ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Cek Up


__ADS_3

Kini tinggal para orang tua melanjutkan diskusi tentang pernikahan Heru. Heru tak boleh goyah walau Afung telah cacat. Afung jadi begini juga bukan wanita itu. Ini yang dikatakan takdir. Heru tak boleh mundur jadikan cacat Afung sebagai titik noda. Afung wanita baik dan penyabar. Afisa sudah cerita semua kebaikan Afung selama Afisa jadi anggota keluarga mereka. Tak ada perlakuan berat sebelah gara Afisa bukan keturunan asli mereka. Salah tetap kena marah, disayangi dalam keseharian.


"Mama akan pilih hari baik untuk pesta kalian. Kita semua akan bahagia." ujar Bu Sobirin berbinar bikin Afung adem. Ada rasa hangat mengalir dalam hati. Dia telah diterima dengan tangan terbuka di rumah orang tajir ini.


"Bagusnya kalau hari Sabtu. Orang pada libur jadi bisa hadir semua." usul Alvan mengingat yang diundang kalangan orang bisnis.


"Alvan benar. Kalau tidak Sabtu ya hari Minggu." sambung Heru perkuat rencana Alvan.


"Ok...mama usahakan! Hari ini kita cek up kandungan Citra dulu. Aku tak sabar ingin lihat bagaimana si kembar. Kok banyak amat. Takutnya dokter salah periksa."


"Nggak mungkin salah Oma! Hasil USG ada kok! Kita bersiap ke rumah sakit. Afung ikut saja biar tidak bosan di rumah. Om kan mau ke kantor." kata Citra seraya tinggalkan meja makan untuk bersiap ke rumah sakit. Citra berencana langsung praktek begitu selesai USG kandungan. Dia masih ada tanggung jawab terhadap pasien.


"Oma tunggu di sini saja! Cepat ya!" seru Bu Sobirin tak sabar ingin segera jumpa cicit spektakuler. Bu Sobirin penasaran bagaimana mereka berbagi tempat di perut yang mungil itu.


Alvan nyusul Citra pastikan isterinya baik-baik saja sebelum berangkat ke rumah sakit. Alvan sangat tidak suka Citra harus praktek. Maunya istirahat di rumah jaga kandungan yang mulai membesar.


Citra mengganti pakaian lebih resmi untuk jalankan tugas di rumah sakit. Tak mungkin dia pakai daster rumahan pergi praktek. Citra pakai terusan model baby doll warna biru muda. Panjang pakaian persis di atas lutut membuat ibu hamil ini tampak seperti anak SMA belum menikah. Perut buncit tertutup oleh pakaian agak longgar. Sekilas tampak manis.


Alvan mendengus kurang suka Citra pamer lutut putihnya. Siapa lagi mau melirik ibu hamil walau cantik. Ibu hamil pasti ada pemiliknya.


"Nggak ada baju yang lebih dalam? Ini pendek sekali. Tuh cuma tutupi pantat!" protes Alvan pasang muka masam.


Citra menurunkan mata melihat sampai di mana batas roknya. Cukup dalam dan sopan. Kadang dulu dia pakai rok span di atas lutut lakinya tak protes. Salah sarapan tampaknya. Mood saja buruk.


"Mas ini kenapa? Baju ini cukup sopan kok! Baju ini agak longgar melegakan perut aku." Citra membalas protesan Alvan yang dinilai terlalu mengada-ada.


"Mas tak suka orang intip lutut kamu. Ayo ganti!"


"Isshhh...makin tua makin cemburuan! Waktu kak Karin pakai bikini kenapa mas tak protes? Pamer ke seluruh dunia lagi. Separuh penduduk dunia pelototi tubuh bini kesayangan mas tapi mas tak marah malah bangga kan?" rengut Citra tak senang. Tak senang namun wanita ini bergerak dekati lemari baju pilih pakaian lain.


Alvan terdiam diserang gunakan nama mantan isteri. Citra masih menyimpan rasa perasaan ilfil pada Karin sedang Karin menyimpan rasa iri walau berusaha menekan perasaan. Alvan bisa rasakan nada suara Karin iri pada Citra cuma dia tak berdaya merubah takdir.


Citra berganti baju two piece. Atasan warna putih dan celana kulot warna coklat tua. Pinggang agak sempit akibat ada penghuni baru dalam diri Citra.


Alvan melihat Citra sedikit payah kancing resleting celana. Dengan sedikit pemaksaan baru terkancing rapi.


"Apa tak ganggu bayi diikat kancing kencang?" Alvan kembali protes.


"Ya ampun tuan Alvan! Ini salah itu salah. Pakaianku sudah pada kekecilan akibat Alvan junior dalam perut aku. Aku bukan orang bodoh melukai anakmu. Sudah ayo pergi!" Citra menyeret Alvan keluar dari kamar sebelum protes susulan datang dari mulut Alvan.

__ADS_1


"Mas ambil tas dan baju jas dulu!" seru Alvan tak mau diseret seperti kambing mau disembelih. .


Citra melepaskan tangan biarkan lakinya mengambil peralatan untuk ke kantor. Laki ini tetap necis setiap waktu. Ke mana saja dia tetap rapi. Di masa ngidam begini dia mampu tampil sempurna.


Segala sesuatu beres pasangan segera ke ruang makan di mana masih ada keluarga Perkasa menanti mau lihat sang cicit-cicit.


Heru telah pergi sewaktu Alvan dan Citra datang. Namun Afung masih di situ mau ikut Citra ke rumah sakit. Pak Sobirin juga ingin ikut lihat keajaiban punya tambahan cicit dari sang cucu.


Alvan mengantar Citra beserta rombongan ke rumah sakit. Untunglah jalanan tidak begitu macet membuat perjalanan jadi lancar. Pak Sobirin duduk di depan dengan Alvan sebagai supir. Sedang tiga wanita duduk di jok belakang mobil.


Afung senang diajak pantau kandungan Citra. Wanita ini tak sabar ingin segera beri momongan pada Heru biar keluarga mereka makin semarak oleh kehadiran anak bayi.


Afung mengelus perut Citra biar cepat tertular hamil. Citra tertawa geli perutnya dielus Afung berkali-kali seperti setrika bolak balik.


"Nanti kamu juga akan punya. Semoga kembar juga. Anak kembar berasal dari gen Perkasa karena dari keluarga Perkasa ada riwayat hamil kembar." Citra berkata untuk menyenangkan Afung. Citra belum tahu masalah yang sedang dihadapi Afung. Ntah bagaimana reaksi orang ini bila tahu hal sebenarnya.


"Aku suka itu...aku mau segera hamil juga!" Afung berangan segera hamil anak Perkasa. Memberi keturunan pada suami adalah tugas seorang isteri. Menjadi seorang ibu adalah sebuah kemuliaan.


Citra menepuk bahu Afung kasih semangat berjuang untuk menjadi seorang wanita sempurna.


Bu Sobirin tak tahu apa yang diobrolkan Citra dan Afung. Namun sekilas Bu Sobirin paham kalau dua wanita muda itu bahas soal kehamilan. Afung pasti segera menyusul Citra. Sebagai ibu mertua Bu Sobirin hanya bisa berdoa semoga Bu niat baik Afung dijabar oleh Tuhan.


Mobil melaju sampai di depan rumah sakit. Alvan menurunkan ketiga wanita beda generasi itu serta pak Sobirin lalu cari parkiran untuk ikut Citra kontrol kandungan. Alvan tak sabar mau lihat perkembangan janin miliknya. Dulu dia tidak dapat temani Citra karena egois terbius oleh wanita bermartabat rendah.


Alvan segera bergabung dengan Citra yang sedang mencari dokter kandungan untuk cek keadaan kandungan. Kebetulan dokter yang tangani Citra tidak masuk mau tak mau harus ganti dokter lain.


Tak ada pilihan lain selain pakai jasa dokter Hans yang memang dokter Obgyn. Wajah Alvan kontan berubah hitam akibat cemburu buta pada rekanan yang pernah ngaku suka pada Citra. Suami mana tidak cemburu dengar orang yang suka pada bininya kini akan meraba perut bininya.


Padahal Hans hanya laksanakan tugas sebagai dokter tanpa embel-embel suka pada bini orang. Ruang praktek Hans disesaki keluarga Perkasa yang ingin lihat isi perut Citra.


Perawat membersihkan perut Citra sebelum diolesi sejenis gel yang dingin. Setelah itu barulah Hans turun tangan mengecek perkembangan janin dalam perut Citra. Hans kaget karena isi perut Citra yang luar biasa. Empat sosok janin tumbuh sehat dalam rahim Citra. Layar monitor yang canggih model empat dimensi dapat gambarkan dengan jelas janin yang telah memiliki denyut jantung.


Hans hidupkan loudspeaker agar semua dapat mendengar detak jantung yang ramai. Alvan ingin menangis saking haru melihat anak-anaknya tumbuh sehat dalam perut Citra. Alvan tak pernah ragu lagi kalau Azzam dan kedua adiknya adalah darah dagingnya. Dia tak perlu test DNA terhadap anak-anak Citra. Dia dan Citra memang ditakdirkan bersama.


Bu Sobirin tak dapat menahan air mata saksikan keajaiban yang telah dihadirkan dalam keluarganya. Rasa haru menyesak dada melihat empat gumpalan daging yang bakal jadi cicitnya.


"Dok...cicit aku sehat nggak?" tanya Bu Sobirin bersemangat. Wanita paro baya ini mengguncang lengan Hans kuat membuat dokter itu terkesima. Saking semangatnya Bu Sobirin lupa kesopanan.


"Alhamdulillah mereka sehat! Cuma kita semua harus sama-sama jaga kesehatan Citra. Tak boleh banyak beban dan capek. Membawa empat janin bukan hal gampang. Kita berdoa semoga mereka sehat sampai waktunya."

__ADS_1


"Terima kasih dok! Lakukan yang terbaik untuk cucu dan cicit aku. Berapa pun akan kami bayar asal mereka terlahir selamat. Aku Uyut dari tujuh bocah cantik. Satu rekor bukan? Opa Uyut senang nggak?" Bu Sobirin bertanya pada pak Sobirin yang tercengang saksikan ada empat janin dalam perut cucunya. Betapa Tuhan sayang pada mereka karuniakan keturunan luar biasa.


"Senang dong! Terima kasih pak Dokter telah merawat cucu saya. Dia adalah permata kami yang paling berharga." Pak Sobirin tak lupa pada jasa dokter yang menjaga Citra.


Alvan mengomel dalam hati tidak mendapatkan penghargaan padahal yang susah payah cetak generasi baru adalah dia. Kok orang lain yang dapat ucapan terima kasih. Lantas di mana peran dia sebagai pemilik bayi?


"Itu sudah tugas kami sebagai dokter. Dan lagi ini anak-anak pemilik rumah sakit jadi kami harus lakukan yang terbaik." sahut Hans diplomatik.


"Wow...ini rumah sakit nak Alvan? Hebat ... semuda ini aset menjamur! Kehidupan cicit kami sudah terjamin kelak. Dia tahun lagi boleh tambah anak lagi."


"Opa macam saja! Emang Citra ini pabrikan anak bayi? Dua kali melahirkan sudah ada tujuh bayi. Gimana sekali lagi lahiran? Jadi selusin nanti." Citra ngambek diolok opanya.


Semua tertawa renyah hidupkan ruangan praktek Hans. Ada yang tertawa tentu ada yang sedih. Dalam hati Hans bersedih tak bisa jadi bapak dari anak Citra. Citra sudah punya pendamping yang kuat. Siapa berani merebut orang yang dicintai bos.


Perawat membersihkan sisa gel di perut Citra. Gerakan perawat lembut telaten karena sadar yang dia layani adalah ratu dari pemilik rumah sakit. Kalau salah sanksinya ditendang dari rumah sakit.


Alvan membantu Citra turun dari brankas perlahan. Semua harus dilakukan dengan hati-hati karena beban di perut bukan kecil. .


"Apa perlu tambahan gizi dan vitamin untuk isteriku Hans?" tanya Alvan setelah Citra duduk tenang di kursi. Semua menanti pengarahan Hans pada kesehatan janin Citra.


Hans menulis beberapa obat untuk dikonsumsi oleh Citra untuk menambah kesehatan janin agar tumbuh normal. Terlalu banyak bayi takut asupan gizi tidak mencukupi untuk dibagi pada empat janin. Hans memberi vitamin penambah nafsu makan serta beberapa obat penguat janin.


"Seperti kita ketahui kalau kehamilan dokter Citra bukan kehamilan biasa maka kita harus ekstra hati-hati. Bagusnya dokter Citra tak usah praktek sampai lahiran. Bukan melarang dokter praktek tapi kita sebagai dokter kadang terpancing emosi melihat kondisi pasien kita. Ini akan pengaruhi mood ibu hamil. Maka lebih baik kita hindari hal memicu terjadinya aborsi."


Citra paham Hans bicara sebagai dokter kepada pasien. Semua dokter berharap pasien sehat sampai tujuan. Tapi Citra akan mati bosan bila disuruh jaga rumah terusan. Apa lagi harus abaikan pasien itu bukan gaya Citra.


"Aku tahu apa yang harus kulakukan. Sementara semua aman mungkin aku akan praktek semampu aku!" tukas Citra mematahkan nasehat Hans. Alvan merasa nasehat Hans sangat tepat. Citra tak harus sibuk merawat orang lain sedangkan dirinya juga perawatan.


"Dengar nasehat dokter sayang! Jaga kesehatan bayi kita!" Alvan melanjutkan nasehat Hans disambut anggukan yang lain.


Citra tersenyum merasa tak ada guna melawan kata Alvan. Dari awal Alvan susah tak ijinkan Citra sibuk oleh tugas. Kini Hans beri wejangan sangat sesuai isi hati membuat Alvan dapat angin.


"Kalian tenang saja! Aku tahu yang terbaik untuk anakku. Tak ada yang perlu dikuatirkan. Aku bisa jaga diri seperti dulu. Hanya tambah satu bayi takkan bawa efek apapun." kata Citra santai tak anggap omongan Alvan sebagai satu tantangan.


"Sudah tak usah berdebat! Asal Citra bisa jaga diri biarlah dia lakukan yang dia mau! Cuma hari ini tak usah masuk kerja. Oma mau ajak kalian lihat baju pengantin untuk Afung." lerai Bu Sobirin tak mau merusak mood Citra. Perasaan ibu hamil sangat sensitif gampang terbawa rasa sedih. Bu Sobirin takut Citra terperosok dalam perasaan gusar yang akan bawa akibat fatal. Yang penting Citra senang dan bahagia itu obat terbaik.


"Hari ini tak bisa Oma sayang! Aku sudah janji mau praktek hari ini. Kita pergi besok saja ya Oma!"


Bu Sobirin manggut setuju. Biarlah Citra merasa nyaman atas apa yang dia hendaki. Bu Sobirin sudah puas lihat sendiri isi perut Citra yang memang hamil empat bayi. Artinya berita yang dia terima bukan cerita hoax.

__ADS_1


"Baiklah! Kita pamit dulu dok! Terimakasih telah bekerja dengan baik." kata Bu Sobirin masih ingin ajak Afung cari sesuatu untuk persiapan pesta. Bu Sobirin telah berjanji akan urus semuanya maka dari sekarang sudah harus mulai.


Beramai mereka tinggalkan ruang praktek Hans. Citra langsung ke tempat di praktek sementara Alvan bertugas mengantar Opa dan Oma Citra ke tempat mereka hendak berkunjung.


__ADS_2