ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Bujukan Azzam


__ADS_3

Alvan memuji cinta Daniel pada Citra tak punah dimakan waktu. Laki itu telah tunjukkan kebesaran cintanya pada Citra. Seharusnya Alvan malu pada Daniel, dia telah diberi kesempatan untuk merajut hari bahagia bersama Citra namun justru dia mengabaikan semuanya.


Alvan semakin bertekad takkan berpaling dari Citra. Sebesar apapun godaan Alfan harus berusaha menepisnya.


"Aku akan mengingat semua ancaman kamu bro! Aku mendoakan kamu semoga mendapat cinta yang lebih murni dari emas murni manapun."


"Amin... hargailah pengorbanan Citra selama ini! Untuk mencari seorang pendamping hidup itu gampang tetapi untuk mencari seseorang yang bersedia menggandeng kamu melewati lembah jurang itu sangatlah sulit. Pendek kata hargailah apa yang telah ada di tanganmu janganlah sempat terlepas lagi!"


"Kamu memang sahabat terbaik bro! Apa yang kamu lakukan padaku dan Citra takkan terlupakan seumur hidup."


"Ok...gue pegang janjimu!"


"Gue janji akan hargai semua yang kumiliki sekarang. Eh lhu di mana?"


"Di markas...lhu mau ke sini?"


"Lihat agak sorean. Tadi antar Karin berangkat ke Jawa. Dia ingin belajar agama tinggal di pesantren."


"What? Karin masuk pesantren? Kejutan besar.. kamu paksa dia pergi?"


"Suudzon amat nih orang! Dia pergi secara suka rela. Di sana pesantren khusus orang pengidap penyakit HIV. Bahkan pemilik pondok pesantren juga mengidap penyakit itu. Tadi dia dijemput oleh dua santri dari sana."


"Oh...kirain lhu kejam singkirkan dia setelah dapat yang lebih baik! Kita berdoa saja semoga dia dapat hidayah. Aku tidak akan hakimi dia tapi dia telah menerima pelajaran berharga dari semua kesalahannya. Ok..


untuk sementara hidupmu aman. Jauhi hal terlarang!"


"Terlarang gimana? Gue nggak minum minuman keras, nggak


merokok, nggak judi. Lantas apa yang aku jauhi lagi?"


Daniel tertawa sinis ditanya Alvan perbuatan apa harus dia jauhi. Kalau minum, merokok, berjudi itu menyangkut pribadi sendiri. Itu bukan hal penting, yang penting adalah main hati. Ini akan mencakup banyak hati. Banyak hati akan terluka.


"Bro...yang lhu sebut tadi itu memang hal terlarang. Masih ada yang lebih parah yaitu main hati. Yang ini banyak yang akan sakit hati. Pasangan dan anak-anak kamu. Ingat itu!"


"Ingat... ingat...aku makan dulu ya! Tuh sudah dipanggil yayang Citra!" Alvan mengejek Daniel gunakan panggilan sayang Daniel pada Citra. Daniel tertawa ngakak diejek Alvan. Harusnya Daniel patenkan hak panggilan Citra agar tak ditiru orang. Kini Alvan ikutan panggil Citra yayang.


"Itu trademark gue bro! Ok... selamat makan! Salam buat yayang Citra! Bilang salam sayang penuh cinta dari kak Daniel."


"Nggak akan... gue takut Citra malah berpaling karena kegigihan lhu! Gue hargai cinta lhu pada isteriku! Tapi dia adalah isteri aku, isteri temanmu!"


"Aku tahu maka aku tidak mencolek kebusukan kamu! Jagalah dia baik-baik! Aku bahagia bila Citra bahagia. Sudah dulu ach! Gue terbawa suasana nih! Bye.."


Alvan merinding ingat semua kata Daniel. Apa yang dikatakan Daniel semua adalah fakta. Kalau Alvan tidak sungguh-sungguh menjaga keluarganya maka kehancuran ada di depan mata. Semoga Alvan tidak salah langkah lagi.


Citra kembali ke tempat Alvan merenungi perkataan Daniel. Wanita ini memanggil Alvan untuk makan siang bersama. di rumah hanya ada mereka bertiga karena semua pada pergi berlibur.


Citra tampak lebih rileks tanpa ada yang tahu penyebabnya. Guratan kecil yang selama ini memayungi wajah Citra tampak menghilang. Apa karena Karin telah menjauh dari keluarganya. Benar atau tidak hanya Citra yang bisa menjawab.


"Mas...kita makan?" kata Citra seraya duduk di samping Alvan.

__ADS_1


Alvan mengangguk setuju. Ntah mengapa Alvan merasa Citra makin menarik dari hari ke hari. Semua yang ada pada Citra seolah memancarkan sinar. Segala kegalauan sirna bila berada di samping wanita ini. Citra masih muda, kesempatan untuk melangkah jauh lebih besar dari dirinya yang makin renta. Kalau sekali lagi Alvan terpeleset tak ada jalan untuk bangkit.


Afifa turun dari atas ikut bergabung di meja makan. Wajah yang biasa ceria hilang auranya. Alvan dan Citra menduga gadis kecil ini masih menyimpan pertanyaan tentang Karin. Untuk sementara mereka tak ingin mengungkit supaya mood Afifa tidak jatuh ke titik rendah.


Makan siang paling sepi terjadi di rumah Citra. Tak ada canda tawa seperti hari-hari sebelumnya. Afifa yang biasa cerewet mendadak sakit gigi irit bicara. Tak ada celoteh menghibur Alvan lagi.


Citra tak ingin menyalahkan Karin telah membongkar masa lalu Alvan di hadapan Afifa. Takdir haruskan ada sisa kesedihan maka Citra harus tegar lalui hari itu.


Selesai makan Afifa kembali ke kamar pakai alasan ingin belajar. Padahal Citra tahu anak itu hanya ingin hindari mereka. Satu-satunya orang yang bisa mengembalikan mood Afifa hanyalah Azzam. Citra harus duluan bicara dengan Azzam sebelum jumpa Afifa. Azzam mesti beri masukkan supaya mood Afifa kembali stabil.


Jam empat sore rombongan para lajang tiba di rumah. Azzam dan Gibran tampak bahagia sudah habiskan waktu sebagai lelaki dewasa. Tokcer cs langsung pamitan karena hari mulai jatuh. Mereka juga sudah lelah seharian kawani Azzam dan Gibran.


Citra mencegat Azzam sebelum jumpa adiknya. Citra melihat Azzam dan Gibran membawa paper bag isinya kemungkinan oleh-oleh untuk tuan putrinya. Citra membawa Azzam bicara di rumah sebelah agar Afifa tidak mendengar.


Azzam keheranan diseret maminya ke rumah Uyut. Kesalahan apa yang telah dia lakukan sampai Citra tak ingin orang lain tahu. Azzam tahu maminya selalu melindungi mereka dari masalah apapun. Namun kali ini Azzam merasa tidak lakukan kesalahan.


Citra mengajak Azzam duduk di taman belakang jauh dari pantauan Afifa. Matahari tidak bersinar terik bersamaan hembusan angin sepoi menurunkan rasa tegang Azzam.


Keduanya duduk berdampingan di bangku taman. Citra menggenggam tangan anak lakinya halau perasaan takut Azzam.


Hembusan angin sore membawa wewangian dari dedaunan dan harum bunga yang ditanam oleh Uyut Azzam. Citra menatap Azzam lembut minta pengertian anaknya.


"Ko...mami mau minta tolong!"


"Mami Koko omong gitu? Jangan tolong mami, minta nyawa Koko juga ngak masalah!" Azzam bernafas lega Citra bukan marah padanya. Di lihat dari paniknya Citra pasti ada sesuatu mengganjal di hati Citra.


"Huusss nih anak! Jangan ngawur! Mami mau minta tolong pada Koko bujuk Amei tidak benci pada bunda Karin. Tadi tak sengaja bunda buka cerita masa lalu. Adikmu dengar dan dia kejar ceritanya. Dia musuhan sama papi karena dianggap pilih bunda Karin dari pada kita."


"Iya...tapi papi sudah menyesal. Kita tak mungkin kembali ke masa lalu untuk perbaiki kesalahan. Papi sedang berusaha membayar kesalahan pada kita, kita harus beri papi kesempatan."


Azzam mengunci mulut rapat-rapat. Azzam telah melihat kesungguhan Alvan perbaiki diri sampai rela melepaskan Karin. Dan Karin tahu diri memilih pergi. Secara keseluruhan tidak ada kerikil di sepanjang jalan Alvan menuju ke pelukan hangat keluarga. Tapi kenangan buruk tak bisa di hapus seperti menghapus tulisan di papan tulis. Sekali usap hilang semua catatan di papan tulis.


"Koko akan bicara dengan Amei. Koko ingin berdamai dengan catatan tak ada lagi orang lain jadi penghalang jalan mami. Koko tak punya banyak kata damai."


"Terimakasih sayang! Hanya kamu dan kedua adikmu harta mami paling berharga. Semua keinginan kalian adalah keinginan mami." Citra meraup Azzam ke pelukan sekedar untuk meringankan beban dalam hati. Citra sudah gelisah Azzam berdiri di pihak adiknya. Di mulut Azzam menerima Alvan tapi dalam hati anak ini siapa tahu.


"Koko masuk dulu! Om Gi pasti sudah beri oleh-oleh untuk Amei. Nanti Amei curiga ke mana Koko!"


"Koko beli apa untuk Amei?"


"Ada kotak pensil, pita rambut dan boneka hasil dari permainan. Om Gi beli lebih banyak."


"Ok..pergilah! Semoga kau berhasil ya!"


Azzam bangkit meninggalkan Citra. Citra tak tahu apa yang akan dikatakan Azzam pada Afifa. Afifa selalu patuh pada Azzam cenderung percayakan keputusan pada Azzam.


Citra duduk di bangku taman meleburkan diri pada alam. Begitu panjang kisah sedih di dalam hidupnya. Kapan dia bisa hidup damai bersama anak dan suami. Selesai satu muncul satu. Mengapa Allah tak henti kasih cobaan? Apakah Allah terlalu sayang padanya maka beri cobaan menguji ketaatan Citra. Citra takkan menyerah. Setiap cobaan datang menambah kedewasaan Citra menjadi manusia lebih baik.


"Mengapa sendiri di sini nak?" Opa Sobirin ntah dari mana munculnya. Pak tua itu ambil tempat di samping Citra sambil membaca guratan di wajah cucunya itu. Pak Sobirin yang sudah banyak makan asam garam dunia bisa membaca ada guratan gelisah di wajah cantik itu.

__ADS_1


"Lagi ingin sendiri opa! Opa sudah siap berangkat Selasa nanti?"


"Siaplah! Om kamu berencana ikut sekalian antar ketiga tamunya."


Citra melongo sejak kapan muncul ide Heru ikut ke Beijing? Siapa yang akan kelola perusahaan juga jaga rumah? Rumah ok lah bisa dijaga Citra tapi perusahaan tak bisa diwakilkan. Citra buta sama sekali soal bisnis.


"Om mau ikut? Lalu gimana kantor?" Citra kontan beraksi tak mau Heru lupa tugas gara cinta. Harus ada keseimbangan antara tugas dan asmara.


"Katanya pergi dua hari untuk jumpa calon mertua. Tak enak jadian sama anak orang tapi tidak kenal keluarga."


"Nggak boleh gitu opa...Afung harus masuk Islam dulu baru ada kepastian hubungan mereka. Jumpa keluarga bukan hal main-main di sana. Itu sudah pasti kalian harus nikahi anak orang."


"Benarkah?" Opa mengelus dagu yang tak ditumbuhi jenggot. Perasaan tak ada yang bisa dielus tapi tangan tua itu masih betah bergerak di daerah situ.


"Benar opa...begini saja! Citra akan telepon ke sana minta ijin Afung masuk Islam. Kalau mereka setuju besok kita ajak Afung ke mesjid. Masih ada satu hari sebelum berangkat. Apa pendapat opa?"


Pak Sobirin menarik nafas dalam-dalam isi paru-paru dengan oksigen sebanyak mungkin. Kalau mau jujur pak Sobirin kurang setuju Heru menikahi gadis beda suku. Banyak kesenjangan antara mereka. Tapi Heru terlanjur suka pada gadis itu maka mereka memilih beri restu. Heru sudah cukup lama menduda. Tak ada wanita mampu ketok pintu hatinya sampai Heru minta ijin mau berhubungan dengan wanita yang dia kenal di Singapura. Cinta kilat.


"Opa rasa beri waktu pada mereka untuk saling mengenal. Gadis itu mencintai Heru atau tidak belumlah pasti. Kita jangan memaksa kehendak. Pindah agama demi cinta bukanlah keputusan tepat. Jadi menurut opa biar mereka saling mendalami dulu."


Citra manggut-manggut memahami pemikiran opa. Opa sebagai orang tua tentu lebih berpengalaman melihat setiap masalah dari berbagai sudut pandang. Tidak sembarangan kayak mereka yang muda. Apa yang dikatakan opa cukup beralasan.


"Iya opa...Citra akan bicara dengan Om! Citra takkan ijinkan om ikut. Biarlah Afung tinggal lebih lama. Kedua temannya pulang saja. Mereka pasti sudah punya jadwal latihan karena mereka masih produktif."


"Opa serahkan padamu. Dan kau sendiri bagaimana? Sudah temukan apa yang kau cari?"


Citra tertawa mendengar opanya bertanya seakan tahu Citra selalu dirundung masalah. Opanya belum tahu betapa jahatnya Alvan di masa lalu. Apa mereka masih akan baik pada Alvan bila tahu kesalahan Alvan?


"Opa...semua akan baik-baik saja! Opa doakan Citra saja!"


"Tentu saja opa berharap semua orang bahagia terutama keturunan Opa. Sudah sore... kau masuklah! Opa mau duduk bersama tanaman ini! Opa akan merindukan mereka."


"Lalu tidak rindu pada kami?" gurau Citra di balas tawa pak Sobirin.


"Tiap detik pasti rindu terutama pada si kecil Afifa. Dia persis boneka cantik. Oma kamu selalu bangga punya cicit. Dia selalu pamer cicit-cicitnya."


"Mereka punya opa ganteng pasti ikutan cantik. Citra ke dalam dulu opa! Mau lihat kurcaci-kurcaci opa sudah pada mandi belum."


"Ya ..iya.."


Citra ringankan langkah masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Citra penasaran gimana caranya Azzam beri pengertian pada Afifa. Sanggupkah Azzam mengurus emosi Afifa dari seratus derajat Celcius menjadi nol derajat.


Citra naik ke atas intip apa yang sedang dilakukan kedua bocahnya. Pertama Citra mencari Azzam di kamarnya dulu. Citra mau tahu jawaban Afifa mengenai perbincangan mereka. Apa Azzam sukses melunakkan hati Afifa.


Azzam tidak berada di kamarnya. Citra mengendap berjalan ke kamar Afifa takut ketahuan menguping interaksi kedua anaknya.


Pintu kamar Afifa tertutup rapat. Citra terpaksa menempelkan kuping ke daun pintu dengar apa di dalam ada saling balas kalimat.


Samar-samar Citra mendengar suara Azzam begitu lembut dan sabar pada Afifa. Tak ada hentakan kasar dalam nada Azzam. Cara bicara orang telah terlatih kesabaran tingkat dewa.

__ADS_1


Citra terharu melahirkan anak-anak luar biasa. Citra tidak lanjut menguping yakin Azzam akan berhasil urus Afifa. Setiap kata Azzam tak ada kata sanggahan dari mulut mungil Afifa. Artinya misi Azzam berjalan mulus.


__ADS_2