
Amang angguk maklum mengapa Azzam dewasa sebelum waktunya. Keadaan memaksa anak itu berubah menjadi matang. Secara tak langsung Alvan turut bertanggung jawab atas hal ini.
"Semoga kelak anakmu akan menerima Omanya setulus hati. Bukan hanya omongan di bibir."
"Amin...Amang sudah jumpa Afisa?"
"Sudah...ketiga ada di sini tadi. Hanya Azzam bikin Amang merinding."
Alvan akui kebenaran omongan Amang. Bukan hanya Amang segan pada Azzam. Dia sebagai papi saja segan berurusan dengan anak itu.
"Alvan tak tahulah bagaimana ke depan! Yang pasti dia seorang pemimpin baik." Alvan tak segan puji Azzam karena itu adalah fakta.
"Amang rasa juga gitu. Hati-hati kau melangkah nak! Pengawas kamu bukan sembarangan orang. Sosok yang sangat mengerikan."
Alvan tertawa pahit. Dia bahagia namun menyimpan rasa takut salah arah. Semoga imannya makin tebal sehingga tidak tergelincir.
Acara berlangsung hingga malam baru bubar. Semua lelah ingin cepat istirahat. Seharian jalani berbagai adat arahan Bu Sobirin selaku penanggungjawab juga Uyut dari tujuh cicit. Bu Sobirin kaya segalanya. Kaya harta dan kaya cicit. Kasihan Bu Dewi agak tersisih karena dia tak mampu berbuat apa-apa selain duduk anteng di kursi roda.
Kedua orang tua Alvan dan keluarga Amang pulang ke rumah pak Jono karena mereka akan bertolak kembali ke Kalimantan dengan pesawat pribadi Alvan. Amang bawa Bu Dewi dan pak Jono ke Kalimantan untuk berobat cara tradisional. Kadang pengobatan secara medis tak temukan kecerahan maka cara lain adalah pengobatan alternatif. Semoga Bu Dewi dapat pencerahan di sana.
Thomas nginap di rumah Citra berdasarkan keinginan bule itu. Thomas ditempatkan di kamar Afisa sedangkan Afisa tidur bersama Afifa.
Muka Gibran berubah hitam kedatangan tamu tak diundang. Dia saja yang tak undang. Yang lain terima dengan senang hati kehadiran seorang anak dari keluarga kaya raya luar negeri. Rezeki Afisa bisa berteman dengan seorang anak pewaris harta berjibun. Hanya Gibran pasang muka monster siap terkam Thomas.
Walau marah Gibran tak punya hak usir tamu. Ini akan mencoreng muka keluarga Lingga dan Perkasa. Anak ini hanya bisa mengurut dada menahan rasa cemburu pada Thomas. Ntah kenapa dia hanya punya rasa pada Afisa sedang pada Afifa murni kasih sayang sesama keluarga. Afisa mempunyai pesona yang tidak dimiliki oleh gadis manapun. Daya tarik Afisa bikin orang tak bisa melupakan gadis kecil itu. Terbukti Thomas rela bolak balik Inggris ke mana adanya Afisa.
Alvan dan Citra mengantar Amang beserta Bu Dewi dan Pak Jono ke Kalimantan dengan pesawat pribadi Alvan. Alvan gunakan pesawat pribadi untuk hormat papa dan mamanya. Citra sengaja ikut tunjukkan bahwa dia peduli pada mertuanya walau terjadi salah paham. Citra bisa melupakan semua yang tak mengena di hati tapi Azzam menyimpan kenangan buruk secara apik di memori kepala. Tidak gampang melupakan ada orang ingin habisin maminya. Orang yang telah susah payah besarkan mereka sebagai anak.
Merupakan kebanggaan buat Amang bisa pulang diantar pesawat pribadi. Tidak semua orang mampu beli pesawat walaupun kaya. Hanya orang tertentu punya kelebihan duit beli sesuatu yang jadi barang mewah bagi orang kalangan bawah.
Bu Dewi tak bisa berkata-kata tapi sinar mata wanita itu gambarkan betapa sedihnya sepasang jendela hati itu. Mungkin segunung penyesalan membuncah dalam relung hati Bu Dewi. Punya menantu sebaik ini tapi tidak pernah puas.
Citra berjongkok di hadapan Bu Dewi sambil mengelus telat punggung tangan Bu Dewi berkali-kali dengan mata berkaca-kaca. Sejujurnya Citra sangat kasihan pada mertuanya itu tetapi demi kesembuhan wanita paruh baya itu dia harus pergi melangkah jauh dari keluarga. Apalagi beliau baru mendapat cucu-cucu yang cantik dari Citra dan Alvan.
"Ma...cepat sembuh ya! Kita akan berkumpul lagi menyambut hari yang lebih baik. Mama tidak perlu kuatir aku akan menjaga semua cucu-cucu Mama dengan baik."
Bu Dewi membalas alusan tangan Citra dengan mata telah berlinang air mata. Walaupun mulut tidak bisa berkata-kata namun mata Bu Dewi telah mengatakan semua isi hati. Citra mengetahui apa yang ingin dikatakan mertuanya itu.
"Mama baik-baik saja di sana! Setiap hari kami akan melapor perkembangan cucu mama. Semoga Oma mereka cepat sehat ya!"
Kepala Bu Dewi mengangguk dua kali mengiyakan semua kata-kata Citra. Alvan yang berdiri di samping Citra turut bersedih melihat mamanya harus lalui hari-hari penuh cobaan. Semua telah terlanjur terjadi sekarang tinggal tawakal menjalani sisa-sisa umur yang ada.
"Ayok kita naik pesawat! Nanti kemalaman sampai di Banjar." ajak Amang melirik ke benda bulat melingkar di tangan. Matahari telah cukup tinggi tanda waktunya harus segera take off.
"Mang...titip papa dan mama ya! Kalau perlu apa tinggal kasih tahu." pesan Alvan sebelum semua masuk ke ruang masuk pesawat.
__ADS_1
"Beres... mereka berdua akan baik saja! Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..." sahut Alvan dan Citra barengan.
Keluarga Alvan melangkah pergi diiringi lambaian tangan Citra. Alvan dan Citra menaruh harapan suatu hari nanti Bu Dewi akan sehat dapat komunikasi dengan lancar lagi.
Alvan dan Citra menunggu sampai pesawat take off membelah angkasa. Perlahan badan burung besi menuju ke tujuan meninggalkan tempat di mana Bu Dewi biasa habiskan waktu. Rasanya tak adil bagi Bu Dewi harus pisah jauh dengan anak dan cucu. Tapi keadaan memaksa kisah harus bergulir begitu. Yang mendapat peran mau tak mau harus jalani kisah yang telah digariskan.
Alvan memeluk bahu Citra meninggalkan bandara pulang untuk berkumpul dengan anak-anak mereka yang kuat biasa ramai. Bentuk tubuh Citra masih agak melar belum kembali sempurna seperti sebelum hamil. Yang pasti Citra mengeluh soal perut yang bergelambir akibat menampung empat sosok janin.
Udara cukup terik membuat Citra ogah lama-lama berada di bawah sinar terik matahari. Keduanya segera naik ke dalam mobil hidupkan pendingin mobil. Kulit kontan adem ayem kena hembusan hawa sejuk.
Alvan tersenyum tipis tak heran semua wanita takut gosong. Semua mau tampak putih biar lebih jelas dipandang cowok. Masa buat Alvan telah berlalu. Dia tak punya kesempatan cuci mata lihat pemandangan indah dari tubuh sintal makhluk ciptaan Tuhan.
"Lagi mikirin apa mas? Kok senyum sendiri? Teringat kenangan lama ya?" pancing Citra mau tahu mengapa Alvan tampak sumringah padahal dia sedih ditinggal pergi mertua.
"Kenangan apa? Semua kenangan lama sudah kena delete. Mas cuma merasa lucu sama kalian para cewek takut kena sinar matahari. Takut gosong ya?"
"Isshhh...kalau cuma gosong nggak apa tapi pancaran sinar ultraviolet matahari bisa akibatkan kanker kulit." kilah Citra membela kaum hawa. Itu hanya alasan doang! Yang iyanya takut kena sinar matahari kulit jadi hitam.
"Kok pak tani tak ngeluh adanya kanker kulit? Mereka lebih lama berada di panas matahari."
Citra meringis disekak mat oleh Alvan. Kata-kata Alvan menyudutkan argumentasi Citra tentang bahaya cahaya matahari. Sebagian kata Citra benar tapi tak semua orang akan terkena bahaya sinar ultraviolet. Justru sinar matahari pagi sangat berguna bagi kesehatan tubuh tapi harus matahari yang bersinar pagi antara jam tujuh sampai jam sembilan. Selebihnya akan menjadi garang tak sehat bagi kulit sensitif.
"Apa mau kuajak ke bulan?" gurau Alvan membuat Citra jengah. Sudah cukup lama Alvan berpuasa karena Citra baru melahirkan. Berhubungan intim ditunda sampai Citra fit seratus persen. Kini Alvan harus belajar lebih sabar karena Citra baru saja menyelesaikan tugas berat dari Alvan.
"Pesawat roket belum boleh meluncur karena gangguan teknis. Tempat mendarat masih dalam perbaikan."
"Kira-kira kapan ya roketnya boleh lepas landas?" tanya Alvan mengharap dapat jawaban memuaskan.
Citra menyentik bibir sendiri pura-pura berpikir keras untuk goda Alvan. Suami Citra gemas dipermainkan oleh isteri cantiknya. Kalau tidak ingat bahaya bercanda sedang nyetir ingin rasanya Alvan kecup bibir ranum Citra.
"Mungkin kisaran dua bulan lagi biar genap seratus hari."
Alvan tersedak oleh air ludah sendiri bayangkan puasa dua bulan lagi. Punya isteri tak bisa dipakai, hanya bisa jadi penghangat tempat tidur.
"Kok lama amat! Roketnya pasti dah karatan tak bisa digunakan meluncur lagi." omel Alvan bikin Citra tertawa renyah. Terdengar lucu seorang Alvan mengeluh tak dapat jatah ranjang.
"Tak ada niat beli landasan baru?"
Alvan menggeleng sekencang mungkin. Alvan bayangkan tatapan membunuh dari sorot mata Azzam semangat kontan melempem kayak kerupuk kena air. Alvan bukan takut pada Citra tapi takut pada Azzam dan Afisa. Kedua anak itu pasti akan bantai Alvan sampai tak berbentuk.
"Tidak...cukup landasan produk lama! Biasa barang keluaran lama akan lebih kuat dan tahan banting. Barang baru sekarang hanya cantik sesaat setelah itu hancur."
"Oh gitu...baguslah tak punya keinginan tak wajar! Sabar saja sampai waktunya."
__ADS_1
"Kalau bisa diusahakan cepat perbaikan landasan peluncuran roket. Kasihan roketnya merana!" Alvan rendahkan suara memelas sedih.
Citra tertawa makin lebar menikmati kegusaran Alvan. Dulu ntah berapa banyak wanita lalu lalang di depan mata laki ini. Sekarang dia hanya punya kesempatan cicipi satu wanita yakni Citra. Alvan tak keberatan karena Citra sudah wakili semua wanita di muka bumi. Tak perlu ada Citra lain lagi.
"Orang sabar itu kekasih Tuhan. Yang sabar ya pak! Eh..kita bukannya mau pulang? Kasihan anak-anak minta ASI ntar!"
"Aku mau ajak kamu makan siang mesra. Sudah lama kita tidak berduaan. Selalu ada satpam kawal kamu. Ini waktu buat kita."
"Aku telepon rumah dulu kasih tau pada Oma agar tak usah tunggu kita pulang makan. Takutnya beliau sudah sediakan makanan untuk aku."
Kata-kata ini yang disukai Alvan. Citra sangat bergantung pada Bu Sobirin dalam segala hal. Ini akan membuat dia dan anak-anak makin sulit keluar dari rumah Perkasa. Alvan ngerti pindah pasti akan merepotkan Citra menjaga empat bocah sekaligus. Namun Alvan juga ingin bahagiakan keluarga dengan rumah sendiri. Bukan rumah pemberian keluarga Perkasa. Sepuluh rumah model gitu Alvan sanggup beli namun Citra yang sulit pindah dari genggaman Bu Sobirin.
"Kita pulang saja! Kasihan Oma kalau sudah sediakan makanan untukmu."
"Terima kasih mas! Oma selalu masak menu tersendiri untukku karena anak-anak kita butuh gizi lengkap."
"Mas tahu...gimana kalau suatu saat mas minta kita pindah?"
Alvan menanti reaksi Citra yang tampak kesulitan jawab. Alvan sudah pernah bahas masalah ini tapi sampai saat ini Citra belum beri keputusan akan pindah atau terus tinggal berdampingan dengan Oma dan opa dia. Citra berat tinggalkan orang yang sangat sayang pada mereka.
"Aku belum berani omong pada Oma. Beliau sedang semangat urus bayi kita. Aku tak tega harus pisahkan mereka."
"Mas maklum...tapi mas tak mungkin numpang hidup selamanya di tempat Oma. Kita punya rumah sendiri kok! Mas sudah beli rumah dengan dua belas kamar agar anak kita punya kamar masing-masing."
Citra termenung tak paham mengapa Alvan ngotot cari rumah lain padahal mereka sangat bahagia sekarang ini. Dikelilingi oleh orang-orang tercinta.
"Mas...rumah yang kita tempati sudah atas nama Citra. Itu sudah hak Citra. Bukankah punya Citra juga punyaan Mas dan sebaliknya."
"Mas tahu tapi mas ingin beri tempat teduh pada buah hati mas yang lebih layak. Rumah itu sudah sempit bila keempat kurcaci kita tumbuh gedean. Tak mungkin kita tumpuk mereka dalam satu kamar. Mas sangat sayang pada kalian!"
"Iya..." hanya itu jawaban terkini bisa Citra lontarkan. Citra belum bisa beri keputusan bila belum dapat ijin dari Oma Uyut anak-anak. Citra juga belum dengar pendapat dari Azzam dan Afisa. Kedua anak itu harus dilibatkan dalam diskusi.
"Mas tunggu jawaban pasti mu!"
"Kita diskusi dengan Azzam dulu. Dia punya hak tentukan di mana kita harus berteduh."
Alvan tentu saja tidak keberatan Azzam diikutkan dalam diskusi. Sudah pasti anak itu akan berdiri di pihaknya. Untung Alvan duluan cuci otak Azzam untuk dapat dukungan pindah ke rumah sendiri.
"Ok...nanti malam kita ajak anak-anak bicara! Lebih baik kita bicara di luar agar Oma Uyut tidak tersinggung."
"Baiklah! Kita ajak anak-anak pergi jalan-jalan untuk cari jalan terbaik. Kalau Azzam setuju maka aku ikut saja!"
"Baik..." Alvan bersorak dalam hati akhirnya dia punya cela boyong keluarga ke rumah batu mereka.
Citra berdoa yang terbaik saja untuk seluruh anggota keluarga mereka. Walau kelak berpisah tetap tersambung tali silaturahmi. Tak ada perpecahan antara Lingga dan Perkasa. Tetap akur sampai kapanpun.
__ADS_1