
Citra tidak marah hanya karena diragukan keahlian di bidang penyakit syaraf. Mulut boleh ngoceh apa saja tapi keahlian tak dapat menipu orang.
"Nah... adik-adik di hati kalian ada keraguan! Lebih baik kalian cari kandidat yang lebih kompeten. Yang kalian pelajari adalah ilmu penyelamatan nyawa orang jadi harus benar-benar diyakini dengan sepenuh hati. Belajar jangan setengah-setengah!" Citra berkata bijak. Jangan hanya andalkan terpesona pada penampilan mereka asal comot dokter untuk jadi pembimbing. Itu akan jadi bumerang bagi masa depan seorang dokter.
Kelima anak muda itu terdiam. Semula mereka hanya ingin cari kesenangan lihat dokter muda cantik. Lebih asyik diajak diskusi ketimbang dokter bertampang serius.
"Maaf Bu dokter...kami dengar reputasi Anda sangat bagus maka kami minta dibimbing." lirih Laura pelan.
Citra tersenyum,"Kita tak perlu reputasi...yang penting tunjukkan kesungguhan kita obati pasien."
"Iya dok! Kami tetap akan minta ibu jadi pembimbing kami. Kami bisa tunggu ibu pulang dari liburan. Kami bisa bantu di ruang IGD dulu." kata Bryan tak bergeming mau angkat Citra jadi suhu.
Citra menatap Fitri minta pendapat. Dia tak boleh egois memadamkan semangat calon dokter muda ini. Baru mau angkat senjata lawan penyakit sudah dipadamkan semangatnya.
"Gini saja! Tunggu aku balik baru kita atur jadwalnya! Sekarang aku atur kalian ikut dokter yang kuanggap bisa bawa kalian jadi dokter sukses. Kalian harus patuh jangan berbuat sesuka hati merusak reputasi dokter pembimbing. Gimana?"
Kelima anak itu saling berpandangan menimbang usulan Citra. Dari gaya bicara Citra sudah gambarkan dia seorang dokter berkharisma. Tidak angkuh enak diajak diskusi.
"Ya boleh dok! Tapi janji rekrut kami ya!" Laura menyerah pada Citra. Biar Citra atur yang terbaik untuk mereka.
"Ok...kalian tunggu di tempat praktek aku! Sebentar lagi kami akan balik ke sana!" Citra mengusir anak muda itu secara halus. Saat makan dikerumuni beberapa orang hanya mengurangi nafsu makan.
"Iya dok!" Kelima anak itu saling mendorong hengkang dari pandangan mata Citra.
Satu persatu mereka menghilang dari kantin rumah sakit. Selera makan Citra mengendor akibat terganggu oleh aksi sekelompok calon dokter yang menganggap dia dokter bisa diajak gila-gilaan. Belajar sambil main. Itu bukan gaya Citra membahayakan pasien.
"Bu...dokter model gitu mau ibu bimbing?" tanya Fitri tidak simpatik pada calon dokter yang kelihatannya belajar dari fashion. Bukan dari otak.
"Kita coba saja! Yok kita balik! Takut pasien sudah tunggu kita. Jasmine...siap bertempur?"
Gadis pemalu itu mengangguk kurang yakin. Rasa percaya diri Jasmine nyaris tidak ada. Anak itu selalu minder pada diri sendiri.
"Yok! Kita perangi kuman penyakit."
"Iya Bu dokter..." sahut Jasmine lirih.
Untuk sementara Citra tak mau berkomentar. Orang sedang gugup diberi nasehat pasti makin gugup. Citra perlu menata mental anak ini agar tidak terkurung dalam ketakutan yang dia buat sendiri. Selalu takut tak bisa melakukan tugas dengan baik padahal dia bisa.
Citra duluan pergi tinggalkan dia perawatnya di belakang. Biar mereka kembalikan piring kotor pada penjaga kantin. Mereka bisa saja tinggalkan bekas makan di atas meja biar penjaga yang bereskan. Tapi ini sesuai dengan etika seorang pencinta kebersihan?
Petugas medis harus sadar diri beri contoh yang baik tidak meninggalkan sisa kotoran di manapun termasuk di kantin rumah sakit. Dari sini bisa dinilai gimana sosok petugas pengayom orang sakit.
Citra menghela nafas tatkala lihat kelompok calon dokter berkumpul di depan ruang prakteknya. Mereka duduk di lantai tanpa peduli kebersihan.
Betul-betul anak muda berdarah panas. Tak ada wibawa seorang dokter. Seharusnya mereka cocok jadi dokter anak bisa bercanda dengan pasien karena satu jiwa. Mereka kontan bangun dari lantai begitu lihat kehadiran Citra.
"Bu Dokter datang...masih ingat kami kan? Calon dokter asuhan ibu dokter! Aku Bryan dokter paling ganteng satu Asia." kata Bryan pede seraya menyugar rambut gaya kekinian.
Citra tersenyum simpul menanggapi kepedean Bryan. Anaknya lumayan ganteng. Kalau diberi nilai mungkin bisa dapat angka delapan. Seganteng apapun laki muda itu tak bisa kalahkan pangeran katak di hati Citra.
"Jangan dengar ocehan orang stress Bu! Dia pernah masuk RSJ gara merasa dirinya dewa Zeus." sanggah Laura merusak pasaran Bryan.
__ADS_1
"Huusss...ngak boleh gitu! Sekarang gini! Dua di antara kalian akan kutempatkan di IGD. Satu kurekom ke dokter Rahma spesialis syaraf juga. Dua ikut saya untuk sementara ini!"
"Aku ikut ibu..." Bryan langsung bergeser berdiri di samping Citra yakin dia bakal terpilih.
"Aku.."
"Aku.."
Citra pusing dengar kata aku berulang dari mulut berbeda. Semua merasa harus jadi murid dokter cantik ini. Imut bikin hati meleleh. Peduli amat dengan kabar dokter punya pasukan di rumah. Yang penting bisa berdiri bersama dokter cantik jelita nan baik.
"Aplusan...Ruangan kalian IGD dan sini. Aku akan atur jadwal kalian. Tinggalkan nomor kontak kalian biar bisa kuhubungi kalian. Sekarang kalian pulang dan persiapkan diri menjadi pengayom orang sakit."
"Sekarang saja kami mulai belajar Bu!" rengek Bryan persis anak TK minta sesuatu.
"Pasien tak banyak lagi. Tinggal beberapa orang. Besok pagi baru dimulai pertempuran sesungguhnya. Perlihatkan kemampuan kalian! Seberapa banyak ilmu tercatat di otak kalian. Nah...silahkan pulang!" Citra mengibas tangan usir anak muda itu secara halus.
"Bu dokter yang imut...Ijinkan kami di sini! Kami hanya ingin lihat cara ibu tangani pasien! Janji jadi anak manis! Tidak rewel dan buat onar!" Laura angkat dua jari berjanji patuh pada Citra.
"Baik...tapi ingat jangan ribut! Ini rumah sakit bukan pasar malam."
"Siap Bu dok.." Bryan menyatukan telapak tangan di kepala tanda siaga.
Citra tidak berkata apa-apa lagi. Masih ada beberapa pasien tersisa sebelum lepas praktek. Selesai ini Citra sudah terbebas dari tugas. Kalau ada waktu luang paling ceking kesehatan pasien di ruang rawat.
Kelima calon dokter berdesakan masuk ke dalam ruang praktek Citra yang tidak terlalu besar. Kalau begini Citra butuh ruang lebih besar untuk beri kesempatan pada dokter muda itu ikut berpartisipasi periksa pasien.
Citra belum memikirkan cara terbaik handel kelima dokter magang ini. Salah satu diantara dua dokter syaraf harus dikirim pada dokter Rahma. Antara Bryan dan Laura. Yang mana harus dioper ke dokter Rahma.
Sewaktu pasien masuk Citra beri kesempatan pada Laura untuk periksa pasien agar tahu yang mana berpotensi jadi dokter handal. Citra memantau dari samping dengar apa hasil observasi Laura.
Laura memeriksa dengan teliti sambil bertanya gejala rasa sakit pada pasien wanita itu. Boleh dibilang Laura cukup lumayan kuasai materi.
Citra cukup puas penampilan Laura. Gadis ini bisa menjadi dokter cakap bila terus menggali ilmu di bidang ini.
"Gimana?" tanya Citra mau tahu apa hasil analisa Laura.
"Rasa nyeri dan sakit ibu ini bukan dari syaraf terjepit. Kusarankan ibu ke dokter penyakit dalam. Aku curiga masalah fungsi ginjal."
Citra manggut setuju. Untuk memastikan hasil analisa Laura Citra turun tangan periksa sekali lagi. Citra juga merasa syaraf ibu ini tak masalah. Rasa nyeri sekitar pinggang adalah awal dari berkurang fungsi ginjal. Bisa adanya pengapuran, batu ginjal ataupun gagal ginjal.
"Kau benar...Jasmine bantu ibu ini dulu!" Citra perintah Jasmine bantu pasien turun dari brankas.
Jasmine mengangguk mendekati ibu itu turun lalu beri tempat duduk pada ibu itu untuk dengar hasil analisa dokter. Laura sudah bergabung lagi dengan temannya berdiri di sudut lihat cara Citra interaksi dengan pasien.
"Bu...setelah kami periksa kamu menduga ada sedikit masalah dengan ginjal ibu."
"Ginjal? Kurasa tidak karena buang air kecil lancar tak ada keluhan dari sana!" seru ibu itu tak percaya dia bermasalah di organ tubuh cukup penting itu.
"Bu...ini hanya dugaan! Kita coba ke dokter yang khusus tangani penyakit ini. Kita cari dulu sumber penyakit baru bisa kita obati. Ini masih awal maka cepat teratasi. Tak ada yang perlu ditakuti. Lebih bagus cepat terdeteksi sehingga kecil kemungkinan terjadi kerusakan pada ginjal ibu." suara Citra halus mendayu seperti seorang ibu sedang bujuk anak kecil yang sedang kurang enak badan.
Kelima anak magang itu puas dengan dokter pilihan mereka. Dokter cantik peramah. Pasien sakit sembuh seketika kena suara halus Bu Dokter. Biasa dokter spesialis ada yang arogan sok penting. Merasa ilmu sudah berlebih boleh sok hebat.
__ADS_1
"Apa tidak bahaya dok?" tanya ibu itu mulai termakan kata Citra.
Citra mengulurkan tangan menggenggam tangan ibu itu dengan lembut. Sentuhan hangat dari seorang dokter akan menjamin ketenangan jiwa pasien. Citra selalu beri apa yang bisa beri agar sang pasien tidak tertekan.
"Tidak asal kita sama-sama berusaha. Besok ibu balik sini biar bisa diperiksa dokter bagian yang kita curiga ada sedikit masalah. Kemungkinan dari rematik bisa juga! Kita cari sumbernya bersama. Ok?"
"Ok...besok aku ke sini ya biar di tangani Bu dokter."
"Iya ..dengan senang hati! Ibu tak perlu terlalu memikirkan penyakit ibu. Selama ibu yakin sembuh maka kami akan usaha."
"Iya...iya...terima kasih dok! Aku permisi dulu!" ibu itu menyalami Citra.
Ibu itu keluar akan diganti pasien lain. Citra lihat kelima calon dokter itu tidak kenakan masker sesuai protokol kesehatan. Hal sekecil ini memang sepele namun hal sepele ini yang jadi tolak ukur kredibilitas seorang dokter.
"Ada uang receh beli masker?" sindir Citra. Kelima anak itu spontan meraba mulut baru sadar mereka lengah sebagai petugas medis.
"Maaf Bu...lupa!"
"Jasmine...bagi masker buat anak-anak ini!" perintah Citra pada Jasmine.
Bryan terbelalak kaget dianggap anak oleh Citra. Orang yang ngasih perintah lebih tepat dianggap anak-anak. Di mata Bryan Citra belum waktunya jadi dokter spesialis, terlalu muda mirip anak sekolahan.
"Bu umur aku sudah dua puluh tujuh tahun. Apa masih harus pakai baju monyet datang ke sini belajar sama Bu Dokter?" tanya Bryan pamer umur. Bryan ingin katakan dia pria matang.
"Oya? Baguslah! Kalau gitu sadar umur. Kita lihat pasien selanjutnya! Kau coba dokter Bryan!"
Bryan tepuk tangan Citra mengingat namanya. Apa itu penting buat anak itu?
Fitri mempersilahkan pasien selanjutnya dengan keluhan selalu nyeri di atas pundak dan leher. Pasien ini lelaki maka dengan leluasa Bryan tunjukkan skill gerayangi punggung dan bagian belakang pasien itu.
Bryan menekan bagian yang sakit mencoba beri penjelasan buat si pasien. Bryan lebih teliti dari Laura. anak itu tidak hanya periksa sekitar rasa sakit. Tapi menyeluruh mencari pusat rasa sakit.
"Kayaknya sakitnya cukup lama tapi bapak abaikan. Bapak sering angkat benda berat sehingga menyebabkan syaraf bapak terluka. Ini tak perlu operasi. Cukup konsumsi obat-obatan dan sedikit olahraga ringan." Bryan bicara seolah dia sudah yakin penyakit bapak ini.
"Aku sering angkat barbel untuk olah raga menyehatkan."
"Untuk sementara bapak hentikan sampai syarafnya sembuh. Kalau bapak teruskan akan melukai tempat lain dan berakibat fatal. Ya mungkin harus operasi!"
"Sedemikian parah kah?"
"Tergantung kerja sama bapak! Kami hanya bertugas menyembuhkan. Kalau bapak bandel ya akan makin parah."
Bapak itu termenung mendengar kata Bryan. Citra kurang setuju cara Bryan tangani pasien. Analisa Bryan mungkin benar tapi cara penyampaian sebab akibat cuma dapat ponten tiga.
Kasar tak bersahabat. Pasien bukannya sembuh malah jadi trauma seakan sedang kena ancaman. Citra segera bangkit dari kursi mencoba periksa sekali lagi. Bukan Citra tak percaya pada Bryan cuma di sini dokternya adalah Citra. Citra harus bertanggung jawab semua yang terjadi di ruang ini.
Pasien itu semula agak bingung mengapa dia diperiksa lagi. Berhubung yang periksa seorang cewek cantik tentu saja tak nolak. Diperiksa sepuluh kali juga tak masalah asal dokternya menyejukkan mata. Coba kalau dokternya galak punya tampang sangar mirip satpam. Belum diperiksa sudah kusut duluan.
Bryan menunjukkan skill lumayan bagus cuma performa Bryan jauh dari kesan ramah membuat nilainya jatuh.
"Silahkan bapak duduk dulu! Kita bahas bersama soal keluhan bapak. Syaraf pundak dan leher sedikit ada masalah. Seperti bapak bilang sering angkat berat. Mungkin ada gerakan yang melenceng tak sengaja lukai otot dan syaraf. Itu akan sembuh sendiri bila bapak ikuti anjuran kami. Bapak cukup konsumsi obat dan gerakan otot daerah sana perlahan. Tak perlu kuras tenaga. Cukup gerakan rilex. Tak ada masalah besar. Bapak tebus resep ini! Kalau masih ada keluhan kami siap mendengar." Citra ramah seperti biasa. Bapak itu mengangguk puas diberi penjelasan tanpa intimidasi.
__ADS_1
Bapak itu melirik Bryan lewat ekor mata. Bapak ini kurang suka pada Bryan yang sedikit arogan. Tadi bapak ini sudah kuatir dengar kata operasi. Siapa tak takut dioperasi hanya gara sakit di pundak dan leher. Dasar dokter amatiran.
Semua mendapat giliran tangani pasien. Pasien terakhir Citra tangani sendiri berhubung itu pasien lama yang balik cek up. Hanya Citra yang tahu keluhan pasien itu.