ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Jumpa Uyut


__ADS_3

Semua yang di rumah telah menanti dari tadi. Afifa sampai ngantuk menunggu. Gadis kecil ini tak dapat menahan diri bila jam sembilan berdentang. Matanya auto sayu minta dibawa ke tempat tidur.


Berhubung yang datang Oma Uyut si kecil berusaha menahan diri agar jumpa walau sebentar. Asal jumpa Oma Uyut Afifa sudah puas.


Suara mobil masuk rumah mengajak seluruh anggota keluarga beramai keluar rumah berdiri di teras sambut tamu dari Beijing. Citra dan Afifa berdiri paling depan menanti Bu Sobirin. Orang tua ini selalu menjadi pusat perhatian sekeluarga. Peramah dan pencinta.


Bu Sobirin paling duluan turun dari mobil menatap dua cewek beda generasi telah menantinya. Afifa melepaskan diri dari Citra berlari hampiri Bu Sobirin.


"Oma Uyut..." seru Afifa tak dapat menahan diri. Untung kebiasaan Afifa melompat ke pelukan orang tidak dipraktekkan pada Oma Uyut. Oma Uyut mana sanggup diserang tubuh montok Afifa. Gadis kecil ini makin hari makin subur akibat kuat makan. Seleranya bertambah terus.


Afifa meringsek masuk ke dalam pelukan Bu Sobirin tak ijinkan orang lain sentuh Oma uyutnya. Alvan tercekat hatinya lihat betapa akrab anaknya dengan sang Oma. Beda dengan mamanya. Anak-anak cuek pada Bu Dewi.


"Tuan Puteri kesayangan Uyut!" Bu Sobirin memeluk Afifa dengan suka cita. Wajahnya berseri jumpa buah hati yang makin subur.


"Ayo masuk Oma Uyut...Amei rindu masakan Uyut!" Afifa menarik tangan Uyutnya dahului yang lain. Anak ini tak open yang lain.


Alvan dan Heru menurunkan bagasi dari bagasi mobil di belakang. Keduanya saling berbentur bahu nyatanya perang dingin gara perebutkan hak asuh bayi dalam perut Citra. Alvan tidak rela darah dagingnya harus pindah tangan lagi. Sudah cukup kejadian Afisa. Sudah di tangan orang lain susah banget minta kembali.


Kedua singa garang ini mendorong bagasi koper ke dalam rumah. Sementara yang lain saling melepaskan rindu. Citra dan Afung cipika-cipiki ikuti tradisi adopsi dari negara barat. Orang timur mana ada tradisi gitu.


Satu persatu keluarga masuk ke dalam untuk lepaskan penat setelah tempuh perjalanan jauh. Ruang tamu jadi tempat peristirahatan bagi dua keluarga ini. Afifa duduk manis di samping Oma Uyut berusaha menahan rasa ngantuk yang menggila. Demi jumpa Oma dia harus kuat.


Bik Ani hidangkan teh hangat untuk seluruh keluarga sesuai permintaan Citra. Dalam pemikiran Citra kedua orang tua Heru pasti telah kenal tradisi orang Tiongkok suka minum teh di kala senggang. Kopi bukan lah minuman kesukaan orang sana. Teh yang menjadi minuman utama.


"Wah enak dapat suguhan teh!" Bu Sobirin meraih cangkir langsung dekatkan ke bibir cicipi hidangan nikmat.


"Oma Uyut capek?" tanya Afifa lugu.


"Sedikit...Afifa tidak ngantuk?"


"Ngantuk juga. Tapi setelah jumpa Oma Uyut jadi hilang ngantuk."


Bu Sobirin makin gemas pada cicitnya ini. Di masa tua gini apa yang jadi hiburan kalau bukan bercanda dengan anak cucu. Ini bukan cucu pagi tapi cicit. Satu kebanggaan bagi keluarga Perkasa punya cicit di usia masih produktif.


Afung hanya berdiam diri karena tidak paham apa yang diobrolkan Afifa dan Omanya. Dia harus banyak belajar bahasa suaminya agar lancar komunikasi dengan anak tiri dan mertua. Sejauh ini Afung percaya tak ada yang bergunjing tentang dia karena adanya Citra di situ.


"Gimana kalau kita semua istirahat? Aku capek sekali. Dan anak-anak sudah waktunya tidur. Besok kan harus sekolah." Heru tak sabar ingin mandi dan istirahat. Besok dia harus mulai ke kantor berhubung sudah terlalu lama ditinggal. Alvan telah membantu namun tak bisa ambil keputusan terhadap proyek baru. Tetap harus ada pemilik asli di tempat.


"Setuju...sekarang kita bubar dulu! Besok kita ngobrol lagi. Papa juga sangat lelah. Maklumlah sudah tua!" Pak Sobirin angkat badan dari sofa hendak pulang ke rumah di sebelah. Tulang tua tak berguna lagi. Di ajak jalan jauh engsel rontok semua.


Dua pasangan beda generasi pulang ke rumah sebelah diantar oleh Alvan. Alvan bantu bawa bagasi opa Oma Citra. Sebagai lelaki gentle Alvan tak biarkan orang tua angkat beban berat.


Anak-anak berhamburan masuk kamar persiapkan diri menyongsong fajar esok. Tinggal Citra sendiri lega melihat keutuhan keluarganya. Semoga tak ada cobaan singgah di keluarga mereka. Cukup sekian terpaan badai di antara mereka.

__ADS_1


Citra kembali ke kamar hendak ikutan tidur. Ibu hamil yang kuat. Tanpa ngidam aneh dan muntah-muntah seperti ibu hamil lain. Sudah ada yang wakili maka Citra hamil dengan tenang.


Citra ganti baju tidur agak tipis model daster. Lekuk tubuh yang mulai melar jelas tercetak dari baju tidur tipis. Perutnya sudah menonjol ciptakan bukit kecil. Citra mengelus perut yang berisi janin yang bakal menyandang nama Lingga lagi. Ntah bagaimana reaksi Bu Dewi tahu cucunya bakal segera bertambah.


Alvan tertegun melihat Citra berdiri sambil mengelus perut. Baru kali ini Alvan melihat siluet Citra dalam pakaian tidur tipis. Iman Alvan bergetar rasakan panggilan alam ingin meleburkan diri dalam diri Citra.


Alvan bergerak maju melingkari perut Citra dengan kedua tangan. Tangan laki itu ikutan mengelus perut yang mulai menggunung.


"Sudah ada gerakan?" tanya Alvan lembut.


"Belum. Mungkin bukan depan. Besok kita cek up bayinya ya! Kita ajak Oma lihat bagaimana perkembangan janinnya."


"Iya ..tapi jangan Hans ya! Aku cemburu dia pegang kamu. Dokter cewek kemarin saja."


"Idihhh... cemburu buta! Seorang dokter takkan tertarik pada ibu hamil. Sudah ratusan wanita dia cek dan bantu lahiran toh belum pernah terdengar dia berbuat senonoh pada pasien."


"Pokoknya tak boleh...papi boleh kunjungi anak-anak? Papi kangen lho! Sudah lama tidak dapat jatah. Kasihan burungnya tak jumpa anak burung. Boleh ya?" rengek Alvan memelas minta dikasihani.


Citra tertawa kecil melihat Alvan seperti ikan tak jumpa air dalam waktu lama. Kuyu tak ada cahaya, untung belum tewas kehausan.


"Harus ekstra hati-hati lho mas! Janin kita bukan satu. Mereka masih sangat kecil rawan guncangan."


"Mas akan pelan anggap banyak polisi tidur. Jalan hati-hati awas ada hambatan!" gurau Alvan bikin Citra tersenyum. Citra tak bisa tahan hasrat suaminya yang cukup lama menahan diri karena ingat kesehatan janin.


Pagi hari sarapan lezat sudah terhidang di meja haruskan seluruh warga keluarga ikut sarapan. Ini sarapan bersama pertama kali sejak berpisah lama. Bu Sobirin menyiapkan sarapan penuh gizi untuk anak-anak, ibu hamil serta orang baru sembuh sakit.


Bu Sobirin menyayangi Afung sebagai isteri Heru. Bu Sobirin tak peduli beda suku, yang penting Afung sudah ikuti agama suaminya. Semua tampak cerah kecuali dua ekor singa belum puas belum saling mengaum.


Di centil Afifa paling getol cari perhatian sang Uyut. Anak ini tahu masa dia sebagai anak bungsu akan segera berakhir bila adik mereka lahir. Dia akan naik pangkat jadi kakak dari empat bayi yang belum tahu jenis kelamin.


"Ayok di makan Afung!" kata Bu Sobirin dalam bahasa lokal. Ntah Afung ngerti atau tidak bahasa yang keluar mulut perempuan paro baya ini. Afung tidak tahu persis tapi bisa menangkap maksud mertuanya.


Afung tersenyum mengangguk. Mungkin ini bahasa tubuh paling manis bisa diterima semua orang.


"Oya...aku berniat adakan pesta pernikahan di sini. Tak perlu ramai asal ada acara resmi saja!" ujar Heru utarakan niat umumkan dia sudah punya isteri pada semua orang. Berpesta otomatis sebar berita playboy kondang Perkasa telah akhiri masa duda.


"Bagus juga...biar tak ada cewek antri daftar jadi nyonya Heru lagi." timpal Alvan ntah mengejek atau bantu Heru bicara pada orang tua.


"Lha kamu kok nggak pestakan pernikahanmu dengan anakku? Sampai punya tujuh anak tak pesta."


"Dulu sudah pesta. Kami ini pengantin basi. Semua tahu aku ini sudah punya anak isteri untuk apa pesta lagi. Nanti pesta kelahiran anak kami."


"Baguslah! Aku akan minta orang urus pesta kami. Citra tak boleh ikut campur karena om tak mau kamu capek. Bawa empat bayi saja sudah melelahkan. Kamu duduk manis saja." Heru langsung beri ultimatum sebelum Citra minta ijin. Dari gerak gerik wanita itu tersirat mau ambil alih acara pesta ini. Heru bisa dibunuh Alvan bila terjadi sesuatu pada anak mereka. Sebelum terjadi hal tak diinginkan mending Heru duluan bersuara.

__ADS_1


Wajah Citra kontan hitam kurang senang diragukan kemampuan jadi panitia pesta.


"Biar mama yang urus. Mama kenal banyak WO kok! Bahkan ada saudara kita kok! Pasti dapat korting. Kita adakan pesta di rumah saja. Tak perlu sewa gedung. Halaman rumah kita cukup luas untuk pesta kok?"


"Sewa gedung saja ma! Aku tak suka banyak orang masuk rumah kita. Apalagi di saat Citra sedang hamil. Kita tak tahu niat hati orang. Lebih baik kita buang sedikit dana cari aman. Manusia macam aku dan Alvan banyak musuh. Anak-anak saja kami kawal dari jauh. Kita undang musuh ke rumah sama saja buka peluang untuk mereka keliaran di rumah." kata Heru punya pendapat sendiri tentang lokasi pesta. Heru tak mau ruang pribadi mereka dirasuki oleh mereka yang hati belum tentu bersih. Mereka datang sama saja beri peluang.


"Aku setuju dengan om Heru. Biarlah tempat resepsi di tempat lain. Daerah kita biar steril dari tangan jahil. Aku akan back up dari belakang. Pakai hotel milik Azzam juga boleh. Azzam pasti kasih gratis. Ya kan bujang papi?" Alvan bertanya pada Azzam yang hanya tersenyum simpul. Punya hotel mewah dia juga tak tahu. Bagaimana dia mau kasih keputusan.


"Bagaimana bagus di papi! Koko ikut saja!" sahut Azzam kalem. Gaya Flamboyan Azzam bakal bikin cewek histeris bila dewasa kelak.


Afifa masa bodoh dengan semua obrolan. Dia sibuk dengan semua hidangan yang dia anggap cocok dengan selera. Gibran juga diam tidak ikut campur. Ikut campur juga belum tentu didengar. Mendingan bungkam menanti kelanjutan pernikahan papanya. Gibran tidak kuatir punya ibu tiri. Dia punya kakak bisa diandalkan.


"Papa setuju usul Alvan! Kita gunakan gedung hotel milik Azzam. Ada diskon untuk opa kamu kan Zam?" olok pak Sobirin menggoda Azzam. Lagi-lagi Azzam hanya bentuk segaris bibir.


"Untuk opa tersayang Koko gratiskan! Yang penting makanannya harus enak. Tuh untuk tikus gendut!" bibir Azzam memanjang tunjuk ke arah Afifa yang asyik mengunyah.


Semua ketawa senang. Satunya yang tidak ketawa hanya Afung karena tak paham lelucon Azzam. Citra kasihan pada Afung jadi cicak di dinding. Tak ngerti apapun.


Citra menerangkan apa yang jadi obrolan mereka supaya Afung tidak salah artikan. Nanti dikira omongin dia. Afung tersenyum menatap Afifa. Artinya wanita ini ngerti topik bicara.


"Ok...mama akan atur semuanya! Kita mulai dari busana pengantin. Baru busana untuk keluarga. Kartu undangan baru catering." kata Bu Sobirin semangat.


"Catering tak usah Oma! Biarlah jadi tanggung jawab pihak hotel. Kita cuma perlu kasih daftar menu. Mereka yang akan urus semua makanan." ujar Alvan mengurangi beban Oma Citra.


"Gitu ya! Ini lebih bagus. Kita saling membahu semua akan lebih mudah. Mama akan cari butik top untuk bikin gaun pengantin."


Heru bersyukur Alvan antusias bantu pesta dia. Tidak rugi punya menantu kaya raya punya segalanya. Alvan termasuk manusia beruntung. Semua tergenggam dalam tangan. Segunung materi juga anak berderetan. Citra masih sanggup melahirkan beberapa anak lagi jika Alvan inginkan. Heru berdoa semoga setelah lahiran Citra bersedia melanjutkan hamil untuk periode selanjutnya. Mesin cetak anak subur.


"Ok... anak-anak bersiap ke sekolah! Hari ini mami akan ke rumah sakit bersama Uyut untuk lihat perkembangan adik kalian. Mami akan cepat pulang." Citra beri kode agar anak-anak bersiap ke sekolah. Perut sudah kenyang saatnya menimba ilmu di sekolah.


"Amei pesan ayam goreng tepung kayak dulu ya Uyut!"


Citra mencolek kepala anaknya yang otaknya berisi makanan melulu. Badan sudah bersaing dengan gentong air masih ingat makan.


"Amei mau gendut kayak gajah? Lihat pipi sudah kayak bakpau isi kacang hijau!"


"Isshhh mami ini! Yang gendut tuh mami! Badan mami sudah jelek! Perut buncit." tukas Afifa menunjuk perut Citra yang mulai tampak membukit.


"Itu bukan gendut sayang! Itu ada adik Afifa. Mereka tidur di sana sampai lahir. Dulu Afifa juga gitu! Sembunyi di perut mami sampai lahiran." terang Bu Sobirin bijak agar cicitnya paham arti kehamilan Citra.


Afifa angguk paham,"Gitu ya! Maaf deh mami! Amei salah sangka. Kita pamitan dulu!"


"Salim dulu sayang!" seru Citra ingatkan anak-anak tetap berlaku sopan pada orang tua.

__ADS_1


Satu persatu anak menyalami para orang tua pamitan ke sekolah. Di luar supir setia si Tokcer sudah menunggu antar mereka ke sekolah.


__ADS_2