ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Operasi Sukses


__ADS_3

Daniel mendorong kursi roda Alvan meninggalkan daerah ruang operasi. Laki ini mendorong Alvan ke dalam lift diikuti perawat dari belakang. Perawat itu mengabdi sepenuh hati pada pasien apalagi pada pemilik rumah sakit. Harus makin rajin tunjukkan kinerja mereka yang pantas dapat pujian. Nggak masalah dibilang cari muka. Yang penting bertujuan positif.


Alvan didorong masuk ke dalam kamar oleh Daniel. Perawat setia langsung ambil alih Alvan dari tangan Daniel. Perawat bantu Alvan duduk di sofa temani Daniel yang duluan hempaskan badan ke tempat duduk.


Daniel mengusap wajah hilangkan kegundahan hati. Secara tak langsung dia telah celakai Laura. Andai Laura cacat dia harus tanggung jawab. Diiring ke penjara oleh bokap Laura Daniel rela.


"Kau boleh kembali ke post. Nanti kalau perlu akan kupanggil." ujar Alvan kepada perawat yang berdiri seperti satpam jaga dua maling.


"Iya pak!" suster balik badan meninggalkan ruang rawat Alvan.


Alvan menggosok kedua telapak tangan siap dengar curhat Daniel. Dalam telepon tadi Daniel janji akan bercerita mengapa Laura ke tempat Daniel tengah malam. Ada kisah kasih apa di sana.


"Apa benar tangan Laura patah?" gumam Daniel masih belum percaya Laura alami nasib sial.


"Kau pikir dia main gundu dengan Citra di dalam kamar operasi? Kata Citra tangan itu aset berharga seorang dokter bedah. Dengan tangan itu dia selamatkan nyawa orang. Kau punya andil patahkan tangan Laura?" selidik Alvan.


Daniel menarik nafas lalu membuang pakai mulut. Ntah mau buang rasa sesal atau buang sial. Pokoknya buang segala kegundahan.


"Laura balik setelah antar orang tuanya. Seperti biasa dia candain aku. Aku kesal sewaktu dia bilang biar dia lamar aku kalau aku tak punya nyali lamar dia. Aku dibuat seolah tak punya harga. Aku besar suara bentak dia, minta dia jangan datang lagi. Kuakui aku kasar tidak jaga perasaan anak itu. Dia pergi. Waktu sekitar jam dua belas."


"Kata perawat dia masuk sekitar jam satu. Kami sudah tidur tak tahu dia dibawa sini. Apa rencanamu selanjutnya? Mau bayar biaya operasi atau kamu jaga dia seumur hidup."


"Biayanya mahal nggak ya? Kau tahu gue bukan orang tajir. Kalau jaga dia seumur hidup aku belum tahu. Jujur ya! Aku cari orang seperti Citra bukan yang urakan tak tahu adat."


"Kau mau di dor bokapnya?" olok Alvan ditanggapi dingin oleh Daniel. Daniel memang merasa bersalah tapi perasaan tak bisa dipaksa. Semua yang diawali keterpaksaan pasti berakhir tragis.


"Kita lihat nanti! Aku mau balik ke tempat Laura operasi. Kau bisa ditinggal sendirian?"


"Mau jumpa siapa?" pancing Alvan tahu Daniel mau cuci mata intip istri kecilnya.


"Siapa saja asal sedap dipandang. Kenapa? Kau mau ikut cuci mata? Mana tahu ada perawat cantik."


"Biarlah semua untukmu. Aku cukup ada Citra." sahut Alvan kalem. Daniel mendecak kesal niatnya cepat ketahuan Alvan.


Pemandangan indah Daniel hanyalah sesosok wanita bertubuh mungil bertampang imut. Itu akan jadi penyejuk hati Daniel dan Alvan.


"Aku pergi dulu! Semoga ada yang lebih cantik dari Citra temani lhu! Rambut Mayang terurai, mata segede jengkol, wajah putih pucat dan belakang bolong."


Alvan ingin sekali gampar mulut ember Daniel. Semalam dia sudah kena prank Citra kini mulut jelek Daniel ungkit lagi sosok yang ingin dia lupakan.


"Semoga lhu di dor bokapnya Laura!"


"Doa orang sirik takkan dijabar Allah! Sebagai teman baik gue doain lhu dapat pengganti Citra yang suaranya melengking nyaring. Daaa.." Daniel angkat tangan hendak pergi. Daniel tak bisa berdiam diri pura-pura tenang setelah membuat Laura mengalami kecelakaan. Daniel yakin Laura tidak akan menyalahkan dirinya namun Daniel yang tidak tenang. Ingat kata Alvan kalau tangan merupakan aset berharga bagi seorang dokter. Kalau Daniel waras maunya bisa berpikir bukan cuma dokter perlu tangan. Pekerja apapun butuh tangan, bahkan semua orang di dunia ini.


Operasi berjalan cukup lama hampir tiga jam baru selesai. Dari reaksi para medis kelihatan operasi berjalan sukses. Citra paling akhir keluar dari ruang operasi. Semua berburu dekati dokter dan perawat cari tahu bagaimana akhir operasi.


Kepala tim operasi seorang berumur lanjut. Beliau dengan ramahnya menyalami keluarga Laura satu persatu dengan senyum lebar. Jawaban yang tak perlu pertanyaan. Tak perlu ditanya sudah tahu hasilnya bagus. Tak mungkin lah seorang dokter tersenyum bila operasi gagal.


Daniel tidak sibuk salaman. Laki ini lebih condong cari jawaban dari isteri temannya itu. Citra berjalan jauhi ruang operasi menuju ke kamar ganti pakaian sekaligus bersihkan diri dari sisa bekas operasi.

__ADS_1


Daniel mengejar Citra yang telah duluan pergi. Daniel mau dengar langsung kondisi Laura dari Citra. Daniel belum tenang bila tak mendapat jawaban dari Citra.


Citra terlanjur masuk kamar ruang ganti pakaian. Daniel tak punya pilihan lain selain menunggu Citra keluar. Menunggu memang tak menyenangkan tapi tetap harus dijalani karena Daniel ikut ambil andil dalam masalah kecelakaan Laura.


Hampir setengah jam Daniel menanti akhirnya muncul juga Citra telah ganti pakaian dengan seragam dokter yang sudah pasti warna putih. Sari sudut manapun dilihat Citra tetap paling menarik di mata Daniel.


"Citra... bagaimana Laura?" buru Daniel sebelum Citra pergi ke ruang praktek.


"Untuk sementara aman! Tunggu berapa hari lagi lihat masa penyembuhan. Tangannya telah dipasang pen. Harus tunggu berapa bulan kemudian baru buka pen. Kuharap kau ada rasa empati pada gadis ini."


"Maksudmu?" tanya Daniel sambil jalan beriringan dengan Citra menuju ke ruang praktek.


"Dia sangat suka padamu! Antara sadar tidak sadar dia memanggil namamu sebelum tidak sadar. Kata orang tua bila ada orang memanggil nama kita dalam keadaan koma maka orang itu adalah pengisi hati. Kuharap kau pertimbangkan Laura. Dia tidak sebut namamu dalam kecelakaan ini. Dia tak mau kamu terlibat. Pendek kata dia lindungi kamu dari ancaman keluarga."


"Gitu ya? Apa yang harus kulakukan agar dia senang?"


"Sangat sederhana. Sering jenguk dia! Itu saja. Maunya kau tunggu dia sadar. Begitu sadar kau di depannya akan percepat penyembuhan."


"Berapa dia akan siuman?"


"Antara tiga empat jam. Kau tunggu di ruang rawat saja. Sebentar lagi Laura akan di bawa ke ruang rawat. Aku harus masuk praktek. Kak Daniel tunggu saja di kamar mas Alvan. Kira-kira tiga jam lagi pergilah ke ruang Laura. Cuma selang dua kamar kok!"


Tak terasa mereka sudah tiba di ruang praktek Citra. Sudah banyak pasien menunggu menanti tangan ahli Citra tebar penyembuhan. Citra tak boleh lalai lagi mengurus para pesakitan. Mereka datang mencari kesembuhan. Mana boleh dikecewakan.


"Iya..aku tunggu di kamar suamimu! Terimakasih sudah bantu Laura. Aku jaga suamimu!"


Daniel manggut kecil biarkan Citra masuk ke ruang praktek. Dia sendiri balik ke arah lift untuk angkut dia menuju ke kamar Alvan.


Pikiran Daniel makin galau dengar cerita Citra. Apa benar Laura sangat suka padanya sampai terbawa dalam bawah sadar. Mereka baru kenalan tidak lama dari mana muncul rasa suka. Dari segi penampilan Laura menang segalanya dari Citra. Laura produk masa kini dengan segala pernak pernik kekinian sedang Citra old fashion tampilkan kedewasaan yang bikin orang hanyut.


Daniel berjalan di bawah kuasa lamunan. Akhirnya tiba juga dia di lantai khusus VVIP. Tanpa ragu dia masuk ke ruang Alvan tanpa ketok pintu. Daniel yakin tak ada orang di situ. Orang kaku macam Alvan ada berapa kawan akrab. Teman bisnis boleh satu gudang tapi teman curhat bisa dihitung jari.


Alvan sedang meneleponi seseorang. Laki itu tidak berhenti bicara walau melihat Daniel masuk. Alvan melanjutkan obrolan dengan serius.


Daniel tahu diri pilih duduk manis di atas sofa menanti sahabatnya siap ngobrol. Daniel yakin Alvan tidak sedang berkhianat dari Citra. Laki tidak takut ngobrol di depan Daniel berarti tidak ada rahasia.


Cukup lama Daniel menanti akhirnya Alvan mematikan ponsel menatap Daniel. Laki itu menghela nafas tanpa sebab. Daniel hanya bisa menanti Alvan buka cerita kalau dia berkenan. Mengorek rahasia orang bukan sikap terpuji.


"Saudara dari Kalimantan.." kata Alvan buka cerita.


"Ada apa lagi? Mau bikin ulah lagi?"


"Seperti biasa minta tuntutan dicabut alasan kemanusiaan. Kasihan Amang asyik ditekan saudara di sana."


Daniel tertawa sinis. Penjahat begitu masih ungkit soal kemanusiaan. Sewaktu berbuat jahat apa ingat kata itu. Kalau mereka sukses culik Citra apa ada kata belas kasihan?


Citra sekarang mungkin sudah tenang di alam baka Bika mereka berhasil. Kena tangkap minta belas kasihan. Apa mereka pantas mendapatkan rasa kasihan itu?


"Apa rencana kamu?"

__ADS_1


"Aku tolak... aku sudah maafkan mereka tapi hukum tetap lanjut. Sebagai keluarga aku bisa terima tapi dalam hukum mana ada kata keluarga. Yang salah tetap salah."


"Kau benar bro! Kenapa ya ada orang tega berbuat jahat demi kepuasan sendiri. Betapa mengerikan akhlak manusia sekarang."


"Itu cara berpikir kamu. Bagi mereka yang iman seupil mana ngerti kata akhlak. Kesenangan duniawi jadi prioritas utama. Ach...biar mereka urus sendiri! Mereka mau sogok agar cepat dibebaskan terserah! Gimana Laura?" Alvan pusing maka menutup cerita bikin otak mumet. Alvan hanya kasihan pada Amang yang kena sidang keluarga karena tak mampu jembatani Alvan dengan keluarga Kayla.


"Laura sudah siap dibantai bini lhu! Untuk sementara aman. Kata Citra tiga jam lagi aku disuruh tungguin Laura sadar."


"Woi...jaga mulut! Omong pakai takaran. Kapan bini gue jadi tukang jagal? Emang Laura lhu sapi betina?"


"Yaelah...canda! Bukankah bini lhu kerjanya potong orang tiap hari! Apa lhu tidak takut suatu hari lhu jadi target dia? Aku takut suatu pagi lhu bangun burung cucak Rowo lhu hilang di tempat?"


Alvan meraba burung pusakanya. Berulang kali Citra ingatkan Alvan agar jangan silap obral cinta. Tangan ahlinya siap buka praktek dukun sunat. Pasien pertama tentu saja Alvan. Ngeri juga punya bini ahli memainkan pisau operasi.


"Sembarangan...kau pikir Citra sudah gila main sikat. Lhu yang harus sadar tanggung jawab pada Laura!"


"Kamu dan bini lhu sama saja! Laura melulu... kita gantian saja! Lhu dapat Laura dan aku cukup puas dapat yayang Citra." kata Daniel pede.


Andai Alvan bisa bergerak bebas mungkin akan beri hadiah bogem mentah pada sahabatnya. Tidak bosan intai isteri sahabat sendiri. Tidak malu ngaku pula di depan suami teman.


"Kurasa kau harus ikut Laura dirawat di sini."


"Aku tidak sakit...untuk apa di rawat? Gue belum gila ikutan bikin kamu makin kaya. Mau tipu aku nginap di sini, biar bisa curi uang aku?"


"Sekarang belum sakit. Sebentar lagi akan kubuat kamu sakit parah. Masih belum menyerah kejar Citra?"


"Yayang Citra takkan mati di hatiku. Sampai kapanpun." kata Daniel isi hati. Rasa kagum pada Citra takkan pudar di makan waktu. Selamanya akan tetap menyala.


"Stress...besok kamu langsung nikahi Laura supaya bisa enakan tanggung jawab rawat dia. Bawa pulang ke cafe sampai tulangnya pulih."


"Iya...begitu dia sadar aku akan ijab kabul! Tapi bohong..."


Alvan tidak surprise Daniel asal bunyi. Bukan Daniel kalau berpikir waras. Namun Alvan tidak kuatir sedikitpun pada kejujuran Daniel. Dia percaya Citra tidak mudah kena rayuan laki lain selama dia tidak berulah lagi.


"Bohong terus biar hidung jelek lhu memanjang! Ingat pinokio boneka kayu pak Gepeto? Hidungnya memanjang kalau bohong. Kuharap kau tidak alami nasib sama."


"Wah...sudah jadi papi belajar baca cerita anak-anak! Betul-betul papi idola. Kelak aku akan punya selusin anak dari yayang Citra. Aku akan belajar lebih banyak dari lhu! Jadi papi terbaik sedunia." Daniel berkhayal punya anak dari Citra.


Alvan malas ladeni angan gila Daniel. Cerita ini takkan habis bila dilanjutkan. Dasar Daniel sinting tak mau keadaan.


Alvan sengaja diam biar mulut Daniel ikut anteng. Alvan malas buka mulut pilih naik ke brankar istirahatkan otak. Telepon dari Amang bikin kepala Alvan cukup pusing. Alvan kasihan pada Amang yang kena skak dari keluarga besar. Banyak nada sumbang dilontarkan pada Amang. Amang dianggap tak sanggup atur anak sendiri.


Daniel lihat Alvan kurang bergairah pilih tutup mulut. Mereka punya kegundahan masing-masing. Alvan pusing soal keluarga, Daniel pusing bagaimana harus bayar rasa bersalah pada Laura. Apa iya dia harus menikahi Laura untuk merawat gadis itu seumur hidup. Harga yang sangat mahal.


Daniel tertidur di kamar Alvan yang nyaman. Tak beda dengan hotel berbintang lima. Alvan juga ikut pejamkan mata buang segala kegalauan.


Ntah berapa jam mereka tidur. Seorang perawat masuk cek up ulang kondisi pasien. Perawat itu tersenyum melihat dua cowok ganteng tertidur dengan gaya masing-masing. Apapun gaya mereka tetap ganteng.


Orang berada di samping Alvan tentu bukan orang sembarangan. Tidak punya taring juga punya kuku runcing. Masalahnya kedua sudah dewasa pasti punya pasangan. Siapa tak kenal Alvan punya isteri berpotensi kuat. Siapa berani usik Alvan. Cari mati.

__ADS_1


__ADS_2