ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Singa vs Singa


__ADS_3

Citra mendekati Heru dan Daniel sedikit ragu. Bagaimanapun dia harus hormati Alvan sebagai suami sah walau mereka sudah pisah dalam agama. Apalagi mereka terikat oleh anak-anak. Citra harus lebih jaga diri agar jangan dicap wanita murahan merayu para lelaki kaya.


"Hai yayang Citra?" seru Heru dengan pede melambai kepada Citra. Heru begitu gembira jumpa Citra dalam kondisi sehat. Lelaki ini belum tahu telah hadir pesaing dahsyat siap duel merebut Citra.


Daniel menelan ludah kaget mendengar panggilan sayang Heru pada Citra. Apa keduanya telah menjalin hubungan mesra sampai Heru pede menyapa akrab. Mimpi dampingi Citra makin kabur. Daniel tak mungkin melawan dua singa berkuku tajam. Kekuatan kedua singa itu seimbang cuma Alvan diuntungkan punya kartu as. Yakni adanya bocil di antara Citra dan Alvan.


"Baru datang?" Citra berusaha netral tidak terpengaruh sikap ganjen Heru. Bukan sekali dua kali Heru berbuat konyol ciptakan keadaan seolah Citra adalah pasangannya.


"Baru juga. Wah...kau cantik sekali sore ini! Ayok duduk sini! Ini ada Daniel datang ikut nyumbang!" Heru tak tahu Citra sudah basi mengenal Daniel. Mereka sudah kenal jauh hari sebelum Heru hadir. Bahkan sebelum ada Azzam dan Afifa.


"Aku kenal kok Kak Daniel! Hari ini bawa apa?" Citra ambil tempat di samping Daniel untuk hindari kemelut lebih rumit. Kalau dia dekat-dekat Heru kepergok Alvan dijamin laki itu akan meledak. Dari tadi Alvan tampak kurang senang dengar nama Heru muncul di sekitarnya.


Citra tak mau jadi bahan perseteruan dua cowok jantan. Bisa heboh satu kampung bila dua singa kota berantem untuk perebutkan seorang dokter.


"Aku bawa mesin pompa dan mekanik untuk cari sumber air bersih. Aku ada bawa roti susu lho! Yang kemarin sudah habis?"


"Sudah...dibagi dengan anak-anak pengungsi. Terima kasih atas kebaikan mas Heru! Jarang ada orang kaya mau turun tangan sendiri datang ke tempat bencana! Mas Heru patut jadi panutan." ujar Citra lembut dibalas tawa garing Heru. Laki itu bahagia bukan main dipuji Citra setinggi awan.


Daniel makin tak mengerti apa hubungan Heru dan Citra. Keduanya tampak cukup akrab bahkan Heru tahu makanan kesukaan Citra. Alvan pasti tidak tahu apapun tentang Citra. Alvan sudah terlalu lama tenggelam dalam pesona Karin. Karin benar-benar karamkan Alvan ke dasar laut. Alvan hancur karena ulah Karin. Masih untung Alvan tidak kena virus HIV. Di balik bencana ada hikmah manis.


"Aku datang untukmu! Aku mana tega biarkan kamu kesepian di sini. Paling tidak ada kawan ngobrol." Heru menyahut dengan manis.


Daniel merasa perutnya mual dengar rayuan murahan Heru. Jaman gini masih ada rayuan kelas teri.


"Aku tidak kesepian. Di sini banyak teman kok! Mas Heru tak perlu repot buang waktu ke sini. Tangan mas juga belum sembuh total. Besok balik ke rumah sakit lihat kondisi tangan mas. Ada dokter Rahma gantiin aku!"


"Aku tunggu kamu buka benang jahitan. Buka di sini juga boleh!"


"Jangan! Bagusnya di rumah sakit. Di sana peralatan lebih komplit. Obat di sini ala kadar mas!"


"Aku percaya pada kemampuan kamu! Aku siap tanggung resiko asal kamu yang tangani."


"Mana boleh gitu! Kami sebagai dokter tetap harus utamakan keselamatan pasien. Mas bilang apapun tetap dokter yang bertanggung jawab."


Dari jauh Alvan berjalan gagah dekati kelompok Heru dan Citra. Wajah Alvan mengeras menahan amarah melihat Heru asyik ngobrol dengan Citra. Daniel jadi kambing congek di antara Heru dan Citra. Ikut ngobrol tidak nyambung maka itu seniman gagal itu pilih diam.


Sinetron menarik bakal tayang secara live di daerah bencana. Daniel katakan pada diri sendiri tak boleh terpancing ikut dalam perang merebut boneka hidup. Biarlah dua dewa dalam mitologi Yunani berperang. Semoga yang menang adalah dia.


Heru cukup kaget melihat sosok tinggi besar berada di tempat dia sedang mengincar mangsa cantik. Untuk apa Alvan datang ke lokasi bencana. Datang memantau kinerja dokternya atau hendak pamer harta kalau dia kaya raya menyumbang banyak.


Otak kiri Heru belum bekerja dengan baik terima signal SOS kalau ada bahaya sedang mengintai.


"Pak Alvan...tumben mampir?" sapa Heru dahului Alvan.


"Bukan tumben tapi memang sengaja datang lihat dokter aku!" Alvan pasang wajah jutek seraya duduk di samping Citra. Alvan tidak ragu tunjukkan dia memang datang untuk Citra.

__ADS_1


"Iya...pak Alvan sengaja datang pantau kinerja kerja kami! Pak Alvan takut kami tidak bertanggung jawab." Citra cepat menyambung sebelum Alvan buka kartu mengacaukan suasana. Tangan Citra turun ke bawah mencubit paha Alvan agar jaga mulut.


Alvan nyaris menjerit kesakitan dapat serangan gelap. Musuh kejam melancarkan serangan tanpa aba-aba. Untunglah Alvan mampu menahan diri agar tak tampak bodoh di depan Heru. Alvan hanya bisa mengelus pahanya yang jadi korban pelecehan dokter cantik. Alvan berjanji akan buat Citra membayar cubitan pedihnya.


"Oh gitu ya! Pak Alvan tak usah meragukan keterampilan Citra. Dia dokter terbaik yang kutemui. Cantik, lembut dan menghanyutkan." ucap Heru melontarkan tatapan penuh penghargaan pada Citra.


Alvan mengepal tinju ingin daratkan ke wajah ganteng Heru. Tapi Alvan tak boleh gegabah merusak nama baik Citra.


"Citra itu baik pada semua orang. Aku kenal dia luar dalam."


"Wow...bos yang baik! Gimana tawaran aku soal saham rumah sakitmu? Aku bersedia investasi di sana. Kita bisa kerja sama bangun rumah sakit lebih besar. Kita bagi dua biar posisi kita sama."


"Tidak ada niat jual saham karena itu peninggalan kakek aku! Aku cukup puas dengan perkembangan sekarang ini. Kelak anak aku akan warisi semua itu."


"Anak? Bukankah isterimu keguguran? Apa ada rencana produk lagi?" nada Heru seperti simpatik tapi mengandung ejekan.


"Tidak perlu karena aku sudah punya anak dengan isteriku. Citra kenal kok sama anak-anak aku! Ya kan Cit?" Alvan sengaja bicara lembut sewaktu menyebut nama Citra. Biar Heru ngerti dia bukan cuma bos Citra tapi orang yang seharusnya berdiri di sisi Citra.


Citra mengangguk malas menjawab. Kalau dia buka mulut ceritanya akan melebar ke mana-mana.


"Wah pak Alvan punya banyak rahasia terselubung! Isteri mana lagi dalam brankas tersembunyi." sindir Heru merasa kalah telak oleh Alvan.


"Isteri yang sangat berharga maka harus disembunyikan! Tak sembarangan orang boleh tahu siapa dia karena dia adalah masa depan aku. Seluruh hidup aku hanya untuk dia dan anak-anak aku!" Alvan berkata sambil tersenyum pada Citra. Citra melengos tak urung mukanya memerah. Alvan merayunya secara tak langsung.


Daniel merasa dadanya ngilu dengar perdebatan dua singa perebutkan seekor burung merak cantik. Heru tak tahu burung cantik incarannya sudah ada pemilik. Di antara dua singa itu siapa bakal tampil jadi juara memenangkan hati Citra.


"Kalian ngobrol. Aku ada pekerjaan sedikit." Citra pilih pergi di ajang tak sehat ini. Kalau diteruskan yang ada perang mulut meletus di pengungsian. Citra masih waras tak ijinkan hal ini meledak di tempat di mana orang sedang berduka.


Tersiar di luar dua pengusaha datang ke pengungsian adu mulut demi seorang dokter akan jadi trending topik memalukan. Citra bukannya senang kehadiran dua singa kaya itu, justru bikin masalah.


Daniel ikut Citra bangkit dari arena panas. Kobaran api pasti akan menyala makin besar bila kedua orang itu masih bahas soal dokter cantik rebutan. Daniel pilih ikut Citra cari kegiatan. Biar dua singa bodoh saling mengaum sementara dia petik hasil dari perseteruan dua singa itu.


Citra menenangkan diri di sudut tenda pengungsian. Citra cukup dibuat kebingungan oleh tingkah dua lelaki yang konon katanya raja bisnis. Punya insting kuat di bisnis tapi lemah hadapi percintaan. Tidak peka baca kondisi di mana orang yang dituju berada di antara mereka.


Citra menghempas diri di lantai plastik tanpa atap. Rasa jengkel membawa Citra ke keadaan tak stabil. Padahal dia butuh konsentrasi penuh untuk merawat pasien. Kehadiran Heru dan Alvan bukannya membuat keadaan membaik. Justru ciptakan masalah buat Citra.


Citra tidak tahu kekonyolan apa lagi bakal digaungkan dua manusia songong itu. Saling berbalas pantun gunakan sindiran untuk memuaskan ego masing-masing?


"Kenapa? Galau dikejar dua ekor singa garang?" Daniel muncul langsung ikut duduk di samping Citra.


Citra melirik Daniel sekilas lalu membuang nafas sebanyak mungkin biar rasa kesal ikut terbuang.


"Kenapa Alvan datang?" tanya Citra masih tak habis pikir apa tujuan Alvan datang ke lokasi bencana.


"Kenapa tanya aku? Pertanyaan itu bisa kau jawab sendiri. Aku tidak heran Alvan datang justru aku heran mengapa Heru ada di sini? Ini bukan gayanya terjun lapangan."

__ADS_1


Citra mengedik bahu tidak ada ide untuk menjawab. Logikanya memang Heru tak mungkin datang. Apa tujuan Heru ke situ Citra yang paling jelas.


"Aku juga heran dari mana dia tahu aku tugas di sini. Kemarin dia juga datang."


"Hehehehe...kau ngaku toh dia datang untukmu! Heru itu playboy kondang. Jangan terbius kebaikannya! Alvan jauh lebih baik dari Heru."


"Kok promosi temannya? Emang aku tak tahu sifat Alvan? Kami pernah satu rumah selama setahun. Di matanya semua orang itu jelek. Cuma Karin yang baik."


"Tapi Alvan sangat setia! Dia tak pernah main perempuan."


"Tidak main perempuan tapi menyakiti perempuan. Nggak usah bahas hal tak bermanfaat. Pusing kepala aku! Ceritakan keadaan kakak selama ini! Apa usaha kakak sekarang?" Citra ganti topik bosan cerita tentang dua raja bisnis itu. Biar mereka saling serang asal jangan ganggu Citra.


"Aku? Setelah kedua orang tuaku meninggal aku tinggalkan Jogja merantau ke ibukota. Dibantu oleh Alvan aku buka cafe di pinggir kota. Lumayan untuk menyambung hidup. Aku dan Alvan rutin berhubungan tanpa rahasia. Alvan berhasil membangun kerajaan Lingga makin besar. Perusahaannya menggurita menyaingi Heru."


"Lalu kenapa Karin tersesat?"


"Mungkin terlalu pede akan cinta Alvan maka dia berkelana tebar pesona. Dia punya uang, Alvan tak pernah batasi dia berfoya-foya hidup di atas tumpukkan materi. Karin jadi lupa diri. Dia dapat karma dari semua kelakuannya."


Citra termenung dengar cerita tentang kelakuan Karin. Alvan berikan semua hidup pada Karin namun balasan sungguh menyakitkan. Alvan hambur uang untuk Karin sementara dia banting tulang besarkan tiga anak. Sungguh tidak adil bagi Azzam dan Afifa. Kedua anak itu hidup sederhana di sisi lain papinya sebar uang tanpa perhitungan.


"Segala yang diawali dengan jalan sesat akan berakhir tragis. Aku tidak mengutuk Karin. Wanita itu banyak berbuat salah padaku. Dulu aku benci padanya tapi setelah lihat Azzam dan kedua adiknya aku jadi bersyukur. Tanpa campur tangan Karin aku takkan memiliki anak-anak pintar. Aku telah lepas semua rasa dengki di hati. Aku hanya ingin hidup tenang bersama-sama anak-anak. Tak ada yang lebih penting dari anak-anak aku!" ujar Citra tegar tidak ingin terjebak dalam masa lalu yang pahit.


"Karin sudah panen buah busuk yang dia tanam. Kau tidak berniat beri kesempatan pada Alvan untuk menjadi imam di keluarga?"


"Itu terlalu dini untuk dibahas. Aku ingin Alvan fokus urus Karin dulu. Orang sudah jatuh jangan diinjak! Kita tak tahu rahasia hidup ini! Hari ini Karin mungkin besok lusa giliran kita. Kita syukuri apa adanya!"


Hati Daniel damai dengar kalimat Citra sarat nasehat mulia. Itulah yang disukai Daniel dari Citra. Selalu punya pandangan positif walau jelas orang itu telah bersalah padanya. Alvan beruntung punya isteri semulia Citra.


Orang boleh berkata Citra sok alim, sok baik, sok peduli. Itu tidak akan menggoyahkan niat hati Citra berbagi kebaikan. Citra ingin mengumpulkan pahala bekal di hari tua.


"Semoga kamu bahagia Citra!" Daniel berdoa setulus hati buat Citra. Wanita sebaik Citra dapat ganjaran baik berlipat ganda.


"Kamu juga ya! Semua orang berhak bahagia. Eh..nggak ada niat mandi?" Citra teringat Daniel belum mandi. Senja mulai jatuh hadirkan nuansa kelabu di langit. Tak lama lagi waktu akan beralih ke remang kelam. Udara akan berubah dingin.


"Emang ada tempat mandi memadai?"


"Ada di kantor desa. Pergilah mandi sebelum dingin! Malam hari udara sangat dingin. Maklumlah daerah lembah!"


"Baiklah! Aku akan ajak Bonar ikut mandi! Anak Batak itu bisa dipercaya?" Daniel meragukan kredibilitas Bonar yang sangat kasar. Tak ada keramahan di wajah itu walau dia sedang dalam posisi senyum.


"Tampang doang sangar. Anak baik kok! Hidup di jalanan cari sesuap nasi! Syukur Alvan bersedia beri lapangan kerja."


"Oh gitu ya! Kalau ada stok begitu kau kasih ke aku dua orang biar kulatih bantu di cafe. Karyawanku sekarang banyak tingkah. Di tegur dikit langsung ngambek tak masuk kerja. Bisa tinggal di cafe kok!"


"Tunggu kuminta Andi lacak dulu! Cari yang jujur itu paling susah! Kalau Bonar dan Tokcer tidak usah diragukan. Aku kenal mereka."

__ADS_1


__ADS_2