ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Afisa Balik


__ADS_3

Alvan tertawa geli melihat kecemburuan Afifa tidak dapat jatah kecupan. Kini perhatian Alvan harus dibagi pada Afisa yang juga anak cewek.


Alvan melakukan apa yang diminta Afifa. Semua tertawa melihat kelucuan Afifah tidak terima Alvan melupakan dirinya. Kalau sudah begini Alvan merasa betapa indahnya hidup ini. Kegalauan di dalam hati terlupakan sejenak.


"Nah sekarang kita pergi jalan-jalan! Kalian mau ke mana?" tawar Alvan ingin menunaikan janjinya kepada anak-anak.


"Kami ingin lihat Brondy dan Kitty. Cece ingin kenalan sama kedua kucing kami. Bolehkah?" tanya Afifa sambil mengusulkan rute jalan mereka.


Alvan agak gundah karena ada Karin di rumah itu. Membawa anak-anak ke sana berarti mereka harus berjumpa dengan Karin. Alvan merasa belum waktunya mempertemukan anak-anak pada Karin. Alvan belum percaya pada Karin. Bisa saja muncul kesenjangan rasa cemburu di hati wanita itu celakai anak-anak.


"Begini sayang...Kak Andi akan jemput kucing kalian ke sini! Kita pergi main di tempat lain ya!" Alvan membeli solusi lain agar Karin tidak berjumpa dengan anak-anaknya. Masih butuh waktu yang panjang untuk memahami bagaimana sikap Karin terhadap anak-anaknya. Apakah Karin akan tulus menerima anak-anak Alvan dari Citra? Dinilai dari sifat Karin yang sangat buruk Alvan merasa takut mempertemukan mereka.


"Brondy dan Kitty boleh tinggal di sini Pi?" seru Afifa terloncat kegirangan.


"Tentu saja! Oma Uyut pasti akan ijinkan." Alvan menatap Bu Sobirin lekat-lekat mohon pengertian. Bu Sobirin tidak tahu apa yang terjadi hanya bisa mengangguk. Alvan memohon bantuan tentu ada alasan sendiri. Bu Sobirin tidak tahu apa itu namun memilih iyakan.


"Ayo ucapkan terimakasih pada Oma Uyut!" perintah Alvan pada ketiga anaknya.


"Terima kasih Oma Uyut..." koor ketiga anak itu.


"Ok...sekarang Uyut temani kalian ganti baju untuk ikut papi jalan-jalan. Ayok!" Bu Sobirin meminta ketiga bocil Alvan ikut dengannya untuk ganti pakaian. Besok Afisa sudah balik ke arena tanding. Hari ini maunya tinggalkan kenangan manis agar punya semangat untuk bertanding.


Satu hari berlalu manis membawa sekotak kenangan indah buat Afisa. Afisa telah menerima Alvan sebagai figur papi terlepas dari sikap buruk Bu Dewi. Di mata Afisa Omanya pantas terima karma buruk atas sikap buruknya.


Heru sebenarnya tidak ada bisnis ke Singapura. Laki ini hanya ingin meringankan beban Alvan yang sudah cukup banyak. Heru membuat alasan ada bisnis agar bisa antar Afisa.


Mereka berangkat dengan tiket paling pagi yakni Pukul lima pagi. Jarak tempuh hampir 900km dengan waktu Satu jam tiga puluh menit. Alvan, Citra dan kedua saudara kembar Afisa ikut antar sampai ke bandara. Om ganteng mereka tidak ketinggalan ikut antar. Gibran selalu angkat salut pada ketiga keponakan ajaibnya. Masing-masing punya kelebihan tersendiri.


Afisa memeluk Citra erat-erat seakan tak ingin pisah dari induknya. Setiap pertemuan tetap ada perpisahan. Tak ada yang abadi. Setelah pulang kali ini ntah kapan Afisa baru bisa injakkan kaki di tanah kelahirannya. Waktu Afisa selalu terkuras oleh jadwal latihan. Liburan sekolah latihan makin padat. Itulah resiko seorang atlet.


Afifa menyembunyikan wajah di pundak Alvan bersedih pisah dengan Cece kesayangan. Dua hari bersama waktu yang sangat singkat. Itupun diwarnai insiden pertengkaran dengan Oma mereka.


"Afisa kapan balik sini?" tanya Gibran tidak rela keponakan cerdasnya cepat tinggalkan tanah air.


"Cece tak tahu. Nanti liburan om ke Beijing ya! Om lihat kehidupan Cece di sana! Tidak seenak kalian di sini! Waktu main kami hampir tak ada." sahut Afisa tersenyum manis.


Kalau Afisa bukan keponakannya Gibran pingin ikat Afisa dengan perjanjian nikah di kemudian hari. Hampir sama dengan kasus papanya. Jatuh cinta pada keponakan sendiri. Gibran juga merasa getaran sayang di hati.


"Iya...om pasti datang! Kamu harus jadi tuan rumah baik lho!"


"Pasti..."


"Di Singapura ada siapa menantimu?"


"Ada mama dan adik mama. Dia juga pesenam tapi lebih sering melatih kami. Namanya Afung ie. Orangnya cantik tapi pemalu."


"Oh...semoga kita cepat bertemu lagi. Kami akan rindu padamu!"


"Terima kasih om!"


Operator bandara mengumumkan penumpang pesawat menuju ke Singapura untuk memasuki gate keberangkatan alias cek in. Heru segera bersiap menggandeng cucunya untuk masuk ke tempat khusus untuk penumpang yang akan berangkat.

__ADS_1


Citra merasa berat melepaskan Afisa tinggalkan tanah air. Dia bahkan belum sempat ngobrol dari hati ke hati dengan Afisa. Waktu mereka terbuang oleh insiden yang diciptakan Bu Dewi. Namun Afisa mempunyai tanggung jawab sendiri terhadap tugasnya. Afisa mempunyai tugas mulia membela bendera tempat dia bernaung.


Afisa memeluk keluarganya satu persatu sebelum tinggal landas. Terakhir Afisa memeluk Alvan. Gadis kecil ini memeluk Alvan cukup lama untuk katakan dia juga sayang pada Alvan tanpa mengeluarkan kalimat. Alvan dapat merasakan isyarat yang diberikan oleh Afisa. Kasih sayang yang tak terungkap namun melekat di relung kalbu.


"Jaga diri ya nak! Papi akan menanti medali emas darimu. Kamu cukup berjuang tapi jangan jadi beban. Apapun hasilnya kau tetap anak papi." Alvan menangkup wajah Afisa gunakan kedua tangan.


Afisa mengangguk setuju nasehat Alvan. Ternyata papinya tidak seburuk bayangannya. Alvan malah menanam pohon cinta di hati Afisa. Perlahan akan tumbuh subur hasilkan buah manis.


"Yok sayang! Kita masuk!" Heru mengajak Afisa untuk cek in karena pengumuman telah diulang.


Masa pandemi begini pesawat hanya terbang satu trip karena masih jarang penumpang bepergian. Orang takkan bepergian bila tidak penting. Masing-masing menjaga diri agar terhindar dari penyakit covid 19 yang telah merajai dunia.


Heru dan Afisa masuk ke gate khusus penumpang. Afisa melambai sebelum menghilang di balik kaca tebal.


Hati Alvan tiba-tiba terasa kosong. Kegembiraan jumpa Afisa ternyata hanya sesaat. Anaknya kembali ke tempat dia menimba ilmu juga menonjolkan bakat yang telah tertanam dalam diri anak itu.


"Ayok kita berangkat ke sekolah! Nanti terlambat ke sekolah." ajak Alvan bertugas antar ketiga anak yang harus balik ke bangku sekolah.


"Iya Pi...Amei masih inginlah main sama Cece! Dia harus balik ke tempat jauh. Coba kalau dia tinggal di sebelah rumah. Kan enak bisa jumpa setiap hari." keluh Afifa menerawangkan angan berharap kakaknya berada di tanah air.


"Cece kan harus sekolah dan ikut lomba. Kelak kita pasti kumpul lagi. Bukankah kita akan kuliah bersama Cece?" tukas Azzam bangkitkan gairah Afifa agar jangan bersedih ditinggal Afisa. Semua tahu Afifa sangat sayang pada Afisa.


"Kuliah? SD saja belum tamat. Itu kalau tamat...coba kalau Amei tinggal kelas. Seribu tahun lagi ngak bakalan ketemu." Afifa manyun.


"Lama amat sampai seribu tahun. Bola dunia mungkin ngak bulat lagi. Mungkin sudah gepeng." gurau Gibran ciptakan suasana segar supaya Afifa tidak terlalu sedih.


"Om Gi benar kok! Seribu tahun dunia ntah gimana." timpal Azzam untuk menyenangkan Afifa.


Mereka berlima berjalan meninggalkan bandara menuju ke parkiran. Kelima orang ini hanya bisa berdoa Afisa dan Heru mendarat di Singapura dengan selamat. selama perjalanan dilindungi oleh Allah SWT.


Pintu gerbang sekolah sudah dibuka namun murid yang datang belum seberapa. Cuma ada satu dua orang murid datang diantar oleh orang tuanya. Satpam dan penjaga serta guru piket menanti di depan pintu gerbang sekolah. Penjagaan sekolah ini cukup ketat mengingat banyaknya kejadian penculikan anak-anak. Yang sekolah di situ rata-rata anak-anak yang mempunyai penghasilan cukup lumayan.


Azzam dan Afifa segera masuk ke dalam halaman sekolah setelah menyalami Alvan dan Citra. Perlahan kedua tubuh mungil itu ditelan oleh ruang kelas masing-masing.


Alvan bersiap mengantar istrinya ke rumah sakit untuk melakukan tugas sebagai seorang dokter. Alvan sendiri harus kembali ke perusahaan karena banyak sekali pekerjaan terbelangkai. Masih banyak hal yang tak bisa diwakilkan kepada Untung. Tetap harus ada pemimpin utama. Apalagi sejak kejadian Selvia Alvan perketat semua aset keluar masuk.


Dalam mobil sepasang suami-istri larut dalam lamunan masing-masing. Citra masih kepikiran pada Afisa sedang pikiran Alvan melanglang buana lebih jauh. Bu Dewi belum ada kemajuan. Kasus Selvia akan masuk sidang. Selvia, Wenda dan Hakim akan disidang penggelapan uang.


Selanjutnya masih ada sidang kasus lain untuk Selvia dan mamanya. Yakni kasus penculikan Citra. Hebatnya keluarga Perkasa tidak ikut campur. Mereka hormati semua keputusan pengadilan. Citra dan Selvia sama-sama keluarga Perkasa walaupun Selvia tidak ada mengalir darah Perkasa.


"Mas...kau tampak agak kurusan." Citra melirik ke wajah Alvan yang agak tirus. Bulu-bulu halus tampak menyebar di bawah pipi dan dagu. Wajah yang biasa klimis kini agak lecek.


"Aku pernah begini sembilan tahun lalu. Waktu aku kehilangan kamu. Aku sempat frustasi kehilangan jejakmu. Untunglah sekarang kau kembali."


"Sudah kembali kok masih lecek gitu! Ngak senang ya punya anak istri?"


"Ngawur...banyak kejadian buruk menimpaku! Mungkin ini untuk bayar kesalahan pada kalian. Sekarang kalian lah obat mujarab aku!"


"Masa? Bukankah obat usir ngantuk mas itu kak Karin? Wanita secantik bidadari."


"Mau ejek aku ya?" Alvan ulurkan tangan mengacak rambut Citra. Secepat kilat Citra menghindar karena Cepol rambutnya bisa rusak oleh tangan jahil Alvan.

__ADS_1


"Lho itu fakta! Aku ini kan hanya kacungmu. Ngak sengaja kena racun obat perangsang gagahi istri sendiri." Citra sengaja putar kisah lama biar Alvan ingat dosa sendiri.


"Bisakah tak putar kaset lama? Sudah boleh dibuang kaset jaman. Sekarang sudah jaman digital. Hidup baru semangat baru."


"Kalau semangat baru ya harus tampilkan semangat kekinian. Kok kusam kayak baju belum kena strikaan."


"Iya nyonya...aku akan semangat. Semoga semua persoalan kita kelar sebelum anak-anak libur. Aku ingin memberi yang terbaik pada anak-anak pada liburan ini."


"Amin..."


"Terima kasih sudah memaafkan aku! Sekarang kalianlah matahariku!"


"Idiihh.. sudah pinter menggombal ya?"


"Menggombal istri sendiri tidak dosa loh! Hukumnya halal."


"Sok pintar...ngerti agama saja tidak...sok jual agama!"


"Namanya juga usaha. Mulai belajar memahami ajaran agama. Aku akan belajar darimu untuk menjadi seorang imam yang baik. Oh ya... mengapa kita tidak mengajak Karin menenangkan diri di ponpes yang diceritakan oleh pak ustad dulu. Bukankah pak ustad mengatakan bahwa di ponpes itu semuanya orang yang terjangkit virus HIV? Mungkin Karin akan menemukan ketenangan di sana."


"Usul mas bagus juga... nanti coba ku bicarakan dengan Kak Karin! Mau atau tidaknya tergantung dia sendiri. Kita tidak berhak memaksa kehendak kita."


"Iyalah! Terserah kamu asal Karin tak merasa kita membuangnya."


"Duh yang sakit hati istrinya harus diungsikan!" olok Citra membuat Alvan mendelik.


"Mulai lagi. Nanti kubawa ke hotel baru tahu rasa!" ancam Alvan disusul tawa renyah Citra. Citra tak mau ambil resiko diculik Alvan ke hotel. Tugas di rumah sakit masih segunung.


"Dasar suami mesum...cuci tuh otak pakai detergen!"


"Ntar kelewat bersih ngak bisa nafkahi kamu. Malah hilang selera lihat paha mulus. Biarlah mesum gini! Aku masih berharap punya bayi lagi. Setelah badai kita berlalu kamu operasi aku ya!"


"Ok...sekalian kupotong burung cucak rowonya ya! Biar tidak nakal berkicau sana sini!"


"Jangan...itu modal untuk cetak generasi baru Lingga! Sadis amat nih dokter! Main bantai saja!"


"Kalau gitu cukup Azzam dan adik-adiknya. Tidak perlu tambah lagi. Aku pun sangat sibuk tak sempat urus baby lagi. Artinya aku tak perlu pusing pikir alat KB."


Alvan tertegun dengar ocehan Citra. Secara tak langsung Citra ungkap betapa dia setia. Dia tidak takut tanpa KB selama Alvan masih infertilitas. Jawaban Citra melegakan Alvan namun tetap tergelitik ingin beri Afifa adik.


"Aku mau berobat sayang! Kita tak boleh melawan hukum alam kalau menikah itu perbanyak keturunan."


Citra mencibir. Ideologi dari mana menikah harus banyak anak. Toh mereka tidak berbuat salah aborsi anak. Mereka hanya menjaga agar tidak ada pembuahan dalam rahim Citra. Tidak melawan hukum agama.


"Kita lihat nanti! Persoalan kita masih segunung. Kita tuntaskan satu persatu dulu. Soal operasi itu gampang! Hanya operasi kecil tak ganggu aktivitas kamu kok!"


"Benarkah?"


"Benar..." jawaban Citra tepat waktu Alvan hentikan mobil di parkiran rumah sakit. Alvan tidak turun karena harus segera ke kantor sebelum jalanan macet.


Citra mencium punggung tangan Alvan minta doa agar tugasnya hari ini berjalan lancar. Alvan membalas ciuman Citra dengan kecupan di kening Citra. Jantung Alvan terasa damai mendapat sentuhan kasih dari istri tercinta.

__ADS_1


Awal pagi yang baik. Semoga hari ini semua lancar. Saling mendoakan pasti akan mendapat jawaban terbaik. Doa tulus selalu akhir manis.


Setelah Citra masuk ke dalam rumah sakit, perlahan mobil Alvan bergerak meninggalkan halaman rumah sakit. Tujuan Alvan tentu saja tempat dia mendulang uang.


__ADS_2