ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Pindah


__ADS_3

Alvan kembali ke ruang untuk melihat Citra apa sudah bangun. Ternyata wanitanya telah bangun duduk di atas tempat tidur berenung ntah memikirkan apa. Kening Citra dipenuhi garis kerutan.


Alvan tidak segan merangkul Citra begitu lihat Citra duduk termenung. Alvan ingin katakan kalau dia akan melindungi Citra dan kedua anaknya dari ancaman siapapun namun kalimat itu tidak terucap. Alvan takut Citra mengira dia hanya bermain di lidah.


"Sudah bangun sayang?" Alvan mengecup pipi Citra lembut dari samping.


"Mas...aku sudah dengar semuanya. Aku bangga mas membela aku tapi aku tak mau mas dan mama mas berseteru karena aku!"


"Kamu pantas diperjuangkan! Aku telah bersumpah tidak akan ijinkan siapapun sakiti kamu termasuk keluarga aku! Berkali kubilang aku siap tinggalkan semua asal hidup bersamamu." Alvan meraih jemari Citra lalu menciumnya berkali-kali.


"Mas...aku senang mas sayang pada kami! Tapi tidak sadarkah mas kalau sejak kita bertemu masalah tak henti menyerang kita. Aku lelah mas! Sangat lelah." kata Citra tak mampu berkata lebih rinci.


"Itu cobaan buat kita. Allah sedang menguji kita! Tapi percayalah pada mas! Asal kita bergandengan semuanya akan berlalu. Jangan pernah kau lepaskan mas sendirian di Padang tandus. Kaulah pelepas dahaga mas!"


"Aku sangat bosan harus berhadapan dengan sejuta kemelut. Pikiranku bukan hanya bertumpu pada skandal tapi masih ada nyawa pasien di tangan aku! Gimana aku mau kerja bila serangan tak henti? Atau mas tinggalkan kami biar semua berjalan seperti dulu. Kita anggap kita tak pernah jumpa!"


"Sudah terlambat untuk balik ke belakang! Kita sudah jumpa. Aku takkan bebaskan kamu pergi jauh. Tempatmu di sini! Di sisi Alvan..." Alvan meraih kepala Citra disandarkan ke bahunya. Alvan mau Citra berlabuh selamanya dalam sandarannya. Semoga saja ini tragedi terakhir dalam bahtera rumah tangga mereka.


"Mas..kau yakin untuk pertahankan kami di sisi mas? Mama mas sangat tidak suka padaku. Aku tak ingin ciptakan jurang pemisah antara mas dan mama. Ingat mas! Ada mantan isteri tapi tak ada mantan mama. Sampai dunia berputar dia tetap mamamu."


"Itulah mulianya kamu! Mama pasti menyesal menolak menantu sebaik kamu. Aku takkan mundur selangkahpun untuk perjuangkan kalian. Aku mencintaimu... aku jatuh cinta padamu setelah merengut mahkotamu! Setiap hari hanya ada bayanganmu di mata. Tapi rasa ego lelaki melarang aku ungkap isi hati."


"Sudahlah mas! Tak usah ulang kaset lama. Sekarang ngak terpakai lagi. Ini jaman digital."


Alvan memencet hidung Citra dengan gemas digoda isterinya. Alvan lega kalau Citra tidak tuntut perpisahan. Alvan belum siap kalau harus berpisah lagi dengan Citra dan anak-anak.


"Kau mau di sini atau temani aku di luar? Lama di sini nanti udah mandi wajib."


Citra mencubit pinggang Alvan bahas hal mesum di tengah duka. Citra tidak berselera sedikitpun layani Alvan bercinta setelah lalui hari berat. Citra butuh penenang jiwa yakni jumpa kedua anaknya. Cuma sayang keduanya masih menimba ilmu di sekolah.


"Aku di sini saja! Mas silahkan kembali kerja!"


"Baiklah! Mas selesaikan masalah kantor ya! Kalau lapar bilang sama mas biar Untung beli makanan."


"Belum ada selera."


"Nanti kita makan bersama. Mas di luar kalau kau butuh sesuatu."


"Apa aku boleh ngobrol dengan kak Karin?"


"Kenapa tidak? Yang penting kamu nyaman."


"Boleh bahas soal penculikan aku?"


"Fisik Karin kurang bagus, bagusnya tak usah bebani dia lagi. Mas tidak peduli padanya saja cukup merusak mentalnya."


"Apa harus berbuat arogan mas?"

__ADS_1


"Arogan? Kau lupa siapa yang mulai picu perang? Ach...tidak usah bahas Karin dengan mas! Kalian ngobrol soal kalian saja."


"Iya mas!" Citra mengalah tak ingin bangkitkan bad mood Alvan. Hari ini semua capek hati.


Alvan keluar dari kamar kembali bertugas. Keluarga dan tugas harus seimbang. Jangan karena fokus pada keluarga perusahaan terbelangkai. Sia-sia usaha kakek Wira bangun perusahaan. Giliran di tangan Alvan tumbang.


Waktu bergulir tak terasa telah sore. Alvan juga telah tuntaskan tugas pokok hari ini. Langkah selanjutnya adalah bawa Citra pulang bertemu anak-anak. Citra pasti rindu pada kedua kurcacinya. Kejadian hari ini akan jadi kenangan buruk bagi Citra.


Tokcer menjaga kedua anak Citra dengan baik setelah dengar kejadian menimpa Citra. Tokcer akan lindungi kedua anak majikannya dengan segenap jiwa. Jika perlu pertaruhkan nyawa mengingat Budi baik Alvan dan Citra.


Tokcer mengunci Azzam dan Afifa dalam rumah sementara dia jaga di depan pintu rumah. Tak seorangpun boleh masuk sebelum bosnya pulang. Lalat pun tak luput dari sergapan mata Tokcer. Jangan-jangan lalat itu alat pelacak canggih. Gitulah pola pikir Tokcer gara-gara kejadian Citra.


Alvan dan Citra tiba di rumah bareng Andi. Si lajang itu makin macho hampir dekati normal sebagai seorang lelaki. Andi tampak makin dewasa setelah dijadikan pegawai inti membantu Alvan.


Andi ikut Alvan pulang berhubung SIM belum kelar. Untung terlalu sibuk untuk urus SIM Andi. Sejak kepergian Wenda ke penjara, Untung harus kerja ekstra berhubung Andi belum sepenuhnya bisa diandalkan.


"Gimana adik-adik kalian? Apa mereka tahu kejadian hari ini?" tanya Citra begitu tiba di rumah.


"Mereka aman cuma aku tidak kasih tahu. Nanti mereka syok."


"Bagus kau sudah lakukan hal tepat! Jangan takuti mereka!"


"Tentu kak!"


"Kami masuk dulu! Kau boleh pulang istirahat.."


Citra mangut ijinkan Tokcer pulang istirahat. Hari mulai sore waktunya pegawai istirahat. Tak mungkin Tokcer bekerja dua puluh empat jam. Haruslah ada masa jeda untuk beri waktu luang bagi anak muda itu.


Tokcer pulang bareng Andi. Andi cukup ayunkan beberapa langkah sudah tiba di rumahnya. Beda dengan Tokcer harus jalan ke ujung gang. Tokcer kasihan pada Citra harus kehilangan kenyamanan sejak bertemu dengan Alvan. Tokcer bukannya tidak menyukai Alvan tetapi kehadiran Alvan telah menyulitkan keseharian Citra. Semua yang menimpa kehidupan Citra berawal dari Alvan sendiri.


Citra segera menemui kedua anaknya yang berada di kamar masing-masing. Citra tidak sabar ingin melihat kondisi anaknya. Citra tidak lupa memanjakan puji syukur pada Allah telah diberi keselamatan. Andaikata terjadi sesuatu pada dirinya maka kedua anaknya akan kehilangan induk mereka. Bagaimana lah nasib kedua anaknya kelak.


Citra menyembunyikan kegalauan di hadapan anak-anaknya agar kedua anaknya tinggal tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Azzam bukan orang peramah pada orang yang ingin menyakiti hati mamanya.


Citra memeluk anaknya satu persatu tanpa mengungkap kejadian yang sesungguhnya. Hati Citra sudah lega kedua anaknya dalam kondisi baik-baik saja. Citra berusaha berbuat seolah-olah tidak terjadi sesuatu agar kedua anaknya tidak curiga.


Citra berniat memasak namun dilarang oleh Alvan. Alvan yakin Citra butuh ketenangan untuk mengikis bayangan buruk yang terjadi pagi tadi. Maka itu Alfan melarang Citra memasak dan memilih memesan makanan dari restoran saja.


Azzam dan Afifa senang saja dapat menu sedikit meriah dari masakan Citra. Kalau menu restoran rata-rata full kolesterol dan protein. Kalau masakan Citra bertumpu pada empat sehat lima sempurna. Tidak mesti mewah yang penting sehat.


Malamnya keluarga Perkasa datang untuk menjenguk kondisi Citra. Heru pasti sudah bercerita tentang kejadian yang menimpa Citra. Sebagai kakek dan nenek Citra, orang tua Heru bergegas melihat keadaan cucu mereka.


Seperti hari sebelumnya keluarga inti Perkasa yang terdiri dari empat orang datang ke rumah Citra. Si lajang Gibran tak sabar ingin jumpai keponakan bonekanya. Wajah Afifa yang imut menggemaskan selalu bikin Gibran gregetan pingin cubit sampai merah.


Kali penyambutan Alvan lebih ramah karena Heru telah beri toleransi tinggi pada keselamatan Citra tanpa pandang bulu. Pak Sobirin dan Bu Sobirin dibuat kaget atas musibah yang menimpa Citra. Mereka wajib lindungi Citra yang merupakan satu-satunya peninggalan Hamka.


Keluarga Perkasa tidak peduli kalau Selvia adalah kerabat dekat. Yang salah tetap harus terima ganjaran setimpal. Tak ada toleransi pada Selvia dan mamanya. Tempat tepat adalah penjara yang dingin.

__ADS_1


Citra menyuguhkan minuman teh yang jadi minuman favourite. Citra cukup lama tinggal di Beijing sedikit banyak terbawa gaya hidup sana yang sangat suka minum teh.


Citra duduk di samping Bu Sobirin bermanja dikit untuk cari kehangatan seorang ibu yang telah lama tak dia rasakan. Kejadian tadi pagi cukup memukul mental Citra. Citra butuh orang yang bisa kembalikan semangat.


"Maafkan keluarga Oma ya sayang! Yang bersalah telah mendapat ganjaran." Bu Sobirin menguatkan Citra menyentuh punggung tangan Citra selembut mungkin. Bu Sobirin takut menyakiti Citra walau hanya dari sentuhan.


"Oma...terima kasih dukungannya! Citra tak dapat berbuat apapun untuk beri kelonggaran."


"Tidak perlu kasih kesempatan pada mereka yang jahat. Mereka pantas dapat ganjaran. Tadi sore mereka telah ditangkap atas perintah pihak berwajib. Sungguh luar biasa rencana mereka. Ternyata mereka ingin tangkap kamu untuk menelanmu buat pengakuan bahwa uang yang dicuri Selvia atas suruhanmu. Ini untuk membebaskan Selvia dan kambing hitam kamu. Lantas berbuat seolah kau menyesal dan bunuh diri." kata Heru dengan nada penuh tekanan amarah.


Citra bergidik tak percaya ada orang sejahat itu. Bagaimana mungkin anggap nyawa orang seperti seutas benang halus. Gampang diputuskan sesuka hati. Sungguh Selvia wanita mengerikan. Dari tampang elite full pesona ternyata tersimpan bom waktu siap diledakkan.


"Astaga...aku sama sekali tidak kenal Selvia. Mengapa dia tega berbuat sekejam itu." Citra terperanjat mendengar susunan rencana Selvia. Rencana mematikan.


"Sudah...mereka sudah dipenjara. Hukuman menanti mereka. Kini kau bisa hidup tenang." Bu Sobirin cepat-cepat meraih tangan Citra dari rasa kaget.


Siapa tidak syok disuruh mengaku berbuat curang lalu harus jadi korban untuk menanggung dosa Selvia. Selvia sungguh wanita mengerikan yang ada di permukaan bumi.


"Bukan cuma itu. Orang Banjar bergabung juga berencana jahat cuma mereka ingin menyingkirkan kamu. Tujuannya ke Alvan juga. Dana yang beri cukup fantastis. Hampir dua milyar hanya untuk singkirkan kamu." Heru buka juga kesalahan keluarga Lingga agar jangan hanya Perkasa beri kesan jelek pada Citra.


Citra makin menciut karena banyak orang menginginkan nyawanya hanya untuk Alvan. Kini Citra dipenuhi keraguan untuk berjalan di samping Alvan. Punya suami bukannya makin aman namun berbalik arah. Citra semakin dicelupkan dalam bara api yang setiap saat bisa membakar Citra hingga gosong.


"Tenanglah sayang! Opa dan Oma sudah perhitungkan jalan ke depan. Kalian pindah ke rumah dekat rumah Oma. Di samping rumah Oma. Opa mu telah beli rumah itu untuk kalian. Minggu ini kalian sudah bisa pindah ke sana. Opa dan Oma bisa jaga kalian."


Citra menghela nafas. Niat Bu Sobirin sangat baik dan tulus. Sadar Citra telah berkeluarga tak mungkin serumah dengan mereka maka mereka beli rumah di samping agar bisa pantau Citra dan kedua anaknya dua puluh empat jam. Keselamatan Citra dan anaknya akan terjamin.


Alvan ingin mengeluarkan pendapat namun Citra duluan mengangguk. Citra makin tak berharap dari keluarga Alvan yang mamanya terangan mendukung orang jahat. Tidak menutup kemungkinan Bu Dewi akan tega sakiti Azzam dan Afifa untuk balas sakit hati saudaranya. Sifat Bu Dewi sulit ditebak.


Gibran yang menyimak dari tadi berseru gembira Citra dan anaknya akan pindah ke tempat mereka. Berarti dia bisa main dengan keponakan bonekanya.


"Ngomong-ngomong apa Gi boleh jenguk Azzam dan Afifa?" Gibran memutuskan obrolan menyangkut keselamatan Citra.


"Boleh... mereka lagi belajar di kamar. Masuk saja Om kecil nan ganteng!" olok Citra ingin akrab dengan adiknya.


Gibran menaikkan kerah baju merasa makin keren diakui ganteng oleh kakak sepupu. Wanita secantik Citra saja akui dia ganteng, artinya pasaran Gibran lumayan tinggi. Beberapa tahun ke depan Gibran akan buat para remaja patah hati bila ditolak ungkapan cinta.


"Maaf...orang ganteng mau lewat!" Gibran melewati para pendahulunya dengan sopan.


Semua tersenyum lihat kelucuan Gibran. Sangat jauh berbeda dengan Azzam yang serius dalam segala hal. Mau bercanda hanya dengan Andi cs. Azzam menemukan chemistry dengan ketiga jagoan neon.


Gibran pasti akan mendapat kesulitan bila adu mulut dengan Azzam. Lidah Azzam terlalu runcing dilawan orang berhati lapang macam Gibran. Gibran lihat dunia dari gaya easy go sedang Azzam menganut gaya stand up. Azzam kaku bila jumpa hal tak disukai.


"Kita kembali pada topik kita. Oma akan ganti seluruh perabot dan cat ulang rumahnya. Oma tahu kamu pasti senang warna putih. Kamar Koko dominan warna biru keabuan dan Afifa pink pudar. Semoga mereka suka pilihan Oma. Gi juga minta kamar di situ. Di cat warna hijau tentera. Kau tak keberatan Gi minta tinggal di situ?"


"Tentu tidak Oma...malah senang Azzam dan Afifa dapat kawan. Terima kasih ya Oma!" Citra memeluk Bu Sobirin terharu dapat perhatian penuh dari keluarga barunya.


Alvan membeku merasa malu tak bisa beri rasa aman pada Citra dan anak-anak. Alvan menawarkan rumah namun ditolak Citra. Mungkin insting Citra duluan katakan jangan terima pemberian Alvan yang berimbas tuduhan Bu Dewi. Citra tidak menerima apapun saja dicurigai. Gimana kalau Citra terima tawaran Alvan.

__ADS_1


__ADS_2