ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Makan Sekeluarga


__ADS_3

Citra dan Andi sibuk di dapur. Alvan dan Afifa main boneka di ruang ruang tamu. Sumpah mati baru kali ini Alvan temani anak kecil main boneka. Bertahun Alvan sebagai anak tunggal di keluarga. Kebetulan Pak Jono juga anak tunggal. Otomatis tak banyak kerabat dekat. Keluarga dari Bu Dewi jauh di Kalimantan. Mau jumpa susah kecuali ada acara keluarga barulah mereka berkumpul.


Afifa memaksa Alvan berpartisipasi menjadi papa dari bonekanya. Afifa mana ngerti kalau papinya seorang presiden direktur perusahaan besar. Pemimpin ratusan anak buah. Jatuh ke tangan Afifa Alvan tak ubah seperti badut ikut permainan Afifa.


Kata orang sayang anak apapun dilakoni. Alvan sudah ikuti saran kata orang entah siapa orang itu. Alvan dengan sangat terpaksa ikut main disuruh lakoni adegan tidak masuk akal sehat Alvan.


Alvan disuruh minum kopi dari gelas kecil kosong. Disuruh gendong anak boneka agar si boneka mau tidur siang. Kini Alvan baru menyesal beliin Afifa mainan ginian. Imbasnya pada Alvan.


Alvan berdoa semoga Andi cepat datang menjadi juru selamat dia. Andai ada Andi permainan ini bisa dialihkan pada laki bertulang lunak itu. Dari tadi Andi yang kawani Afifa main. Pas Citra pulang, Andi bantu di dapur. Alvan kecipratan apes gantiin Andi.


Penderitaan Alvan berakhir tatkala suara Citra bergema memanggil seisi rumah makan siang. Alvan puji syukur terbebas dari permainan Afifa. Alvan bukan tidak tulus kawani Afifa namun permainan Afifa bukan ranah Alvan.


"Sayang...mami panggil makan. Yok simpan mainan dulu! Nanti main lagi." bujuk Alvan tak sabar ingin menyudahi acara mengeloni boneka.


"Iya Pi...Amei rapikan dulu ya! Sayang bonekanya ditumpuk dalam plastik." tangan mungil Afifa memilih setiap boneka dikembalikan ke kotak sesuai tempat awal boneka.


Alvan memuji cara Citra didik anak. Baik Afifa maupun Azzam menghargai setiap milik mereka. Ada sebagian anak mainan dicampakkan begitu saja selesai main. Tak jarang dilempar sampai patah bahkan hancur. Alvan bersyukur Citra telah memberinya anak-anak bernilai plus.


Alvan menanti dengan sabar menunggu Afifa selesai menyusun mainan. Kini semua telah kembali seperti awal. Semua terisi dalam kotak masing-masing.


"Yok papi!" Afifa menggandeng Alvan lewati ruang tamu belok ke ruang lain. Beberapa langkah mereka jalan telah tiba di dapur merangkap ruang makan. Citra dan Andi sibuk menata meja khusus menyambut anggota baru di rumah mereka. Meja makan kecil hanya ada empat kursi. Biasa Andi selalu berada di salah satu kursi itu. Muncul Alvan menggeser posisi Andi ke tempat lain.


Meja di ruang Citra cukup tampung empat orang. Murni khusus satu keluarga Citra. Lengkap papi mami dan dua anak. Kalau Afisa pulang harus beli meja baru agar ada kursi tambahan.


Bau harum soto mencubit hidung Alvan. Sudah berapa lama dia tidak makan masakan Citra. Setiap masakan Citra selalu enak di lidah. Alvan akui Citra adalah juru masak jempolan. Tahu yang terbaik buat Alvan. Sayang Alvan buta hati menyiakan wanita sebaik Citra. Masih adakah kesempatan bagi Alvan merengkuh Citra kembali ke pelukan? Tergantung usaha dan ketulusan Alvan merebut kembali sesuatu yang pernah hilang.


"Amei...panggil Koko makan!" Citra perintah Afifa memanggil Azzam yang mungkin ngambek kehadiran Alvan di rumah. Azzam sengaja menanti Alvan tadi malam untuk lihat kesungguhan Alvan pada mereka. Ternyata ada halangan Karin masuk rumah sakit. Azzam mana mau tahu kesulitan Alvan. Di situ Azzam mau lihat Alvan mementingkan siapa. Ternyata Alvan memilih Karin.


"Ayok kita cuci tangan dulu!" ajak Afifa sok dewasa ingatkan Alvan akan kebersihan.


Alvan mengangguk. Beginilah punya mami seorang dokter! Anak terdidik utamakan kebersihan dalam keseharian. Afifa pantas jadi anak dokter Citra.


Afifa mengiringi Alvan ke wastafel membasuh tangan. Afifa demikian ceria tak tunjukkan baru sembuh sakit. Anak itu bersemangat tak peduli semalam Alvan ingkar janji. Hati Afifa lebih lembut dari Azzam. Gadis cilik ini punya sejuta maaf buat Alvan.


Azzam datang dengan muka masam. Kerlingan mata si lajang tajam hujam ke ulu hati Alvan. Azzam sedang melancarkan perang keluarga tanpa amunisi berat. Tatapan mata Azzam saja mirip rudal binasakan musuh.


Andi tahu diri membawa mangkuk soto pulang makan di rumah sendiri. Citra ijinkan Andi bawa pulang lumayan banyak agar bisa dimakan bersama Bu Menik dan Nadine. Sesama tetangga saling memberi dan menerima. Bu Menik juga sering ngasih pada Citra tanpa hitung untung rugi. Jasa Bu Menik mengurus dua anaknya Citra sudah melebihi pemberian termahal.


"Koko mau makan apa? Ini ada telor ceplok dan soto. Mami isi yang mana?"


"Duanya...pake bawang yang banyak ya!" sahut Azzam


"Ok... Amei yang mana?" Citra mengarah pada Afifa yang masih kegirangan makan bersama Alvan. Makan nasi putih juga terasa nikmat bila bersama Alvan.

__ADS_1


"Apa aja deh! Papi mau soto? Soto buatan mami paling lezat. Gurih goyang lidah." Afifa promosi masakan Citra agar Alvan tidak ragu makan.


"Papi tahu...mami kan isteri papi! Dulu mami masak untuk papi tiap hari."


Citra tersenyum Alvan masih ingat kebersamaan di jaman silam. Kirain tinggal kisah tanpa ada kenangan. Citra menyendok nasi untuk Alvan layak bini tulen. Persis kejadian masa lalu. Cuma sekarang bertambah dua anggota baru.


Mereka makan tanpa banyak cerita. Ada peraturan tak tertulis di rumah Citra. Di larang ngobrol saat makan. Waktu makan adalah waktu mengisi perut sambil meresapi nikmat makanan. Andai mulut dipakai mengunyah sekaligus ngobrol citarasa makanan akan terhapus oleh ocehan mulut. Makanan tertelan tanpa rasa.


Sekali-kali Alvan melirik Azzam yang sangat tenang melahap masakan maminya. Azzam menghargai setiap jerih payah Citra membesarkan mereka. Masakan paling sederhana sekalipun tetap terasa nikmat bila dirasakan pakai hati. Azzam benar sosok anak Soleh bagi Citra. Umur seumur jagung tapi pola pikir seumur pohon beringin. Bijak memberi keteduhan.


"Afifa mau nambah?" tanya Alvan lihat piring anak gadisnya sudah kosong. Afifa menggeleng tanda tolak. Perut Afifa tak sanggup menampung lebih banyak lagi karena pencernaan belum pulih benar gara sakit kemarin.


Bisa habiskan satu piring nasi sudah merupakan prestasi lumayan buat Afifa. Lain Azzam yang gembul. Lajang ini tak segan menambah beri kode masakan Citra kali ini sesuai seleranya. Alvan sendiri sudahi makan siang tanpa menambah. Perut masih sanggup diisi namun gengsi mencuat melarang laki ini perlihatkan kerakusan. Malu pada Citra. Lama tidak makan masakan Citra, sekali dapat masa harus balas dendam santap sampai lupa daratan.


"Amei ngantuk!" Afifa menguap ngantuk setelah perut full. Afifa masih belum fit seratus persen maka masih timbul rasa lelah.


"Papi kawani bobok?" tawar Alvan respon keadaan Afifa. Afifa manggut senang Alvan mau temani dia tidur. Bersama papi idola segalanya terasa indah.


"Mami...Amei bobok sama papi ya!" lapor Afifa seraya tinggalkan meja makan. Dari belakang Alvan ngekor ke mana gadisnya melangkah.


Kamar Afifa kecil tidak mewah. Hanya ada meja belajar dan lemari pakaian serta ranjang single bed. Kalau diukur mungkin segede kamar mandi di rumah Alvan. Rumah Alvan mewah penuh fasilitas mewah. Sangat kontras dengan hunian Citra. Satu rumah Citra mungkin seukuran dapur di rumah Alvan. Perbedaan bak langit dan bumi.


Walau rumah Citra kecil namun aura kehangatan terpancar dari setiap sudut rumah. Berada di situ bikin hati adem. Beda dengan rumah Alvan yang serba wah. Rumah bak istana raja namun hanya ada kebisuan bekukan hati penghuni. Apa lagi kini rumah itu penuh kisah pilu. Kesunyian makin memuncak.


"Papi...kok melamun? Tak suka kawani Amei?" suara lirih Afifa menyadarkan Alvan dari lamunan.


"Papi senang kok! Nah tidur sekarang! Papi di sini jaga putri tidur papi." Alvan membantu Afifa naik ke ranjang. Kamar itu ada AC namun bagi dua dengan Azzam. AC nya dipasang di antara dua kamar. Kontrolnya berada di kamar Azzam. Kalau Azzam tak hidupkan AC maka Afifa tak bisa nikmat udara sejuk dari mesin itu.


"Papi tidak akan pergi bukan?" Afifa was-was Alvan akan pergi selagi dia tidur.


"Papi mau ke mana kalau tuan putri di sini? Papi tunggu Afifa bangun. Ok?" Alvan gunakan tangan bentuk huruf O. Afifa tersenyum manis pamer dekik warisan Alvan. Alvan menyentuh gemas pada boneka hidupnya. Harta paling berharga seumur hidup Alvan.


Alvan tak bisa bayangkan bagaimana reaksi mamanya bila jumpa kedua anaknya. Bisa-bisa keduanya disandera sang nenek tak boleh keluar dari rumah.


Afifa pejamkan mata dengan senyum masih terukir di bibir. Betapa bahagia Afifa punya papi penyayang. Alvan tak kalah terharu pada penyambutan Afifa padanya. Gadis kecilnya tulus akui dia sebagai papi. Beda dengan Azzam bak preman kampung usir begal. Alvan dianggap penjahat perusak kebahagiaan keluarganya. Tak ada ramah-tamah dari lajang itu.


Kapan Azzam baru bisa terima Alvan dengan tangan terbuka? Berapa lama Alvan harus menunggu bunga maaf mekar di taman hati Azzam. Setahun dua tahun atau tidak sama sekali. Hanya waktu akan beri jawaban tepat.


"Sudah tidur?"


Alvan menoleh melihat Citra masuk ke kamar memantau Afifa. Gadis kecil itu cepat lelap dibuai harapan indah. Cepat tidur lalu bangun kembali kumpul dengan Alvan.


"Sudah...Kita ngobrol sebentar?"

__ADS_1


"Ngobrol apa?" Citra balik bertanya.


Alvan menghela nafas dalam-dalam melirik Afifa yang sudah lelap. Ada beban di hati laki ini.


"Aku donor darah pada Afifa. Aku takut aku tertular HIV dari Karin. Dan Afifa..." Alvan tak sanggup lanjutkan kalimat mengerikan yang tersimpan di hati Alvan.


Citra bukannya kuatir malah tertawa. Ibu model apa Citra ini. Alvan ketakutan anaknya ikut tertular karena dapat donor darah dari Alvan. Alvan pasangan Karin, kemungkinan besar tertular juga.


"Pak...sebelum darah digunakan telah lalui cek kualitas darah. Ada virus apa dalam darahnya. Kalau terdeteksi ada virus HIV tentu tidak dipakai. Tak usah kuatir. Bapak negatif HIV."


"Gimana kalau virus nya berkembang setelah ini? Bukankah kamu bilang masa berkembang virus bisa sebulan atau dua bulan kemudian." Alvan masih kuatir.


"Itu artinya takdir Afifa jumpa papi pembawa bencana." sahut Citra santai.


"Citra...jangan main-main! Ini menyangkut hidup mati anakku. Aku tak rela anakku jadi korban Karin." seru Alvan sedikit keras.


"Ssssttt...Amei tidur! Pak.. biarlah Allah yang tentukan batasan hidup kita! Dia anakmu. Terkontaminasi virus darimu itu artinya jalan hidup Afifa memang tergaris gitu! Andai kita tak pernah bertemu mungkin jalannya akan beda. Inilah takdir kita!"


"Kau bicara seolah aku yang sengaja bikin Afifa sengsara. Aku juga tak tahu begini jadinya. Sumpah aku tak tahu Karin kena HIV. Masa aku tega jerumuskan buah hati sendiri."


"Aku percaya! Allah berpihak pada orang baik. Oya...besok aku mulai tugas lagi! Kuharap bapak jangan bikin ulah sebar siapa aku! Aku akan canggung bila dianggap nyonya Alvan."


"Apa bukan nyonya Alvan? Apa harus kuberi bukti konkrit statusmu apa?"


"Aku ini mantan bini bapak! Bini bapak Karin...sekarang lagi sakit!"


"Kau lebih berhak sandang gelar nyonya Alvan. Buku nikah kita masih ada. Aku simpan baik. Perlu foto kopinya agar kau ingat statusmu?"


"Status dalam buku. Pokoknya jangan bikin ulah selama aku masih bertugas! Atau aku pindah tempat kerja." ancam Citra jengkel Alvan belum mau bebaskan dia dari ikatan menyebalkan.


"Aku mau kita menikah lagi secara agama."


"Itu mau bapak. Aku sih ogah jadi duri dalam daging Karin. Kasihan Karin kalau aku muncul lagi. Apa lagi di saat dia butuh support dari bapak. Atas nama cinta selalu ada kata maaf!"


"Aku mau pisah sama Karin bukan karena dia kena Aids tapi dia selingkuh. Dia keterlaluan main gila sampai hamil. Di mana hargaku sebagai suami? Belum kubunuh sudah syukur."


Citra mundur merasa kasihan pada Alvan. Wajar Alvan marah punya bini curangi dia. Baik laki maupun perempuan tak ada yang rela pasangannya main gila. Citra pernah berada di posisi Alvan rasa sakit hati Alvan terangan main gila dengan Karin di ujung hidung. Bagaimana sakit Citra dulu begitulah dirasakan Alvan sekarang. Apa Alvan sedang menuai karma?


"Sekarang tak perlu bahas siapa salah. Yang penting tunggu Karin sembuh dulu. Cari jalan keluar terbaik! Bapak ceraikan dia sama saja minta dia cepat mati. Pengobatan HIV butuh support dan biaya cukup besar. Anggap bapak sedang beramal bantu orang tak berdaya. Pahalanya besar."


"Terserah kamu! Aku tetap tak mau serumah dengan dia." tegas Alvan tak mau diganggu gugat.


"Gimana kalau bapak terjangkit? Bukankah ini akan makin menyatu cinta kalian? Kisah cinta romantis. Sehidup semati." olok Citra senang bisa permainkan emosi Alvan. Citra telah tumbuh sayap. Sayap Citra berkepak terbang tinggi melampaui kepala Alvan. Citra sekarang bukan Citra dulu yang menunduk ketakutan bila dibentak Alvan.

__ADS_1


Sekarang Citra punya backing kuat akan melindungi dia dari hari ke hari. Azzam dan Afifa jadi kekuatan Citra saat ini. Ditambah Afisa jauh di mata. Kekuatan trilogi menopang hidup Citra.


__ADS_2