ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Pasien Nakal


__ADS_3

Tak lama setelah Untung pergi Citra balik dengan seorang perawat membawa kantong darah di atas nampan stainless. Alvan yang baru ditinggal Untung segera bangkit saksikan Citra dan perawat akan ganti cairan infus dengan cairan darah Alvan.


HB darah Afifa rendah maka perlu transfusi darah. Beruntung jenis darah Afifa yang langka bisa ditemukan pendonor yakni bapak biologis sendiri. Tak banyak proses karena hubungan darah yang sama. Efek samping juga bisa diperkecil. Ada orang bengkak ataupun demam setelah transfusi darah karena masuknya darah asing ke tubuh. Sejauh itu tidak berbahaya cuma butuh waktu untuk beradaptasi de Ngan darah asing.


Alvan perhatikan cara kerja Citra dan perawat yang telaten. Citra sangat hati-hati mengganti cairan infus ke kantong darah. Afifa sedang tidur memudahkan Citra bekerja. Afifa tak perlu saksikan langsung proses pertukaran infus berupa cairan warna bening dengan cairan warna merah pekat. Bagaimana pun Afifa hanya anak kecil yang punya rasa takut.


Hanya waktu singkat Citra berhasil tukaran cairan. Selang yang semula putih bersih kini berubah warna merah. Setetes demi setetes darah Alvan mengalir masuk ke urat darah putrinya. Ada rasa haru dan bangga mengalir dalam dada Alvan. Baru kali ini Alvan merasa dirinya berguna untuk orang lain apa lagi itu anak kandungnya.


Perawat itu memeriksa tetesan darah apa berjalan lancar.ihat tetesan demi tetesan turun tanpa hambatan membuat perawat itu yakin untuk tinggalkan tugas selanjutnya pada Citra.


"Saya permisi Bu Citra! Kalau perlu sesuatu panggil saya! Permisi..." perawat itu mengangguk sopan pada Alvan dan Citra. Derap langkah sang perawat akhirnya meninggalkan ruang rawat mewah itu.


Citra merasa canggung harus berduaan dengan Alvan lagi. Antara mereka ada gap lebar yang tak memungkinkan mereka bicara secara baik-baik. Citra terlanjur beri stempel bejat pada Alvan. Susah bagi Citra untuk maafkan Alvan pada saat ini walau telah berjasa bagi Afifa.


"Aku mau mandi dulu! Kau tunggu sini jaga Afifa!" Alvan membuka paper bag yang dibawa Untung. Dari situ Alvan keluarkan pakaian serta handuk. Untung tak pernah salah bila menyangkut soal Alvan. Semua keseharian Alvan berada dalam catatan Untung. Dari makanan sampai cara berpakaian. Alvan hanya terima beres.


Citra tak menyahut kata-kata Alvan. Wanita ini memilih duduk istirahatkan badan dan pikiran. Beban Citra cukup banyak. Bertanggung jawab pada tugas juga urus anak-anak. Beruntung Afisa ada yang urus di Beijing. Afisa nyaris jadi warga Tiongkok karena seratus persen ikut pasangan suami isteri tempat Citra tinggal di Tiongkok.


Di sini Citra punya tetangga yang baik yakni keluarga Nadine. Nadine perlakukan Citra dan anak-anak dengan baik seperti keluarga sendiri. Nadine sayang sekali pada Afifa. Gadis kecil itu selalu berhasil rebut perhatian orang. Siapapun yang lihat Afifa pasti akan jatuh cinta.


Citra memejamkan mata coba tidur sebentar karena malam dia harus begadang jaga Afifa. Citra belum bisa serahkan Afifa pada orang lain mengingat ini awal demam Afifa. Penyakit DBD sudah diprediksi. Panas turun naik. Sekarang Afifa masih dalam tahap aman. Esok hari belum tahu gimana.


Alvan selesai mandi mengenakan baju kaos ketat cetak tubuhnya yang bebas lemak. Perut idaman semua wanita walau umur Alvan sudah tiga puluh enam tahun. Tak lama lagi capai umur empat puluh tahun. Masa keemasan seorang lelaki.


Alvan masukkan baju kotor ke paper bag agar tak merusak pandangan asri ruang Afifa. Baju kotor berserakan di ruang orang sakit hanya menambah bakteri. Alvan bijak tak tambah kuman penyakit di sekitar anaknya.


Mata Alvan beralih ke tubuh kecil yang terkapar di sofa. Wajah Citra sangat berbeda dengan Karin. Wajah Citra. bebas dari dempul aneka kosmetik, bersih alamiah sedang Karin pede bila melumuri wajah dengan aneka bedak yang tak dipahami Alvan. Di meja rias Karin penuh berbotol-botol kosmetika bermerek mahal. Alvan tak pernah batasi Karin belanja keperluan wanita itu asal tidak bikin skandal.


Alvan telah salah menilai Karin. Wanita besar kepala dimanja Alvan hingga kebablasan. Apa yang akan Alvan lakukan pada Karin sebagai hukuman berani berkhianat. Yang pasti Karin telah tamat di hati Alvan. Rasa cinta yang besar berubah rasa jijik dan benci.


Wajah damai Citra mendatangkan keteduhan di hati Alvan. Andai saja Alvan patuh sama kakek Wira percaya Karin tak sebaik yang dia kira. Detik ini Alvan hidup damai bersama Citra beserta ketiga buah hatinya. Alvan memilih jalan rumit hingga harus kehilangan moments berharga bersama anak-anak.


Alvan duduk di samping Citra ingin merengkuh wanita luar biasa itu. Wanita mungil tapi tangguh. Namun Alvan belum punya nyali sebesar itu melingkarkan tangan pada tubuh mungil Citra. Dia tak punya hak selain status di atas kertas.


Hp Citra tiba-tiba berdering. Alvan ingin angkat tapi tak berani karena barang pribadi itu berbunyi dari tas. Mengaduk barang Citra bukan ranah Alvan. Alvan belum berhak masuk ke privacy Citra.


"Citra..." panggil Alvan pelan sambil guncang lengan Citra.


Citra tersentak kaget belum sadar dia di mana. Sesosok tubuh besar berada di sampingnya membuat Citra makin tak terkendali. Wanita itu gugup berada dalam posisi terlalu dekat dengan Alvan. Tak urung wajah bersih itu berona merah.


"Bapak...ngapain dekat?" seru Citra kurang senang. Citra beringsut jauhi Alvan seakan jijik berada dekat bau busuk.


"Ssssttt kecilnya suara! Afifa tidur! Aku cuma mau kasih tahu hp mu bunyi!"


"Oh..." Citra malu sendiri telah berprasangka buruk pada Alvan. Hpnya memang masih berdering. Citra segera buka tas ambil benda ajaib itu.

__ADS_1


Citra melihat layar lalu menghela nafas. Ogahan Citra sambut panggilan masuk itu. Kalau tak diangkat telepon genggam itu pasti takkan bungkam.


"Assalamualaikum...ada apa dokter Rahma?"


"Waalaikumsalam...Maaf ganggu! Itu pasienmu ngamuk mau jumpa kamu. Tak mau minum obat sebelum jumpa kamu?"


"Siapa? Heru Perkasa? Emang anak kecil harus dirayu baru minum obat? Sudah tua..."


"Ya ampun Citra...aku sudah berusaha. Aku mau pulang nih! Anakku lagi tunggu di rumah. Kau datang sebentar kasih minum obat doang! Dari semalam nyari kamu!"


"Mau lepas piket?"


"Iya... penggantiku dokter Rizal. Lebih parah lagi itu! Kamu di mana?"


"Di ruang VVIP...anakku lagi sakit!"


"What? Kamu sudah punya anak? Suamimu mana?"


"Ada di sini jaga anak! Kok kaget?"


"Kami tak tahu kamu punya anak dan suami. Kami pikir kamu ini masih single. Sorry ya! Eh...artinya kamu dekat sini! Kamar sebelah anakmu. Seberang sebentar! Please...!" terdengar nada mengiba dari pemilik hp seberang sana.


"Baiklah! Aku ijin dulu! Tunggu situ!" Citra mematikan hp dengan wajah tak berdaya. Setiap pasien adalah raja yang harus dilayani sebaik mungkin. Citra tak boleh menolak panggilan tugas selama masih jadi dokter di rumah sakit.


"Pasien kolokan! Sudah tua tapi bergaya anak TK. Minum obat harus didatangi!" Citra merepet tanpa sadar.


"Heru Perkasa presiden direktur Sejagat?"


"Mana kukenal? Bagiku semua pasien sama. Tak peduli buruh atau direktur. Tetap ikuti prosedur pengobatan. Bapak tolong jaga Afifa sebentar. Aku pergi lihat pasien manja itu." Citra pasang muka masam tak suka pada pasien manja itu.


Mentang-mentang orang kaya bisa seenak dengkul perintah para dokter sesuka hati. Dokter Rahma cukup ahli di bidangnya tapi diragukan catatan medisnya. Malahan Citra lebih junior dari dokter Rahma. Jam terbang Citra jauh di bawah dokter Rahma.


Alvan mendesah dalam hati curiga kalau pasien Citra adalah orang kaya yang terkenal angkuh itu. Mengapa harus Citra yang rawat dia sedangkan masih banyak dokter lain. Apa tujuan duda top di kalangan wanita itu. Mau curi perhatian Citra atau memang lebih percaya tangan dingin Citra.


Sementara itu Citra keluar berjalan ke arah kamar sebelah yang dihuni orang kaya berakal anak cilik itu. Citra benar-benar kesal dibuat orang itu. Operasi berjalan sukses tapi masih persulit Citra. Kalau Citra pintar main karate sudah patahkan leher orang songong itu.


Namun Citra tak bisa abaikan kesembuhan pasien. Walau sudah ada dokter ganti Citra tetap harus bertanggung jawab bila diperlukan.


Citra mengatur nafas sebelum masuk ke ruang yang hampir sama dengan ruang rawat Afifa. Super VIP. Yang dirawat orang kelebihan uang. Sakit tapi minta pelayanan mirip hotel berbintang.


"Assalamualaikum..." Citra mengetok pintu sebelum melangkah masuk.


Satu sosok wanita yang dikenal Citra sebagai dokter Rahma mendorong pintu agar badan kecil Citra berpindah ke dalam. Mata dokter Rahma memancarkan sinar memohon pada Citra. Kode minta tolong.


Di dalam kamar itu ada dua orang lain selain dokter Rahma. Satu lelaki berpakaian necis dan seorang wanita berpenampilan wah. Bau harum minyak wangi wanita itu memenuhi seluruh kamar. Untunglah baunya tidak menyengat hidung. Masih bisa bersahabat dengan indera penciuman.

__ADS_1


Semua mata mengarah pada Citra yang baru datang. Termasuk pasien bertampang mirip orang barat itu. Dagu dihiasi bulu halus membuat laki tampak makin macho. Matanya tajam seperti mata elang siap mengintai mangsa.


Citra merasa kok dia jadi target incaran mata elang itu. Padahal dia cuma dokter operasi. Hasilnya sangat bagus tak ada kendala ke depan.


"Maaf! Ada yang tak enak pak?" Citra langsung to the point tak mau kalah dari orang songong itu.


Laki itu menunjuk ke tempat yang dioperasi Citra pakai mulut. Laki itu mau tunjukkan kalau bekas operasi itu ada masalah. Cuma caranya sangat tidak sopan. Memaksa kehendak dengan cara kekanakan.


"Bekas operasi terasa nyeri. Gimana sih kerja kalian sebagai dokter? Pasien kok ditelantarkan." wanita mewah ponten lima itu berkata dengan gaya peragawati lagi berpose di catwalk. Busung dada angkat kepala.


"Nona...aku ke sini mau kasih obat pereda nyeri. Semua bekas luka operasi pasti akan nyeri berapa hari sampai masa penyembuhan. Bapak ini tak mau minum obat kami harus bagaimana?" dokter Rahma menjelaskan dengan sabar. Image seorang dokter memang harus sabar walau dalam dada tergantung satu ton rasa jengkel.


"Mana obatnya? Kalian harus sadar. Operasi telah buat fungsi otak bapak ini rusak. Kita harus cek ulang besok apa ada syaraf yang terputus merusak jaringan otak." ujar Citra melirik sinis pada pasien yang menyusahkan itu.


Dokter Rahma menyerahkan tube berisi beberapa macam obat. Dalam hati Rahma geli lihat cara Citra urus pasien menyusahkan itu. Sementara lelaki berpakaian necis menahan tawa tahu Citra sengaja ejek lelaki tukang buat onar itu.


Citra membuka tube lalu ambil air minum yang sudah tersedia di samping tempat tidur. Tanpa banyak omong Citra sodorkan obat ke mulut laki itu lalu beri minum tanpa peduli tatapan licik sang pasien. Lelaki itu patuh minum obat tanpa dipaksa.


Yang lain terdiam lihat ketegasan Citra terhadap Pak Heru si tukang rusuh. Herannya laki itu tenang disuap obat oleh Citra, tidak banyak tingkah. Dokter Rahma mendesah kesal dalam dada. Dia kasih minum banyak alasan. Sama Citra jinak bak kucing imut ketemu majikan.


"Masih ada keluhan? Kalau ada keluhan lapor sama perawat di depan sana. Siapa yang merawat bapak malam ini?" tanya Citra mengedarkan mata pada dua penjaga pasien nakal itu. Tua tua keladi, makin tua makin menjadi.


"Aku akan rawat Mas Heru!" sahut wanita mewah itu. Suaranya lembut mendayu seolah ingin laki itu tahu kalau dia tulus.


"Bagus...bapak ini akan tidur setelah minum obat! Jangan diganggu biar cepat pulih! Kalau ada keluhan panggil perawat, nanti ada dokter piket urus segala keluhan. Oya..bapak ini sudah makan? Perut pasien tak boleh kosong karena banyak masuk obat. Takut iritasi lambung."


"Makan? Mas sudah makan?" tanya wanita itu dengan nada manja pada pasien yang matanya tak pindah dari Citra.


"Belum...makanannya tak enak!" sahut laki itu pamer suara basa nan sexy..


"Pak...orang sakit ya harus makan makanan orang sakit. Kalau mau makan enak tunggu sehat." Citra bersungut meraih nampan berisi makanan bergizi khusus untuk pasien sakit.


Citra serahkan nampan pada wanita itu. Tujuan Citra agar wanita itu yang diduga isteri laki itu menyuap lakinya makan.


"Apa ini?" seru wanita itu kaget diberi nampan.


"Beri makan suamimu!"


Bibir wanita menipis bentuk senyum manis. Bibir bergincu merah maron itu bergerak-gerak bahagia dianggap isteri lelaki bertampang dewa Yunani itu.


"Aku belum lapar!" suara bas laki itu kembali kumandang. Sebenarnya Citra suka lelaki bersuara bas tapi laki ini sudah menyusahkan orang. Dari rasa suka berubah jengkel. Betul-betul pasien pembawa petaka. Menyusahkan orang melulu.


Citra merebut kembali nampan lalu dekati laki itu. Citra buka plastik steril pembungkus makanan lalu mengaduk nasi dengan sayuran serta lauk berupa ikan kukus. Makanan sehat untuk orang sakit. Orang kaya yang biasa makan daging kelas tinggi tentu merasa sulit menelan makanan sehat itu.


Citra sodorkan sendok penuh nasi ke mulut pasien itu. Ajaibnya pasien itu patuh.

__ADS_1


__ADS_2