ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Sandiwara Selvia


__ADS_3

Alvan merasa dadanya sesak. Sekian banyak kesalahan Karin mengapa luput dari pantauannya? Alvan anggap Karin sebagai pendamping tapi masa bodoh dengan semua tingkah Karin. Apa cintanya hanya sebatas pamer wanita? Kalau gitu cinta Alvan yang tulus bukan tertuju pada Karin. Karin hanya alat untuk menambah keglamoran seorang CEO.


"Aku tidak perduli pada katamu! Itu urusan Karin! Urusan kita masalah penggelapan dana perusahaan. Ke mana kau bawa semua uang aku?" Alvan menepis cekalan Selvia dengan kasar.


"Uang itu masih ada. Uang itu ada di saham perusahaan ini! Aku lakukan semua ini agar bisa dekat denganmu maka aku nekat beli saham mu!"


"Lucu sekali kamu! Beli saham perusahaan dengan uang aku! Lalu yang kau transfer ke Jodi? Ada penjelasan?"


"Itu aku tak tahu...itu hanya karangan Hakim! Aku tak kenal Jodi..." Selvia buang muka dengar nama Jodi.


"Baik...kita akan segera tahu siapa Jodi! Kau tak perlu buka cerita akan terbuka sendiri. Aku jijik lihat kamu Selvia...


Wanita yang kuanggap banyak kelebihan ternyata lintah pengisap darah."


"Jangan kelewatan kau Alvan! Aku sudah banyak berjasa sumbang proyek ke perusahaan. Masa kau lupakan hal ini? Aku hanya ingin masuk dalam hidupmu! Aku tak ingin kau ditipu perempuan murahan macam Karin. Kumohon lupakan semua ini! Aku akan kembalikan semuanya asal kau bersedia menerima aku. Aku sangat mencintaimu Alvan..." Selvia mengiba sambil meneteskan air mata. Riasan make up di wajahnya mulai luntur perlihatkan lingkaran hitam sekeliling mata. Mata panda akut.


Andai Alvan tidak mengetahui kebusukan Selvia mungkin dia akan iba hati melihat Selvia nangis. Wanita yang biasa nampak super woman kini jadi poor woman.


"Kamu salah Selvia...aku telah mempunyai isteri sah lahir batin. Karin hanya isteri kedua aku! Aku telah mempunyai anak-anak cantik." Alvan buka kartunya agar Selvia urungkan niat bergantung padanya. Alvan telah menemukan tambatan hati sesungguhnya, wanita manapun takkan. menggoyahkan iman Alvan lagi.


"Kau mau bohong Alvan? Kau kira aku tak tahu tak ada wanita di sisimu selain Karin."


"Kenapa kau tak tahu? Bukankah kau baru saja galang orang mengusik keluarga aku? Tak usah bersandiwara lagi Selvia! Rencana busukmu telah gagal semua. Sekali lagi kau sentuh anak isteriku kau akan punah." ancam Alvan tidak main-main. Selvia pikir Alvan lelaki tolol gampang tergiur kemolekan tubuh wanita.


"Kau jahat Alvan...aku telah susah payah membantumu bangun perusahaan! Hanya untuk seorang wanita muda kau tega khianati cintaku!"


"Dia bukan sembarangan wanita. Dia wanita mulia melahirkan anak-anak aku! Aku sangat mencintainya." Alvan membuat pengakuan membuat Untung tersenyum tipis. Kata-kata inilah yang ingin didengar Untung. Menempatkan cinta pada Citra adalah anugerah bagi Alvan. Citra pantas mendapatkan cinta Alvan.


Pintu ruang kerja Alvan di ketok dari luar. Wenda menatap Alvan minta persetujuan untuk membuka pintu. Alvan beri kode anggukan kepala.


Wenda bergerak membuka pintu. Begitu pintu terkuak telah ada dua aparat berpakaian dinas di dampingi satpam kantor. Kedua aparat polisi memberi hormat pada Alvan secara serentak tanda hormat.


"Silahkan masuk pak!" ujar Untung memberi jalan pada kedua aparat.


"Kami datang atas perintah pimpinan kami untuk mengusut laporan dari perusahaan ini!" salah satu mereka menjelaskan perihal kedatangan mereka.


"Memang kami yang melapor. Silahkan duduk agar bapak bisa pelajari laporan kami!" Alvan mempersilahkan kedua aparat itu duduk di sofa.


Selvia langsung terkulai tak berdaya melihat kesungguhan Alvan melacak hilangnya dana dari perusahaan. Selvia mengira Alvan tidak akan perpanjang perihal ini bila dia berjanji kembalikan dana dan mengungkap perasaan pada lelaki itu. Harapan Selvia hanyalah harapan kosong berisi angin kentut.


Wenda segera keluar berniat menyuguhkan minuman pada kedua abdi negara itu. Hakim mengira Wenda akan kabur dari masalah kontan menarik tangan Wenda agar tak boleh meninggalkan ruangan sebelum ada keputusan.


"Apaan?" seru Wenda menepis tangan Hakim.


"Mau ke mana? Enak aja main kabur..."


"Kabur endasmu! Aku mau buat kopi untuk bapak-bapak ini!"

__ADS_1


"Oh..." Hakim menunduk malu berburuk sangka pada Wenda. Wenda sudah pasrah tak ingin melawan hukum. Makin jauh tenggelam makin susah bangkit lagi. Maka itu Wenda memilih menyerah.


"Apa yang bisa kami tindak lanjutin?" tanya polisi itu setelah salah paham antara Wenda dan Hakim mencair.


"Begini pak! Beberapa waktu ini kami kehilangan dana segar lumayan banyak. Ternyata ada tikus di perusahaan kami. Untuk lebih detail biarlah Hakim yang buat pengakuan." Untung merinci sekilas pokok masalah mereka.


Hakim dengan lugas mengakui perbuatannya termasuk otak dari semua kebusukkan mereka. Polisi itu mencatat semua pengakuan Hakim dan memahami pengakuan Hakim yang melibatkan Wenda dan Selvia.


Selvia tak bisa berkutik lagi berkat kesaksian Hakim. Wenda hanya ikut saja karena sudah tak berdaya melawan hukuman yang akan segera diturunkan.


"Baiklah! Untuk selanjutnya lebih baik kita ke kantor polisi untuk beri keterangan lebih lanjut."


"Tunggu..aku akan hubungi pengacara keluarga. Kalian tak boleh menangkap begitu saja! Aku belum tentu bersalah. Yang kulakukan hanya karena cinta!" tukas Selvia menolak diajak ke kantor polisi.


"Maaf nona! Ini bukan penangkapan tapi memberi keterangan. Silahkan hubungi pengacara kalian! Kita semua gunakan dasar praduga tak bersalah. Nona cukup beri keterangan dan selanjutnya akan kami selidiki. Kami mohon kerja samanya!" salah satu aparat berkata dengan nada sopan. Tak ada arogansi maupun tekan pada Selvia.


"Tidak bisa aku mau menunggu keluargaku datang ke sini baru kita bicarakan." ujar Selvia dengan nada tinggi. Sungguh wanita yang bermental baja sudah bersalah masih pede menekan orang lain duluan.


"Nona... kalau anda tidak mau bekerja sama maka anda akan lebih cepat ditetapkan sebagai tersangka karena semua bukti mengarah pada nona. Kami hanya meminta kerjasama dari nona." pihak aparat masih berusaha bersabar terhadap Selvia yang masih arogan.


"Bu Selvia lebih baik kita kerjasama biar masalah cepat tuntas. Bersalah atau tidaknya ibu akan ditentukan oleh pemeriksaan pihak kepolisian." Hakim memberi saran pada Selvia agar persoalan tidak bertele-tele. Mereka memang sudah bersalah kalaupun membela diri hanya untuk meringankan hukuman.


"Apa yang dikatakan Hakim itu benar Bu Selvia. Ibu hanya memberi keterangan di kantor polisi. Selanjutnya kita akan memeriksa kalau memang Ibu tidak bersalah ibu akan segera dipulangkan."


"Oke kalau aku terbukti tidak bersalah maka kalian harus membersihkan nama baik aku. Aku memindahkan sejumlah uang dari rekening Alvan adalah untuk mengamankan uang itu dari perempuan-perempuan nakal yang mengincar hartanya. Karena aku tahu kelak akulah Nyonya Alvan!" kata Selvia tidak dikenal kata malu.


Kini giliran Alvan yang bingung. Mengapa dari keluarga perkasa muncul wanita-wanita yang sangat mengerikan. Sebelumnya Viona sekarang muncul pula Selvia. Semoga saja Citra bukan keturunan dari keluarga Perkasa yang tak memiliki rasa malu.


"Tentu saja nona...kami bukan menangkap nona tapi meminta keterangan. Silahkan! Pak Alvan kami menanti kehadiran bapak di kantor."


"Asisten aku akan ikut ke sana karena dia lebih ngerti seluk beluk permainan orang ini. Terima kasih sudah luangkan waktu menangani kasus kami."


"Itu sudah jadi tugas kami! Permisi..." kedua aparat menyalami Alvan dan memberi hormat.


Selvia, Hakim, Wenda dan Untung ikuti kedua aparat ke kantor polisi. Seluruh kantor jadi heboh bertanya-tanya apa yang telah terjadi di kantor. Mengapa ada aparat kepolisian datang membawa pergi empat orang karyawan kantor. Para karyawan kantor sama sekali tidak mengetahui kalau telah terjadi penggelapan dana besar-besaran di kantor. Mereka cuma bingung mengapa tiba-tiba keempat karyawan dibawa oleh aparat.


Di dalam ruangan Alfan terduduk lemas mengingat semua yang terjadi pada dirinya. Apa ini semua karma atas kesalahannya yang sangat fatal. Terlantarkan anak istri hingga bertahun-tahun. Masih untung Citra mau memaafkannya maka terbuka sedikit rezeki tersisa. Uang sedemikian besar tidak hilang begitu saja.


Kelihatannya Alfan harus besar-besaran mutasi para karyawan agar tidak terjadi kejadian yang sama lagi. Ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi Alvan.


Di saat begini Alvan merasa sangat membutuhkan kehadiran Citra yang selalu lembut padanya. Bayangan Karin makin menjauh seiring dengan terjadinya peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan.


Hati Alfan sangat tidak nyaman saat ini. Rasanya lelaki ini ingin terbang ke samping Citra untuk merasakan kehangatan tatapan bening Citra.


Alvan segera mengaktifkan ponsel untuk menghubungi orang yang dia anggap sebagai obat dari sakit jiwanya. Hati dan jiwa Alfan terasa sakit diterpa oleh skandal-skandal yang tak usai.


"Halo assalamualaikum sayang.." Sapa Alvan begitu tersambung ke Citra.

__ADS_1


"Isshhh.. tua tua keladi! Waktu kerja masih sempat bergenit-genit. Ada apa?"


"Kita makan siang bersama? Aku jemput kamu di rumah sakit."


"Kayak orang pacaran saja! Suara bapak kok aneh? Ayok cerita lagi kasmaran sama ayam mana lagi?"


Alvan memuji insting jitu Citra. Nada suaranya beda sedikit tertangkap di kuping mungil itu. Artinya Citra memang perhatian pada Alvan. Mulut boleh menolak tapi didasar hati tersimpan rasa cinta.


"Kita mulai kencan...anggap kita baru pacaran. Jadi pacar yang manis ya! Tak boleh menolak pasangan lho!"


"Bapak Alvan Lingga yang terhormat...katanya kita harus jemput mama di bandara! Kalau aku pergi keluar makan takut pasien tidak tercover. Nanti aku telepon kalau pasien sudah habis. Oya tadi aku ada kontrol papa. Sudah lumayan kondisinya. Beliau tak sabar ingin pulang untuk main sama jagoanmu!"


"Syukurlah papa membaik. Aku tak bisa bayangkan bagaimana paniknya mama bila tahu keadaan papa. Maka itu kita harus duluan sogok dia pakai kurcaci-kurcaci. Perasaan Mama pasti akan jauh lebih baik setelah jumpa dengan cucu-cucunya."


"Semoga begitu adanya Pak! Aku juga ingin kedamaian di dalam keluarga. Tak ada kecurangan tidak ada konflik dan tidak ada kebohongan."


"Amin... aku merindukanmu Citra!"


"Dasar kakek tua... ingat umur kek! Sudah uzur masih juga suka ngerayu."


"Aku sangat membutuhkan saat ini. Pikiran aku sangat kalut." Alvan terus terang tentang kondisinya yang tidak bagus.


"Masalah apa membuatmu bisa drop sampai begini? Apa gara-gara persoalan dengan Heru atau keisengan emak-emak di kampung. Itu tak perlu bapak pikirin. Itu hanya bumbu dari kehidupan. Bervariasi biar lebih semarak."


"Banyak sekali yang ingin kusampaikan kepadamu. Bolehkah aku meminta sesuatu untuk mendinginkan hati aku?"


"Boleh asal itu tidak melanggar hukum..."


"Aku ingin kamu memanggil aku dengan sebutan Mas Alvan. Aku ingin merasa memilikimu. Aku takut suatu hari kau akan pergi tinggalkan aku lagi. Aku belum siap kau tinggalkan."


Alvan mendengar Citra tertawa renyah dari seberang sana. Suaranya terasa merdu di kuping Alvan yang tengah galau ini. Suara inilah yang bisa menenangkan jiwa Alvan.


"Hanya ini? Baiklah mas Alvan yang bangkotan! Puas?" Citra memilih mengalah karena merasa Alvan tengah dilanda kekacauan. Citra tak mungkin menambah beban pikiran Alvan.


"Terima kasih sayang.. Ini aku merasa menjadi suami 100% bagi Citra. Aku akan menjemputmu bila tugasmu telah selesai. Lalu kita jemput anak-anak untuk ke bandara menjemput Oma mereka. Kau sudah siap berjumpa dengan Mama?"


"Aku tidak pernah berbuat salah jadi untuk apa aku takut? Hanya orang yang bersalah selalu dirundung rasa takut. Yang penting kita bersihkan hati dan pikiran. Baiklah Pak aku masih bertugas! Nanti aku dituntut telantarkan pasien."


"Oke Nyonya Alvan... i love you." gombal Alvan untuk menyenangkan Citra yang telah bersedia memanggilnya dengan sebutan lebih mesra. Bukan sebutan kaku yang membuat kuping Alvan terasa panas.


Waktu bergulir melewati detik demi detik maju meninggalkan orang malas. Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi. Maka itu pergunakanlah waktu dengan sebaik mungkin.


Alvan tersenyum membayangkan wajah Citra bersemu merah digombalin Alvan. Citra tak ubah anak gadis baru pertama pacaran. Selalu malu didekati oleh walau status mereka resmi suami isteri.


Kobaran kegalauan di hati sedikit padam berkat kemerduan suara Citra apa lagi Alvan telah mendapat panggilan mesra dari Citra. Alvan iri pada Heru yang mendapat panggilan mas dari Citra. Masa orang lain dapat sebutan mesra sedang suami sendiri terabaikan.


Satu lagi tembok antara Alvan dan Citra runtuh. Alvan makin dekat Citra dan Azzam. Kedua orang itu mulai membuka ruang buat Alvan keliaran di dalam ruang terbuka sekitar mereka. Kendala Alvan tinggal satu yakni Afisa.

__ADS_1


Alvan berharap bisa menaklukkan hati anaknya satu lagi. Kalau bisa Alvan ingin membawa Afisa pulang ke tanah agar ketiga anaknya bisa tinggal bersama hingga mereka dewasa kelak. Kalaupun harus berpisah karena menyongsong takdir masing-masing.


__ADS_2