
"Iya Bu...Jasmine pamitan ya! Ibu tolong jaga kedua orang itu!"
"Aduh nak! Mereka sudah tua, bukan anak kecil. Tak perlu kamu ingat! Jaga dirimu saja!" Bu RT menepuk bahu Jasmine kuat beri spirit pada gadis muda itu.
"Iya Bu..." Jasmine menyalami Bu RT sebelum naik ke mobil Andi. Tokcer dan Andi juga menyalami Bu RT.
Andi menyelipkan amplop lumayan tebal ke tangan Bu RT. Itu adalah amanah Alvan agar RT tidak persulit Jasmine. Ternyata rt-nya baik pengertian.
"Apa ini nak?" Bu RT melirik amplop di tangan sedikit gemetar. Ntah kegirangan atau takut dibilang terima suap.
"Ini hanya sekedar ucapan terima kasih sudah jaga Jasmine! Ibu jangan salah paham! Ini murni ketulusan kami. Terimalah!"
"Terima kasih nak! Sering singgah ya!"
"Insyaallah...kami pamitan!" Andi menyusul Jasmine dan Tokcer yang sudah duluan masuk mobil.
Ibu tiri Jasmine intip dari jauh lihat tunggangan Andi. Ternyata Andi orang kaya. Mobilnya saja mobil mahal seperti dalam film-film sinetron. Menyesal juga tuh nek lampir cari pasal dengan Andi. Kalau tidak kan bisa peras Andi gunakan Jasmine sebagai perisai. Kesempatan baik lewat sudah. Ataupun umpan anak kandungnya pada Andi untuk jadi pacar. Denting fulus pasti akan bergema di rumahnya.
Ibu tiri Jasmine tak tahu kena angin surga Tokcer. Sejak kapan Andi naik pangkat jadi bos. Hanya dengan cara ini untuk kelabui manusia berhati picik model ibu tiri Jasmine.
Tokcer dan Andi mengantar Jasmine pulang ke rumah tua Citra. Andi selalu merawat rumah itu agar tetap bersih. Rumah itu tetap seperti semula. Tak ada yang berubah. Semua masih di tempat sesuai penataan Citra dulu. Andi tidak memindahkan satu barang pun demi hormati Citra.
Sebelum Jasmine masuk ke rumah Tokcer melapor pada RT atas kehadiran Jasmine agar tidak terjadi mis komunikasi. Setelahnya baru lapor pada emak Andi sebagai orang tua yang tinggal berdampingan dengan Jasmine nanti.
Andi mengijinkan Jasmine tidur di kamar bekas Afifa. Andi tidak ijinkan Jasmine tidur di kamar utama karena itu ranah yang punya rumah.
Jasmine kagum pada kebersihan rumah Citra. Tidak berpenghuni namun tetap bersih. Tak ada sarang laba-laba maupun debu. Ini hasil kerja keras Andi.
"Nah dek Jasmine untuk sementara tinggal sini! Abang tinggal di sebelah." kata Andi menunjukkan kamar Jasmine.
"Abang tinggal di sini juga?" tanya Jasmine kaget tinggal serumah dengan cowok lajang. Apa kata orang nanti.
"Bukan itu maksud abang. Abang tinggal di rumah sebelah." Andi meluruskan salah paham. Jasmine cewek lugu tak berpikir jauh makna kalimat Andi.
"Oh...Abang yang satu lagi tinggal di mana?"
"Itu Tokcer! Dia tinggal di ujung jalan. Di sini kamu aman. Bang Andi tinggal dulu ya! Tak baik dilihat orang kita berdua dalam rumah. Kalau kau perlu sesuatu datang saja ke emak. Bang Andi harus balik kantor. Kalau lapar minta pada emak ya!"
"Terima kasih bang! Jasmine takkan lupakan jasa Abang. Mengenai masalah calon tunangan itu karangan Abang satu lagi kan?" tanya Jasmine tersipu malu.
Andi tertawa ingat cara Tokcer kerjain ibu tiri Jasmine. Konyol tapi sukses.
"Itu hanya candaan untuk tipu ibumu! Apa aku ada tampang bos? Aku ini hanya asisten pak Alvan suami dokter Citra. Pak Alvan itu pemilik rumah sakit tempat kamu kerja. Bu Citra itu isteri bos kamu. Jadi yang sopan pada beliau."
"Oh...kukira Bu Citra hanya dokter biasa. Nyatanya nyonya bos toh! Pantas baik sekali."
"Dia baik sama semua orang. Kamu harus bersyukur jumpa pasangan suami isteri baik itu. Kita harus membalasnya sepuluh kali lipat. Yang penting kamu jujur pada Bu dokter."
"Iya bang!" Jasmine menerima semua nasehat positif Andi. Di mata Jasmine laki sedikit melambai itu juga baik walau ada kekurangan yakni kurang macho macam Tokcer. Soal paras Andi tentu lebih ok dari Tokcer. Andi pandai merawat diri. Bersih dan harum.
Sedangkan Tokcer hanya mengandalkan ramuan parfum pelet warisan engkong. Bau sangit bikin hidung mampet. Herannya ada yang bilang Tokcer itu pria paling ganteng sedunia. Tidak tanggung-tanggung cewek produk luar negeri pula yakni Natasha. Mantan calon isteri Daniel.
Andi meninggalkan Jasmine mengurus rumah. Tugas yang diperintah Alvan telah tuntas berarti dia sudah harus balik ke kantor. Tokcer balik ke gudang gabung sama Bonar bantu laki itu jaga gudang selama kedua majikan kecilnya liburan.
Satu hari berlalu buka lembaran baru untuk Jasmine. Kini Jasmine lebih ceria tanpa perlu ingat beban yang bikin hati merana.
Andi dapat tugas baru mengantar Jasmine berangkat kerja atas amanah Citra. Andi harus antar Jasmine ke rumah sakit sebelum masuk kantor. Andi sudah mirip Alvan harus antar Citra ke rumah sakit sebelum ke kantor.
__ADS_1
Apa Andi sedang dihampiri dewa amor bawa panah cinta di hati Jasmine. Jawabannya ada di hati pembaca setia novel ini.
Hari Alvan di operasi tiba. Semua tugas diambil alih oleh Untung dan Andi. Alvan akan istirahat dua hari di rumah sakit setelah operasi. Ini untuk mempercepat kesembuhan bos rumah sakit.
Citra di dampingi beberapa dokter senior termasuk dokter andrologi. Operasi ini diharapkan sukses karena menyangkut keinginan Alvan menambah anggota keluarga. Citra berusaha semaksimal mungkin penuhi harapan Alvan menambah momongan agar rumah mereka makin semarak. Usia Citra masih produktif untuk menambah anak.
Citra memimpin sendiri operasi Alvan. Alvan hanya dibius lokal karena bukan operasi besar. Hanya perbaiki syaraf yang terjepit gara kecelakaan. Hanya butuh waktu satu jam operasi kelar. Citra meninggalkan Alvan untuk ditangani dokter lain. Yang utama telah selesai. Tinggal menjahit bekas sayatan. Itu tugas dokter lain.
Citra harus istirahat sebentar karena ada satu operasi lagi harus dia kejar. Alvan yang sadar sepenuhnya kesal ditinggal pergi oleh Citra. Alvan mengira Citra tidak peduli pada suami sendiri pilih kabur seusai operasi.
Operasi selanjutnya satu jam ke depan. Citra harus beri waktu pada diri sendiri sebelum maju lagi di meja yang sama. Kali ini Citra libatkan Bryan dan Laura agar kedua anak itu bisa belajar lebih banyak.
Untuk sementara kedua orang bengal itu tidak berulah. Semua saran Citra dituruti agar dapat pengakuan Citra. Sedangkan ketiga kawan Laura telah ditempatkan di IGD agar bisa deteksi awal penyakit pasien.
Pokoknya Citra terbebas dari gangguan kedua calon dokter tengil itu. Mereka belajar serius setelah melihat kesuksesan Citra menjadi spesialis di usia relatif muda. Terutama Bryan malu pada Citra. Usia mereka tak jauh beda tapi tingkatan bak langit bumi.
Malam hari Citra baru sempat datang menjenguk Alvan. Citra sudah pulang mandi dan bawa bekal pakaian Alvan karena dia harus jaga suaminya. Sebagai isteri Citra wajib menjaga suami yang dirawat walau bukan sakit kronis. Itu kewajiban seorang isteri. Pas pula dokternya Citra sendiri. Klop lah!
"Halo... assalamualaikum.." Citra masuk ruang rawat Alvan di kelas VVIP.
Alvan tahu itu Citra. Suara khas yang jadi lonceng hati mana mungkin terlupakan. Cuma Alvan ingin lakukan aksi protes karena sang isteri abaikan dia dari keluar ruang operasi. Alvan ditinggal bersama perawat.
Alvan pura-pura tidur tidak mau menyahuti salam Citra. Cara kuno kelabui dokter yang jam terbang sudah lumayan tinggi. Kayaknya tidak akan sukses.
Citra meletakkan bawaan di atas meja lantas hampiri Alvan. Satu kecupan mesra mendarat di pipi laki itu. Kecupan rindu dari seorang dokter merangkap isteri.
"Wah...pasien tidur! Aku bisa pulang istirahat!" Citra monolog sambil melirik reaksi Alvan. Citra ayunkan langkah hendak pergi.
"Berhenti..." seru Alvan masih sewot diabaikan Citra. Alvan merasa tak penting bagi Citra. Suami dioperasi lalu ditinggal.
Citra tersenyum berhasil pancing suara Alvan. Ikan lugu gampang dikelabui. Di beri umpan sedikit langsung sikat.
"Enak apanya? Isteri aku kabur dibawa murid sendiri." ujar Alvan sewot.
Citra terkekeh lihat betapa tinggi urat leher Alvan. Semua timbul seperti ulat di dalam kulit leher.
"Ssttt...tak boleh tarik urat! Nanti syarafnya terluka lagi. Gimana? Sudah nyaman?" Citra naik ke pinggir brankas agar bisa rasakan kehangatan kulit suaminya.
Alvan meraih pinggang Citra gunakan tangan kanan. Tangan kiri mengelus paha Citra yang terbalut celana panjang. Gerakan Alvan menjurus hal cabul. Citra menepis tangan nakal suaminya. Untuk saat ini Alvan tak boleh terpancing gairah. Ototnya yang kena sayatan akan terluka bila ada sesuatu ikut menegang.
"Jaga sikap pak Alvan! Tak mau disorong ke meja operasi lagi kan?"
"Kapan bisa diajak beraktifitas?"
"Aktifitas apa?"
"Cetak adik Azzam." sahut Alvan berterus terang.
"Sebulan. Tunggu seluruh jaringan sembuh total. Bisa jadi dua bulan."
"Lama amat...kupikir seminggu sudah bisa diajak cangkul sawah tanam benih! Orang puasa cuma sebulan. Ini dua bulan...bisa merana si Otong ganteng ini!"
"Mesum terus biar lama sembuhnya! Mas sudah makan?"
Alvan mengangguk, "Disuapi suster cantik! Nasinya jadi enak."
"Oh gitu ya! Kalau gitu mulut juga harus dioperasi biar mangap terusan. Tak usah tutup lagi. Makan terus!"
__ADS_1
"Sadis nih dokter! Dikit-dikit main operasi!"
Citra menepuk dada dengan angkuh," Aku ini jago operasi laki berotak mesum. Tukang selingkuh, tukang intip cewek. Semua kubabat rata."
"Apanya rata? Batang kaktus juga kena babat?"
"Jika perlu...besok kusuruh satpam suapi mas biar nasinya makin berasa nikmat."
Alvan meringis bayangkan tangan satpam segede bet pinggang pegang sendok suapi dia sendok demi sendok. Belum lagi bau keringat satpam yang menyengat. Apa dia berselera makan lagi?
"Kejam nian nih bini! Besok siapa ganti perban aku? Cari suster yang tangannya licin. Biar si Otong dimanja tangan halus."
Citra besarkan mata dengar permintaan Alvan. Ada niat terselubung nih! Minta operasi biar si Otong dirawat suster cantik. Dasar suami mesum.
"Tenang...besok yang ganti perban ahli forensik! Jika perlu dibelah si Otong cari penyebab macetnya saluran cairan bibit."
Giliran Alvan besarkan mata. Apa hubungan penyakitnya dengan ahli forensik. Apa Otong ajaibnya telah tewas sehingga harus diperiksa.
"Nggak perlu...mending satpam saja!"
"Ok...makanya jangan genit! Punya anak jelang remaja masih genitan sama perawat. Mas sudah tua. Lihat rambut putih di kepala! Ngaca." Citra menunjuk rambut putih Alvan di antara rambut hitam. Tidak banyak tapi jelas terlihat.
"Hhhmmm...aku sudah tua ya! Rambut mulai memutih. Maka itu kita harus kejar target."
"Sebenarnya seusia mas belum waktu tumbuh rambut putih tapi pola hidup tak sehat menyebabkan muncul gangguan pigmen rambut. Kekurangan vitamin B-12 dan beberapa vitamin lain. Stress juga akan picu rambut putih. Mas coba hidup sehat. Rajin olahraga dan hindari minuman keras dan rokok. Niscaya uban takkan tumbuh di usia muda."
"Bicara dengan dokter bikin puyeng. Dulu mas memang sering minum temani relasi. Kalau merokok mungkin tidak. Stress iya...Mas stress lihat tingkah Karin dan penyakitnya. Laki mana tidak marah isteri berselingkuh."
"Hanya lelaki boleh marah? Perempuan tak boleh marah ya kalau suami selingkuh?" sekak Citra selagi dapat angin.
"Mulai lagi deh! Bukankah sudah janji tutup buku?"
"Memangnya aku bilang untuk mas? Kok mas merasa jadi topik?" sindir Citra senang bisa balas Alvan sedikit demi sedikit.
"Mas lagi dirawat lho! Orang sakit tak boleh diberi tekanan."
"Oh sakit harus dimanja ya? Ok harus dimanja! Besok akan aku suruh puluhan satpam manjain mas!"
Alvan gemas digoda Citra terusan. Ada saja bahan godaan dari Citra. Siapa sangka dokter penuh kharisma ternyata punya segudang akal bulus kerjain suami.
"Aku sudah kabari Daniel aku akan segera jadi papi lagi. Dia order tiga keponakan lagi."
"What? Tiga? Satu saja bikin kita repot. Aku sudah kerja full time. Waktu kita tersita oleh pekerjaan. Kapan sempat urus setengah lusin bocah. Kalau ada rezeki tambah satu saja. Itupun kalau ada. Kalau tak ada lagi artinya rezeki mas cukup Azzam dan kedua adiknya."
Alvan menyandarkan kepala ke dada Citra ingin rasakan detak jantung wanita yang dia cintai. Alvan berharap mendapat tambahan anak sebanyak mungkin. Anaknya cantik dan ganteng. Punya selusin lagi juga takkan rugi.
"Biarlah Tuhan yang tentukan! Kamu tak boleh ber KB. Biarlah mereka datang sesuai kehendak Tuhan!"
Citra tak mau berdebat dengan Alvan soal ini. Soal keluarga berencana bisa diatur sendiri. Citra seorang dokter maka gampang atur kapan tambah momongan. Mau tambah berapa juga bisa diatur selama Tuhan masih percayakan dia menjaga anak-anak.
"Iya...kak Daniel mau datang?"
"Tidak...besok katanya! Dia lagi sewot dikuntit murid mu si Laura. Dari tadi sore Laura di cafe Daniel. Songongnya lebih parah dari Natasha. Dia bersumpah akan taklukkan Daniel."
"Ya ampun si Laura ..anak itu berpotensi besar jadi dokter ahli tapi kok songong ya?"
"Laura itu hanya terpesona sesaat. Laura itu belum ngerti arti memiliki. Tunggu Dewa cinta mulai bekerja baru dia ngerti arti cinta sesungguhnya."
__ADS_1
"Mas punya cinta?" Citra mendorong kepala Alvan menjauh dari dadanya agar bisa lihat bola mata laki itu.