
Alvan terhibur gurauan Daniel. Sekonyol apapun Daniel dia tetap setia kawan. Mulut Daniel asyik bilang ingin rebut Citra tapi faktanya belum tentu gitu. Daniel mana tega lihat Alvan kelimpungan kehilangan buah hati yang raib selama ini.
"Terima kasih Dan! Kutunggu kabar darimu. Aku mau tahu apa yang diinginkan Selvia dari aku!"
"Siplah! Kau tunggu saja kabarku!"
Hubungan terputus tanpa ada dah dahan ala cewek. Mereka cowok tulen mana mungkin ikuti gaya anak cewek. Alvan tak punya pilihan selain menunggu. Satu kata yang paling membosankan bila yang ditunggu tak ada kepastian.
Di televisi disiarkan ada bencana gempa cukup besar menggunakan pesisir pantai. Gempa berkaitan lumayan besar porak poranda permukiman penduduk. Untunglah tidak dibarengi tsunami menakutkan. Pemandangan menyayat hati terpapang di layar kaca. Permukiman penduduk rata-rata hancur rata dengan tanah. Korban jiwa untuk sementara terdata tidak banyak namun yang terluka cukup banyak. Kalau daerah yang dekat kota masih bisa terjangkau kenderaan pertolongan cepat datang. Bagaimana daerah terisolir?
Hans selaku kepala rumah sakit segera mengadakan rapat para dokter untuk membantu daerah yang terkena bencana. Hans berniat terjunkan dokter suka rela untuk bantu penduduk yang terkena dampak gempa. Mereka butuh pengobatan sebelum dirujuk ke rumah sakit lebih lengkap.
Untunglah Citra belum pulang sehingga bisa ikut rapat dengar pengarahan Hans selaku pemimpin. Hans akan mengatur beberapa dokter muda untuk ikut berpartisipasi ke lokasi bencana. Rumah sakit mereka akan memilih beberapa dokter untuk bergabung dengan dokter lain di bawah naungan PMI.
Citra dan Rahma duduk paling belakang ikut mendengar arahan dokter Hans. Sebagai kepala rumah sakit Hans tidak mungkin terjun ke lokasi mengingat dia punya tanggung jawab lebih besar di rumah sakit.
Hans menunjukkan daerah-daerah terkena dampak yang paling hancur. Ada beberapa daerah terisolir karena jalan tertutup longsor batu besar sepanjang beberapa kilometer. Untuk singkirkan batu bekas longsoran butuh waktu dan tenaga cukup panjang. Satu-satunya akses mencapai lokasi hanya gunakan jalur udara. Hans membidik sasaran daerah terparah agar dapat bantuan medis secepatnya.
"Kasihan ya! Kita di sini hidup nyaman sementara korban berpacu dengan maut." keluh Citra menatap layar proyektor penuh gambar lokasi parah.
"Kita tak bisa melawan murka Allah. Ini peringatan buat kita untuk selalu ingat padaNya." sahut Rahma ikut hanyut suasana duka.
Hans masih bercuap-cuap di depan mimbar minta kerelaan para dokter dan perawat terjun ke lokasi bencana.
"Kita akan kirim seorang ahli syaraf, tiga dokter umum dan beberapa perawat. Di sini aku minta siapa bersedia turun ke lapangan. Mohon tunjuk tangan." Hans berkata lantang menanti reaksi para dokter.
Citra dan Rahma saling tukar pandangan. Di rumah sakit ini ada empat dokter syaraf, tapi yang khusus bedah syaraf hanya Citra. Apa Citra yang harus ke sana? Di antara mereka berempat Citra yang paling muda. Rahma masih terbilang muda walau umur sudah lewat kepala tiga. Dua lainnya sudah lewat umur lima puluhan. Siapa di antara mereka yang akan berkorban ke sana.
"Dokter Citra ..jangan menatapku gitu! Kau tahu anakku baru berusia empat bulan."
"Lalu kita suruh dokter Bambang dan dokter Sofian ke sana?" tanya Citra bingung menjawab. Citra bukan tak mau pergi tapi bagaimana nasib dua kurcaci di rumah? Siapa akan jaga mereka selama Citra pergi. Waktu tak bisa ditentukan menangani korban bencana. Syukur kalau akses jalan terbuka. Kalau tidak berminggu di situ bisa saja terjadi.
"Lha kita mesti gimana?" Rahma gelisah sendiri takut kena jatah dikirim ke daerah bencana. Bukan Rahma tidak simpati pada para korban tapi anak bungsunya masih bayi kecil. Masih perlu ASI dari ibunya.
"Aku takkan rekom kamu. Tenanglah!"
"Lalu kau mau pergi?"
"Kalau terpaksa apa boleh buat. Aku akan minta tolong pada bapak anak-anak jaga anak-anak. Sudah jangan panik!" Citra menenangkan Rahma yang pucat. Citra dekat dengan pemilik rumah sakit, gampang saja menolak di tempatkan jauh dari kota. Calon selanjutnya ya dia.
"Untuk dokter syaraf aku tetapkan dokter Rahma! Selanjutnya dokter Faris, dokter Bay dan dokter Gerry. Perawat akan dipilih dokter agar ada kerja sama." Hans umumkan nama-nama yang akan di tempatkan di daerah bencana.
Wajah Rahma kontan berubah pucat karena namanya disebut. Paling pertama pula. Ingin rasanya Rahma menangis tersedu mengingat bayinya yang baru berusia empat bulan. Sanggupkah Rahma tinggalkan bayinya dalan kurun waktu belum pasti.
__ADS_1
Tanpa sadar Rahma mencekal lengan Citra salurkan rasa takut. Citra memahami perasaan Rahma harus berpisah dengan bayi kecil. Sebagai balasan Citra menepuk punggung tangan Rahma.
Citra bangkit dari tempat duduk mengacungkan tangan. Semua mata menatap dokter cantik itu heran apa mau di sampaikan dokter muda itu.
"Maaf interupsi pak! Dokter Rahma punya bayi kecil. Aku ambil alih tugasnya." ujar Citra tegas. Ada yang mencibiri Citra sok sosial, ada yang kagum pada jiwa besar Citra. Pola pikir orang kan berbeda-beda. Tergantung dari sudut mana orang itu menilai masalah. Yang tak senang pasti akan karang cerita Citra sedang cari muka. Padahal mau muka dua atau tiga tak ada guna. Tak ada tempat kosong pasang muka palsu. Tetap muka asli berharga.
Hans terkesima lihat siapa ajukan diri jadi relawan. Hans mana tega lihat Citra terjun ke lokasi bencana yang pastinya jauh dari fasilitas memadai. Kendala terbesar tak kalah penting ijin dari Alvan. Laki itu belum tentu ijinkan Citra berangkat jadi sukarelawan.
"Bu dokter Citra apa yakin berangkat ke daerah rawan?" suara lantang Hans terdengar seisi aula rapat para dokter.
"Setiap dokter telah disumpah untuk berusaha memberi pengobatan terbaik buat pasien. Harus siaga di medan apapun. Aku siap pak!" sahut Citra tegas tidak memikirkan gimana medan di depan mata. Tujuan ke sana bukan pergi berwisata menikmati liburan. Dia ke sana untuk tugas kemanusiaan.
Hans tak bisa berkata apapun selain menuruti keinginan Citra. Kalau dia ngotot melarang Citra pergi yang lain akan mengira Hans pilih kasih. Citra sudah ajukan diri sendiri wakili Rahma tak ada alasan buat Hans mengeluarkan kata bantahan.
"Baiklah dokter Citra! Besok bersiap karena akan bergabung dengan dokter lain terjun ke lokasi." ujar Hans lesu. Dalam hati Hans sakit hati bayangkan Citra berkutat dengan aneka korban yang tak tahu bagaimana kondisi. Tapi Hans juga tak punya hak melarang Citra tak boleh pergi.
"Siap pak!" Citra menyahut dengan yakin. Citra kembali duduk manis di samping Rahma. Seulas senyum manis dihadiahkan pada Rahma.
Rahma memeluk Citra sebagai tanda terima kasih. Berkat Citra dia bisa tetap berkumpul dengan anak-anak yang masih butuh perhatian bapak ibu. Anak Rahma yang sulung masih balita sedang anak kedua baru lahir empat bulan lalu. Rahma mana tega tinggalkan buah hati yang masih pinyit.
Citra membalas pelukan Rahma dengan hati ragu. Apa kata Azzam dan Afifa bila ditinggal sampai berminggu. Mereka belum pernah berpisah lebih dari dua hari, paling lama sehari. Itupun kalau Citra hadiri seminar di luar kota.
Berniat jadi pahlawan imbasnya celakai diri sendiri. Citra juga belum bicara dengan Alvan cara merawat kedua buah hati mereka. Citra tidak ragu pada Alvan bila diserahin tanggung jawab urus kedua anaknya. Laki itu malah kegirangan bisa dekat dengan kedua anaknya.
"Aku pergi toh tidak selamanya. Paling lama juga seminggu."
"Aku tak sabar tunggu kamu kembali. Tanpa kamu aku bakal sibuk."
"Kan masih ada dokter Bambang dan dokter Sofian. Mereka pasti akan bantu kamu. Aku akan cepat pulang untuk berkemas."
"Maafkan aku merepotkan kamu!"
"Ada masanya aku akan merepotkan kamu. Tunggu saja! Aku tidak akan ragu bikin kamu susah. Oya..aku pulang dulu! Mau cari sedikit bekal bawa ke lokasi. Soal obat biar diatur pihak rumah sakit."
"Aku sarankan kamu bawa sunscreen dan obat nyamuk. Daerah kena bencana biasa tak ramah."
"Tidak menyumbang sedikit Snack?" olok Citra disambut tawa kecil Rahma. Candaan ringan Citra membuat Rahma plong. Citra membantunya dengan ikhlas tanpa paksaan.
"Tenang...besok aku akan bawa satu gerobak untukmu."
"Kalau gitu terima kasih duluan. Aku cabut dulu ya!" Citra mengambil tasnya lalu melangkah pergi kembali ke ruang praktek untuk membereskan barang-barangnya. Sebelum pergi Citra harus bereskan barang pribadi dalam ruang praktek. Siapa tahu tiba-tiba muncul dokter pengganti pakai ruangnya.
Fitri dan Nadine masih berada di tempat praktek Citra. Mereka mana berani tinggalkan tempat sebelum dokternya kasih ijin mereka tinggalkan tempat. Citra beri kode pada kedua perawatnya untuk masuk ke ruang praktek.
__ADS_1
Keduanya ikut masuk tanpa berani bertanya. Wajah Citra tidak ramah seperti biasa, malah tampak serius. Dalam batin cuma bisa bertanya apa yang terjadi? Waktu pergi wajah Citra masih cerah tanpa awan mendung. Pulang-pulang bergantung sejuta awan kelabu.
Citra duduk di kursi kebesarannya dengan wibawa. Mata Citra berputar antara muka Nadine dan Fitri membuat kedua gadis itu berdebar-debar. Di tangan Citra ada catatan kesalahan mereka? Salah kasih obat pasien atau pasien komplain pelayanan divisi mereka.
"Besok aku akan bertugas di daerah bencana. Jadi selama aku pergi kalian bantu dokter Rahma bila ada pasien kita. Terangkan riwayat sakit pasien." Citra menerangkan mengapa dia memanggil keduanya masuk ruangan.
Nadine dan Fitri melongo. Dokter seimut Citra ditarik jadi relawan. Sanggupkah Citra hidup serba kekurangan di daerah yang pasti tak ramah. Daerah bencana minim fasilitas.
"Ya ampun Cit...gimana kedua kurcaci kamu?"
"Sekarang mereka punya papi sempurna. Titip seminggu pada dia mungkin tidak kelewatan."
"Aduh sayang...itu bukan tempat ramah! Banyak bibit penyakit, kekurangan bahan makanan, air bersih. Aku tak setuju kau pergi!"
"Kak Nadine benar dok! Biar dokter cowok yang pergi! Kan masih ada dokter lain. Pasien kita juga antrian minta pengobatan." timpal Fitri setuju cara pikir Nadine. Fitri juga kuatir Citra tak sanggup tunaikan tugas berat ini.
"Kita ini petugas medis. Tidak peduli di mana tempat asal ada orang sakit itu tempat kita. Aku terikat sumpah utamakan pasien walau harus harungi lautan, daki gunung, terjun ke lembah. Seterjal apa jalan kita tetap harus dicoba. Kak Nadine..aku titip Azzam dan Afifa ya! Usahakan kontrol jadwal tidur mereka."
Nadine dan Fitri menunduk malu kena siraman rohani Citra. Citra contoh dokter idaman semua orang sakit. Bukan hanya tahu rumah sakit nyaman ber AC dingin, ruang bersih tanpa debu. Citra menunjukkan kredibilitas dokter sejati.
"Apa Pak Alvan tahu rencanamu?"
Citra menggeleng. Citra sendiri ragu apa Alvan akan restui dia pergi di saat laki itu banyak masalah. Alvan memang hanya suami di atas kertas namun dia tetap bapak dari anak-anak. Citra harus beri sedikit muka pada laki itu walau takkan berpengaruh pada keinginan Citra bertugas di daerah bencana.
"Aku akan bicara dengan papi Afifa. Kalian hati-hati bila merawat pasien. Teliti dulu sebelum ambil keputusan. Jangan segan bertanya bila kurang ngerti!"
"Iya dok!"
"Aku pulang dulu. Pasien sudah habis kan?"
"Nihil dok! Ada pasien baru langsung di IGD karena agak sesak."
"Baiklah! Aku pulang dulu! Jaga diri ya! Assalamualaikum."
Nadine dan Fitri membungkuk hormat pada Citra. Pengabdian Citra patut diberi nilai sembilan. Seorang dokter muda bertalenta rela donor darah pada nyamuk di daerah bencana. Masih ada berapa dokter rela tinggalkan sarang hangat demi bantu orang lain. Bekerja sebagai relawan gaji juga tidak tambah. Namanya saja kerja bakti berdasarkan hati nurani. Nilai kemanusiaan lebih tinggi dari materi.
Citra pulang lebih awal untuk bersiap berangkat ke daerah bencana bersama para medis lain. Citra juga tak tahu akan di tempatkan di daerah mana. Dampak gempa menyebar di beberapa titik. Ada yang rusak ringan dan ada yang rusak parah. Kalau dilihat dari peta yang digambar Hans, daerah penempatan Citra agak terpencil.
Citra singgah di supermarket belanja sedikit untuk isi kulkas dan belanja sedikit makanan untuk dibawa ke daerah yang pasti asing baginya. Ini resiko jadi dokter. Harus siaga di tempatkan di mana saja.
Citra pulang ke rumah membawa belanjaan lumayan banyak. Sebagian akan Citra simpan di rumah Bu Menik untuk bekal makan Azzam dan Afifa. Kalau Citra pergi otomatis Azzam dan Afifa diurus Bu Menik. Wanita paro baya itu sangat menyayangi kedua anaknya. Citra tidak ragu percayakan kedua anaknya pada Bu Menik dan Nadine. Apa lagi sekarang ada Alvan membantu awasi kedua anak itu.
Citra simpan sebagian makanan di kulkasnya baru ke rumah Bu Menik antar sisa belanjaan. Citra melangkah masuk ke rumah Bu Menik lewat pintu depan. Di dalam rumah suasana sepi. Pintu rumah tertutup rapat seolah nyatakan tidak terima tamu.
__ADS_1
Citra sudah hafal kebiasaan Bu Menik. Pintu rumah tertutup rapat bila tak ada anak-anak. Bu Menik sendirian di rumah maka hati-hati. Menjaga lebih bagus ketimbang tertimpa bencana.