
Citra terpana tak percaya pendengaran kupingnya menerima kabar menakjubkan. Heru belain buang uang agar bisa dekat dengannya. Betul pasien sakit jiwa. Kenal juga sebatas dokter dan pasien. Heru sakit dan Citra sebagai dokter wajib beri kesembuhan.
Cerita kok melenceng jauh dari bayangan Citra. Tidak terpikir oleh Citra kalau Heru punya pemikiran tak beres. Pantas seenak perut memanggilnya sayang. Pernah dirawat di rumah sakit jiwa atau laki itu sedang halu salah lihat wanita.
"Sakit jiwa...emang aku ini dokter apaan? Mau beli aku? Nggak usah mimpi ya!" sungut Citra tidak senang jadi barang mainan orang kaya.
"Nah itu baru isteri Alvan! Punya percaya diri kuat. Jangan tergoda sama Heru! Dia itu playboy cap buaya."
"Apa bapak bukan playboy? Sesama playboy jangan saling menghujat. Perbaiki akhlak itu sudah cukup. Aku mau sholat. Jangan lupa jenguk Karin! Oya satu lagi! Jangan asyik sebut aku isterimu! Aku ini mantan. Mantan isteri. Ingat itu!" ancam Citra disambut tawa derai Alvan.
Citra jauhkan hp dari kuping agar gendang telinga tidak rusak oleh tawa deras Alvan. Satu lagi manusia sakit jiwa. Citra tak habis pikir mengapa Alvan tak biarkan dirinya hidup tenang bersama anak-anak. Alvan hanya masa lalu punya cacatan hitam. Citra tak perlu masuk ke pusar lingkaran percintaan penuh intrik jahat.
Citra hanya ingin hidup damai bersama anak-anak. Tak perlu ada campur tangan para laki. Citra kapok menaruh tumpuan harapan pada lelaki. Yang tersisa rasa sedih dan sakit hati.
"Suka atau tidak suka kau adalah isteriku."
"Mari kita bercerai! Ini yang terbaik untuk semua."
"Kau yakin yang terbaik? Apa kau tak ingat Azzam dan Afifa butuh figur seorang bapak?"
"Mereka sudah terbiasa tanpa bapak. Bapak hadir hanya mengacaukan rencana panjang yang sudah kurancang."
"Kita bicara nanti. Kau pergi sholat cari jawaban untuk keputusanmu. Aku tak ingin bercerai. Itu saja kukatakan!"
"Cepat atau lambat bapak pasti akan pisah dengan kami."
"Perasaan menyesatkan! Pergilah sholat! Aku akan jemput anak-anak langsung pulang ke rumahmu. Lepas piket langsung pulang ya!"
Citra memilih tak jawab biar Alvan tak merasa berhak atas dirinya. Citra tak ingin mengulang kisah sama menjadi saingan Karin. Apa lagi sekarang Karin butuh support Alvan untuk melanjutkan hidup. Semua kesalahan Karin menjadi tanggung jawab wanita itu. Citra tak punya hak menghakimi Karin walau wanita pernah melakukan hal buruk di masa lalu padanya.
Citra tinggalkan semua keruwetan mencari kedamaian dari Yang Maha Kuasa. Citra tak butuh tahta kekuasaan. Itu akan mengubur Citra dalam keserakahan. Citra harus bijak karena dia punya tanggung jawab sangat besar menjadikan ketiga anaknya menjadi manusia berguna kenal agama. Bukan hanya sekedar kenal tapi wajib melaksanakan semua ajaran Agama.
Seusai sholat Karin ke kantin mengisi perut. Tidak pakai acara lama Citra sudahi makan siang mengingat pasien masih menanti dia kembali praktek. Citra harus fokus mengobati pasien. Masalah pribadi harus disampingnya agar tak terjadi kesalahan obati orang. Bisa-bisa Citra dianggap mal praktek bila sembarangan analisa penyakit pasien.
Jam lima sore pasien Citra habis. Rasa lelah terbayar oleh wajah puas pasien. Satu persatu pasien Citra berjanji akan mengulang pengobatan pada Citra. Citra yang cantik dan ramah mengukir kesan baik di kalbu pasien.
Citra teringat pada Heru yang konyol. Apa laki itu sudah jinak tidak menyusahkan perawat dan dokter Rahma lagi? Sungguh laki luar biasa. Rela penjarakan diri di rumah sakit dengan tujuan konyol. Sok kenal dengan Citra padahal jumpa pertama kali waktu kontrol luka di tangan selanjutnya Citra operasi tangannya. Hanya beberapa kali pertemuan menimbulkan ide gila di otak kena bakteri buaya buntung.
Citra kesampingkan rasa tak suka pada Heru. Sebagai dokter Citra wajib menjaga mood pasien agar cepat pulih. Pertama-tama Citra cek hasil lab Heru pada perawat. Citra mau lihat penyakit kronis apa bersembunyi di tubuh gagah itu.
Perawat di ruang VVIP menyerahkan rekam riwayat penyakit Heru selama di rumah sakit. Semua baik cuma kadar gula sedikit meningkat. Citra tebak Heru pencinta makanan manis. Banyak konsumsi makanan manis penyakit diabetes siap mengintai. Terdengar penyakit sederhana namun efeknya luar biasa. Dari diabetes bisa menyebar berbagai penyakit. Gagal ginjal, kebutaan, serangan jantung serta gangguan fungsi hubungan intim.
Perawat berjumlah dua orang menunggu reaksi Citra terhadap pasien satu-satunya di ruang VVIP itu. Setelah Afifa pulang tinggal Heru dirawat di situ. Tak ada pasien tambahan setelahnya.
__ADS_1
"Apa pasien sudah mau kerja sama?" tanya Citra menyerahkan kembali rekap riwayat pasien pada perawat.
"Belum dok! Siang tak makan. Ini sudah kami antar makan sore tetap tak disentuh."
"Bininya?" Citra menatap pintu kamar Heru yang tertutup. Mengapa Heru tega menyusahkan orang kecil. Apa yang dicarinya?
"Itu bukan isterinya dok! Pak Heru duda."
"Oh...ayok kita cek dia!" ajak Citra tetap tak tega lihat pasien sekarat walau penyakit dicari sendiri.
"Iya dok!"
"Bawa makanan! Bapak itu sedang mengalami pancaroba dari dewasa ke kanak-kanak. Masa kecilnya mungkin tak bahagia." ujar Citra asalan.
Kedua perawat tertawa cekikan dengar candaan dokter muda pas kena pada sosok aneh di ruang VVIP. Sudah berumur tapi tingkah kayak anak kecil harus dibujuk.
Citra dan perawat mengetuk pintu sebelum masuk. Keduanya ikuti tata Krama takut disalahkan bila melihat sesuatu tak pantas dilihat dalam ruang itu. Orang waras pasti berpikir negatif di dalam ruang itu ada manusia berlainan jenis. Apa yang terjadi di dalam tentu saja jadi rahasia mereka.
Wanita setia pengawal Heru membuka pintu. Melihat kehadiran Citra wajah wanita itu langsung berubah cerah. Dewa penolong telah datang. Semoga Heru tak lancarkan aksi mogok makan lagi. Tak mau makan dan minum. Herannya laki itu tak meminta Citra datang. Dia sengaja berbuat gitu biar Citra datang secara sukarela. Heru tahu Citra pasti akan datang bujuk dia makan. Cara yang sangat kotor.
Citra menatap Heru dengan tatapan sinis. Laki itu tersenyum tipis merasa telah menang berhasil datangkan Citra tanpa perlu buka mulut. Harga dirinya terselamatkan, niat hati kesampaian. Bukankah cara ampuh menguasai seseorang.
"Bapak ada permintaan terakhir?" tanya Citra datar tetap lembut.
"Maksudmu sayang?"
"Bapak mengidap penyakit mematikan. Hidup bapak tinggal hitungan menit. Makan dulu biar ada semangat menarik nafas terakhir." ujar Citra seram membuat wanita Heru terbelalak kaget.
Perawat yang kawani Citra pingin buka mulut lebar-lebar semburkan tawa besar saksikan gaya slebor Citra balas kenakalan Heru.
"Oh...baiklah! Aku punya beberapa permintaan sebelum roh aku terbang ke surga. Pertama aku ingin dapatkan pelukan hangat Bu dokter tercinta. Kedua ingin dikecup sebagai tanda selamat tinggal. Ketiga..." sahut Heru santai tidak terprovokasi laporan Citra. Heru bukan orang bodoh gampang terperdaya oleh trik kecil Citra.
"Stop..." Citra angkat tangan tinggi-tinggi melarang Heru lanjutkan permintaan terakhir. Rencana usilin Heru kok dia yang kena bom. Senjata makan tuan. Wajah Citra memerah digoda Heru lebih parah dari candaannya.
"Aduh Bu dokter...pasien mau meninggal harus dikasihani! Ayo sini peluk aku!" Heru merentangkan tangan minta Citra masuk ke pelukannya. Gaya Heru pasrah seolah memang akan segera tewas.
"Mau disuntik rabies?"
Heru tertawa terbahak-bahak merasa bahagia lihat wajah imut Citra berubah merah padam. Wanita Heru dan perawat masam-masam ikut terbawa suasana ceria di ruang itu. Sudah berapa hari ruang itu mencekam karena pasien tak mau kerja sama. Tak mau minum obat bahkan mogok makan.
Citra hadir suasana beku mencair. Bahkan terdengar tawa Heru membahana menggetar satu ruang. Ada kemajuan menyehatkan pasien. Namun melukai perasaan wanita setia penjaga Heru. Heru pilih kasih.
"Asal sayang yang suntik apa saja boleh. Tuh ada makanan! Mau suap aku?"
__ADS_1
"Ge er...hari ini juga bapak boleh pulang! Jangan merusak nama baik rumah sakit! Sakit seupil nginap berminggu di sini. Kalau kelebihan uang sedekahkan pada fakir miskin!"
"Ok...asal sayang yang minta semua dituruti! Aku mau makan dari tanganmu! Setelah itu aku pulang."
Citra tak punya banyak pilihan selain ikuti permainan Heru. Niat mau goda Heru malah dia yang kena syok mental. Heru sungguh lelaki tak tahu malu. Baru kenal sok akrab. Ntah dari mana ide jadikan Citra kesayangan.
Citra beri kode pada perawat agar bawa makanan Heru. Makanan rumah sakit bergizi lengkap khusus untuk pasien istimewa. Ada salmon kukus, cah cap cay dan ayam suwir dijadikan sop. Makanan khusus pasien VVIP.
Heru duduk manis di ranjang menanti pelayanan Citra. Senyum cerah bertengger di bibir sensual Heru. Laki itu tak ubah mirip raja Yunani dalam mitos. Angkuh berwibawa.
Citra melirik wanita Heru minta ijin lewat tatapan mata. Citra bukan orang tak punya hati tidak ngerti kesedihan wanita itu. Citra terpaksa melakukan permintaan Heru agar semua cepat berakhir. Heru bisa pulang ke rumah jalankan aktifitas seperti biasa. Mungkin harus kontrol ulang cek bekas luka jahitan.
Citra menyuapi Heru dengan hati tak karuan. Citra merasa tak enak hati pada wanita Heru. Mana ada dokter mencuri perhatian pasien. Kalau orang tak ngerti akan mengira Citra sedang merayu pasien kaya.
Heru makan dengan lahap seolah makanan itu nikmat sedunia. Citra ingin segera tuntaskan tugas sulit ini. Lebih sulit layani orang stress ketimbang operasi besar syaraf terluka.
Heru mengunyah sambil tancapkan mata pada wajah Citra. Laki itu menikmati setiap lekuk di wajah Citra seolah di wajah itu ada pemandangan indah. Pemandangan yang akan membekas di hati. Sumpah mati Citra risih cara Heru menatapnya.
Andai Citra dokter mata akan dengan senang hati operasi mata Heru menjadi juling. Ntah juling ke kiri atau ke kanan asal jangan menatap lurus ke arahnya. Operasi gratis.
Citra sudahi menyuap Heru sebab makanan telah kandas pindah ke perut Heru. Citra berikan sebotol air mineral pada Heru tuntaskan makan yang paling merepotkan.
"Nah kita selesai pak! Sesuai janji bapak boleh pulang! Minggu depan bapak balik kita cek bekas luka. Seharusnya tidak ada kendala. Tapi kita tetap berjaga sampai luka benar mengering. Hindari kontak air secara langsung. Untuk sementara jangan makan udang, kepiting ataupun kerang. Takut bapak alergi memicu rasa gatal." Citra beri wejangan panjang lebar.
Heru mendengar dengan seksama persis anak sekolahan dengar ajaran Bu Guru. Gaya Heru menggemaskan tak ubah kecil lagi belajar.
"Iya Bu dokter!"
"Ok...aku permisi dulu! Nanti suster akan mengurus semua administrasi kepulangan bapak."
"Terima kasih dokter cantik! Besok aku akan kontrol ke sini." ujar Heru kalem sok cakep. Dikira Citra bisa ditaklukkan oleh cowok alay kekinian. Tak sadar umur sudah setinggi leher. Tak lama lagi capai kepala menanti waktu kepulangan ke asal di mana dia tercipta.
Citra malas berbalas mulut memilih diam. Mau datang kapan saja bukan urusan dia. Dokter Heru toh bukan dia. Yang menangani Heru adalah dokter Rahma. Citra lepas tangan setelah Heru keluar dari rumah sakit. Bukan Citra tega pada pasien tapi otak Heru ada korslet susah diatur. Mending hemat tenaga berdebat dengan Alvan.
Alvan pasti akan merongrong dia dengan sejuta dalil agar mereka tak cerai. Citra sudah bosan meladeni keegoisan Alvan. Lelaki tak punya hati. Alvan mirip sekali dengan pohon pisang. Punya jantung tapi tak punya hati.
Di saat kena masalah baru teringat pada Citra. Dulu-dulu di mana Alvan? Bersenang-senang dengan wanita pujaan. Merajut hari penuh warna bersama Karin tersayang. Giliran Karin bikin ulah belain ingin kembali. Citra tidak sebodoh dulu gampang diperdayakan.
Citra berberes segera pulang. Hari ini cukup melelahkan karena pasien lumayan banyak. Tugas diemban tuntas membawa kepuasan pada Citra. Rasanya ingin cepat tiba di rumah mandi air hangat melemaskan otot-otot kaku.
Niat hati ingin menjenguk Karin namun batin menolak. Andai Karin tahu keberadaan Citra ntah kejadian apa akan menimpa Citra. Sejak dulu Karin tak suka Citra walau Citra berusaha semaksimal mungkin berbuat baik. Ada saja salah Citra di mata Karin. Setahun hidup bersama laksana hidup di neraka. Setiap detik Karin jatuhkan Citra di mata Alvan. Dasar Alvan tolol bin bodoh. Semua laporan Karin ditelan mentah-mentah. Alhasil mereka berpisah tanpa ada kesepakatan.
Citra melapor pada pengawas rumah sakit kalau dia telah selesai bertugas. Citra telah bebas tugas menanti pasien esok hari. Citra selalu tinggalkan pesan boleh hubungi dia bila ada pasien gawat butuh pertolongannya. Sebagai dokter Citra tak bisa abaikan keselamatan pasien. Dokter wajib siaga dua puluh empat jam.
__ADS_1
Senja makin jatuh sisa cahaya remang menyambut sang raja malam. Mentari telah lelah bersinar pulang ke ufuk timur tiarap menanti esok hari. Mentari tak bosan-bosan menyapa setiap makhluk hidup dengan cahaya keemasan setiap fajar menyingsing. Hari tugasnya selesai sama seperti Citra. Pulang ke kandang cas tenaga untuk kembali beraktifitas esok hari.