
Alvan benar tak berdaya dihajar pusing luar biasa. Seumur hidup baru kali ini Alvan rasakan hal paling menderita. Dunia serasa berputar-putar naik Komidi putar. Wajah Alvan makin pucat membuat Citra ingin menangis.
"Sebentar lagi sampai sayang. Sabar ya!" Citra mengelus pipi Alvan beri semangat. Alvan melihat tetesan air mata di pipi sang isteri membuatnya merasa bersalah buat Citra menangis. Lalui hari bersama baru kali ini melihat air mata Citra mengalir di pipi. Betapa besar cinta Citra padanya.
"Maafkan mas telah membuatmu menangis! Mas tidak apa-apa lagi sudah mendingan." Alvan terpaksa berbohong untuk menguatkan Citra.
Citra mengangguk sambil membersihkan wajah dari tetesan air mata. Wanita ini tahu Alvan sedang berbohong untuk menyenangkan dia. Dari ekspresi wajah Citra tahu suaminya sangat menderita.
Syukurlah mobil tiba di rumah sakit. Ternyata Heru duluan tiba. Jarak kantor ke rumah sakit lebih dekat di banding rumah. Tak heran Heru duluan sampai.
Citra duluan turun dari mobil membantu Alvan turun dari pintu satunya lagi. Heru yang melihat Citra turun dari taksi segera bergerak menyambut kedua keponakannya. Heru gercep memapah Alvan menuju ke pintu rumah sakit. Di sana sudah perawat siap menyambut kehadiran Alvan dengan brankar dorong.
Alvan menolak diangkut dengan brankar. Alvan pilih duduk di kursi roda karena merasa masih sanggup menahan rasa pusing. Perutnya tidak sakit namun mual seperti diaduk centong gede. Berputar-putar ingin keluarkan semua isi perut. Kalau bisa sekalian dengan organ dalam agar lega.
Alvan dibawa ke ruang IGD untuk observasi penyakit pemilik rumah sakit itu. Dokter penyakit dalam dikerahkan untuk tahu penyebab laki itu menderita. Test darah lengkap, lantas USG isi perut serta Rontgen.
Heru dan Citra menanti dengan hati galau. Alvan tak pernah mengeluh sakit kok tiba-tiba drop bikin orang jantungan.
Hans sebagai direktur rumah sakit ikutan panik dengar bosnya jatuh sakit. Hans ikut mencari penyebab Alvan drop cukup parah. Untuk sementara tindakan pertama adalah infus cairan agar tidak dehidrasi akibat kehilangan cairan tubuh melalui muntah.
Satu jam berlalu tak ditemukan penyakit yang buat Alvan drop. Cuma sekarang Alvan merasa jauh lebih baik setelah kena obat anti muntah dan cairan infus. Laki itu agak tenang tidak mengeluh pusing lagi.
"Apa hasil diagnosa dok?" tanya Citra pada pakar penyakit dalam.
Dokter berkacamata itu angkat tangan tak tahu harus jawab apa? Secara keseluruhan tak ada penyakit selain kolesterol agak meningkat. Itu tak mungkin membuat Alvan sampai drop begini.
"Tak ada masalah! Mungkin kelelahan dalam pekerjaan. Kusarankan pak Alvan istirahat beberapa hari di rumah."
"Tapi dia mengeluh pusing dan mual." kata Citra berharap ada satu penjelasan dari dokter. Hans dan dokter ahli penyakit dalam tak tahu harus beri jawaban apalagi.
Dua perawat yang tangani Alvan tampak tersenyum simpul dengar perdebatan Citra dengan para dokter. Mereka lebih senior dari Citra di rumah sakit walau posisi mereka cuma perawat. Kedua perawat itu kasak kusuk bincangkan keluhan Alvan. Pasti ada sesuatu yang tak beres dengan Alvan. Tapi mereka berdua menduga masalah bukan datang dari Alvan melainkan Bu dokter.
"Maaf kalau boleh ikut bicara!" salah satu perawat itu coba beri pandangan menurut pengalaman sebagai perawat senior.
Dokter Hans menoleh ke arah dua perawat yang menebar senyum simpatik. Orang lagi bingung mereka malah senyam senyum bikin Hans gregetan. Alvan adalah owners rumah sakit. Nyawa laki itu mana bisa jadi bahan perbincangan.
"Katakan! Apa suster tahu sesuatu?" tanya Hans datar takut perawatnya salah diagnosa.
"Kurasa yang harus diperiksa bukan pak Alvan melainkan Bu Dokter Citra. Sejauh pengalaman kami kalau suami alami gejala seperti pak Alvan itu tanda isterinya sedang hamil. Ngidam itu beralih ke suami sedang isteri tidak mengalami ngidam. Pak Hans kan tahu kehamilan simpatik yang dikenal dengan sebutan couvade dalam ilmu kedokteran. Jadi kusarankan Bu Dokter yang diperiksa!"
Hans anggap pernyataan suster itu cukup masuk akal. Di dunia medis memang ada kehamilan simpatik. Isteri hamil yang ngidam suami.
"Aku hamil? Aku merasa ok tak ada gejala aneh selain sedikit gemuk." bantah Citra anggap itu tak mungkin.
Alvan yang dengar itu kontan bersemangat. Laki itu langsung bangun dari brankar seperti tak pernah sakit. Dari raut wajah kuyu kini berubah semangat.
Heru yang lihat hal ini kontan mencibir. Sia-sia dia jantungan mikirin penyakit Alvan. Ternyata ada mengarah pada kehadiran cucu baru dalam keluarga.
__ADS_1
"Ayo periksa sayang!" Alvan turun dari brankar memegangi tangan Citra dengan hati riang. Alvan lupa tadi dia seperti ikan tak kena air. Menggelepar nyaris mati. Begitu dengar ada gejala isterinya hamil semua penyakit musnah.
Giliran Citra yang bingung semua mata mengarah padanya. Apa iya segampang gitu hamil. Alvan baru siap operasi lebih kurang dua bulan lebih. Masak iya sesubur itu dia langsung hamil.
"Mari Bu dokter! Kita periksa lebih akurat." ajak Hans termakan analisa suster yang pengalamannya melebihi mereka.
"Eh...biar Citra diperiksa dokter cewek! Aku tak ijinkan kamu periksa bini aku!" potong Alvan menolak Citra ditangani Hans. Hans pernah jadi pengagum Citra. Bahaya bila laki itu yang periksa istrinya.
"Aku dokter bukan orang mesum. Cemburu kebangetan! Iya kusuruh dokter lain periksa isterimu!" sungut Hans merasa dilecehkan kredibilitas olah Alvan.
Orang lagi kasmaran pada Citra mana mau tahu apa arti cemburu buta. Ditambah ada kabar baik bakal ada hadir adik Azzam membuat Alvan makin protektif pada Citra.
"Sudah. Ikuti saja permintaan orang lagi sakit jiwa." ujar Heru merasa tak ada guna debat dengan Alvan. Orang lagi bucin akut semua jadi irasional.
Demi menjaga perasaan Alvan yang kurang sehat Citra ikuti prosedur pemeriksaan ibu hamil. Test urine dan USG lihat isi kantong rahim.
Alvan mengikuti semua rangkaian test kehamilan seolah tak pernah mengeluh pusing. Masuk rumah sakit didorong kursi roda kini keliaran di rumah sakit tak ada gejala sakit apapun. Inilah keajaiban cinta.
Suster membawa hasil test urine bertanda dua strip merah. Citra tak percaya hasil test yang baginya satu keajaiban. Begitu mudah dia mengandung bayi Alvan. Waktu dia bersama Alvan jauh lebih singkat dari Karin. Karin yang dampingi Alvan puluhan tahun tidak pernah hamil. Kehamilan ini seolah sedang permainkan Karin.
Alvan tak dapat sembunyikan rasa haru sewaktu perawat katakan Citra positif hamil. Laki ini langsung memeluk Citra dengan suka cita. Alvan tak henti ucapkan puji syukur pada Tuhan Yang Maha Esa telah memberinya keturunan lagi.
Citra terpaku belum percaya bahwa dia memang sedang hamil. Tak terpikir dia akan hamil secepat itu. Semua seperti mimpi bagi Citra. Tiba-tiba harus jaga anak kecil lagi di saat dia mulai menikmati hidup nyaman.
"Bu dokter mari kita lakukan USG untuk lihat perkembangan janin." dokter kandungan membuyarkan kegembiraan Alvan. Masih ada satu rangkaian pemeriksaan untuk pastikan dalam perut Citra ada janin.
Citra menghela nafas terpaksa naik ke brankar dokter kandungan rumah sakit yang berhijab itu. Perawat membantu Citra membuka pakaian agar bisa diolesi sejenis jeli untuk lihat isi rahim Citra.
Ada benda dingin menempel di perut berputar-putar sekitar perut. Di layar monitor ukuran 21 inchi tampak jelas ada janin di dalam.
"Wah...ada empat janin! Ukuran mereka seperti sepuluh Minggu. Sehat kok!"
Citra mau pingsan rasanya dengar ada empat janin. Apa belum cukup dia diberi cobaan urus tiga anak. Sekarang urus empat bayi lagi. Alvan bersorak girang sampai lupa diri meremas bahu sang dokter.
"Anakku kembar lagi? Ya Allah...betapa besar karunia mu!" Alvan mengusap wajah bersyukur diberi kepercayaan begitu besar rawat anak kecil lagi. Kali ini dia akan dampingi Citra besarkan keempat bayi. Citra tidak sendiri lagi merawat anak.
Dokter itu tersenyum ikut senang bos mereka dapat anugerah demikian besar.
"Duduklah! Aku akan beri vitamin untuk Bu Citra. Kusarankan kurangi aktifitas karena bayi kalian empat. Dalam kedokteran istilahnya quadruplet. Kejadian ini sangat langka. Harus rajin kontrol agar janin tumbuh sehat."
"Mengapa ada kejadian sama dok? Kehamilan pertama mereka kembar tiga. Sekarang kembar empat. Apa selanjutnya akan kembar Lima?" kata Citra heran mengapa harus tiga. Maunya cukup satu biar enak dirawat.
"Itu kuasa Tuhan Bu Citra! Sejauh ini semua aman. Dan pak Alvan yang alami morning sick maka Bu Citra tak merasa apapun. Gimana soal haid? Apa tidak sadar tidak datang bulan?"
"Aku sering kacau datang bulanan. Kadang bisa sampai tiga bulan tidak datang. Siklusnya tidak tentu. Kadang rutin ya kadang telat maka aku tidak open. Dan aku juga tidak morning sick."
"Sudah ada yang ambil alih morning Bu dokter! Oya selamat ya! Rajin kontrol cek kondisi janin. Kalau ada keluhan segera lapor."
__ADS_1
Alvan tersenyum-senyum bayangkan Afifa akan jadi kakak. Dia bukan si bungsu lagi. Akan ada empat adik meramaikan rumah mereka.
Keluhan pusing sejenisnya mendadak hilang. Alvan telah sehat seperti semula efek dari akan segera jadi papa dari empat anak. Siapa tidak surprise tiba-tiba dikaruniakan empat anak. Dapat kembar tiga sudah merupakan karunia. Sekarang dapat empat pula. Artinya dia dan Citra adalah pasangan yang ditakdirkan oleh Tuhan.
Alvan bersedia menanggung derita Citra selama masa ngidam. Dia yang ngidam tak jadi masalah asal anak mereka terlahir sehat.
"Apa pantangan selama hamil?" Alvan sok perhatian mau tahu semua tentang ibu hamil. Ini untuk menjaga agar Citra tidak kekurangan apapun.
"Tak ada pantangan selama ibu hamil nyaman cuma kurangi frekuensi hubungan intim. Mereka masih sangat muda rentan keguguran bila terlalu aktif berhubungan. Boleh asal hati-hati. Slow motion saja."
Alvan agak malu diberi wejangan mengenai ritual ranjang. Itu yang paling dia sukai selama bersama Citra. Kini Alvan harus menahan diri demi buah hati yang baru tumbuh di rahim Citra. Anak adalah segalanya.
"Terima kasih dok! Kami pamitan dulu! Citra harus istirahat." Alvan tak sabar ingin ngobrol banyak dengan Citra tentang masa depan anak mereka. Alvan lihat Citra tidak begitu gembira dengar anak mereka kembar empat.
Kalau ada orang meragukan Azzam dan kedua adiknya bukan anak Alvan langsung Alvan tepis keraguan itu. Citra memang sangat cocok dengannya. Sekali bercocok tanam langsung berbuah lebat.
Alvan meneleponi Untung untuk jemput mereka di rumah sakit. Alvan ingin segera pulang untuk kabari seluruh keluarga kalau di rumah bakal ada anggota baru.
Alvan menemui Heru yang masih setia menanti hasil pemeriksaan Citra. Heru tak mungkin pergi sebelum ada hasil kesehatan keluarganya.
Melihat Alvan berjalan gagah seperti jenderal baru pulang dari Medan perang dengan kemenangan di tangan, Heru lega. Artinya tak ada masalah di antara mereka.
Alvan tertawa lebar memeluk Heru dengan hati dipenuhi keharuan. Walau bingung Heru membalas pelukan Alvan yang dianggap sedang butuh penghiburan.
Citra hanya berdiam diri merasa syok hamil anak kembar lagi. Tidak tanggung kembar empat pula. Seperti kisah dalam dongeng saja. Cetak anak seperti cetak roti. Sekali cetak dapat empat roti belum tahu jenis apa!
"Gimana hasilnya?" tanya Heru mendorong tubuh Alvan menjauh.
Heru melihat ada embun mengambang di mata laki itu. Saking bahagia Alvan ingin menangis tanpa peduli malu dilihat orang.
"Om akan jadi kakek lagi. Cucunya empat."
Heru merasa kuping penuh tai kuping tak jelas laporan Alvan. Sekilas Heru dengar kata empat. Kok seperti kucing punya anak? Sekali hamil lahiran sejumlah anak kucing.
"What? Ulangi sekali lagi?"
"Cucu om empat. Citra sedang hamil kembar empat." Alvan ulangi kata yang sama buat Heru terpana. Di mata Heru Citra berubah jadi seekor kucing cantik. Dalam perut terisi empat bayi lucu.
"Empat? Nggak salah periksa? Coba cek sekali lagi. Tiga saja sudah minta ampun sekarang empat lagi. Jangan-jangan keluarga Lingga keturunan kucing!"
"Emang Citra keturunan siapa? Kali aja dari Perkasa ada turunan anak kembar."
Heru manggut-manggut berusaha ingat di dalam keluarga siapa yang pernah terlahir kembar.
"Aku ingat...mama aku punya saudara kembar tapi meninggal waktu dilahirkan. Wah gen Perkasa lebih dominan artinya. Ok...jatah aku dua orang! Buat kalian dua. Adil kan?"
Alvan melongo Heru seenak dengkul klaim punya hak atas dua anaknya. Alvan mana mungkin berikan anaknya pada Heru. Kalau bisa setelah Citra lahiran lanjut hamil lagi. Siapa tahu bertambah jadi lima atau enam.
__ADS_1
"Enak aja! Aku yang tanam om yang petik buah. Afung tanam sendiri di lahan Afung. Kali aja kembar sembilan." protes Alvan tak ada rencana bagi bayi.
"Pamali lho omongin anak yang belum lahir! Mereka masih gumpalan daging kecil. Kita doakan mereka tumbuh sehat. Mereka punya kita semua." Citra melerai pertikaian dua singa bisnis itu. Citra bukan tak tahu sifat keras kedua belah pihak. Tak ada yang mau ngalah bila sudah berdebat.