ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Jumpa Citra


__ADS_3

Heru dan Pak Kades berjalan kelilingi tenda pengungsian. Batin Heru terenyuh lihat dengan mata kepala sendiri penderitaan korban gempa. Wajah lesu tanpa harapan mengingat kelanjutan hidup esok hari. Semoga pemerintah tanggap penderitaan rakyat kecil. Cepat salurkan bantuan untuk mencukupi kebutuhan hidup selama masa tanggap darurat.


"Woi...ayang...kok aku ditinggal?" seru Viona bersusah payah mengejar Heru. Ntah laki itu sengaja meninggalkan Viona atau memang lupa bawa barang antik ke lokasi.


Heru menghela nafas teringat Viona ikut dengannya. Kejutan apa bakal dibuat wanita itu mengacaukan otak Heru. Heru dan Pak Kades menghentikan langkah menanti Viona yang berjalan susah payah lewati jalan becek penuh lumpur.


Viona perlihatkan mimik jijik lewati genangan air sisa hujan semalam. Sepatu seharga puluhan juta tak ubah seperti sampah digabung dengan comberan air. Tak ada lagi tampak sepatu mahal di kaki Viona. Heels warna metalic itu lengket di tanah begitu Viona jejakkan kaki ke jalan. Ini akibat terlalu pede anggap daerah bencana tempat wisata pamer kegiatan sosial.


"Cepat jalannya!" Heru geli lihat Viona berusaha menerobos lumpur sepanjang jalan. Awan mendung mulai bertengger di wajah full make up itu.


Dari jauh Laba mengucap syukur Viona dapat ganjaran berharga atas keangkuhan sendiri. Wanita model Viona harus diberi penataran pentingnya rendah hati. Biar dia rasakan betapa nikmat di tonton orang satu kampung sok-sokan bergaya di daerah orang sedang berduka.


"Sayang...kenapa tak bilang tempatnya kayak gini? Habis aku ini!" keluh Viona setelah berhasil menjajarkan diri dengan Heru. Viona cemberut merasa dizholimi Heru. Mana ada cowok macho bawa cewek cantik ke tempat kumuh.


"Bukankah sudah kubilang ini bukan tempat wisata. Kau yang pingin datang kan? Sekarang kau duduk di tenda sana. Aku dan Pak Kades hendak keliling." ujar Heru berusaha menahan diri tidak berkata kasar. Sudah diingatkan bahwa daerah bencana bukan daerah ramah tapi Viona bersikeras ingin ikut. Terima saja konsekuensi jadi orang tak punya akal sehat. Anak kecil juga ngerti bagaimana kondisi daerah yang baru kena musibah. Ini malah semangat mau ikut piknik.


Viona meringis lihat tenda hanya di alasi plastik warna biru. Butir-butir pasir tak sengaja ikut numpang ngaso di dalam tenda beri pemandangan sedikit jorok. Wanita cantik sekelas Viona tentu saja keberatan bergabung dengan penghuni lain bertampang memelas.


"Yang...aku ikut saja!" Viona memilih ikut Heru keliling kampung ketimbang kumpul dengan sejuta bau tak sedap.


"Terserah...Oya pak kades! Kita lihat para korban yang terluka." ajak Heru teringat tujuan utamanya yakni ingin jumpa dokter bikin hidupnya tak tenang.


"Ayok! Yang parah ada di mesjid. Yang luka biasa ada di tenda ujung sana. Kami sini dapat tiga dokter. Dua dokter wanita dan satu laki. Mereka orang baik membantu tanpa pamrih. Dari pagi mereka datang belum istirahat karena banyak yang terluka." jelas pak Kades menunjuk jalan kepada Heru dan Viona ke tempat penampungan orang sakit dan terluka.


"Ada yang parah sekali?"


"Ada dua patah tulang. Cuma belum bisa dievakuasi ke kota karena belum ada jemputan."


Ketiganya berjalan beriringan menuju ke area ditunjuk pak Kades. Daerah ini lebih bersih sedikit karena berada di lokasi mesjid. Jalan tidak dipenuhi lumpur basah. Cocok untuk tempat pengobatan dadakan.


Jantung Heru berpacu lebih cepat tak sabar ingin lihat sosok wanita yang telah merebut sebagian rohnya. Bagaimana keadaan Citra berada di daerah tak ramah ini? Dia tetap tegar atau menyerah bekerja di daerah ini.


Di dalam tenda pengobatan hanya ada pasien dengan luka ringan. Mereka telah dirawat dengan baik oleh dokter yang bertugas. Semua pasien istirahat menanti kesembuhan untuk kembali beraktifitas.


Heru manggut salut pada kinerja para medis tidak lalai urus para korban. Semua ditangani dengan baik walau belum sepenuhnya semua korban tertangani. Mereka tentu pilih yang lebih parah dapat pertolongan pertama.

__ADS_1


Begitu Heru melangkah masuk ke dalam mesjid pandangan mata laki itu berubah sayu. Sosok yang dia rindukan pagi siang malam sedang memeriksa pasien di atas dipan kayu. Heru menduga itu pasti ranjang perawatan darurat untuk memeriksa para korban.


Citra tidak mengenakan pakaian dokter warna putih layak dokter umumnya. Wanita itu hanya kenakan kemeja warna hijau tosca dan celana kulot warna senada. Rambut digulung ke atas bentuk konde mini untuk memudahkan dia bergerak bebas di tempat serba minim.


Citra tidak menyadari kehadiran Heru dkk karena terlalu fokus periksa korban yang kakinya nyaris hancur kena reruntuhan beton rumah. Masih untung nyawa terselamatkan walau harus dibayar luka parah di kaki.


"Dok..." sapa Heru berdiri di belakang Citra.


Citra tertegun mengenali pemilik suara menyebalkan yang mirip hantu gentayangan. Mengapa Heru bisa sampai ke tempat yang sangat jauh dari kota. Apa penyebab laki itu sampai buang waktu datang ke tempat tak ramah ini.


Citra menguatkan hati tidak terkecoh oleh kenakalan Heru. Heru mirip hantu gentayangan di sekeliling Citra. Pemimpin konyol itu kapan mau tumbuh dewasa tidak usik orang sedang dinas. Dari rumah sakit sampai ke lokasi gempa laki itu jual tampang.


"Dokter Citra...ini ada pak Heru memberi sumbangan. Apa dokter butuh sesuatu untuk balai pengobatan? Pak Heru siap bantu?" Pak Kades terpaksa ringankan mulut bicara dengan Citra yang cuek pada Heru.


"Gitu ya! Bisa antar pasien ini ke rumah sakit kota untuk operasi tulang kaki? Di sini peralatan tidak memadai, kita takut lukanya akan membusuk bila tidak cepat kita tangani." Citra membalik badan menghadap Heru. Sudut mata Citra tampak tidak suka diikuti namun terselip rasa syukur Heru datang beri bantuan.


"Bisa tapi besok! Ini hampir gelap takut terjadi hal tak diinginkan. Kita kirim via helikopter!" Heru cepat tanggap untuk menyenangkan pujaan hati. Bisa membantu orang tercinta merupakan karunia terindah bagi Heru.


"Terima kasih pak! Ada dua pasien harus dikirim ke kota karena lukanya sangat parah. Semoga bapak tidak keberatan." kata Citra datar seperti tidak anggap Heru sebagai tamu istimewa. Padahal di luar sana puluhan wanita jadi budak cinta Heru.


Itulah nilai tambah Citra di mata Heru. Tidak silau oleh kekayaan Heru Perkasa yang menggurita di seluruh tanah air. Heru belum tahu di belakang Citra masih ada satu nama tak kalah besar dari Heru. Kekayaan laki satunya setara dengan Heru.


"Tentu tidak keberatan. Aku datang untuk bantu para korban. Ada yang bisa kubantu lagi?"


"Sembako...itu kalau bapak tidak merasa dirugikan. Keperluan bapak kan banyak." Citra berkata sambil melempar pandangan ke arah Viona yang hanya bisa terpaku. Make up di wajah Viona mulai luntur perlihatkan wajah asli sang fotomodel kondang. Ternyata tidak sekinclong dalam foto. Bisa dibayangkan berapa tebal bedak didempul ke wajah cantik itu. Cantik berkat kosmetika.


"Ok... kuusahakan setelah antar pasien. Boleh dicatat keperluan paling urgen. Kita antar yang penting duluan." Heru belum merasa tersindir walau Citra terangan menyindir Heru bawa manekin hidup. Hanya buat pajangan tak ada manfaatnya. Malah bikin semak pemandangan. Mana ada orang datang ke daerah bencana pakai baju ketat serta sepatu high heels. Pikir mau ke pesta rakyat.


Pak kades girang tak kepalang tanggung dapat tawaran gratis. Pak kades percaya Heru bukan hanya membual. Sumbangan Heru barusan lumayan mengisi kekosongan bahan makanan pengungsi untuk beberapa hari.


"Iya pak Heru! Kami akan catat apa yang paling penting. Pak Heru masih mau jalan ke tempat lain?" tawar Pak Kades semangat jadi guide dadakan untuk dermawan berhati emas macam Heru.


Heru tersenyum merasa langkahnya cukup sekian. Targetnya telah berada di depan hidung ngapain buang tenaga pergi ke tempat lain. Heru telah temukan tempat persinggahan terakhir untuk hari ini.


"Cukup di sini pak! Kami akan nginap di sini bersama pengungsi lain." kata Heru kalem melirik Citra yang bulatkan bibir mengejek Heru. Citra kurang suka Heru berada di sekelilingnya. Bisa merusak konsentrasi Citra tangani pasien.

__ADS_1


Citra bukan tak tahu akal bulus Heru menggodanya. Apa laki itu tak tahu Citra bukan anak gadis seperti Viona. Citra masih terikat pernikahan serta punya buntut tiga ekor. Citra bukan burung bebas bisa dijerat pakai umpan dolar. Citra punya tanggung jawab terhadap tiga anak kecil. Tidak mudah berpaling dari fakta sesungguhnya.


"Baiklah! Kalau bapak perlu bersihkan diri ada kantor desa tak jauh dari sini. Di sana tempat simpan semua kebutuhan bahan makanan. Cuma di sana tak ada tempat tidur karena kantor." Pak Kades menjelaskan tempat-tempat masih layak pakai. Hanya ada beberapa bangun bisa digunakan walau ada kekurangan. Ada rumah penduduk tidak roboh namun retak-retak takut ambruk bila ada gempa susulan. Maka itu masyarakat dihimbau tidak kembali ke rumah yang rusak untuk hindari korban lebih banyak.


"Terima kasih pak! Kami akan ke sana bila perlu. Sarana air bersih bagaimana?"


"Untuk sementara air minum kami ambil dari desa seberang pakai motor. Sumur sini pada tertimbun jadi tak ada sumber air bersih. Untuk sekedar bersihkan badan mungkin masih layak pakai. Tapi untuk dikonsumsi tidak dianjurkan. Airnya sedikit keruh setelah gempa."


"Listrik?"


"Putus total. Kami gunakan genset untuk tenda pengungsi dan mesjid. Itupun cuma satu. Semoga jalan cepat tembus jadi bisa keluar cari bantuan."


Heru turut prihatin dengar kekurangan cukup banyak. Terisolasi membuat semua sarana tak bisa capai titik tujuan. Korban gempa akan makin terkucil bila jalan tak bisa terbuka dalam waktu dekat ini. Heru harus kerja keras bantu desa ini keluar dari himpitan kesengsaraan. Di otak Heru telah tersusun beberapa agenda untuk kurangi beban korban. Paling utama yaitu bahan makanan, kedua cari sumber air bersih dan atasi krisis penerangan.


"Besok kita usahakan semua lancar." janji Heru membesarkan hati Pak Hasan kades desa terpencil ini.


Janji Heru meluapkan rasa gembira di hati Pak Hasan. Desa mereka bisa bertahan sampai sarana transportasi lancar sudah puji syukur pada Yang Maha Esa. Allah telah menurunkan seorang dermawan berhati malaikat angkat penderitaan rakyat.


"Aku wakili warga desa ucapkan terima kasih." Pak Hasan merangkap tangan ke dada hargai usaha Heru beri bantuan secara ikhlas. Tak ada yang bisa mereka berikan pada Heru untuk balas jasa. Mereka saja hidup kekurangan dari mana materi bayar Heru.


Mungkin hanya doa agar kebaikan Heru dapat balasan setimpal dari Yang Maha Kuasa. Semua bisnis Heru dilancarkan diberi keuntungan berlipat ganda.


"Ini kewajibanku membagi pada sesama. Tak perlu bapak pikirkan. Kita usaha bersama-sama agar semua tertolong. Iya kan Bu dokter cantik?" goda Heru tak aneh Citra dingin bagai bongkahan es. Citra mungkin lagi kelelahan asyik urus pasien atau lagi bad mood lihat korban tak dapat pertolongan semestinya.


"Iya kali! Oya pak Hasan! Usahakan para pasien makan teratur ya! Tuan Thakur kita kan banyak bawa makanan jadi beri mereka makanan layak!" Citra lebih memilih obrol sama pak Hasan ketimbang urus orang usil macam Heru. Makin diladeni makin besar kepala tuh kakek. Umur setinggi tiang jemuran tapi akal anak TK.


Heru bukannya marah disebut tuan Thakur malah tertawa geli. Baru kali ini ada orang beri julukan aneh padanya. Dikira Heru tuan tanah kaya raya ala film India. Berkuasa menginjak orang kecil. Heru tidak terpancing ejekan Citra yang provokasi Heru datang bawa boneka manekin. Dari tadi manekin Heru tampak gelisah. Raut wajahnya gambar rasa gusar tingkat dewa. Tapi Viona tak berani buka mulut takut kena semprot Heru. Laki itu sudah larang Viona ikut tapi Viona dengan pedenya minta ikut. Rasakan akibat sok pintar.


"Ok...silahkan istirahat! Maaf di tempat kami ala kadar! Maklum masih dalam kondisi kacau." Pak Hasan menyesal tak bisa menjamu tamu istimewa dengan fasilitas memadai.


Andai Heru keberatan nginap di tempat ala kadar artinya otak Heru terkontaminasi virus Covid 19 jenis baru. Virus memakan otak waras hingga menjurus ke sinting.


"Ini sudah cukup pak! Kita di sini bukan untuk bersenang tapi ikut rasakan kesedihan teman kita. Bapak silahkan kembali kerja. Kami di sini saja temani dokter cantik kita. Ya kan dok?" Heru mengerling genit penuh arti.


Viona menggeram Heru sempat goda dokter sedang bertugas. Apa sih hebatnya seorang dokter kecil? Tampang kumal berkeringat. Wajah berminyak kena paparan sinar matahari. Tak ada riasan apapun bisa dibanggakan sebagai seorang wanita.

__ADS_1


"Sayang...antar aku ke kamar mandi! Aku mau mandi air hangat bersihkan keringat kotor. Udara sini pengap bikin kulitku kusam." seru Viona cari perhatian Heru.


Citra tertawa kecil jauhi kedua orang itu. Citra bosan ladeni orang tak punya empati. Selalu merasa lebih berharga dari orang lain padahal sama-sama manusia terdiri dari daging, tulang dan darah. Apa tulang Viona terbuat dari logam emas? Sementara darah yang mengalir warna biru keturunan ningrat?


__ADS_2