
Heru cukup kejam jatuhkan harga diri Viona. Dipastikan Heru bukan mangsa yang gampang dirayu masuk perangkap. Heru bukan orang bodoh mudah dijatuhkan oleh rengekan wanita manja. Laki itu justru tergila pada Citra yang luar dalam cantik. Sederhana namun menyimpan pesona mampu tenggelamkan para pejantan.
Heru berniat pergi dari tenda untuk cari Citra. Hari mulai gelap. Genset darurat belum dihidupkan untuk hemat bahan bakar.
Sekeliling kamp pengungsi terpasang obor untuk penerangan. Obor minyak tertancap di beberapa sudut untuk menghilangkan kegelapan total. Berada di suasana begini terasa kembali ke masa lalu di mana peradaban belum secanggih sekarang. Penerangan orang jaman dulu hanya obor dan lampu teplok. Setelah baru muncul lampu semprong dari penutup kaca yang harus dipompa agar lampunya tetap nyala. Bertahun kemudian barulah ada listrik. Kehadiran listrik merubah dunia jadi terang benderang tanpa batasan siang malam.
Langkah Heru terhenti karena Citra datang bersama pak kades serta anak gadis yang melayani Viona tadi. Heru menangkap ada yang tak beres karena wajah Citra sungguh tak bersahabat. Sinar mata Citra mampu menembus jantung Heru saking tajamnya.
Pak Hasan dan anak gadis tadi hanya murung tak berani ekspresi rasa kesal secara terangan. Bencana baru apa lagi terjadi hingga mengusik Citra.
Tubuh Citra yang mungil menantang Heru tak ubah semut melawan gajah. Cuma semut kecil ini terlalu garang tak gentar walau musuh segede gajah.
"Apa lagi sayang?" tanya Heru sabar.
"Tanya manekin kamu?" ketus Citra menatap lurus ke Viona yang berdiri anggun menonton Citra umbar emosi pada Heru. .
"Manekin? Apa maksudmu?" Heru menoleh mencari siapa yang dituju Citra. Tatapan Citra jatuh pada Viona. Kesalahan apa dilakukan Viona sampai Citra si penyabar sampai emosi seleher.
"Nona Viona habiskan semua air bersih dalam galon untuk mandi. Sepuluh galon habis. Stok air minum habis." si gadis sambung suara hati Citra. Rasa gusar tampak di wajah gadis itu.
"What? Viona mandi pakai air mineral? Ya Tuhan...Sini kau Vi!" bentak Heru ikut hilang rasa sabar. Viona kelewatan mementingkan diri sendiri guna air bersih untuk mandi. Sementara semua pengungsi butuh air bersih untuk makan minum. Bisa mati kehausan seluruh warga kampung tanpa air bersih. Belum lagi anak kecil butuh air bersih untuk buat susu segalanya.
Viona maju sampai ke depan Heru tanpa rasa bersalah sedikitpun. Lebih baik kena marah ketimbang kulitnya rusak kena air kurang bersih. Keindahan kulit adalah modal seorang fotomodel. Peduli amat dengan kesusahan panitia sediakan sarana kebersihan. Toh itu bukan tanggung jawabnya!
"Jelaskan mengapa kamu tega buang air bersih hanya untuk penuhi egomu?" bentak Heru dengan suara menggelegar tak sanggup tahan amarah. Viona sudah berbuat melampaui batas perbuatan manusia berhati. Hati Viona sudah hilang dimakan egoisan kelas Wahid.
"Sayang...masa aku harus mandi air kotor? Warnanya keruh maka aku minta air bersih. Hanya air kok sewot? Besok kubeli satu truk kasih sini. Ach...masalah sepele dibesarkan! Aku lapar ingin makan!" sahut Viona tak ambil pusing dengan kekesalan Citra dkk. Emang Viona pikirin.
"Nona...jalan penghubung desa putus total! Pakai apa kau kirim air? Pakai botol susu?" semprot Citra makin sewot pada Viona yang tak punya rasa empati. Seenak dengkul buang air seakan air mudah didapat. Semua yang ada di sini berusaha hemat agar stok air bersih tidak putus. Ini malah habiskan hanya untuk mandi.
"Hei kau siapa? Aku ini pacar Heru. Tak usah ajar aku. Aku lebih tahu apa yang kubutuhkan. Kau sadar tidak kami ke sini bukan datang tangan kosong. Kami menyumbang." Viona maju menantang Citra membusung dada yang lumayan montok. Heru tertarik pada Viona mungkin karena tameng depan model jumbo. Laki jaman kini kan suka yang aneh bin ajaib.
"Bawa pergi sumbanganmu kalau ke sini hanya menyusahkan!" Citra tak kalah keras menaikkan bahu siap adu fisik dengan Viona. Citra boleh bertubuh kecil tapi pernah latihan ilmu bela diri dengan orang tua angkat Afisa. Bukan jagoan tapi cukup untuk hajar orang sinting.
Heru menjadi tak enak hati Viona telah ciptakan kekacauan. Ini jelas kesalahan Viona tak ingat nasib pengungsi tanpa sarana air bersih.
"Maafkan kami! Malam ini juga aku akan minta pilot heli cari air bersih." Heru merapatkan kedua tangan mewakili Viona minta maaf. Hebatnya Viona sudah bersalah tapi bisa. berkoar hendak sok jagoan.
"Bukankah bapak bilang sangat berbahaya lakukan perjalanan malam?" tanya Citra tak salahkan Heru. Cuma piaraan Heru bukan makhluk alam astral. Makhluk tercipta dari segala keangkuhan duniawi.
"Kalau darurat ya apa boleh buat? Aku akan minta mereka hati-hati. Sekali lagi maaf!"
Citra menghela nafas. Meledak memarahi Viona tak ada guna. Otak wanita itu bebal tak bisa diajak pikir rasional. Kasihan lelaki yang jadi suaminya kelak. Sejuta persen hidup dalam tekanan mental.
__ADS_1
"Bapak bisa minta pilot cari air di kampung seberang. Tidak terlalu jauh. Di sana sarana transportasi lancar. Aku bisa ikut cari air kok!" pak Hasan menawarkan diri jadi petunjuk jalan. Tanpa air sama saja membunuh warga satu persatu.
"Oh gitu. Baguslah! Ayok kita cari asistenku!" ajak Heru bergerak cepat untuk menutupi kekurangan air. Semoga krisis air bersih gara-gara Viona bisa teratasi. Viona memang pengacau kelas berat.
Citra ikut dari belakang tinggalkan Viona bengong sendiri. Viona belum menyadari apa salahnya hanya ingin air bersih untuk mandi. Sebagai wanita kelas atas wajar ingin kulit tetap kinclongnya.
Gerry dan Melati buang muka tak kalah marah dengan Citra. Benar kata Citra kalau Viona hanya manekin pajangan. Tampak bagus dari luar apalagi dipakaikan baju bagus. Cuma sayang nggak punya otak waras.
Melati dan Gerry ikutan tinggalkan Viona bersama para pasien. Para pasien mencibiri Viona tukang bikin onar. Datang menyumbang bukannya buat keadaan membaik. Viona malah menambah masalah.
"Cantik tapi kurang waras." celetuk seorang ibu tua yang terluka di bagian kulit kepala.
Viona mendelik tak senang dilecehkan orang kampung. Dia seorang fotomodel top sama sekali tak berharga di antara pengungsi. Viona menganggap orang kampung seleranya payah. Tak paham kemajuan teknologi maka tak kenal wajah cantiknya kerap muncul di berbagai media.
Heru beri perintah pada Laba cari air bersih malam itu juga. Tanpa air minum bagaimana pasien minum obat juga pengungsi lain bagaimana lalui hari tanpa minum.
Syukurlah Heru cepat tanggap mengurus masalah air bersih yang paling vital saat ini. Helikopter Heru mengudara di malam hari demi keselamatan warga desa. Citra bersyukur Heru bukan orang egois macam Viona. Nilai Heru naik satu derajat di mata Citra. Perlahan ada rasa salut berkembang dalam hati terhadap Heru.
Makan malam sederhana dilaksanakan di mesjid seusai sholat magrib. Semua lelah dan capek setelah seharian berpacu dengan waktu menyelamatkan nyawa para korban yang terluka. Viona sempatkan diri shooting acara makan bersama dengan relawan lain. Viona pamer dia berada di tempat orang tertimpa bencana. Sambil rekam wanita itu cuap-cuap bikin konten.
Citra tak peduli apa yang dilakukan Viona. Asal bukan hal di luar batas. Mau pamer dia sebagai dermawan paling baik hati bukan urusan Citra. Malam ini Citra ingin cepat tidur istirahatkan badan agar punya energi baru merawat pasien.
Seusai makan Citra cari angin sebelum tidur. Angin malam berhembus cukup kencang menembus pakaian. Untunglah Heru ada bawa selimut bantu mereka yang masih kecil atau orang tua.
Citra tersenyum sendiri membayangkan Azzam dan Alvan pertahankan ego lelaki. Semoga Azzam berbuka hati pada Alvan walaupun sedikit.
"Lagi melamun apa?" suara familiar mengusik kuping Citra.
Heru datang sambil bawa roti susu khusus dibawa untuk Citra. Citra yang masih kenyang tak begitu tertarik pada bawaan Heru. Heru meletakkan roti di pangkuan Citra tanpa ijin wanita itu. Heru duduk di samping Citra lagi-lagi tanpa ijin Citra. Sekedar duduk mungkin tak perlu ijin dari siapapun.
"Belum istirahat pak?" Citra berbalik bertanya.
"Masih pagi. Makanlah rotimu! Aku sengaja beli untukmu."
Citra menatap bungkusan roti di pangkuan sambil tertawa kecil. dari baunya Citra sudah tahu itu roti susu kesukaannya.
"Dapat info dari pengkhianat mana?"
"Kok ngomongnya gitu sih? Mana ada pengkhianat. Aku cari tahu di kantin biasa dokter Citra suka makan apa? Nyatanya suka ngemil roti susu."
"Wah kurang kerjaan! Kenapa bisa nyasar ke sini? Jangan bilang tanya panitia di mana aku di tempatkan?"
"Geer amat! Aku selalu datang tinjau lokasi bila ada bencana alam. Berbagi sedikit dan rasakan penderitaan para korban. Pas pula kau di sini. Artinya kita berjodoh." sahut Heru tak mau perlihatkan betapa bodoh dia mengejar seorang wanita sampai ke lokasi gempa.
__ADS_1
"Kebetulan ya! Roti ini juga kebetulan naik ke Helikopter kamu ya! Hebat ada roti jalan sendiri." ejek Citra nikmati kebohongan Heru.
Heru terkekeh ketahuan bersilat lidah. Padahal jelas sekali dia datang untuk Citra lantas berbagi. Kalau bukan demi Citra tak mungkin Heru bersusah payah terjun lokasi. Ingin nyumbang tinggal perintah pada Laba kirim bantuan. Di tempat ini ada medan magnet menarik Heru untuk datang.
"Kau tak suka aku datang?"
"Siapapun berhak datang apa lagi bawa bantuan cuma jangan bawa masalah! Aku bukan tak hargai bapak tapi kumohon bapak pulang saja bawa manekin bapak. Dia merepotkan." Citra berkata jujur tanpa takut Heru tersinggung. Belajar dari pengalaman Viona mungkin saja akan ulangi kesalahan sama habiskan air bersih. Wanita hanya mengandalkan tampang tak cocok ditempatkan di lokasi tak nyaman.
"Besok pagi aku akan bawa Viona pulang. Maaf sudah merepotkan." Heru menyesali kelakuan Viona membuat keadaan tambah buruk. Heru tak sangka Viona bisa berbuat sekonyol itu nyaris mencelakai seluruh warga.
"Itu bukan salah bapak. Cukup bantu kami bawa pergi wanita aneh itu."
"Pasti...Oya...gimana kalau kita usaha cari sumber air bersih. Kita bawa pompa coba kuras salah sumur agar ada sumber air bersih?"
Citra takjub pada usul Heru. Kenapa tak terpikir buat sumur baru cari sumber air bersih. Apakah semua warga lupa berpikir waras? Otak terguncang akibat gempa?
"Apa bapak bisa bantu?"
"Kita tanya pak Hasan dulu apa ada mesin pompa air? Kalau ada kita usahakan besok. Kalau tidak aku akan kirim mesin pompa dan genset. Kita cari jalan terbaik untuk warga."
Citra tersenyum harga niat baik Heru. Ternyata Heru tidak seburuk dugaannya. Dari luar tampak konyol ternyata di dalam sangat potensial. Tidak rugi Heru disebut macan bisnis. Otaknya penuh ide cemerlang.
Di bawah bayangan cahaya lampu obor Heru menyaksikan betapa manis senyum Citra. Senyum tulus seorang dokter pengabdi penuh untuk rakyat. Begitu dengar ada solusi baik untuk masyarakat Citra auto kesenangan. Senyum manis ini yang dinanti Heru.
"Aku wakili seluruh masyarakat desa berterima kasih. Maaf kalau tadi aku agak kasar!"
"Semua orang akan bereaksi sama. Ini hanya salah paham. Dingin?" Heru bertanya karena merasakan angin bertiup cukup kencang menembus baju jaketnya.
Citra hanya kenakan blus panjang tangan mana sanggup melawan udara dingin makin lembab. Citra merapatkan tangan memeluk tubuh sendiri usir angin dingin namun segar. Tindakan ini mampu mengusir udara sejuk walau tidak total.
Heru perhatikan Citra berusaha cari kehangatan lewat tubuh sendiri. Seharusnya mereka balik ke tenda ataupun mesjid untuk hindari terpaan angin. Tapi Heru tak rela kehilangan moments bersama Citra. Ngobrol tanpa delikan tajam Citra menyemangati Heru untuk maju rebut hati wanita ini.
Heru membuka jaketnya lalu balutkan ke tubuh Citra tanpa bertanya wanita ini terima atau tidak. Sebagai lelaki gentle Heru harus mengalah pada cewek. Perhatian kecil ini tidak mengangkat derajat Heru tapi bernilai di hati Citra.
Sejenak Citra tertegun dapat perlakuan lembut Heru. Bau harum parfum Heru tercium samar-samar di hidung Citra. Bau lelaki macho membiuskan wanita. Wanita lemah iman pasti akan jatuh ke pelukan Heru. Salah satunya Viona si manekin tolol.
"Pak...ini..."
"Kamu cewek...aku cowok! Daya tahan aku jauh lebih kuat. Pakai saja!" kata Heru lembut sambil membantu Citra merapikan jaket di pundak.
"Terima kasih...di suasana begini aku teringat waktu kami jadi relawan di Wuhan. Di sana fasilitas lengkap cuma kami di hantui rasa takut tertular virus Covid. Satu persatu rekan kami tumbang saking lelah. Daya tahan tubuh kami melemah maka mudah terjangkiti. Covid 19 pertama sedikit ganas. Mudah menular dan merengut ratusan nyawa."
Heru menyimak cerita Citra tanpa menyela. Setiap cerita yang menyangkut Citra merupakan kisah menarik bagi Heru. Heru ingin mengenal Citra lebih dekat tanpa paksaan. Heru lebih suka Citra buka cerita sendiri ketimbang korek sana sini cari tahu. Heru butuh ketulusan Citra.
__ADS_1
"Kami di sana lebih sebulan. Aku sempat drop langsung balik ke Beijing dikarantina dua Minggu."