. Dasar kutu kupret..."


"Kami sewa karpet terbang Aladdin..ngak perlu pasport! Kira jam...satu jam terbang gopek!" gurau Tokcer bikin Andi makin mangkel.


"Mau kami jemput pakai karpet terbang? Tunggu aja situ!"


"Edan...Kudoain kalian bisulan tidak meledak setahun!"


"Wuih sadis mek! Seminggu bisulan satu badan meriang. Apa lagi setahun...gue menyerah deh! Lhu datang aja ke hotel J! Lantai dua delapan no 2802."


"Yang benar...itu properti pak Alvan juga! Itu termasuk punyaan Lingga Group."

__ADS_1


"What? Hotel pak Alvan? Punyaan Koko dong! Wah kaya banget lhu Tong! Punya babe tajir..." Bonar mengelus kepala Azzam takjub pada kekayaan Azzam kelak. Anak laki Alvan cuma Azzam otomatis semua aset jatuh ke tangan si lajang itu.


"Koko tak tahu ini juga punya papi! Kalau gitu tiap Minggu kita nginap sini! Ok?" Azzam menepuk dada pamer kekuasaan. Tokcer dan Bonar kalau Azzam hanya bercanda.


"Kalian tunggu aku datang dong! Kita renang ya! Kita pesan jus duduk di tepi kolam renang sambil cuci mata lihat pemandangan indah."


"Khayal terus...Kami tunggu lhu! Sudah sampai nanti telepon biar kita jemput ke bawah. Takut lhu nyasar!" Olok Bonar sok paling ngerti padahal dia juga baru pertama kali injak hotel semewah ini.


"Sok tempe lhu! Gue pasti datang! Tapi gue pulang mandi dulu! Takut lecek tiba di sana!"


"Semir tuh wajah biar kinclong!"


"Kutu kupret...cacing buntung..." rutuk Andi tak terima diganggu terusan. Andi kesal bukan main ketinggalan moments bersejarah nginap di hotel mewah. Dia berkutat dengan satu ton file sedang temannya bersenang di hotel.


Andi merasa tidak ada keadilan untuknya. Dia harus kibar bendera perang nyatanya siap melawan ketidakadilan.


"Cepat ya!"


"Secepatnya juga sore. Tunggu aku...jangan tidur dulu sebelum aku datang!"


"Sinting...kami mau cuci mata lihat cewek bule di tepi kolam. Bening transparan..." guyon Tokcer disambut tawa derai Bonar dan Azzam.


Andi tergelitik untuk gabung dengan konconya tapi tugas tak mungkin ditinggal gitu saja. Sekarang Andi bertugas gantiin Wenda yang kesandung hukum.


Di kamar sebelah Citra masih lancarkan aksi perang dingin. Alvan kehabisan kata-kata untuk membujuk Citra melupakan semua kata-kata mamanya. Citra merasa sakit hati itu sangat wajar tetapi Citra tidak mengetahui di balik rasa tidak suka Bu Dewi kepada Citra. Hanya berpangkal pada pembagian harta Bu Dewi tega menyakiti hati Citra padahal Citra tidak tahu sama sekali mengenai warisan yang telah ditetapkan kakek Wira.


Afifa tidak ambil pusing dengan perang kedua orang tuanya. Afifa sibuk dengan pemandangan dari atas melihat ke bawah. Semua mendadak jadi kecil sangat menarik perhatian Afifa. Gadis kecil ini tertawa-tawa melihat kegiatan yang dibawa seperti melihat mainan boneka. Serba mini.


Citra duduk di ranjang besar tak peduli Alvan berusaha cari perhatian. Alvan sengaja ajak Citra nginap di hotel agar orang kampung tidak kepo Citra mendadak pergi lalu pulang. Kalau mereka nginap di luar orang akan mengira mereka pergi keluar kota. Citra aman dari gunjingan.


"Aku tak peduli dia kenal aku atau tidak. Tapi apa haknya kritik anak-anak aku? Azzam dibilang licik, emang Azzam sudah menipu kalian?"


"Bukan gitu...kau tahu mulut Azzam yang tajam. Mama belum terbiasa." Alvan gunakan cara tradisional merayu cewek. Hujani tangan Citra dengan puluhan kecupan. Kalau ceweknya model Viona maupun Selvia pasti sudah klepek-klepek.


Sayang Alvan hadapi seorang induk yang hatinya hanya ditujukan pada anaknya. Rayuan maharaja dari kerajaan kaya raya juga takkan luluhkan kebekuan Citra bila sudah menyangkut anaknya. Rayuan Alvan dianggap angin lalu.


"Sayang...Azzam itu darah daging aku! Aku juga tak suka ada orang kritik dia. Mereka semua anak-anak baik. Mereka juga belahan jiwa aku. Kau pergi maka aku akan ikut. Aku siap tinggalkan semuanya demi kamu dan anak-anak."


"Mamamu akan makin benci padaku! Pulanglah! Biarkan kami hidup tenang seperti dulu! Tanpa kalian kami juga hidup. Anggap kita tak pernah bertemu." kata Citra walau sangat bertentangan dengan hati nurani.


Karin telah bercerita jujur kalau sebenarnya wanita di hati Alvan bukanlah Karin melainkan dirinya. Dengan modal pengakuan Karin seharusnya Citra menerima Alvan sepenuh hati.


"Kamu omong kayak sedang mengunyah snack anak kecil. Nikmat sekali tanpa tahu akibatnya makan makanan tak sehat. Aku tidak mau kehilangan kalian. Kau pergi aku ikut. Ke lubang tikus pun aku ikut." Alvan belum putus asa meraih simpatik Citra lagi.


"Ciiisss...apa tikus doyan nginap di hotel mahal? Itu tikus pengerat berdasi! Pokoknya aku tak mau jumpa keluargamu sebelum mas selesaikan gap antara kami."


Alvan memindahkan tangan ke bahu Citra memeluknya pakai sebelah tangan. Hanya sekedar pelukan terima kasih. Di depan Afifa tak mungkinlah Alvan lakukan hal ekstrim merusak moral anak sendiri.


Pintu kamar di ketuk dari luar memaksa Alvan melepaskan istrinya. Kalau bukan pelayan hotel pastilah Azzam. Anak itu memilih bergabung dengan konconya di kamar sebelah. Azzam malu berada di antara papi dan maminya.


Alvan membuka pintu. Azzam dan kedua konconya berdiri gagah di depan pintu seraya melirik ke dalam mencari sesuatu.


"Kami mau ajak Amei lihat-lihat isi hotel. Boleh Pi?" tanya Azzam agak segan masuk.


"Memangnya mau ke mana?"

__ADS_1


"Lihat kolam renang! Koko dan Amei tidak akan berenang. Kami cuma lihat doang!"


"Baiklah! Kolam renangnya ada dua. Di lantai sepuluh dan lantai paling bawah. Enaknya di bawah karena lebih lapang. Jaga adik kalian ya! Tak boleh lepas dari pantauan."


"Beres Pi! Koko akan jaga Amei sambil menanti kak Andi datang."


"Iya...Afifa sayang...mau ikut Koko Azzam main di luar?" Alvan memanggil Afifa yang masih terpesona saksikan pemandangan langka dari atas gedung tinggi.


Afifah berlari kecil menghampiri Alvan. Pemilik mata ikan koki melemparkan pandangan ke arah Azam dan kedua jagoan dengan wajah heran.


"Mau main ke mana? Ntar kita jatuh lho dari gedung tinggi! Amei ngeri lihat bayangan ke bawah"


"Kita main ke kolam renang. Kak Tokcer dan kak Bonar mau lihat cewek bule berenang." kata. Azzam berterus terang niat nakal kedua jagoan neon itu. Tak urung wajah kedua jagoan itu memerah menahan rasa malu.


"Oh...ayok! Amei pingin juga lihat orang berenang kayak ikan." Afifa bergabung dengan abangnya mencari hiburan.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Setelah anak-anak pergi, Alvan mengeluarkan ponsel hubungi seseorang untuk awasi para buah hatinya. Alvan belum tenang biarkan kedua anaknya keliaran di sekitar hotel kendatipun ada Tokcer dan Bonar. Tambah satu dua orang awasi kedua anaknya lebih aman.


Kini pasangan suami istri tinggal berduaan. Mereka lebih bebas bahas kemelut yang sedang melanda rumah tangga mereka. Pecahan yang baru terbentuk sayang sekali kalau harus retak lagi. Ini murni hanya salah paham. Bu Dewi mengira Citra ingin menguras harta Alvan. Bu Dewi belum mengenal sosok Citra yang sesungguhnya. Citra tidak pernah pedulikan semua yang namanya materi.


"Mau minum apa? Biar kupesankan!" tawar Alvan memecah kekakuan.


"Kelihatannya Anda sangat mengenal hotel ini. Sering bawa rubah mana nginap sini?" Citra bukannya menjawab tawaran Alvan melainkan hakimi Alvan buka kamar di situ.


Alvan tertawa sumbang namun bahagia Citra perlihatkan rasa cemburu. Alvan pikir Citra sudah mati rasa padanya. Apa yang dilakukan Alvan tidak menarik Citra.


"Cobalah buka lemari pakaian! Kau akan temukan jawabannya." Alvan menundukkan kepala berbisik di samping kuping Citra.


******* hangat nafas Alvan menerpa kulit daun telinga Citra datangkan sensasi aneh. Ada sesuatu halus merembes masuk ke kisi hati Citra. Perasan aneh yang tak bisa diungkap dengan kalimat.


"Apa peduliku? Mau piara selusin gundik toh bukan urusanku!" Citra melengos menepis pesona Alvan. Lama-lama Citra bisa makin jatuh cinta pada suami sendiri. Hukumnya halal kok.


"Selusin gundik dan kau ratunya. Seorang raja hanya mencintai ratu, yang lain hanya pelengkap."


"Ngaku kan punya lusinan gundik." hardik Citra ingin menerkam Alvan lalu cabik tubuh lelaki mesum itu.


Alvan tertawa makin lepas bahagia Citra semakin cemburu. Di mana-mana wanita sama saja, tidak rela suami punya isteri lain walau dalam mulut bilang tidak masalah.


Alvan naik ke atas ranjang lalu merengkuh Citra dari belakang. Betapa lega bisa memeluk Citra lagi. Alvan nyaris hilang asa sewaktu Citra hilang mendadak.


"Tak ada gundik selain kamu. Iya...ada Karin antara kita! Tapi semua telah berakhir. Karin hanyalah pelengkap masa lalu. Kau tak perlu cemburu padanya. Dia sudah akui semua kesalahannya. Kita besarkan anak-anak bersama."


"Lalu ngapain kamu sering ke sini?"


"Hotel ini punyaan Azzam dan Afifa. Masih ada di Bali dan Papua Barat. Aku investasi untuk masa depan anak-anak."


Mata Citra menyipit mendengar cerita karangan Alvan. Hotel ini terbangun jauh hari sebelum mereka bertemu. Dari mana Alvan yakin punya anak? Untuk anaknya dengan Karin?


"Anak...anakmu dengan kak Karin?"


Alvan tersenyum kecut Citra cepat baca ke mana tujuan rencana masa depan. Alvan investasi memang untuk keturunannya. Alvan belum tahu dia punya anak dari Citra jadi harapan tertuju pada Karin.

__ADS_1


Manusia berencana tapi yang tentukan Yang Maha Kuasa. Rencana Alvan jauh dari perkiraan. Namun Alvan mendapat ending jauh lebih sempurna dari plan awal.


__ADS_2