ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Permohonan Bu Dewi


__ADS_3

"Mang...mama aku ada memaksa aku kawin lagi. Sudah kutolak karena itu bukan gaya aku bangga dengan selusin wanita. Dua saja hampir cukur rambutku jadi licin. Mama maksa gitu! Alvan tolak..dan tadi pagi sewaktu berangkat kerja Citra dicegat orang. Alvan sudah tempatkan orang kawal Citra jadi penculiknya tertangkap. Mereka sudah akui siapa dalangnya. Aparat bergerak cepat. Maafkan Alvan harus tegas! Yang salah tetap harus dihukum."


Amang terdiam di sana. Alvan tidak dapat disalahkan bila bertindak tegas. Perbuatan keluarganya sudah lewat batas. Tidak perhitungkan hidup mati orang lain demi ego sendiri. Wajar Alvan marah bila orang yang dia cintai diancam bahaya.


Coba kalau Citra tidak tertolong maka orang jahat akan menang atas orang baik. Tapi syukurlah Allah masih buta mata jaga orang yang baik.


"Kalau ini Amang tidak salahkan kamu! Amang tak sangka Acil Umai berbuat sejauh ini untuk muluskan anaknya jadi isterimu."


"Semua masih butuh penyelidikan. Biarlah pihak kepolisian yang usut kasus ini! Kita percayakan pada yang berwajib. Mereka pasti akan adil bila tidak bersalah. Citra trauma bukan main mang! Kumohon Amang jangan salahkan Alvan tega pada saudara kita."


"Amang dukung kamu kalau emang mereka bersalah. Mana boleh main kasar bahayakan orang lain. Amang akan jelaskan pada keluarga besar kita. Percayalah! Di keluarga kita tak ada yang dukung orang jahat. Kini Amang telah paham inti masalah. Amang juga minta maaf bila kita dari sini telah bahayakan nyawa isterimu!"


"Sama-sama mang! Alvan minta maaf takkan tarik laporan! Hukum berlanjut. Kalau mereka tega kenapa Alvan tidak tega? Citra itu ibunya anak-anak Alvan. Wanita yang kucintai."


"Amang maklum. Nanti malam Amang akan panggil semua untuk menjernihkan hal ini. Kau tak perlu sungkan. Keadilan tetap berlaku di keluarga kita."


"Terima kasih mang! Apa Mama aku sudah tahu hal ini?"


"Belum...semoga mamamu tidak terlibat! Amang tak bisa bayangkan bagaimana jalanmu harus hukum mama sendiri."


"Semoga Mang! Kita doa semoga mama masih waras."


"Amin...Amang tutup dulu ya! Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..."


Alvan lega telah bicara dengan Amangnya yang sangat paham hukum. Kini Alvan hanya berdoa semoga mamanya tidak ikutan gila meminta orang culik Citra. Alvan sudah ambil keputusan tidak akan jadi malaikat bagi mereka yang bersalah.


Alvan bergegas balik ke ruangnya untuk lihat kondisi Citra. Semoga Citra telah pulih dari trauma mental. Alvan merasa sangat bertanggung jawab pada Citra. semua yang menimpa Citra hari ini tidak lepas dari kesalahan Alvan. Alvan harus membayarnya kontan mulai detik ini.


Sewaktu Alvan masuk ke dalam ruangan melihat keadaan Citra ternyata istrinya itu masih tertidur pulas di atas ranjang. Alvan tidak tega membangunkan Citra memilih melanjutkan tugasnya. Biarlah Citra istirahat lebih lama pikir Alvan.


Alvan kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda cukup lama. Alvan tenggelam dalam tugas melupakan kejadian yang nyaris merenggut nyawa Citra.


Namun ketenangan Alvan tidak berlangsung lama karena dari luar terdengar keributan memancing Alvan memberi perhatian pada sumber keributan.


Pintu ruang kerja Alvan dibuka secara kasar dari luar. Orang yang datang membuat Alvan terperangah. Bu Dewi masuk dengan wajah merah padam. Nafas wanita tua itu tersengal-sengal ntah menahan emosi atau kelelahan melakukan perjalanan dari rumah sampai ke kantor Alvan.


Alvan segara bangkit menyambut kehadiran mamanya. Sejelek apapun Bu Dewi dialah tetap orang yang telah melahirkan Alvan. Alvan tidak ingin menjadi anak durhaka maka mendekati Ibu Dewi.


"Ada apa ma? Kok marah banget? Jangan lupa hipertensi lho!" Alvan meraih lengan Bu Dewi membawanya duduk ke sofa.


Alvan memberi kode pada Untung untuk mengambil air minum buat Bu Dewi. Alvan memang sedang kesal pada Bu Dewi bukan berarti harus mengabaikan mamanya.

__ADS_1


"Van... apa maksudmu mencari perkara dengan keluarga di Banjar?" serang Bu Dewi begitu pantatnya mendarat di sofa.


"Mencari perkara bagaimana ma? Alvan tidak mengerti apa maksud mama." Alvan masih berusaha menahan diri untuk tidak membuka kebusukan saudaranya dari Kalimantan.


"Barusan tadi Mama mendapat kabar kalau Umai dan anaknya telah ditangkap polisi atas laporan kamu. Apanya hanya karena Mama ingin menjodohkan kamu dengan anak Umai kamu penjarakan mereka?"


Alvan mengisi dadanya dengan udara sebanyak mungkin biar tenang agar tidak tersulut amarah. Dari situ Alvan juga lega karena mamanya tidak mengetahui pangkal cerita berarti Bu Dewi kemungkinan tidak terlibat. Andai mamanya terlibat Alvan akan dilema harus penjarakan mamanya.


"Ma... mama dengar dulu cerita Alvan! Tadi pagi Citra hampir diculik sama segerombolan orang jahat dan mereka telah ditangkap pihak kepolisian. Setelah diselidiki ternyata orang itu dibayar dari Banjar untuk melenyapkan Citra. Kasus ini segera dikembangkan oleh pihak kepolisian dan menemukan bahwa orang yang memberi perintah adalah saudara mama. Maka itu pihak kepolisian bergerak cepat mengamankan tersangka. Bukan Alvan yang melapor mereka tetapi mereka yang membuat mereka jadi jatuh."


Bu Dewi langsung lunglai tidak percaya pada cerita Alvan. Keinginannya sangat sederhana hanya ingin membuat Alvan bahagia terbebas dari wanita yang mengincar hartanya. Namun siapa sangka berubah menjadi ajang kejahatan.


"Kamu tidak bohong Van?" tanya Bu Dewi dengan suara bergetar.


"Ma apakah selama ini Alvan suka berbohong dan pihak kepolisian tidak sembarangan menangkap orang hanya berdasarkan satu karangan cerita. Mereka bekerja secara profesional untuk melacak semua kejahatan. Semua bukti dan transferan uang ada pada pihak kepolisian. Apakah mereka manusia baik-baik melenyapkan nyawa orang hanya untuk kepuasan diri sendiri. Apa mama senang mau memiliki menantu yang sejahat itu?" Alvan membuka pikiran mamanya agar tidak berpikiran negatif pada Citra dan agungkan keluarganya yang berhati kotor.


"Mama tak menyangka jadi begini! Mama hanya tak mau kamu ditipu wanita nakal lagi."


"Ma...Citra itu orangnya baik dan tulus. Selama ini dia tidak pernah minta uang satu pun dari Alvan. Dia besarkan Azzam dan Afifa dengan hasil keringat sendiri. Baru semalam Alvan kasih uang belanja buat dia. Itu uang belanja pertama selama kami menikah. Citra itu tidak sejahat mama kira. Semua orang sayang padanya kecuali Mama." Alvan memeluk pundak Bu Dewi agar mamanya sadar tidak semua orang tergila pada harta.


"Tapi Citra berhak atas setengah hartamu!"


"Ya ampun ma...sudah Alvan bilang Citra tidak mau terima limpahan aset dari kakek. Dia kembalikan. Citra bisa dapat lebih banyak dari keluarga Perkasa karena dia adalah cucu dari pak Sobirin. Citra juga menolak pembagian harta dari Perkasa. Coba mama nilai manusia model apa Citra itu?"


"Yang kamu bilang itu benar Van?"


"Ma...sudah begitu banyak kejadian lalu lalang dalam hidup Alvan. Kini Alvan telah menemukan kedamaian dalam diri Citra dan anak-anak. Mama pikir saja andaikata Alvan tidak pernah bertemu dengan Citra maka seumur hidup kita tidak mengetahui kalau Alvan memiliki anak-anak. Citra sedikitpun tidak ingin Alvan masuk ke dalam hidupnya bahkan pertama-tama tidak mengakui Alvan sebagai ayah dari anak-anaknya. Berkat kesabaran Alvan akhirnya Citra mengakui kalau mereka itu anak-anak Alvan. Kalau Citra itu orang kemaruk harta tak mungkin hari ini baru dia muncul menuntut hak. Justru Citra ingin menghindari keluarga kita." cerita Alfan dengan sabar karena melihat raut wajah mamanya telah berubah pucat pasi. Alvan tidak tega menyaksikan kesedihan terukir di wajah yang telah berkeriput itu.


"Lalu bagaimana sekarang? Apa Umai dan anaknya akan di penjara?"


"Ma.. siapa berbuat dia yang harus bertanggung jawab. Ini akan jadi pelajaran buat mereka untuk berbuat jahat selanjutnya. Dan untuk mama Alvan ingatkan agar buang jauh-jauh pikiran mama menjodohkan Alvan dengan wanita manapun. Citra dan Karin sudah bergaul dengan baik jadi cukup mereka di dalam hidup Alvan. Karin juga sedang sakit butuh perhatian Alvan. Jadi Alvan mohon pada Mama sudahin masalah wanita-wanita lain dalam hidup Alvan. Kita fokus besarkan Azzam dan kedua adiknya saja."


"Apa mama juga orang jahat?"


"Tidak asal tak ada niat jahat di hati mama. Apa Mama tidak kasihan pada anak-anak Alvan kehilangan induk mereka? Alvan sangat bahagia bersama Citra dan anak-anak. Nanti pak Man akan datang serahkan dokumen asli dari kakek Wira. Biarlah mama yang pegang kalau ragu Citra akan rebut harta kita."


"Apa itu masih perlu? Kalau Citra bersamamu maka otomatis dia akan nikmati harta keluarga kita."


"Itu pasti...Alvan harus kasih uang belanja untuk Citra dan anak-anak. Mereka berhak dapat nafkah dari Alvan. Soal aset Citra tidak tertarik. Dia sudah puas dapat bulanan dari Alvan."


"Cuma itu?"


Alvan mengangguk. "Cuma itu permintaan Citra. Dia seorang dokter punya penghasilan. Dia puas makan dari hasil keringat sendiri. Dia tidak tertarik pada harta yang mama agungkan! Dia lebih bahagia hidup apa adanya."

__ADS_1


Bu Dewi merasa sangat bodoh telah memupuk rasa tidak percaya pada Citra. Seharusnya Bu Dewi percaya pada cerita Alfan daripada hasutan dari sebelah keluarganya. Secara tak langsung Bu Dewi mengantar keluarganya masuk penjara. Alvan tidak akan melepaskan orang yang telah berbuat jahat kepada Citra dan keluarganya.


"Lalu bagaimana dengan Acil Umai dan anaknya?" ucap Bu Dewi mengharap Alvan berubah pikiran tidak penjarakan saudara dari sebelah Bu Dewi.


"Maaf ma! orang yang bersalah harus berada di tempat yang tepat yakni dipenjara. Kalau Alvan membebaskan mereka maka besar kemungkinan akan terulang lagi di kemudian hari."


Bu Dewi menunduk tak bisa melawan kata-kata Alvan. Sudah terbukti keluarganya bersalah hendak celakai Citra. Tak ada jalan mundur selain menghitung hari di penjara.


"Van...Kayla itu punya anak! Masih kecil lagi. Kau tega pisahkan anak dari ibunya?"


"Ma...Alvan harus tega! Alvan hanya mendidik mereka agar tahu mana baik dan buruk. Apa pernah Mama berpikir bagaimana nasib kedua anak saya andai kata ibu mereka dilenyapkan dari bumi ini? Saudara mama hanya dipenjara bukan dilenyapkan. Manusia berhati keji kayak gitu tak pantas diberi pengampunan." tukas Alvan tidak mau beri point walau mamanya mengiba.


Andai Citra yang lenyap apa saudara mamanya akan pesta pora? Giliran di hukum minta ampun. Sudah terlambat mohon ampun. Nasi telah dimasak jadi bubur. Tak mungkin diulang masak lagi.


"Van...mama tak tahu harus omong apa lagi?"


"Kalau mama tidak ikutan maka tak usah ikut campur. Biarlah mesin hukum yang bekerja!"


"Astaghfirullah..kau pikir mama sudah gila ikutan berbuat keji? Mama masih waras nak! Kenapa kau berpikir akan celakai Citra?"


"Mama kan tak suka pada Citra. Bisa saja silap ikuti ide gila saudara mama. Kalaupun di dunia ini sudah tak ada sisa wanita Alvan takkan nikahi wanita sejahat itu. Mama ingat kata Alvan ya!" Alvan mulai keras ingatkan mamanya agar buang jauh niat buruk pada Citra dan keluarganya. Alvan tak ingin mengulang kesalahan sama tinggalkan Citra untuk wanita lain.


Alvan sudah petik pelajaran berharga dari Karin dan Selvia. Yang tampak elite dan elegan dari luar justru isinya busuk. Hitam semua.


"Jadi kau takkan cabut tuntutan?"


"Sama sekali tidak! Tak usah mimpi Alvan akan bebaskan mereka!" sahut Alvan tegas tak beri luang bagi penjahat berdiri tegak di atas bumi. Alvan memang tak sanggup kikis semua penjahat namun ini cukup mengurangi orang jahat.


"Iya mama maklum. Mereka memang kelewatan permainkan nasib orang."


"Bukan nasib ma tapi nyawa Citra! Nyawa dari ibu anak-anak aku! Nyawa wanita yang kucintai."


Bu Dewi makin terjepit oleh kata tegas Alvan. Kelihatannya Alvan memang cinta mati pada Citra. Memohon sampai mulut berbusa juga tak ada guna lagi. Tergantung bagaimana hukuman bagi mereka yang suka halalkan kejahatan sebagai pedoman hidup.


"Mama pulang! Papamu sendirian di rumah. Mama harap ada iba di hatimu!"


"Akan kusuruh Untung antar mama! Mama tak usah banyak pikir. Alvan tahu jalanan harus ditempuh."


"Iya...mama pulang dulu!" Bu Dewi bangkit dari sofa dengan lemas. Membujuk Alvan cabut tuntutan tidak berhasil malah dia kena skak hati. Citra makin berharga di mata Alvan. Makin sulit kikis sosok Citra dari benak anaknya.


Alvan mengantar Bu Dewi sampai ke mobil yang dikendarai Untung. Alvan tidak percaya pada supir taksi online antar mamanya. Untung pasti akan lebih baik menjaga Bu Dewi.


Alvan menatap mobilnya melaju meninggalkan halaman kantor. Ada kelegaan terbersit di hati karena Bu Dewi tidak ikutan dalam rencana jahat saudaranya. Betapa kejam orang yang tega singkirkan musuh pakai cara kotor. Apa sudah tak ada rasa kemanusiaan di hati mereka?

__ADS_1


__ADS_2