
Citra mengetok pintu perlahan sesuai karakternya yang tak suka kekerasan. Bu Menik akan hafal cara Citra ketok pintu. Tidak perlu menanti lama pintu terbuka. Seraut wajah welas menyambut kehadiran Citra plus senyum adem.
"Citra...tumben cepat pulang! Ayok masuk!"
"Tak usah masuk lagi! Ini ada sedikit belanjaan dan uang jajan untuk Azzam dan Afifa."
Bu Menik memandang heran beberapa kantong kresek di tangan Citra. Bu Menik tak habis pikir mengapa tiba-tiba Citra menitip banyak belanjaan padanya.
"Ada apa ini? Kau mau kabur ke mana?"
"Kok kabur Bu! Jelek banget perumpamaan! Besok aku akan bertugas ke luar daerah. Jadi aku titip semua ini pada ibu. Di kulkas aku masih banyak bahan makanan. Ibu ambil saja kalau ada yang kurang. Ini aku titip yang jajan anak-anak. Pak Alvan akan antar mereka ke sekolah jadi Andi tak perlu repot antar mereka. Ibu mau bantu aku jaga anak-anak kan?"
"Huusss omong apa itu? Azzam dan Afifa sudah seperti cucu kandung. Masuk dulu nak! Masa ngobrol di sini."
"Nanti malam kita ngobrol sama kak Nadine. Aku mau berberes bekal untuk esok. Kami berangkat agak pagian."
"Oh gitu ya! Kau tak usah kuatir soal kedua anakmu. Ibu pasti jaga mereka. Cuma sayang Andi sudah kerja. Tidak bisa bantu ibu awasi mereka."
"Tidak sayang Andi kerja. Itu bagus buat dia. Ibu mau dia dihina seumur hidup? Mungkin di tangan Pak Alvan dia berubah lebih baik. Bukankah dia hari ini dia menjadi lebih baik? Tidak pecicilan kayak biasa."
Bu Menik mengangguk benarkan kata Citra. Sudah dua hari Andi lebih manly. Gaya feminim sedikit berkurang. Tidak lebay kayak biasa. Tapi masih ada sisa gaya feminim memuakkan. Semoga Alvan turun tangan kejam didik Andi jadi cowok seutuhnya.
"Iya nak! Ibu berterima kasih pada nak Alvan. Ibu belum jumpa secara kekeluargaan. Ibu mau ucapkan terima kasih secara langsung."
"Nanti saja! Ibu terima dulu belanjaan ini." Citra angsurkan kantong kresek kepada Bu Menik. Bu Menik tahu itu belanjaan cukup untuk satu Minggu. Citra tidak pelit ngasih sesuatu walau dia sendiri bukan orang kaya. Hidup berdampingan saling mengisi dan menerima itu adalah sekelumit kisah indah.
"Terima kasih nak!"
"Sekarang ibu bilang terima kasih. Nanti ibu pasti menjerit lihat kenakalan dua bocah itu. Aku tahu akal kedua anakku."
"Kenapa omong gitu tentang anak. Mereka anak baik kok! Terutama Azzam. Dia mirip kakek-kakek kalau sudah bicara." Bu Menik terkekeh ingat gaya Azzam menasehati orang.
Citra tersenyum tidak menampik penilaian Bu Menik pada Azzam. Anak itu memang mirip orang tua berusia lanjut bila sudah mengeluarkan kalimat dari bibir. Citra tak sangka dari perutnya bisa brojol anak sebijak itu. Syukuri saja karunia tak terhingga dari Yang Maha Kuasa.
"Aku balik dulu ya Bu. Oya...ibu ada masak makan malam anak-anak?"
Bu Menik menggeleng. Citra kecewa namun hanya disimpan di hati. Bu Menik tak masak artinya dia masih harus berkutat di dapur sediakan makan malam. Dia masak dari sekarang belum terlambat. Toh hari masih siang.
"Tadi Andi telepon katanya tak usah masak. Pak Alvan sudah pesan makanan dari restoran." Bu Menik menjawab kekecewaan Citra.
"Gitu ya! Aku permisi dulu ya!" Citra segera angkat kaki dari rumah Bu Menik balik ke rumahnya yang butuh beberapa langkah.
Citra segera masuk ke rumah setelah memarkir motornya di tempat biasa. Rumah terasa kosong tanpa suara manja anak-anak. Citra tak bisa bayangkan bagaimana dunianya bila tanpa anak-anak. Surga serasa hilang bila anak-anak tinggalkan dia. Semoga saja Alvan tidak ingkar janji tuntut hak asuh anak-anak. Citra tidak sanggup bila harus kehilangan buah hati yang dia rawat dari bayi. Nyawa akan Citra pertaruhkan untuk bersama anak-anak selamanya.
Citra menyimpan semua belanjaan pada tempat masing-masing. Biasa si centil Andi yang bertugas atur belanjaan. Kini anak itu sudah kerja cari jati diri sesungguhnya. Citra tak boleh mengeluh harus berdikari tanpa andalkan Andi.
Citra menyiapkan pakaian dan beberapa kebutuhan wanita. Tidak banyak bawaan Citra kecuali barang penting. Dia ke sana bukan untuk piknik tapi mengabdi pada masyarakat. Segala kemampuan mengobati orang sakit harus dikerahkan. Itu janji seorang dokter.
Citra memandangi travel bag berisi pakaian dan kebutuhan wanita sambil berpikir apa yang masih harus diisi. Citra wanita simpel tidak neko-neko harus make up tebal dempul wajah dengan seember bedak. Cukup body lotion dan bedak mengandung tabir Surya untuk lindungi wajah dari paparan sinar ultra violet matahari. Gimanapun Citra tetap wanita yang ingin jaga kesehatan kulit.
Citra duduk di atas ranjang melepaskan rasa penat. Citra merenggangkan otot-otot merentangkan tangan sejauh mungkin. Berkali-kali Citra melakukan exercise ringan dapatkan sedikit rasa nyaman. Puas olahraga palsu Citra angkat ponsel hubungi Alvan cari tahu di mana posisi laki itu. Apa sudah berangkat jemput anak-anak pulang sekolah. Sebentar lagi anak-anak pulang sekolah.
__ADS_1
"Assalamualaikum pak! Lagi di mana?" sapa Citra begitu tersambung.
"Masih di kantor. Anak-anak sudah dijemput Untung. Untung akan antar mereka ke rumah. Aku masih sedikit kerja"
"Gitu ya! Aku mau minta tolong pada bapak!"
"Soal apa? Kau bisa andalkan suamimu ini."
"Suami...mantan kali! Gini pak Alvan terhormat. Besok aku bertugas di daerah. Bapak bisa jaga anak-anak selama aku pergi?"
"Gila...siapa berani pindahkan kamu tugas tempat lain? Hans? Kupenggal kepalanya!" Alvan terdengar emosi tiba-tiba Citra dapat tugas di daerah lain. Alvan berusaha pertahankan Citra si rumah sakit kini ada tangan jahil pindahkan Citra. Bagaimana Alvan tidak kesal?
"Dasar emosian! Dengar pak Alvan..aku akan berangkat ke daerah dampak gempa pagi tadi. Aku akan bergabung sama dokter lain di bawah naungan PMI."
"Kenapa harus kamu? Emang tak ada dokter lain?"
"Rencananya sih dokter Rahma tapi dia masih punya bayi empat bulan. Aku mana tega pisahkan bayi itu dari ibunya. Aku tawarkan diri gantiin Rahma. Bapak jaga anak-anak ya! Secepatnya aku balik."
Alvan terdiam tak bisa jawab. Citra terlalu mulia jadi orang. Selalu memikirkan orang lain tanpa peduli perasaan sendiri. Karin yang telah menikam jantungnya juga dapat perhatian sangat besar dari Citra. Hati Citra terbuat dari apa?
"Aku tidak ijinkan kau pergi! Daerah bencana itu berbahaya. Setiap saat maut mengincar."
"Pak...hidup mati kita bukan kita yang tentukan tapi Yang Maha Kuasa. Maut takkan datang bila ajal belum tiba. Aku ini dokter. Di mana ada orang sakit di situ ada dokter. Dan ini kesempatan buat bapak dekat dengan anak-anak. Pergunakan waktu bapak dengan baik."
"Citra...aku ini suamimu! Wajar kalau kuatir kau pergi ke daerah asing. Aku tidak keberatan anak-anak bersamaku tapi aku tetap tidak rela kau bertugas jauh."
"Waduh nih orang! Sok melo... aku sudah sembilan tahun melanglang buana ke sana sini. Tak ada yang kuatir. Aneh rasanya tiba-tiba muncul orang sok cemas. Jangan asyik bilang kita suami isteri! Kita ini mantan...ingat itu! Bapak sudah talak aku!"
"Aku kuat pak! Aku tak butuh lelaki dalam hidupku. Aku punya Azzam sebagai tiang biduk aku. Tak usah bangun harapan di badanku pak! Masih banyak wanita baik di luar sana siap hidup bersama bapak. Salah satunya Selvia, cuma kusarankan bapak jauhi wanita licik model itu. Jangan terulang kisah Karin jilid dua!"
"Kau serius Citra? Tidak ada kesempatan kedua buat aku?"
"Kesempatan itu ada tapi bukan dari aku! Aku terlalu lelah bila harus benci pada setiap wanita bapak. Aku sudah berhasil kikis rasa benci pada kak Karin. Aku sudah tak punya pisau tajam untuk kikis rasa itu pada wanita lain. Cukup sekian pak Alvan." ujar Citra tenang dengan emosi serendah mungkin.
"Aku tak pernah main perempuan selain kamu dan Karin. Kau pikir aku ini Don Juan pemangsa makhluk jenis wanita? Aku cuma pernah hubungan dengan kamu dan Karin. Tidak ada wanita lain."
"Tidak tanya. Itu urusan bapak." sinis Citra tidak tertarik urusan Alvan dengan wanita manapun. Hati Citra terlanjur membeku oleh tekanan masa lalu. Citra boleh ramah pada siapapun namun untuk memulai kisah cinta baru belum ada kamus.
"Kok jadi menyudutkan aku? Aku akui bersalah pada kamu dan anak-anak. Tapi sumpah mati aku tak tahu kamu hamil. Aku juga cari kamu. Aku merasa salah telah berbuat tak adil. Kau hilang bagai ditelan bumi. Kini kau muncul, aku tak mungkin abaikan kamu dan anak-anak."
"Bapak cukup perhatikan anak bapak. Tidak perlu padaku. Aku ini mantan isteri bapak. Ingat itu!"
"Aku mau rujuk."
"Terserah bapak mau rujuk sama siapa! Aku sih ogah."
"Kau sudah punya calon lain?"
"Itu urusan aku! Jenguk tuh bini di rumah sakit! Jelaskan hubungan kita! Aku tak mau kak Karin pikir aku curi kesempatan rayu bapak. Kalian berdua cocok sehidup semati."
"Kok sumpahi aku?"
__ADS_1
"Yang sumpah siapa pak tua? Hitung tuh keriput di wajah! Uban di kepala juga hitung." ujar Citra mulai sewot.
"Duh nih Eneng! Mulai sengit...pernah nggak lhu belajar tata bahasa? Coba artikan kata se dalam arti sebenarnya?"
"Se??? Se artinya satu. Emang kenapa? Mau jadi guru les Afifa?"
"Nah itu kamu ngerti. Kamu bilang sehidup semati kalau diartikan bahasa sebenarnya kan satu hidup satu mati. Kalau bukan berniat Sumpahi aku apa maknanya?"
Citra tertawa geli tak sangka Alvan akan definisi kata-katanya dengan makna lain. Dasar otak kriminal.
"Maksud aku bukan itu. Aku doakan kalian bahagia selamanya."
"Kamu meledek aku ya! Apa aku bisa bahagia hidup bersama wanita pengkhianat? Aku manusia biasa punya rasa benci dan dengki. Aku tak pernah berkhianat dari kamu dan Karin. Sudah puluhan kali kubilang wanita aku cuma kalian dua. Aku tak bisa bersama Karin lagi. Aku takkan ceraikan dia tapi tak bisa hidup bersamanya. Setiap melihat wajahnya aku merasa jijik."
Citra maklumi amarah Alvan. Laki mana bisa terima isteri berkhianat sampai hamil anak orang lain. Malaikat suci pun punya amarah bila lihat makhluk yang dia sayangi berbuat dosa. Alvan bukan malaikat berhati emas. Dia hanya manusia biasa.
"Aku tak bisa memaksa. Asal bapak tidak tinggalkan kak Karin itu sudah cukup. Oya.. apa iya bapak sudah pesan makan malam?"
"Iya...aku tak mau terlalu capek. Kau butuh istirahat."
"Terima kasih pak! Aku sudah berberes untuk perjalanan besok. Mohon doa bapak!"
"Aku belum deal kamu pergi. Takutnya kamu kabur ke lubang tikus."
"Sembarangan... tuh kedua aset berharga aku masih di tangan bapak bagaimana aku pergi?"
Alvan tertawa renyah benarkan kata Citra. Kedua anak Citra kini berada di bawah asuhannya. Tak mungkin Citra kabur tanpa bawa anak. Citra pasti kembali untuk anak-anak.
"Baiklah! Berjanji jaga diri!"
"Iya bawel...aku tutup dulu ya. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Hati Citra lega Alvan bersedia jaga anak-anak. Citra menangkap Alvan tidak tulus ijin dia berangkat. Terselip rasa kuatir dari nada suaranya. Tapi itu tak bisa merubah keputusan Citra untuk berbakti pada masyarakat.
Di kantor Alvan termenung ingat Citra akan pergi ke tempat rawan. Alvan bisa gunakan power tekan pihak rumah sakit ganti orang lain ke sana. Tapi itu tak sesuai peraturan. Citra sudah ditetapkan berangkat maka itu yang harus dijalankan.
Alvan berjanji akan gunakan waktu terbaik ini rebut perhatian Azzam. Kalau boleh Alvan ingin boyong Azzam dan Afifa ke rumahnya agar lebih gampang awasi kedua anaknya. Di rumah ada Iyem dan Bik Ani. Kedua anak itu akan lebih aman berada di tempat Alvan. Jika perlu Andi diajak tinggal bersama di rumah Alvan kawal dua bocah itu. Karin masih di rawat di rumah sakit maka tak ada kendala boyong keduanya ke rumah. Alvan akan minta ijin pada Citra sebelum bawa anak-anak ke rumah. Agar kelak tidak ada salah paham.
Pintu ruang kantor Alvan diketok dari luar. Mata Alvan terarah ke pintu bertanya siapa menghadap di jam hampir lepas kantor.
"Masuk!"
Harum parfum semerbak wewangian mencolek hidung Alvan. Tidak perlu lihat siapa orangnya Alvan tahu siapa yang datang. Di kantor ini hanya Selvia gunakan parfum mahal seharga puluhan juta itu. Harumnya lembut namun tercium di mana-mana.
"Masih sibuk?" sapa Selvia pelan pasang gaya elegan. Wanita ini menarik kursi di depan Alvan tanpa ijin dari yang empunya kantor. Ijin atau tidak Selvia tetap satukan pantat indahnya ke kursi.
"Ach tidak... sebentar lagi mau pulang! Kau tidak pulang?"
"Sebentar lagi... aku ke sini mau tanya soap tawaran Heru beli saham rumah sakit kamu! Dia ingin menanam modal di sana. Rumah sakit kalian punya masa depan cerah."
__ADS_1
"Sudah kubilang itu warisan kakek. Aku tak punya hak jual sahamnya. Itu untuk anak-anak aku kelak!"