
Citra mengendus-endus sekeliling tubuh Alvan merasakan harum maskulin dari suaminya. Citra merasa Alfan terlalu genit menebar aroma wangi untuk menarik perhatian para wanita. Citra mulai protektif terhadap Alvan karena sadar suaminya memiliki daya pesona luar biasa.
Alvan agak risih diperlakukan seperti seorang maling oleh Citra. Istrinya menyidak penampilannya pagi ini. Biasanya Citra tidak terlalu memperhatikan bagaimana cara Alvan berpakaian apalagi menyelidiki keharuman di tubuhnya.
"Lagi cari apa sayang?" Alvan grogi sendiri dikelilingi oleh Citra berulang kali.
"Mau cari mangsa baru ya! Apa belum cukup mempunyai dua istri?"
"Ya ampun nih isteri! Mas mau pergi kerja. cari duit untuk membangun istana besar buat anak dan selusin istri."
"Apa? Selusin isteri? Wah.. ada niat terselubung nih!"
"Sori...maksud mas satu isteri selusin anak! Kok jadi terbalik?" gumam Alvan keceplosan saking paniknya disidak oleh Citra. Padahal niat Alvan memang ingin mengatakan bahwa satu istri dan selusin anak ini justru malah sebaliknya mengatakan selusin istri.
"Hebat ya! Baru ketemu rubah putih dari benua Amerika langsung genit. Nampaknya aku harus buka praktek baru. Khusus untuk sunat suami-suami kegatalan."
"Yaelah sayangku! Tadi aku bingung karena kamu bertingkah aneh makanya salah ngomong. Mas bersumpah tidak akan menduakan kamu lagi. Cukup kamu dan Karin. kita berangkat kerja atau libur sehari? Mas mau saja kalau disuruh libur di rumah bersama kamu." kata Alvan mengedip genit ke arah Citra.
"Isshhh...kena setan genit! Awas kalau coba-coba dekati ulet bulu yang bikin ketek mas gatal. Aku akan borong semua pestisida untuk basmi ulet bulu juga akan buka praktek baru secara pribadi untuk jadi dukun sunat." ancam Citra melempar pandangan horor ke arah Alvan.
Alvan tertawa renyah merasa bahagia Citra mulai perlihatkan sikap normal seorang isteri. Punya rasa cemburu terhadap wanita-wanita pemburu nafsu sesaat.
"Gini saja! Kau berhenti jadi dokter. Datang kerja di kantor jadi asistenku. Kau bisa jaga suamimu dua puluh empat. Mau?"
"Berapa gajinya?"
"Terserah kamu! Ada bonusnya lagi. Kau pasti suka!" Alvan melirik genit menggoda Citra.
"Bonus? Bonus apa?"
"Setiap lima menit dapat ciuman dan malamnya dapat pelukan gairah. Kau suka kan?" Alvan dekatkan bibir ke kuping Citra hadiahkan gigitan kecil di daun telinga wanita mungil ini.
Citra merinding kena godaan di pagi ini. Kalau dilanjutkan rencana berangkat kerja pasti akan berantakan. Alvan bisa saja mengangkat Citra dibawa ke ranjang untuk salurkan gairah pagi ini. Nafas laki itu saja mulai kasar seolah menahan sesuatu yang mendesak.
"Tauk...dasar mesum! Ayok berangkat! Nanti kita kena macet." Citra mengambil tas kerja keluar dari kamar. Citra memilih tunggu di luar dari pada terjebak dalam gairah Alvan.
Alvan tersenyum biarkan Citra pergi. Alvan sendiri tak jamin bisa menahan diri bila terlalu lama bersama isterinya. Citra fresh selalu buat Alvan bergairah. Jarak usia lumayan jauh membuat Alvan tampak tua bila disandingkan dengan Citra. Alvan kasar tinggi besar sedang Citra imut menggemaskan.
Tak lama kemudian keduanya meluncur di jalan raya berbaur dengan pengendara kendaraan lain. Jalan belum begitu macet karena keduanya keluar dari rumah sebelum jalanan padat. Alvan sudah bosan dengar orkestra kolosal di dominasi suara klakson aneka variasi.
Alvan tak puas memandangi wajah Citra yang bikin hati adem. Seberapa banyak wanita akan seperti Citra. Mampu harungi badai seorang diri membawa tiga penumpang yang harus dilindungi. Biduk Citra kecil tapi dia sanggup singkirkan semua rintangan sedang Alvan mempunyai kapal super raksasa malah terombang-ambing disapu badai. Benar kata orang tua, Allah selalu lindungi orang yang tak pernah ingkar dariNya.
"Sudah puas lihat jerawat di wajahku?" tanya Citra sadar lensa mata Alvan sebentar-sebentar fokus padanya.
"Kau manis...kenapa tidak aku sadari dari dulu?"
"Dulu mas katarak. Untung bisa sembuh."
"Bukan katarak sayang tapi tertutup abu. Sekarang abu sudah tersingkir. Sudah lihat kamu dengan jelas. Bukan hanya dari mata tapi juga dari hati. Aku mencintaimu Citra Ayu Perkasa." Alvan meraih tangan Citra meletakkan nya di atas stiur mobil.
"Gombal.. lepaskan tanganku! Fokus ke jalan! Aku masih ingin lihat Azzam tumbuh dewasa!"
"Aku pasti akan hati-hati jaga nyonya aku! Oya...kapan kau akan operasi aku? Aku sudah tak sabar ingin punya anak lagi. Aku mau saksikan sendiri bagaimana bentuk isteriku sedang hamil. Aku telah lewatkan moments indah itu. Selagi masih ada waktu aku ingin melihatnya."
__ADS_1
"Tunggu anak-anak siap ujian! Itu operasi kecil. Paling dirawat satu malam sudah bisa pulang. Atau kurekom teman lain untuk operasi mas!"
"Kau rela senjata andalan mas dielus orang lain?"
"Kami dokter sudah sering lihat senjata model apapun. Tidak perlu Ge er."
"Kau sering sentuh senjata para laki? Betapa mesumnya kamu...Aku protes...mulai saat ini kamu tak boleh operasi penyakit yang berhubungan dengan senjata bazoka cowok."
"Duh yang cemburu..!!! Pak Alvan...kami hanya laksanakan tugas. Dulu aku pernah menyambung anunya lelaki yang dipotong isterinya karena selingkuh. Untung cepat tertolong jaringannya belum mati. Ntah bagaimana nasibnya sekarang? Ntah bazoka nya berfungsi tidak."
Alvan merasa hawa dingin menyergap kuduk. Hukuman yang sangat mengerikan dari seorang isteri. Apa Citra juga akan seperti wanita itu main babat. Tanpa sadar Alvan meraba bawah pahanya lihat apa senjata andalannya masih utuh.
Citra tertawa ngejek berhasil provokasi Alvan untuk pikir panjang kalau mau selingkuh. Citra tidak akan ngamuk seperti wanita lain. Citra punya cara sendiri eksekusi lelaki genit. tangan Citra cukup ahli untuk membabat buah terong yang kegatalan.
"Stop...aku mual bayangkan ceritamu! Cerita yang lain saja."
"Lho...duniaku memang potong memotong, babat membabat. Itu keahlianku!"
"Aku takkan jadi korban keahlianmu! Aku cukup puas dengan hasil masakanmu."
Citra menarik tangan dari stiur di bawah cekalan Alvan. Lelah juga ikutan jadi supir. Untung jalan lurus tidak putar sana sini. Kalau putar Citra ikutan capek kontrol stiur.
Belum temukan topik baru mengusir rasa bosan berkendaraan ponsel Alvan berbunyi. Citra membantu Alvan melihat siapa yang telepon. Ponsel Alvan diletakkan di box dekat tongkat persneling.
"Untung mas..."
"Sambut hidupkan loudspeaker. Aku tidak bisa pegang ponsel."
"Halo pak...sudah tiba di kantor?"
"Dalam perjalanan. Ada apa?"
"Aku di RS Polri. Aku mau kabarkan kalau Selvia telah meninggal subuh tadi."
"Innalillahi wa innalillahi Raji'un... kok mendadak?"
"Dia terserang covid 19 perparah kondisinya. Rencana tidak akan dibawa ke rumah duka karena dia mengidap HIV dan covid 19. Dari sini langsung diberangkatkan ke pemakaman. Aku berinisiatif cabut semua tuntutan padanya agar jalannya lapang."
"Lakukan yang terbaik. Oya.. ibunya Selvia jadikan tahanan kota saja. Kita tak perlu perpanjang masalah ini. Orangnya juga sudah meninggal."
"Siap pak!"
Untung memutuskan hubungan. Alvan dan Citra terdiam seribu bahasa. Berita ini terlalu mendadak bikin jantung nyaris mau copot. Tak disangka umur Selvia sangat singkat. Segala kemegahan dan kemewahan yang dipamerkan Selvia kini telah berakhir. Sehebat apapun seorang manusia tempat terakhir tetap kembali pada pencipta. Amal ibadah selama memegang jabatan sebagai seorang manusia itu yang akan dijadikan perhitungan. Yang melakukan kecurangan dan kejahatan tetap akan mendapat ganjaran setimpal.
Alvan tidak tega turun tangan kerjamu terhadap ibunya Selvia setelah anaknya meninggal secara mendadak. Selvia meninggal memang atas semua kejahatan yang dia lakukan namun ini juga berhubungan dengan Alvan. Andai dia tidak terpaku pada Alvan maka tidak ada kejadian hari ini. Dalam hal ini siapa yang harus disalahkan.
"Mas... Apa yang harus kita lakukan?" Citra bingung mendapat kabar meninggalnya Selvia. sejujurnya Citra tidak mengharap hal ini terjadi di lingkungan mereka. Bagaimanapun kisahnya Selvia masih termasuk keluarga Citra dari sebelah Bu Sobirin.
"Kita pulang dulu ya! Kita kabarin Oma dan Opa."
"Iya mas..." Citra sudah tak dapat berkata-kata lagi. Selvia dijerat pasal berlapis gara korupsi uang perusahaan dan rencana pembunuhan Citra.
Hukuman yang bakal diterima Selvia juga tidak ringan. Siapa sangka adanya sangat singkat. Citra tidak dapat membayangkan bagaimana hancurnya hati ibu Selvia mendengar anaknya telah meninggal. Mungkin hati ibu Selvia akan makin membenci Citra yang dianggap menjadi penyebab meninggalnya Selvia. Ibu di mana pun akan marah bila anaknya mendapat musibah.
__ADS_1
Alvan sendiri tak percaya wanita sekuat Selvia kandas di dalam penjara. Seorang wanita yang sanggup memiliki berbagai rencana licik mengapa memiliki jiwa yang rapuh.
Ternyata di rumah Bu Sobirin telah mendapat kabar meninggalnya Selvia. Bohong kalau Bu Sobirin tidak sedih atas meninggalnya Selvia yang secara mendadak. Bu Sobirin tahu kalau pihak keluarga Selvia pasti akan menyalakan Alvan dan Citra. Apakah mereka berpikir penyebab dari semua kekacauan ini? Kalau bukan Selvia sendiri berulah maka semua akan baik-baik saja.
Dalam hal ini semua pihak harus menggunakan kepala dingin untuk melihat kasus ini dari pihak yang benar. Selvia sudah melakukan kesalahan besar yang membuat dia drop di dalam penjara.
Citra segera menemui Omanya di rumah sebelah. Alvan juga ikut untuk meminta maaf atas semua yang telah terjadi. Alvan juga tidak mengharap hal ini terjadi pada diri Selvia. Tapi nasi telah menjadi bubur Selvia juga telah meninggalkan mereka semua.
Sewaktu berjumpa Citra mata Bu Sobirin berkaca-kaca. Citra melihat duka di dalam netra Omanya. Duka seorang ibu yang kehilangan barang berharga.
Citra langsung bersimpuh di kaki Bu Sobirin untuk meminta maaf kejadian yang menimpa Selvia. Alvan hanya bisa berdiri mematung menyaksikan istrinya memohon ampunan dari ibu Sobirin.
"Maafkan Citra Oma...ini semua gara-gara Citra!"
"Kenapa omong gitu nak? Kau juga korban. Ini sudah menjadi takdirnya Selvia dia sendiri menggali lobang untuk mengubur diri sendiri. Sudah.. jangan bersedih Oma tidak menyalahkan kamu! Untuk sementara kamu tidak usah ke rumah duka karena emosi keluarga mereka pasti masih sangat tinggi."
"Mas Alvan akan membebaskan ibunya Selvia. Kita anggap semuanya telah selesai. Semoga ke depan tidak terjadi hal yang begini lagi. Sekali lagi maafkan Citra ya Oma!"
"Sudah Oma bilang bukan salahmu! Jangan jadikan beban bagi pikiranmu! Apapun yang kita lakukan pasti akan mendapat balasan nya. Terserah kita pilih jalan yang mana harus kita lalui."
"Ya Oma.."
"Oma akan kabari Heru agar segera pulang. Tidak enak dari kita tak ada yang hadir di sana. Mereka pasti akan menyalahkan Opa dan Oma juga berpihak padamu. Padahal Opa dan Oma tidak berpihak pada siapapun selain berpihak pada kebenaran." Bu Sobirin menepuk punggung Citra agar jangan terlalu menyalahkan diri sendiri!
"Citra telah membawa opa dan Oma dalam masalah. Andai kita tak jumpa..." Citra angkat kepala menatap uap wajah Omanya yang tengah berduka itu.
"Huusss omong apa itu? Justru kehadiranmu telah membawa angin segar bagi keluarga kita. Opa dan omamu merasa hidup ini lebih berharga dibanding dulu karena harus ada yang dilindungi. papa dan Oma ingin hidup seribu tahun lagi untuk melihat anak cucu yang banyak dari kamu." gurau Oma agar Citra tidak tertekan atas meninggalnya Selvia. Orang model Citra selalu takut orang tersakiti tak peduli dia sendiri sakit hati.
"Ach Oma...opa mana?"
"Opa ke kantor karena Heru tidak ada. Ada klien ingin jumpa Opa."
"Opa sudah tahu?"
"Belum...biarlah tunggu beliau pulang! Selvia juga tidak dibawa pulang karena langsung dikebumikan dari rumah sakit. Paling nanti malam kita tahlilan saja."
"Andai Citra boleh berkunjung ke rumah Selvia minta maaf pada keluarga Selvia."
"Nanti ada waktunya. Adik Oma itu keras kepala tidak suka di dikte orang. Yang penting niatmu sudah tulus pada Selvia. Oma tahu isi hatimu. Sudah kalian balik kerja saja! Di sini juga tak ada yang bisa kalian lakukan." Bu Sobirin sengaja minta Citra menyibukkan diri dengan pekerjaan agar tidak teringat terus pada kejadian Selvia.
"Biar mas Alvan saja pergi kantor. Suasana hatiku sangat buruk. Nanti malah salah kasih obat. Citra istirahat di rumah saja."
"Ya terserah! Ayok bangun! Berapa jam kamu mau di sini?"
Alvan dekati isterinya membantunya bangkit dari simpuhan Bu Sobirin. Setelah Citra berdiri Alvan pula minta maaf walau tidak bersimpuh. Alvan lah pangkal semua tragedi ini. Andai Selvia tidak jatuh cinta pada Alvan maka Selvia tidak akan nekat korupsi dan membuat rencana menculik Citra.
"Maafkan Alvan ya Oma! Alvan juga penyebab Selvia begini."
"Sudah Oma katakan ini bukan kesalahan kalian walaupun secara tak langsung ada sangkut pautnya. Selvia sendiri yang mencari penyakit dengan cara kotor untuk menguasai dirimu. Oma tidak menyalahkan siapapun dalam hal ini. Semua ini sudah menjadi takdirnya Selvia."
"Tapi dia lakukan demi Alvan. Alvan sama sekali tidak tahu rencana Selvia untuk menjadi keluarga Alvan. Selama ini Alvan berusaha setia pada Karin dan Citra. Tidak terpikir sedikitpun untuk menggoda wanita lain agar menjadi wanita Alvan."
Bu Sobirin mengangguk percaya pada kata-kata Alvan. Selama ini reputasi Alfan cukup bagus tanpa ada skandal perselingkuhan. Alvan sangat setia pada pasangannya.
__ADS_1